Chromatic Goodbye

Reads
147
Votes
16
Parts
14
Vote
Report
Penulis NarayuPita

Bab 7 - Asmaraloka

Di hari yang sama, ketika matahari mulai tenggelam, untuk pertama kalinya, Soga mengunjungi Asmaraloka. Itu adalah cafe tempat Rubi bekerja sebagai penyanyi akustik. Di dekat pagar dan pintunya ada papan kayu bertuliskan "Asmaraloka" dalam bentuk huruf latin, dan huruf sansekerta di bawahnya.

Asmaraloka tidak berada di pusat kota. Bangunannya mungil bercahaya orange terang, yang dikerdilkan oleh rimbunnya pepohonan mahoni, akasia dan asam. Sebagian dinding luarnya tertutup dedaunan dan bunga merambat, yang sepintas tampak artifisial.

Begitu masuk, aroma kayu manis dan kopi berpendar di sekitar pelayan yang menyambut hangat. Pada langit-langitnya, menggantung rendah lampu-lampu, menebarkan cahaya lembut dan intim ke sekitarnya. Meja-meja kayunya berbentuk bundar—sebagian lagi di luar, dengan satu bunga segar dalam vas kecil di atasnya.

Kursi-kursinya memiliki ukiran ornamen berpola daun dan bunga, mengingatkan Soga pada kursi antik di rumah kakeknya. Di sudut-sudut ruangannya ada rak buku tua, tanaman hias, alat musik tradisional: angklung, karinding, tarawangsa, dan lainnya. Di sudut yang lain lagi menempel lukisan-lukisan abstrak.

Tidak banyak orang yang mengunjungi cafe ini. Dan siapa pun yang datang, pasti akan merasa seperti masuk ke ruang kenangan, hampir beraroma rumah. Dinding-dindingnya menyerap lelah dan penat, memutus dunia luar dan pergerakan waktu.

Di salah satu meja, Soga duduk memandangi segelas air, secangkir teh manis hangat, dan semangkuk zuppa soup. Uapnya mengepul putih menerbangkan aroma lezat, mencoba membangkitkan selera makannya. Sebelum mulai makan, dia mengirim pesan pada ibu dan kakaknya tentang keberadaannya, bahwa dia sedang bersama Rubi dan dalam keadaan baik-baik saja. Tidak lupa mengirimkan dua-tiga foto sebagai bukti, berharap mereka tidak terlalu khawatir.

Perlahan, Soga menekan puff pastry yang melingkupi mangkok zuppa soup-nya, hingga sendoknya mencelup masuk ke dalam sup di bawahnya—kental, hangat berwarna putih kekuningan. Ia melihat potongan daging, jamur, dan butiran jagung manis di sana.

Seleranya naik sedikit, dan berpikir mungkin dia bisa meminta ibunya membuatkan ini di rumah. Bersamaan dengan itu, ia juga mendengar suara Rubi di seberang, mengucapkan salam dan sambutan singkat pada para pengunjung.

Di panggung kecil itu, cahaya-cahaya lampu melingkar di sekitar Rubi dan band-nya. Panggungnya sendiri berada di antara dua ruangan: sebagian terhubung ke dalam cafe lewat pintu geser yang terbuka lebar, sebagian lagi terhubung ke area luar, di mana lentera-lentera merah dan tanaman gantung bergoyang pelan.

Rubi duduk di tengah. Mikrofon di depannya kini menjadi perpanjangan dirinya. Di sisi kiri dan kanannya ada pemain gitar dan bass akustik. Agak jauh di belakangnya, pemain cajon duduk sejajar dengan pemain biola. Mereka membawakan lagu-lagu populer baik dalam mau pun luar negeri.

Temponya diperlambat, beat-nya dihilangkan, menggantinya dengan alunan jazz atau folk, hingga memberi nuansa yang berbeda dan hampir tidak dikenali. Rubi menyanyi nyaris tanpa usaha, tanpa dibuat-buat apalagi dilebih-lebihkan. Lagu-lagu yang dinyanyikannya seolah mengalun langsung dari napasnya sendiri.

Nyanyian Rubi bukan tipe yang memekik dan menggelegar. Suaranya mengalir berbisik, mengambang dan rapuh—seperti memanggil dari suatu tempat di bawah air, atau dari mimpi yang jauh dan asing. Dulu, Soga tak pernah terlalu memperhatikannya selain mengaguminya belaka. Sekarang, nada-nada yang keluar darinya bagai air hujan yang mengusap luka-luka, membelai dan memeluknya.

Mungkin itu yang menyebabkan Rubi tidak lolos kompetisi menyanyi SingDream. Jenis suaranya tidak umum dan tidak komersil.

Soga menyuap lagi zuppa soup-nya, dan meringis kecil. Pahit yang melapisi seluruh permukaan lidahnya membuat rasa gurihnya sedikit lebih tajam, tapi ia abaikan. Sambil meneguk air tawar, perhatiannya kembali kepada Rubi. Kala itu, dia baru menyadari sesuatu.

Ada yang lain saat Rubi bernyanyi, dari cara gadis itu memandang ke dinding, jendela atau barangkali pintu yang ada di seberangnya. Dia seolah sedang berkomunikasi pada sesuatu yang hanya dia yang mampu melihatnya.

Sesekali kepalanya menengadah, bola matanya bergerak pelan ke salah satu sudut langit-langit, lalu turun ke lantai, lalu melayang lagi ke atas, seakan musik pengiring yang didengarnya membentuk lintasan di udara, yang harus dia ikuti dengan pandangannya. Ada bagian dari lagu itu yang membuatnya tersenyum, tapi tak satu pun senyum itu ditujukan ke orang lain.

Napas Soga tercekat di tenggorokannya, seluruh tubuhnya tiba-tiba membeku saat Rubi melantunkan harmoninya sendiri, seakan lagu itu adalah miliknya. Suaranya menyelimutinya seperti pelukan hangat. Genggamannya pada sendoknga mengencang tanpa dia sadari. Kenapa? Kenapa sebelum mereka berpacaran, dia tidak pernah merasakan hal seperti ini? Kenapa baru sekarang?

“Tuhan,” bisik Soga dalam hati, “Jika aku harus mati, beginilah seharusnya aku mati. Tenggelam dalam suaranya, dan dengan bodohnya bahagia karenanya!”

Soga berdeham sambil membenarkan kupluknya, menahan tawa sekaligus air mata, merasa konyol sekaligus terharu. Kali ini ia menyesap teh manisnya.

Ini sama seperti ketika dia melihatnya menari di acara Campus Art Week dua tahun lalu, namun situasinya berbeda. Fisik Rubi ada di sini, bersamanya dan lainnya, sementara jiwanya berada di suatu tempat, yang tidak terjangkau dan tidak bisa dipahami.

Malam belum selesai di Asmaraloka. Musik masih menari di antara gumaman para pengunjung, serta bunyi denting sendok dan piring. Ketika kesadaran membawa Soga pada realita, semuanya berubah menjadi latar belakang yang jauh. Kemudian menghilang begitu ia sudah berada di kursi penumpang mobil kakaknya.

Pandangannya sedikit memburam saat membaca jam di dashboard—21.30. Diam-diam, dia menghabiskan beberapa lembar tissue, mengusap air mata yang menggenang di matanya yang memerah. Ia bukan sedang menangis, melainkan kelelahan. Dan dia berusaha menutupi semua itu dari Rubi.

Banyu melirik adiknya. Dia menahan keinginan untuk memarahi adiknya sebab Rubi ada di sini, duduk di kursi belakang.

”Kamu udah lama kerja di sana, Bi?“ tanya Banyu sambil menyetir.

”Lumayan, Kak. Udah setahun,“ jawabnya, riang seperti biasa.

”Sori. Apa upahnya cukup buat sehari-hari kamu dan bayar kos?“ tanya Banyu lagi.

Soga menoleh, matanya melebar. Dia ingin menegur kakaknya—merasa pertanyaan itu terlalu personal dan tidak layak dilontarkan, walaupun sebenarnya dia penasaran juga. Bahunya sedikit menegang menunggu jawaban Rubi.

”Hmm.. Aku dibayar per malam. Dan syukur kepada Tuhan, uangnya cukup buat semuanya,“ ujar Rubi, melirik ke jendela sebentar. ”Aku juga terima job sebagai baby sitter atau... guru private kalau lagi ada waktu.“

”Guru private?“ Soga mendengus dan terkekeh, ketegangannya sedikit mencair. ”Aku baru tahu, orang "model" kamu bisa ngajar. Ngajar apa memangnya? Siapa yang kamu ajarin?“

"Anak kelas satu atau dua SD.”

“Oh, ya memang sudah sepantasnya,” tanggap Soga. Jarinya yang gemetar mengusap lagi air matanya.

“Maksudnya apa sih?” Rubi menjangkau bahu Soga dan mencubitnya, hingga Soga menjerit kecil dan tertawa.

"Tapi, kamu keren, Bi,“ puji Banyu menyela senda gurau mereka. "Kamu mau melakukan semuanya.”

Tawa Soga dan Rubi mereda, ditelan deru mesin mobil.

Apa yang dikatakan Banyu benar. Rubi bertahan sendirian, melakukan apa pun sendirian, dan pasti ada masa-masa dia kesepian, lelah, dan ingin berhenti. Kebanggaan meliputi hati Soga, terjalin bersama kasih sayang dan keinginan untuk melindungi.


Other Stories
Just Open Your Heart

Terkutuk cinta itu! Rasanya menyakitkan bukan karena ditolak, tapi mencintai sepihak dan d ...

Di Luar Rencana

Hubungan Hening sedang tidak akur dengan Endaru, putri semata wayangnya, namun mereka haru ...

Ophelia

Claire selalu bilang, kematian Ophelia itu indah, tenang dan lembut seperti arus sungai. T ...

Kepingan Hati Alisa

Menurut Ibu, dia adalah jodoh yang sudah menemani Alisa selama lebih dari lima tahun ini. ...

Terlupakan

Pras, fotografer berbakat namun pemalu, jatuh hati pada Gadis, seorang reporter. Gadis mem ...

Nyanyian Hati Seruni

Begitu banyak peristiwa telah ia lalui dalam mendampingi suaminya yang seorang prajurit, p ...

Download Titik & Koma