Bab 4 - Sebelum "Aku Suka Kamu"
Pulpen menggelincir dari jemarinya, dibiarkan jatuh ke atas kertas berisi puisi yang belum selesai. Rubi berguling, rerumputan menyambut punggungnya, lengannya terentang, helaian rambutnya berserakan, matanya bergerak ke atas. Dari gedung serba guna kampus, terdengar suara paduan suara mahasiswa yang sedang latihan, mengudara bersama aroma tanah.
"Miserere Mei milik Allegri," bisik Rubi sambil memejamkan mata, mengenali lagu yang kini sedang dilantunkan mereka. Dia sudah sering mendengar lagu itu sejak dia dibesarkan olah para biarawati di panti asuhan. Biasanya, mereka menyanyikannya di gereja setiap Rabu Abu.
Tinggi rendahnya nada mengalun anggun dan suci, terperangkap di antara pilar-pilar gereja dan lorong-lorong panti asuhan. Begitu ia membuka mata, langit menjadi dua kali lebih tinggi. Walaupun Rubi tak bisa mengukurnya, ia bisa merasakannya.
Di atas sana, dia melihat nyanyian mereka mewujud menjadi lingkaran-lingkaran tipis seperti asap yang melayang lambat; berwarna putih samar, biru muda, jingga, dan kuning, membaur dengan warna langit sore.
Hati kecil Rubi berdialog.
"Apakah ini warna Tuhan?"
"Aku enggak tahu, tapi... mungkin saja..."
Gedung-gedung, suara kendaraan dan mahasiswa-mahasiswa lain yang berlalu lalang, perlahan menyusut, menghilang. Hanya tersisa dirinya, nyanyian, dan langit yang melengkung membentuk kubah raksasa.
Tidak jauh dari situ, Soga berdiri di bawah pohon damar, memperhatikan Rubi. Sejak tiga puluh menit yang lalu dia mencarinya di gedung fakultas sastra. Hembusan angin menyentuh wajahnya, membawa wangi apel dari parfum Rubi yang menyela aroma getah damar dan rerumputan.
Tubuhnya yang berkeringat dingin dan lelah, sejenak menjadi ringan. Masih sambil mengatur napasnya yang belum stabil, ia berdiri diam, memandangi Rubi yang berbaring tenang di seberangnya—tidak ada yang tahu betapa rindunya Soga pada gadis itu.
Pelan-pelan, Soga berjalan mendekat.
Rubi masih tak menyadari kehadirannya. Telunjuknya mengusap bibir bawahnya sendiri, matanya terbuka, memandang langit dengan tatapan berbinar dan jernih. Ia seolah sedang "mendengar sekaligus melihat" warna-warna, yang hanya bisa dipahami oleh jiwanya sendiri.
Ada sesuatu yang indah dalam tenangnya pandangan Rubi—dan Soga nyaris tidak tega mengganggu. Pikirannya menyerap setiap detail, ekspresi, dan gestur Rubi saat ini.
Soga menunduk. Di ujung tangan Rubi, binder warna lilac terbuka. Sisi kertasnya tertiup pelan oleh angin. Di halaman itu tertulis judul dengan huruf besar-besar dan bulat:
“Tolong, Perbaiki Laptopku”
oleh: Rubi
Soga mengangkat alis, senyum kecil menghiasi wajahnya. Ini bukan pertama kalinya dia membaca puisi absurd yang ditulis Rubi. Lagi-lagi dia begini, hatinya menggumam kagum.
Soga menggigit bibir bawahnya, berjongkok perlahan, mengambil binder itu, kemudian—tanpa bisa menahan diri—membaca keras-keras bait pertama.
“Dulu aku menulis mimpiku, sekarang mimpi itu melekat di kepalaku
Tombol rusak, layar senyap, kata-kata membeku
Cerita belum selesai, plotnya telah hilang
Aku menatap layar gelap, berharap dia menjadi terang…“
Rubi tersentak, duduk tegak. “Soga?” Matanya melebar, hampir tidak percaya.
Soga terkekeh. “Kenapa judulnya depresi begini sih?” Dia menutup binder itu dan mengembalikannya kepada Rubi.
Rubi tidak langsung mengambil bindernya. Ia melompat dan berseru, "Soga!" Lengannya melingkar di pinggang Soga, mendekapnya erat, dan lututnya memutih tergesek rerumputan.
Soga terkesiap. Beban tubuh Rubi membuatnya jatuh terduduk di atas rumput. Binder di tangannya hampir terlepas.
Rubi mendongak menatap Soga. "Kamu ke mana aja sih, Ga? Aku telepon, aku kirim pesan, enggak kamu balas. Aku pikir kamu ngilang!"
"Aku.. eeh.." Soga dengan enggan dan canggung melepaskan pelukan Rubi. Dia takut Rubi mencium aroma obat dari tubuhnya, terlebih lagi bahwa dia sedang sakit. “Aku selama ini ada di Jakarta. Bantuin oom Rian ngerjain proyek, jadi sori kalau aku enggak balas pesan kamu.”
“Oh, kamu lagi di Jakarta...” gumam Rubi, meraih bindernya dan memasukkannya ke dalam tas. “Terus, sekarang proyeknya udah beres, ya?”
Soga tidak langsung menjawab—kaget pada dirinya sendiri yang mampu berbohong semulus itu, membuat rahangnya bergetar samar. Apa yang dilakukannya pada Rubi sekarang terasa lebih pahit dari obat apa pun yang pernah ditelannya.
Ia berdiri tegak, matanya berkedip-kedip, mengabaikan sensasi berputar yang dirasakannya sepersekian detik. Menyadari tangannya gemetar, Soga berbalik memunggungi Rubi, mengusap keningnya, mencoba mengendalikan dirinya yang mulai kelelahan. Dia berjalan ke arah bangku di dekatnya, mendengar langkah gadis itu mengikutinya, dan duduk.
”Kamu enggak kerja, Bi?“ Soga balik tanya.
”Kebetulan hari ini libur,“ jawab Rubi, duduk di sebelah Soga. Senyum polosnya kemudian memudar. ”Dan... Sebenarnya, aku lagi nunggu kabar dari SingDream."
“SingDream?” sela Soga menoleh. “Kamu ikutan kompetisi SingDream? Serius? Kapan?”
“Uum... Enam minggu lalu." Rubi menghela napas dan bersandar pada kursi, matanya tertuju ke orang-orang yang berjalan di seberang sana, jemarinya memainkan ujung lengan jaket jeans-nya. ”Waktu itu aku cari kamu ke mana-mana tapi enggak ada. Aku enggak tahu kamu ada di Jakarta.“
”Enam minggu..." bisik Soga mengulang kata-kata Rubi, merenung. Tentu saja Rubi tidak menemukannya di mana pun. Kala itu dia sedang menjalani operasi di rumah sakit di Jakarta. Tidak ada proyek apa pun, dan oom Rian sebetulnya ada di Surabaya, mengerjakan proyek yang sama sekali tidak melibatkan dirinya. Soga meneguk air dari botol. “Terus sekarang?”
“Ya kayak yang aku bilang tadi. Aku lagi nunggu kabar apa aku lolos atau enggak.” Rubi tersenyum.
Soga tertawa ringan, mengusap bibirnya yang basah. Rubi masih saja seperti ketika mereka pertama kali berkenalan. Ketika Soga berhenti dan menangkap raut wajah Rubi yang sedikit mengerut kebingungan, dia terkikik lagi, memberi jeda untuk melupakan kegelisahan akan penyakitnya.
”Kenapa sih?“ tanya Rubi, mulai kesal.
”Kalau sampai sekarang kamu enggak dapat kabarnya, itu artinya kamu enggak lolos," ujar Soga di akhir tawanya, mencubit hidung Rubi yang kecil, hingga wajahnya mengerut menggemaskan. “Temanku, Astri, pernah ikutan juga tahun lalu, dan dia enggak lolos. Kata dia, mereka hanya akan menghubungi peserta yang lolos aja."
”Oh, gitu, ya,“ gumam Rubi seraya mengusap hidungnya yang kesemutan, dan mengangguk. Ada sedikit kekecewaan dalam nadanya. ”Itu masuk akal.“
Dedaunan bergemerisik lembut. Soga memahami benar kesulitan yang sering dihadapi Rubi sehari-harinya, yang selalu berjuang sendirian demi memperbaiki nasibnya menjadi lebih baik lagi. Itu membuat rasa sayangnya kepada Rubi semakin besar, berharap dia mampu menjadi seseorang yang selalu bisa membantunya. Namun, harapan itu kini cuma harapan.
”Hey," Soga menaruh tangannya di bahu Rubi. "Enggak usah sedih. Mungkin kamu bisa coba lagi di lain kesempatan. Gagal bukan berarti kamu kehilangan suara kamu yang bagus.“ Ia berhenti, lalu menyeringai pelan. ”Mendingan.. kamu nyanyi buat aku aja.“
Rubi melirik Soga, tersenyum. ”Makasih, Ga. Tapi, sebenarnya... ada yang mau aku omongin sama kamu.“ Ia meraih tangan Soga, membiarkan jari-jari mereka saling bertautan.
Mata Soga membulat. Selama beberapa detik dia ternganga, mengamati jari-jarinya yang berhenti gemetar saat Rubi menggenggamnya.
”Apa tuh?“ tanyanya, menelan ludah, memberanikan diri menatap Rubi. Kemudian, ia menyeringai—pura-pura mencemooh, mencoba meredam jantungnya yang mulai berdegup kencang. "Kalau soal traktir makan aku..."
”Soga,“ Rubi menyela. ”Aku sebenarnya.... suka sama kamu lebih dari teman. Aku pengen deh jadi pacar kamu.“
"Miserere Mei milik Allegri," bisik Rubi sambil memejamkan mata, mengenali lagu yang kini sedang dilantunkan mereka. Dia sudah sering mendengar lagu itu sejak dia dibesarkan olah para biarawati di panti asuhan. Biasanya, mereka menyanyikannya di gereja setiap Rabu Abu.
Tinggi rendahnya nada mengalun anggun dan suci, terperangkap di antara pilar-pilar gereja dan lorong-lorong panti asuhan. Begitu ia membuka mata, langit menjadi dua kali lebih tinggi. Walaupun Rubi tak bisa mengukurnya, ia bisa merasakannya.
Di atas sana, dia melihat nyanyian mereka mewujud menjadi lingkaran-lingkaran tipis seperti asap yang melayang lambat; berwarna putih samar, biru muda, jingga, dan kuning, membaur dengan warna langit sore.
Hati kecil Rubi berdialog.
"Apakah ini warna Tuhan?"
"Aku enggak tahu, tapi... mungkin saja..."
Gedung-gedung, suara kendaraan dan mahasiswa-mahasiswa lain yang berlalu lalang, perlahan menyusut, menghilang. Hanya tersisa dirinya, nyanyian, dan langit yang melengkung membentuk kubah raksasa.
Tidak jauh dari situ, Soga berdiri di bawah pohon damar, memperhatikan Rubi. Sejak tiga puluh menit yang lalu dia mencarinya di gedung fakultas sastra. Hembusan angin menyentuh wajahnya, membawa wangi apel dari parfum Rubi yang menyela aroma getah damar dan rerumputan.
Tubuhnya yang berkeringat dingin dan lelah, sejenak menjadi ringan. Masih sambil mengatur napasnya yang belum stabil, ia berdiri diam, memandangi Rubi yang berbaring tenang di seberangnya—tidak ada yang tahu betapa rindunya Soga pada gadis itu.
Pelan-pelan, Soga berjalan mendekat.
Rubi masih tak menyadari kehadirannya. Telunjuknya mengusap bibir bawahnya sendiri, matanya terbuka, memandang langit dengan tatapan berbinar dan jernih. Ia seolah sedang "mendengar sekaligus melihat" warna-warna, yang hanya bisa dipahami oleh jiwanya sendiri.
Ada sesuatu yang indah dalam tenangnya pandangan Rubi—dan Soga nyaris tidak tega mengganggu. Pikirannya menyerap setiap detail, ekspresi, dan gestur Rubi saat ini.
Soga menunduk. Di ujung tangan Rubi, binder warna lilac terbuka. Sisi kertasnya tertiup pelan oleh angin. Di halaman itu tertulis judul dengan huruf besar-besar dan bulat:
“Tolong, Perbaiki Laptopku”
oleh: Rubi
Soga mengangkat alis, senyum kecil menghiasi wajahnya. Ini bukan pertama kalinya dia membaca puisi absurd yang ditulis Rubi. Lagi-lagi dia begini, hatinya menggumam kagum.
Soga menggigit bibir bawahnya, berjongkok perlahan, mengambil binder itu, kemudian—tanpa bisa menahan diri—membaca keras-keras bait pertama.
“Dulu aku menulis mimpiku, sekarang mimpi itu melekat di kepalaku
Tombol rusak, layar senyap, kata-kata membeku
Cerita belum selesai, plotnya telah hilang
Aku menatap layar gelap, berharap dia menjadi terang…“
Rubi tersentak, duduk tegak. “Soga?” Matanya melebar, hampir tidak percaya.
Soga terkekeh. “Kenapa judulnya depresi begini sih?” Dia menutup binder itu dan mengembalikannya kepada Rubi.
Rubi tidak langsung mengambil bindernya. Ia melompat dan berseru, "Soga!" Lengannya melingkar di pinggang Soga, mendekapnya erat, dan lututnya memutih tergesek rerumputan.
Soga terkesiap. Beban tubuh Rubi membuatnya jatuh terduduk di atas rumput. Binder di tangannya hampir terlepas.
Rubi mendongak menatap Soga. "Kamu ke mana aja sih, Ga? Aku telepon, aku kirim pesan, enggak kamu balas. Aku pikir kamu ngilang!"
"Aku.. eeh.." Soga dengan enggan dan canggung melepaskan pelukan Rubi. Dia takut Rubi mencium aroma obat dari tubuhnya, terlebih lagi bahwa dia sedang sakit. “Aku selama ini ada di Jakarta. Bantuin oom Rian ngerjain proyek, jadi sori kalau aku enggak balas pesan kamu.”
“Oh, kamu lagi di Jakarta...” gumam Rubi, meraih bindernya dan memasukkannya ke dalam tas. “Terus, sekarang proyeknya udah beres, ya?”
Soga tidak langsung menjawab—kaget pada dirinya sendiri yang mampu berbohong semulus itu, membuat rahangnya bergetar samar. Apa yang dilakukannya pada Rubi sekarang terasa lebih pahit dari obat apa pun yang pernah ditelannya.
Ia berdiri tegak, matanya berkedip-kedip, mengabaikan sensasi berputar yang dirasakannya sepersekian detik. Menyadari tangannya gemetar, Soga berbalik memunggungi Rubi, mengusap keningnya, mencoba mengendalikan dirinya yang mulai kelelahan. Dia berjalan ke arah bangku di dekatnya, mendengar langkah gadis itu mengikutinya, dan duduk.
”Kamu enggak kerja, Bi?“ Soga balik tanya.
”Kebetulan hari ini libur,“ jawab Rubi, duduk di sebelah Soga. Senyum polosnya kemudian memudar. ”Dan... Sebenarnya, aku lagi nunggu kabar dari SingDream."
“SingDream?” sela Soga menoleh. “Kamu ikutan kompetisi SingDream? Serius? Kapan?”
“Uum... Enam minggu lalu." Rubi menghela napas dan bersandar pada kursi, matanya tertuju ke orang-orang yang berjalan di seberang sana, jemarinya memainkan ujung lengan jaket jeans-nya. ”Waktu itu aku cari kamu ke mana-mana tapi enggak ada. Aku enggak tahu kamu ada di Jakarta.“
”Enam minggu..." bisik Soga mengulang kata-kata Rubi, merenung. Tentu saja Rubi tidak menemukannya di mana pun. Kala itu dia sedang menjalani operasi di rumah sakit di Jakarta. Tidak ada proyek apa pun, dan oom Rian sebetulnya ada di Surabaya, mengerjakan proyek yang sama sekali tidak melibatkan dirinya. Soga meneguk air dari botol. “Terus sekarang?”
“Ya kayak yang aku bilang tadi. Aku lagi nunggu kabar apa aku lolos atau enggak.” Rubi tersenyum.
Soga tertawa ringan, mengusap bibirnya yang basah. Rubi masih saja seperti ketika mereka pertama kali berkenalan. Ketika Soga berhenti dan menangkap raut wajah Rubi yang sedikit mengerut kebingungan, dia terkikik lagi, memberi jeda untuk melupakan kegelisahan akan penyakitnya.
”Kenapa sih?“ tanya Rubi, mulai kesal.
”Kalau sampai sekarang kamu enggak dapat kabarnya, itu artinya kamu enggak lolos," ujar Soga di akhir tawanya, mencubit hidung Rubi yang kecil, hingga wajahnya mengerut menggemaskan. “Temanku, Astri, pernah ikutan juga tahun lalu, dan dia enggak lolos. Kata dia, mereka hanya akan menghubungi peserta yang lolos aja."
”Oh, gitu, ya,“ gumam Rubi seraya mengusap hidungnya yang kesemutan, dan mengangguk. Ada sedikit kekecewaan dalam nadanya. ”Itu masuk akal.“
Dedaunan bergemerisik lembut. Soga memahami benar kesulitan yang sering dihadapi Rubi sehari-harinya, yang selalu berjuang sendirian demi memperbaiki nasibnya menjadi lebih baik lagi. Itu membuat rasa sayangnya kepada Rubi semakin besar, berharap dia mampu menjadi seseorang yang selalu bisa membantunya. Namun, harapan itu kini cuma harapan.
”Hey," Soga menaruh tangannya di bahu Rubi. "Enggak usah sedih. Mungkin kamu bisa coba lagi di lain kesempatan. Gagal bukan berarti kamu kehilangan suara kamu yang bagus.“ Ia berhenti, lalu menyeringai pelan. ”Mendingan.. kamu nyanyi buat aku aja.“
Rubi melirik Soga, tersenyum. ”Makasih, Ga. Tapi, sebenarnya... ada yang mau aku omongin sama kamu.“ Ia meraih tangan Soga, membiarkan jari-jari mereka saling bertautan.
Mata Soga membulat. Selama beberapa detik dia ternganga, mengamati jari-jarinya yang berhenti gemetar saat Rubi menggenggamnya.
”Apa tuh?“ tanyanya, menelan ludah, memberanikan diri menatap Rubi. Kemudian, ia menyeringai—pura-pura mencemooh, mencoba meredam jantungnya yang mulai berdegup kencang. "Kalau soal traktir makan aku..."
”Soga,“ Rubi menyela. ”Aku sebenarnya.... suka sama kamu lebih dari teman. Aku pengen deh jadi pacar kamu.“
Other Stories
Pucuk Rhu Di Pusaka Sahara
Mahasiswa Indonesia di Yaman diibaratkan seperti pucuk rhu di Padang Sahara: selalu diuji ...
Di Bawah Panji Dipenogoro
Damar, adalah seorang petani yang terpanggil untuk berjuang bersama mengusir penjajah Bela ...
Kk
jjj ...
Kastil Piano
Kastil Piano. Sebuah benda transparan mirip bangunan kastil kuno yang di dalamnya terdapat ...
Bisikan Lada
Tiga pemuda nekat melanggar larangan sesepuh demi membuktikan mitos, namun justru mengalam ...
Melinda Dan Dunianya Yang Hilang
Melinda seorang gadis biasa menjalani hari-hari seperti biasa, hingga pada suatu saat ia b ...