Chromatic Goodbye

Reads
147
Votes
16
Parts
14
Vote
Report
Chromatic goodbye
Chromatic Goodbye
Penulis NarayuPita

Bab 14 - April Glow

April Glow.

Itu judul lagu yang diputar Soga.

Petikan gitar elektrik membuka lagunya, menggaung bersih dari kejauhan. Gebukkan drumnya sederhana tanpa improvisasi yang berlebihan. Bunyi bassnya mendengung lembut, bermain pada nada yang sama dan mengulang. Vokalnya adalah seorang pria, bernyanyi dengan suara berbisik, intim tanpa vibrasi. Tak ada vokal lain yang melatarbelakanginya, kecuali bunyi synthesizer yang menambah suasana lebih murung dan hangat. Semuanya menjadi satu dalam rangkaian harmoni mayor dan sedikit minor.

“Warna apa yang kamu lihat?” tanya Soga. Suaranya timbul dan tenggelam di antara bunyi-bunyi lagu.

Putih, jawab Rubi, mengulang lagi percakapan mereka di dalam pikirannya.

Warna putih akan selalu ada di setiap lagu yang dia dengar. Terutama ketika nadanya jatuh ke kunci C. Setelah itu, warna-warna lain akan bermunculan.

Dan, khusus lagu ini, Rubi melihat warna-warna seperti: kelabu, kuning matahari, gading, coklat muda dan tua, biru langit, dan hijau lumut. Bahkan Rubi melihat warna bening berkilauan seperti kristal.

Lalu Rubi menjelaskan, “Mendengar lagu ini seperti kamu memperhatikan lampu kristal bening dan putih susu. Lampu itu menggantung di langit-langit ruangan segi panjang yang luas berwarna putih. Di ruangan itu, ada panel-panel kayu di dindingnya, tapi tingginya enggak sampai ke siling. Di kiri dan kanannya ada jajaran jendela, di mana di sisi kananmu cahaya matahari mengalir masuk, sedangkan di sisi kirimu, cahaya biru langit juga masuk. Warna gading dan kelabu itu ada di silingnya — kamu tahu — kayak bias cahaya atau bayangan air. Kamu bisa nemuin warna-warna ini di jam 9 atau 10 pagi pas cuaca lagi cerah.”

Pikiran Rubi membayangkan kembali ekspresi Soga. Kebingungan di wajahnya perlahan digantikan oleh kekaguman. Pacarnya itu mengusap lengan bawahnya yang mendadak merinding. Rubi juga menangkap getaran samar di jemarinya—diam-diam menilai reaksi Soga terlalu berlebihan, tidak berpikir itu berasal dari sakitnya. Dan, sebenarnya itu agak membuat Rubi malu.

"Gimana kamu bisa lihat warna-warna itu di waktu tertentu?“

”Aku enggak tahu, Ga. Kamu kan suka menggambar. Aku pikir kamu lebih ngerti.“

”Dan.. apa ruangan yang kamu sebut itu pernah kamu lihat di suatu tempat?"

“Iya. Meskipun enggak sepenuhnya sama. Aku lihat di kapel SMP Santo Joseph, atau ruangan auditorium di fakultas. Ruangan di mana pun sebenarnya sama aja. Asalkan jam dan cuacanya itu seperti yang aku sebut tadi.”

“Mungkin... mungkin kamu bisa gambarin warna-warnanya?”

“Aku enggak bisa gambar, Ga.”

“Enggak. Kamu enggak perlu gambar apa pun. Kamu cuma tinggal bikin kotak-kotak panjang, atau mungkin... lingkaran—apa aja. Terus kotak atau lingkaran itu kamu isi sama warna-warna yang kamu lihat.”

Lagu April Glow masih mengalir melalui earphone-nya, memenuhi kepalanya, entah sudah yang ke berapa kalinya. Sebenarnya, ia tidak pernah bilang itu lagu favoritnya. Dia lebih sering menyimpan koleksi lagu yang sering didengarnya untuk dirinya sendiri. Dia takut orang lain menilainya sebagai seseorang yang membosankan, melankolis, atau tidak mengikuti tren musik terkini.

Di bawah sinar lampu kamar yang lembut, pandangan Rubi menunduk ke kumpulan pensil dua puluh empat warna di atas meja belajar. Pensil warna yang terbungkus dus ungu tua, berlukiskan kuda-kuda yang berlarian di padang rumput, tampak mahal dan berkualitas. Pensil warna ini jadi hadiah dadakan yang diberikan Soga kepadanya tadi siang.

Sambil menyentuh permukaan halus bungkusnya, senyum kecil menghiasi wajahnya—merenungkan alasan kenapa Soga begitu ingin tahu tentang semua ini. Apakah karena Soga anak desain grafis dan ini menginspirasinya? Atau.. seperti yang dia bilang bahwa dia memang mencintainya? Tapi, setidaknya Soga tidak menilainya aneh-aneh. Dia menjadi satu-satunya orang yang antusias dengan pengalaman uniknya.

April Glow masih mendengung dalam lingkaran.

Ia mengambil buku gambar ukuran A5 yang tadi dibelinya di warung depan. Aroma kertas baru menyeruak samar begitu ia membuka halaman pertama. Ia meraih pensil mekanik dari tempat berbentuk gelas. Dia menulis judul lagunya di tengah atas, berikut nama bandnya—Glass Season—di bawahnya.

Sesuai instruksi Soga, Rubi menggambar beberapa persegi panjang tanpa menggunakan penggaris. Kemudian, setiap persegi panjang diisi warna-warna yang dilihat Rubi, termasuk warna putih. Gerakannya amatir, agak canggung, dan berhati-hati. Arsirannya membentuk coretan horizontal, vertikal, diagonal, atau melingkar-lingkar.

Matanya melebar sedikit, mengagumi apa yang dilakukannya. Dia melihat warna-warna itu seakan mengalir dari area gelap di kepalanya, turun ke kertas—lebih terang, cerah, dan... hidup.

Kegembiraan meletup-letup di hatinya. Mulanya terasa asing, tapi semakin lama semakin familiar. Ini sama sekali berbeda dengan mewarnai gambar biasa. Dia membatin, bertanya-tanya, kenapa dia tidak melakukan ini dari dulu?

Ini seperti menulis puisi!

Rubi menaruh pensilnya, kedua tangannya menyilang di depan dada, jari-jarinya mengusap kulit bahunya yang tiba-tiba merinding. Punggungnya membungkuk, memeluk tubuhnya sendiri. Ia bergerak ke depan dan ke belakang seperti orang gelisah di atas kursinya, tapi dia tidak benar-benar gelisah, melainkan kewalahan. Dia sering mendengarkan lagu ini, tapi sekarang, setelah dia menuangkan semua warnanya, rasanya berbeda. Warna-warna itu seolah melingkupinya, menariknya ke dalam ruangan itu.

Pertanyaan Soga kembali menggema di penghujung lagu. “Gimana sama perasaan yang kamu rasain waktu dengerin lagu ini? Apa kamu sedih? Bahagia? Atau gimana? Dan... Apa liriknya juga bikin tersentuh?”

Enggak juga, Rubi menjawab.

Dia hampir tidak pernah meninjau lebih jauh soal perasaan yang timbul. Tidak ada sedih mau pun kegembiraan yang berlebihan, selain... selain kesadaran akan keberadaan dirinya sendiri. Kesadaran itu menciptakan kedamaian.

Dan liriknya? Liriknya sama sekali tidak dia perhatikan. Liriknya hampir tidak pernah berhubungan dengan apa yang dia lihat dan dengar—kadang tidak penting sama sekali.

Tapi, mungkin Soga memang penasaran, perasaan apa yang dirasakan Rubi saat memutar lagu itu. Jadi, Rubi menulisnya di sudut bawah menggunakan kalimat sederhana.

Menghela napas puas, Rubi bersandar pada kursinya. Sambil mengetuk-ngetuk pangkal pensilnya ke meja, ia memandangi kembali apa yang baru saja dikerjakannya. Ia mengangguk pelan, berencana akan melakukannya lagi dengan lagu-lagu lain yang biasa dia dengar. Dia tahu dia akan lebih banyak membutuhkan buku gambar.

Ah, seru banget, serunya dalam hati, mendekap buku gambarnya ke dada.

Masih sambil duduk di belakang meja belajarnya, Rubi memandang ke jendela. Di luar sana, di seberang hunian kosnya, Venila, tetangganya, baru diantar pulang oleh pacarnya. Figur mereka tersorot cahaya lembut lampu taman griya. Lelaki jangkung itu membelai pipi dan mengecup mesra kening Venila.

Rubi menopangkan dagu, memperhatikan rona merah di pipi Venila saat pacarnya berbalik dan naik ke motornya. Angin malam berhembus lembut melewati mereka, dan mengusap wajah Rubi yang tanpa sadar tersenyum.

Bayangan Soga mengaburkan cahaya-cahaya malam, Venila dan pacarnya. Tatapan Rubi terfokus pada satu titik, pada mata Soga yang tak benar-benar ada si sana—bentuknya yang halus, sendu, dan warna iris matanya yang coklat muda.

Dia ingin sekali menyampaikan bahwa dia juga melihat warna-warna kala menatapnya lekat-lekat. Warna-warna yang membuatnya tahu, bahwa jiwanya memang jatuh cinta padanya.

Dan .. ada satu lagu yang mendatangkan warna-warna itu. Namun, Rubi masih terlalu malu untuk mengungkapnya.


Other Stories
Membabi Buta

Mariatin dan putrinya tinggal di rumah dua kakak beradik tua yang makin menunjukkan perila ...

Di Bawah Langit Al-ihya

Tertulis kisah ini dengan melafazkan nama-Mu juga terbingkailah namanya. Berharap mega t ...

Cahaya Di Ujung Mihrab

Amara adalah seorang wanita yang terjebak dalam gemerlap dunia malam yang hampa, hingga se ...

Tilawah Hati

Terinspirasi tilawah gurunya, Pak Ridwan, Wina bertekad menjadi guru Agama Islam. Meski be ...

Hujan Yang Tak Dirindukan

Mereka perempuan-perempuan kekar negeri ini. Bertudung kain lusuh, berbalut baju penuh no ...

Tes

tes ...

Download Titik & Koma