Bab 16 - Katumbiri
Di lantai kayu sanggar karawitan, Soga duduk bersila, punggungnya bersandar malas pada salah satu kusen jendela besar. Dari posisi itu, pandangannya melenceng ke luar. Sinar matahari yang menguning menyinari lapangan basket di antara gedung fakultas dan gedung serba guna.
Sekelompok mahasiswa—sebagian dikenalnya, sebagian lagi tidak—berlarian mengejar bola, kulit mereka mengilap basah oleh keringat, suara tawa dan sepatu yang berdecit bersahutan. Di atas kepala mereka, awan mendung berkumpul, menggantung rendah, kelabu dan bergemuruh.
Aroma kayu tua yang hangat bercampur dengan dupa menggelitik hidung Soga. Anehnya, kala ia terus memandangi lapangan itu, kilau keringat, sorak sorai, dan gedebuk bola yang beradu dengan beton seolah bercampur menjadi satu—berbau kayu dan dupa juga. Di belakangnya, harmoni gamelan mengalun, berdenting dan berdengung lembut.
Dadanya dipenuhi rindu, sementara kakinya berkedut ingin berlari ke sana. Ia rindu bermain basket, rindu adrenalin yang memuncak menyelubungi pegal di kakinya, rindu bau apek tubuhnya. Kini dia hanya diliputi rasa ragu dan takut. Andai dia memaksa bermain, kemungkinan dia akan pingsan, dan orang-orang panik.
Soga menghela napas pelan, membuang muka dari lapangan itu. Pandangannya kini tertuju pada Rubi, yang duduk di seberangnya, memukul jengglong mengikuti instruksi. Tubuh mungilnya hampir tenggelam di antara alat-alat musik yang mengelilinginya. Wajahnya berseri penuh antusias, menikmati musik dan permainannya sendiri. Padahal Soga tahu, Rubi bukan anggota klub seni karawitan. Ia sesekali datang untuk bermain, untuk mengisi waktu, atau sekedar menonton dan bercakap-cakap bersama anggota yang dia kenal.
Tanpa sadar, pipi Soga merona. Ia meneguk air dari botol minumnya, dan hampir menumpahkannya. Ia lalu menarik resleting ransel dengan gerakan sedikit tergesa. Dari dalam, ia mengeluarkan buku. Di sela halamannya, terselip potongan kertas berisi puisi Rubi yang berjudul "BemBem", dan selembar kertas yang memuat gambar bidang-bidang persegi panjang yang berwarna-warni. Mereka digambar tanpa penggaris—huh, dasar pemalas, batin Soga, menyeringai kecil. Tapi, arsiran warna-warnanya cukup rapi. Dan itu adalah kumpulan warna yang dilihat Rubi saat mendengarkan April Glow.
Telunjuk Soga mengusap permukaan kertas itu perlahan. Jemarinya sedikit gemetar. Seringai kecilnya berubah menjadi sendu, membuat wajahnya kembali pucat. Ia menunduk membaca puisi pendek di bawahnya. Puisi tentang perasaan Rubi yang terbentuk dari warna-warna yang dilihatnya kala mendengar April Glow.
Hanya ada aku di ruangan itu, memandangi lampu kristal sebening kaca.
Debu-debu emas berterbangan di jendela yang menjala matahari, dan rona-rona biru langit menempel pada dinding.
Udaranya dingin dan ringan.
Ragaku berbaring di lantai seputih mutiara. Jiwaku melayang di siling.
Aku sendiri tapi tak merasa sendirian.
Soga tahu, puisi itu bertolak belakang dengan lirik lagunya yang justru bercerita tentang perpisahan. Dia membayangkan Rubi berdiri di ruangan itu, di mana dia menemukan ketenteraman dan kebahagiaan yang sunyi.
Soga mendongak, melihat Rubi berpisah dengan teman-teman karawitannya. Gadis itu berjalan menyeberangi sanggar dan duduk di sampingnya. Ia melihat potongan puisi "BemBem" yang terselip di antara jemari Soga, lalu mengambilnya begitu saja.
“Kenapa kamu robek puisinya dari majalah?” tanya Rubi. Ia membaca puisinya sendiri sekilas dalam hati.
“Soalnya puisinya spesial,” jawab Soga. “Lucu, aneh, juga sedih. Dan aku penggemar berat kamu, Bi.” Ia hampir saja menceritakan ilustrasi vektor yang dibuatnya di kelas—gambar kucing dan jagung-jagung manis berdasarkan citra BemBem pada puisi itu—tapi menahannya. “Si BemBem ini beneran ada?”
“Ada,” ujar Rubi. “Itu kucing jantan punya Irma, anak pemilik griya. Kucing kesayangan orang-orang di griya. Dan ya, dia suka jagung manis. Sayang banget, BemBem meninggal seminggu lalu.”
Mendengar kata “meninggal”, jantung Soga berdegup. “Karena.. apa?” suaranya tertahan.
“Karena udah tua mungkin. Umurnya juga udah 17 tahun.” Rubi mengembalikan potongan puisi itu ke Soga. “Terus, mana majalahnya?
Mata Soga melebar. Majalah kampus itu tidak ada di ranselnya. Ia berdeham, dadanya bergetar digulung cemas yang datang tiba-tiba. "Kayaknya ketinggalan di kelas," Soga beralasan sambil nyengir. Sebenarnya, ia tidak benar-benar ingat di mana ia meninggalkan majalah itu. Dan ia sadar betul, kenapa ingatannya sesekali bolong seperti ini.
Alunan gamelan masih terdengar saat Soga merapikan kupluk di kepalanya. Ia mendengar Rubi bercanda, ”Masih muda udah pikun.“ Gadis itu mengeluarkan dua butir permen mint dan menyodorkan satu pada Soga.
”Eh, aku enggak pikun, ya,“ sanggah Soga sambil mengambil permen itu. ”Aku cuma... cuma mikirin kamu terus.“ Ia tersenyum mengulum permen. Rasa manis dan dinginnya terlalu tajam, menabrak lapisan pahit di lidahnya, tapi dia tetap menikmatinya.
”Berarti aku ini penyebab pikun kamu dong," tawa Rubi.
Pipi Soga kembali memerah. “Garing, tahu.” Ia pura-pura cemberut. “Udah, ah! Enggak usah bahas itu. Aku mau kita ngobrolin ini.” Ia menunjuk kertas bergambar persegi panjang berwarna-warni. “For your information, aku udah cari tahu kenapa kamu kayak begini.”
“Kayak begini gimana?” Rubi mengerutkan kening. Ia menggeser sedikit tasnya, bersandar pada dinding, meluruskan kaki. Bahunya dan bahu Soga saling bersentuhan.
“Maksudnya, kenapa kamu ngelihat warna-warna waktu denger suara, lagu, atau baca waktu,” jelas Soga. “Beberapa seniman dan musisi juga punya. Namanya synesthesia.”
“Hah? Syn... syn apa?” Rubi memicingkan mata.
Soga mengambil pulpen dan menuliskannya di pinggir kertas: “Synesthesia”.
“Oh.” Rubi mengangguk pelan. “Kok istilahnya kayak nama penyakit jiwa, sih? Jangan-jangan aku sakit jiwa lagi.” Ia menangkup pipinya sendiri. “Apa aku harus ke dokter, ya?”
Soga terkekeh dan menggelengkan kepala. “Enggak. Enggak perlu ke dokter. Ini cuma fenomena neurologis dan enggak bahaya sama sekali. Satu indra memicu kerja indra lain. Kamu dengar suara sekaligus melihat warna. Itu terjadi di luar kendali kamu. Dan... kayak yang pernah kamu bilang, kamu melakukannya tanpa sengaja. Beda dengan mengkhayal.”
“Ooo...” mulut Rubi membentuk huruf "o", yang kemudian disambut tawa Soga. “Kenapa ketawa? Kamu serius enggak sih?” Rubi mencubit bahunya. “Atau.. kamu bohong lagi.”
“Aduh!” Soga mendesis, tangannya mengusap area yang dicubit Rubi. “Aku cuma senang merhatiin muka kamu. Dan aku enggak bohong. Kamu bisa browsing di internet. Atau mau cari sekarang biar percaya?” Soga meraih ponselnya.
“Iya, iya percaya.” Rubi menggigit permennya hingga terdengar bunyi gemeletuk pelan dari dalam mulutnya. “Artinya aku enggak gila 'kan? Terus, kamu maunya gimana? Mau aku gambar lagi pake lagu yang lain?”
Pandangan Soga melembut. Permen yang dikulumnya hampir habis. “Kita bikin jurnal—”
“Jurnal? Jurnal apa?” sela Rubi.
“Kenapa sih dari tadi nyela terus?” Soga mencubit gemas dagu Rubi. “Kita bikin jurnal. Jurnal ini isinya warna-warna, bentuk, atau mungkin ruangan yang kamu lihat waktu denger lagu-lagu favorit kamu. Tapi, lebih kompleks, lebih serius. Kamu enggak perlu menggambar. Kamu cuma tinggal cerita aja apa yang kamu lihat. Aku yang bakal melukis semuanya.” Ia menahan napas, berharap Rubi menyetujuinya, sebab hanya ini yang bisa dia lakukan sebelum benar-benar pergi.
Mata Rubi membulat dan berbinar. “Wah, oke juga tuh. Tapi, aku juga pengen ikut warnain.”
Soga mengangguk lega. “Boleh. Dan ingat, kita enggak perlu bikin yang sempurna kayak lukisan profesional. Yang penting ada maknanya, seenggaknya buat kita.” Ia menggenggam tangan Rubi. Ibu jarinya bergerak melingkar di punggung tangan gadis itu. Gerakannya membuat dunia di sekitar mereka mengambang ringan.
“Tapi,” kata Rubi pelan, tidak melepaskan genggaman Soga, "jurnal itu harus ada namanya. Jurnal SogaRubi...“
Hujan mendadak turun, mengalihkan perhatian semua orang, membubarkan mereka yang bermain basket, dan dua-tiga mahasiswa karawitan mengeluh. Aroma tanah basah menyusup ke dalam sanggar, bercampur dengan wangi dupa. Matahari masih bersinar.
Rubi teringat pelangi.
”Katumbiri,“ gumamnya. Ekspresinya yang setengah melamun terpantul samar pada kaca jendela. ”Pelangi. Penuh warna. Jurnal Katumbiri."
Soga maju sedikit, meraih pipi Rubi agar menoleh padanya. Selama beberapa saat ia menatap Rubi, cahaya matahari dan mendung memancarkan kilau di wajahnya yang rupawan. Di kedalaman matanya yang cokelat, Soga melihat pantulan hatinya sendiri—rapuh, rentan, namun dipenuhi cinta yang begitu kuat seakan mengancam melahapnya bulat-bulat.
“Jurnal Katumbiri. Boleh juga,” bisik Soga di tengah bunyi rintik hujan.
Other Stories
7 Misteri Korea
Saat liputan di Korea, pemandu Dimas dan Devi terbunuh, dan mereka jadi tertuduh. Bisakah ...
Institut Tambal Sains
Faris seorang mahasiswa tingkat akhir sudah 7 tahun kuliah belum lulus dari kampusnya. Ia ...
Air Susu Dibalas Madu
Nawasena adalah anak dari keluarga yang miskin. Ia memiliki cita-cita yang menurut orang-o ...
Testing
testing ...
Aku Ingin Kau Menjadi Ibu Dari Anak-anakku
Cerita ini mengisahkan perjalanan cinta dan perjuangan Maya, seorang desainer muda, dan Ra ...
After Honeymoon (17+)
Dipaksa menikah demi ambisi keluarga, Kirana dan Rhea terjebak dalam pernikahan tanpa cint ...