Bab 8 - Sebelum Waktunya Tiba
Matahari mengintip dari balik tirai kelabu. Sinarnya yang menguning membentuk garis panjang pucat di lantai kamar, dan menyorot kaki kiri Soga yang duduk di tepi tempat tidur. Udara pagi bertiup dari celah ventilasi, mengusap kulitnya yang kering.
Pandangannya jatuh pada debu-debu kecil yang beterbangan di udara. Di antara renungannya, telinganya menangkap kicauan burung, disela oleh melodi pendek tukang roti dari kejauhan. Entah kapan terakhir kali dia bisa tidur nyenyak sejak operasi. Ini seperti keajaiban kecil.
Menyadari fakta bahwa dia sekarang berhubungan serius dengan Rubi, menyalakan api semangat dan tekad baru di dalam jiwanya. Walaupun sinarnya seperti lilin, atau hanya sesingkat percikan kembang api, Soga ingin itu mejadi alasan mengapa dia dapat tidur nyenyak semalam.
Ponsel di samping bantalnya berbunyi. Ada pesan masuk dari Rubi: ucapan selamat pagi disertai emoji-emoji lucu. Hanya membaca kalimat itu saja, Soga dapat merasakan keceriaannya, mengusir kantuknya. Gadis itu juga memberi kabar bahwa dia baru ada jadwal kelas pada pukul satu nanti.
“Jadi, aku ada waktu buat malas-malasan sambil nonton Spongebob." Begitulah kelanjutan dari pesannya.
Soga terkekeh, jajaran giginya nampak. Pikirannya otomatis membayangkan gadis itu berleha-leha di ranjang, mengunyah keripik kentang sisa semalam, dan cekikikan sendiri di depan TV tabung, diiringi musik konyol Spongebob. Itu memang salah satu kebiasaan Rubi yang Soga kenal sejak lama. Namun, membayangkan itu membuat dadanya hangat, sembari berandai-andai dia ada di sana, menemani dan mendekapnya.
Soga mengetik balasan, ”Cuci muka dulu sana. Bau iler kamu kecium sampai sini, tahu!“.
Ia tertawa sampai bahunya gemetar, membaca protes Rubi dalam pesan berikutnya. Dia mengirim macam-macam emoji; marah, tertawa, cium, bunga, matahari, dan lainnya.
Soga menyisihkan ponselnya dan berjalan ke cermin, mengamati wajahnya yang mulai tirus. Alisnya terangkat, mendapati rona merah samar mewarnai pipinya yang pucat.
Ini enggak lucu sama sekali, pikirnya, tiba-tiba merasa geli dan jijik pada dirinya sendiri. Namun, dia akui, rona merah itu adalah tanda bahwa dia sedang jatuh cinta. Setidaknya, itu membuat dirinya tidak terlihat seperti orang yang penyakitan.
Ibunya membuka pintu dan masuk. ”Soga, gimana kondisi kamu? Apa kamu mau berangkat ke kampus, atau mau istirahat aja?" tanyanya, menyentuh lembut lengan Soga, dan ikut memandangi wajahnya di cermin. Senyuman tipis tersungging di wajah Wulan, menangkap binaran di mata putranya yang sayu.
“Iya, Bu. Soga harus berangkat," jawab Soga, membalas tatapan ibunya di cermin, dan mengangguk mantap.
”Kalau gitu, ayo sarapan dulu. Ibu bikin nasi kuning,“ ujar Wulan tanpa melepaskan lengan putranya—berjaga-jaga agar dia bisa langsung menangkapnya jikalau Soga mendadak pusing atau pingsan.
Di meja makan, Banyu menekan kepedihannya memandang obat-obatan yang ditaruh Soga di samping piring sarapan. Dia bisa mencium dan mengecap rasa pahitnya, menggulung bersama aroma nasi kuning dengan cara yang salah, dan merusak kenikmatan. Kemudian, Banyu mendongak, melempar senyum tipis pada adiknya yang duduk di seberangnya.
”Aku harap kamu enggak keluyuran lagi lewat jam enam," kata Banyu sambil membenarkan letak kacamatanya. Suaranya lembut, sedikit tegas, diliputi nada memperingatkan. Dia melirik sekilas ke ibunya, yang duduk di samping Soga, dan menyendok nasi kuning ke piring Soga. “Kamu enggak mau ibu kita khawatir 'kan?" tambah Banyu, menyesap kopinya kemudian.
”Iya, Kak,“ gumam Soga, mengangguk mengerti.
Ketika Soga dan ibunya mengobrol tentang perawatan lanjutan yang harus Soga jalani, Banyu hanya menyimak. Sambil menyuap nasi kuningnya, matanya melirik, mendapati Soga sedang melipat bibirnya. Adiknya itu sedang menahan godaan untuk memprotes perhatian ibunya yang dirasanya berlebihan. Adiknya tidak ingin merepotkan siapa pun walaupun semuanya tahu, seberapa parah penyakit yang dideritanya. Nyawanya bisa hilang kapan saja.
Bahu Banyu bergidik memikirkannya. Ia setengah membungkuk, lanjut menghabiskan sarapannya. Sesekali ia mengangguk pada ucapan ibunya yang memintanya membantu Soga melakukan beberapa hal. Tentu saja dia akan selalu hadir di samping adiknya, kapan pun, di mana pun. Andai dia harus memindahkan gunung demi kesembuhan adiknya, dia akan melakukan itu.
”Apa Rubi tahu tentang penyakit kamu, Ga?“ Pertanyaan Banyu menarik keheningan di antara mereka, membuat ibu dan adiknya menoleh padanya. Sambil menaruh sendoknya ke piring, Banyu menyeringai pahit. ”Dia enggak tahu 'kan? Kamu sengaja enggak kasih tahu dia, ya?“
Kening Soga mengernyit. Rona merahnya memudar, kulitnya kembali kusam dan pucat. Dia menunduk ke piring makannya. Getir di lidahnya terasa lebih tajam begitu Soga mendengar pertanyaan kakaknya, hingga dia kesulitan menelan. Dari sudut matanya, ia menangkap wajah buram ibunya. Saat ibunya mau mengatakan sesuatu pada Banyu, Soga segera menyela.
”Enggak, Kak. Rubi enggak tahu soal penyakit ini,“ jawab Soga, suaranya pelan tanpa gagap. Tatapannya bertemu mata kakaknya. ”Enggak semua orang tahu tentang ini. Hanya beberapa teman dan dosen aja. Dan.. aku juga berpesan kepada mereka, supaya enggak memberi tahu Rubi. Kuharap...“ Soga diam, menoleh sejenak pada ibunya, ”kuharap kalian juga enggak memberi tahu Rubi soal ini.“
”Kenapa?“ tanya Banyu, nadanya sedikit menuntut. ”Apa kamu sengaja enggak memberi tahu dia karena takut dianggap lemah, hm?“
”Banyu.“ Wulan memperingatkan putra sulungnya.
”Kurasa itu bukan ide yang bagus,“ lanjut Banyu, mengabaikan teguran ibunya. Otot di pipinya berkedut. ”Rubi harus tahu ini supaya dia memahami batasan-batasan agar kamu enggak kecapean.“
”Enggak begitu, Kak..“, Soga mengusap keningnya, berharap sentuhan itu meredam denyut di kepalanya.
”Kamu tahu 'kan kadang cewek bisa berubah jadi menyebalkan begitu berhubungan dekat dengan kita.“ Banyu tidak berhenti bicara. ”Mereka bakal nuntut ini dan itu, lalu marah ketika keinginan mereka enggak terpenuhi. Rubi harus tahu penyakitmu supaya dia enggak bertingkah macam-macam.“
”Aku cuma enggak mau Rubi terbebani,“ gumam Soga, berharap kakaknya mengerti. ”Aku enggak mau dia sedih.“
”Itu risiko dia,“ bantah Banyu, sikunya hampir menggulingkan gelas di sampingnya. ”Kalau dia memang sayang sama kamu, dia pasti paham dan menerima keadaanmu. Lambat laun juga dia akan tahu, bukan?“
Soga mengangguk pelan, melirik ke arah lain. ”Iya, Kak. Lambat laun dia akan tahu,“ ucapnya, mengulangi ucapan kakaknya. ”Tapi, untuk sementara ini, aku mohon, jangan dulu beri tahu dia tentang ini. Aku tahu, waktunya akan tiba, tapi bukan sekarang.“
Banyu tidak menanggapi lagi adiknya. Usai menyeka bibirnya dengan serbet, dia beranjak hingga kursinya berderit menggesek lantai. ”Aku tunggu kamu di mobil,“ ujarnya sambil berjalan menuju pintu keluar. Terselip kekecewaan dalam suaranya.
”Soga,“ kata Wulan lembut, mengusap punggung putranya, ”Ibu dan Banyu paham, tapi ada baiknya kamu bicara sama Rubi. Dan.. tentu saja, itu pun kalau kamu siap, ya? Ibu akan memastikan kamu baik-baik saja sampai waktu itu tiba.“
Soga menghela napas, melirik lemah pada ibunya. Dia sangat memahami apa yang disampaikan kakaknya. Namun, dia juga ingin merasakan kegembiraan sebagaimana pasangan lain, walaupun harus dibangun di atas kebohongan yang rapuh.
Pandangannya jatuh pada debu-debu kecil yang beterbangan di udara. Di antara renungannya, telinganya menangkap kicauan burung, disela oleh melodi pendek tukang roti dari kejauhan. Entah kapan terakhir kali dia bisa tidur nyenyak sejak operasi. Ini seperti keajaiban kecil.
Menyadari fakta bahwa dia sekarang berhubungan serius dengan Rubi, menyalakan api semangat dan tekad baru di dalam jiwanya. Walaupun sinarnya seperti lilin, atau hanya sesingkat percikan kembang api, Soga ingin itu mejadi alasan mengapa dia dapat tidur nyenyak semalam.
Ponsel di samping bantalnya berbunyi. Ada pesan masuk dari Rubi: ucapan selamat pagi disertai emoji-emoji lucu. Hanya membaca kalimat itu saja, Soga dapat merasakan keceriaannya, mengusir kantuknya. Gadis itu juga memberi kabar bahwa dia baru ada jadwal kelas pada pukul satu nanti.
“Jadi, aku ada waktu buat malas-malasan sambil nonton Spongebob." Begitulah kelanjutan dari pesannya.
Soga terkekeh, jajaran giginya nampak. Pikirannya otomatis membayangkan gadis itu berleha-leha di ranjang, mengunyah keripik kentang sisa semalam, dan cekikikan sendiri di depan TV tabung, diiringi musik konyol Spongebob. Itu memang salah satu kebiasaan Rubi yang Soga kenal sejak lama. Namun, membayangkan itu membuat dadanya hangat, sembari berandai-andai dia ada di sana, menemani dan mendekapnya.
Soga mengetik balasan, ”Cuci muka dulu sana. Bau iler kamu kecium sampai sini, tahu!“.
Ia tertawa sampai bahunya gemetar, membaca protes Rubi dalam pesan berikutnya. Dia mengirim macam-macam emoji; marah, tertawa, cium, bunga, matahari, dan lainnya.
Soga menyisihkan ponselnya dan berjalan ke cermin, mengamati wajahnya yang mulai tirus. Alisnya terangkat, mendapati rona merah samar mewarnai pipinya yang pucat.
Ini enggak lucu sama sekali, pikirnya, tiba-tiba merasa geli dan jijik pada dirinya sendiri. Namun, dia akui, rona merah itu adalah tanda bahwa dia sedang jatuh cinta. Setidaknya, itu membuat dirinya tidak terlihat seperti orang yang penyakitan.
Ibunya membuka pintu dan masuk. ”Soga, gimana kondisi kamu? Apa kamu mau berangkat ke kampus, atau mau istirahat aja?" tanyanya, menyentuh lembut lengan Soga, dan ikut memandangi wajahnya di cermin. Senyuman tipis tersungging di wajah Wulan, menangkap binaran di mata putranya yang sayu.
“Iya, Bu. Soga harus berangkat," jawab Soga, membalas tatapan ibunya di cermin, dan mengangguk mantap.
”Kalau gitu, ayo sarapan dulu. Ibu bikin nasi kuning,“ ujar Wulan tanpa melepaskan lengan putranya—berjaga-jaga agar dia bisa langsung menangkapnya jikalau Soga mendadak pusing atau pingsan.
Di meja makan, Banyu menekan kepedihannya memandang obat-obatan yang ditaruh Soga di samping piring sarapan. Dia bisa mencium dan mengecap rasa pahitnya, menggulung bersama aroma nasi kuning dengan cara yang salah, dan merusak kenikmatan. Kemudian, Banyu mendongak, melempar senyum tipis pada adiknya yang duduk di seberangnya.
”Aku harap kamu enggak keluyuran lagi lewat jam enam," kata Banyu sambil membenarkan letak kacamatanya. Suaranya lembut, sedikit tegas, diliputi nada memperingatkan. Dia melirik sekilas ke ibunya, yang duduk di samping Soga, dan menyendok nasi kuning ke piring Soga. “Kamu enggak mau ibu kita khawatir 'kan?" tambah Banyu, menyesap kopinya kemudian.
”Iya, Kak,“ gumam Soga, mengangguk mengerti.
Ketika Soga dan ibunya mengobrol tentang perawatan lanjutan yang harus Soga jalani, Banyu hanya menyimak. Sambil menyuap nasi kuningnya, matanya melirik, mendapati Soga sedang melipat bibirnya. Adiknya itu sedang menahan godaan untuk memprotes perhatian ibunya yang dirasanya berlebihan. Adiknya tidak ingin merepotkan siapa pun walaupun semuanya tahu, seberapa parah penyakit yang dideritanya. Nyawanya bisa hilang kapan saja.
Bahu Banyu bergidik memikirkannya. Ia setengah membungkuk, lanjut menghabiskan sarapannya. Sesekali ia mengangguk pada ucapan ibunya yang memintanya membantu Soga melakukan beberapa hal. Tentu saja dia akan selalu hadir di samping adiknya, kapan pun, di mana pun. Andai dia harus memindahkan gunung demi kesembuhan adiknya, dia akan melakukan itu.
”Apa Rubi tahu tentang penyakit kamu, Ga?“ Pertanyaan Banyu menarik keheningan di antara mereka, membuat ibu dan adiknya menoleh padanya. Sambil menaruh sendoknya ke piring, Banyu menyeringai pahit. ”Dia enggak tahu 'kan? Kamu sengaja enggak kasih tahu dia, ya?“
Kening Soga mengernyit. Rona merahnya memudar, kulitnya kembali kusam dan pucat. Dia menunduk ke piring makannya. Getir di lidahnya terasa lebih tajam begitu Soga mendengar pertanyaan kakaknya, hingga dia kesulitan menelan. Dari sudut matanya, ia menangkap wajah buram ibunya. Saat ibunya mau mengatakan sesuatu pada Banyu, Soga segera menyela.
”Enggak, Kak. Rubi enggak tahu soal penyakit ini,“ jawab Soga, suaranya pelan tanpa gagap. Tatapannya bertemu mata kakaknya. ”Enggak semua orang tahu tentang ini. Hanya beberapa teman dan dosen aja. Dan.. aku juga berpesan kepada mereka, supaya enggak memberi tahu Rubi. Kuharap...“ Soga diam, menoleh sejenak pada ibunya, ”kuharap kalian juga enggak memberi tahu Rubi soal ini.“
”Kenapa?“ tanya Banyu, nadanya sedikit menuntut. ”Apa kamu sengaja enggak memberi tahu dia karena takut dianggap lemah, hm?“
”Banyu.“ Wulan memperingatkan putra sulungnya.
”Kurasa itu bukan ide yang bagus,“ lanjut Banyu, mengabaikan teguran ibunya. Otot di pipinya berkedut. ”Rubi harus tahu ini supaya dia memahami batasan-batasan agar kamu enggak kecapean.“
”Enggak begitu, Kak..“, Soga mengusap keningnya, berharap sentuhan itu meredam denyut di kepalanya.
”Kamu tahu 'kan kadang cewek bisa berubah jadi menyebalkan begitu berhubungan dekat dengan kita.“ Banyu tidak berhenti bicara. ”Mereka bakal nuntut ini dan itu, lalu marah ketika keinginan mereka enggak terpenuhi. Rubi harus tahu penyakitmu supaya dia enggak bertingkah macam-macam.“
”Aku cuma enggak mau Rubi terbebani,“ gumam Soga, berharap kakaknya mengerti. ”Aku enggak mau dia sedih.“
”Itu risiko dia,“ bantah Banyu, sikunya hampir menggulingkan gelas di sampingnya. ”Kalau dia memang sayang sama kamu, dia pasti paham dan menerima keadaanmu. Lambat laun juga dia akan tahu, bukan?“
Soga mengangguk pelan, melirik ke arah lain. ”Iya, Kak. Lambat laun dia akan tahu,“ ucapnya, mengulangi ucapan kakaknya. ”Tapi, untuk sementara ini, aku mohon, jangan dulu beri tahu dia tentang ini. Aku tahu, waktunya akan tiba, tapi bukan sekarang.“
Banyu tidak menanggapi lagi adiknya. Usai menyeka bibirnya dengan serbet, dia beranjak hingga kursinya berderit menggesek lantai. ”Aku tunggu kamu di mobil,“ ujarnya sambil berjalan menuju pintu keluar. Terselip kekecewaan dalam suaranya.
”Soga,“ kata Wulan lembut, mengusap punggung putranya, ”Ibu dan Banyu paham, tapi ada baiknya kamu bicara sama Rubi. Dan.. tentu saja, itu pun kalau kamu siap, ya? Ibu akan memastikan kamu baik-baik saja sampai waktu itu tiba.“
Soga menghela napas, melirik lemah pada ibunya. Dia sangat memahami apa yang disampaikan kakaknya. Namun, dia juga ingin merasakan kegembiraan sebagaimana pasangan lain, walaupun harus dibangun di atas kebohongan yang rapuh.
Other Stories
Rest Area
Hidup bukan tentang menemukan tempat tanpa luka, tetapi bagaimana tetap hidup untuk esok d ...
Hibur Libur
Aku (Byru) mencoba mencari nikmatnya sebuah "Liburan" dengan kesehariannya yang sangatlah ...
Loren Ipsum
test ...
Srikandi
Iptu Yanti, anggota Polwan yang masih lajang dan cantik, bertugas di Satuan Reskrim. Bersa ...
Garuda Hitam: Sayap Terakhir Nusantara
Aditya Pranawa adalah mantan pilot TNI AU yang seharusnya mati dalam sebuah misi rahasia. ...
Cinta Harus Bahagia
Seorang kakak yang harus membesarkan adiknya karena kematian mendadak kedua orangtuanya, b ...