Bab 10 - Bubuy Bulan
“Sebenernya, apa yang terjadi waktu kamu lagi nyanyi, Bi? Apa kamu ngerasain.. sesuatu?"
Pertanyaan itu terabaikan sementara oleh tawa Rubi dan teman-temannya. Mereka mengobrol di koridor fakultas sastra, di antara lalu lalang para mahasiswa lain.
Wajah Soga melintas di pikirannya, menyamarkan suara dan figur teman-temannya. Pertanyaan itu kembali menggema di dalam sana. Perlahan, rasa sesal menghinggapi dadanya, karena kemarin dia menepis pertanyaan itu dengan candaan.
Aku takut kamu anggap aku aneh, Ga. Rubi membatin, seolah dia sedang bicara pada Soga.
”Kamu enggak mau ikut kita, Bi?" tanya Rika, membuyarkan bayangan Soga di benak Rubi. “Atau kamu harus kerja?” tanyanya lagi. Keningnya mengernyit, sibuk merogoh tasnya dan mengambil cermin. Sambil menunggu jawaban, dia bercermin, mengusap rambut lurusnya yang dicat coklat kemerahan.
“Kita mau makan malam di restoran Jepang yang baru launching itu.” Lita, yang tubuhnya lebih tinggi dari mereka, menyahut. “Kata yang lain sih menunya enak. Terutama ramen sama shabu-shabunya.”
Rubi menghela napas dan menggeleng. “Iya nih,” jawabnya, tersenyum kecut. “Aku memang ada jadwal kerja hari ini. Mungkin lain kali aku ikut kalian.”
“Semangat kerjanya, ya," ucap Lita, menepuk pelan bahu Rubi.
Setelah berpisah dari teman-temannya, Rubi tidak segera meninggalkan kampus. Dia berbelok ke arah taman, menuju gedung serba guna di mana mahasiswa paduan suara sedang latihan.
Matahari sore menyorot terang. Sinarnya tersaring jendela-jendela gedung, menciptakan pola-pola kuning yang memanjang di lantai kayu. Saat Rubi masuk, para mahasiswa paduan suara sudah berkumpul di tengah. Seraya memperhatikan mereka, ia melangkah di sisi, dan duduk bersandar di dekat jendela.
Pertanyaan Soga mengiang lagi ketika Rubi membuka bungkus sebutir permen mint, dan mengulumnya. Tidak lupa mengeluarkan binder dan pulpen, lanjut menulis puisi yang sempat tertunda selama beberapa hari. Hatinya tetap diam, mendengarkan pertanyaan itu terus diulang oleh pikirannya sendiri.
Memangnya dia bakalan ngerti apa yang aku rasain, dan apa yang aku lihat? Rubi berbisik sambil menulis. Tawa dan nyanyian para mahasiswa paduan suara menjauh ke belakang. Kalau aku kasih tahu, bakal kayak apa reaksinya, ya? Tapi, gimana cara jelasinnya?
Satu kalimat telah terangkai, dan Rubi berhenti, tersenyum samar pada kalimat itu. Lalu, dia menoleh ke seberang ruangan, menyadari keheningan dari paduan suara.
Masih sambil memegang partitur, pandangan mereka tertuju pada konduktor yang berdiri di hadapan. Ekspresi mereka serius, menunggu aba-aba yang tepat untuk mulai menyanyi, seolah mereka sedang tampil dalam acara resmi.
Rubi membaringkan tubuhnya di lantai secara naluriah. Rahangnya bergemeretak, buru-buru menghancurkan permen mintnya. Kedua lengannya terlipat di atas perut, kakinya lurus, pandangannya tertuju ke siling tinggi. Dia juga menunggu, sama-sama menarik napas dan menghembuskannya, tapi tak ikut menyanyi.
Barisan bass bersenandung dan menggumam, diikuti barisan tenor, alto dan soprano. Nada-nada yang berlapis, saling mengiringi dan mengisi. Mereka berdengung turun naik, membentuk harmoni indah, membuka lantunan lagu Bubuy Bulan.
Bibir Rubi setengah terbuka. Bulu-bulu halusnya berdiri, membuat pori-porinya memuai dan menggelitik. Harmoni yang didengarnya mewujud menjadi garis-garis dan lingkaran warna; hitam, coklat tanah, ungu anggur merah, orange tua, merah darah, hijau, kuning, emas dan putih. Semuanya melayang ke udara, meluruhkan seluruh gedung.
Warna-warna itu membangun sebuah semesta.
Cakrawala menelan matahari yang terbakar merah. Langit gelap membentang luas. Bumi mengembang dan mengempis, menarik udara wangi cempaka. Dedaunan bergemerisik, diiringi bunyi gemeletuk lembut batang bambu, dan air yang mengalir.
Rama-rama beraneka warna beterbangan bersama kunang-kunang, mengikuti angin. Batang-batang emas timbul tenggelam—mengapung melingkar-lingkar di antara pepohonan.
Rubi berlari tanpa alas kaki. Ia merasakan tanah dan kerikil di bawahnya; merasakan rerumputan menggesek betisnya, meninggalkan garis-garis putih di kulitnya. Ia bergerak di antara gunung-gunung yang tenang, yang menyimpan gejolak magma yang menyala-nyala.
Ia berhenti.
Matanya membulat dan berkilauan, memantulkan cahaya purnama raksasa yang mengorbit pelan-pelan. Purnama itu hampir berwarna putih, seperti mutiara besar yang disinari matahari. Tak ada kawahnya. Tak ada kelabunya. Kemilaunya menetes ke bumi.
Serbuk-serbuk bintang yang kering, berjatuhan ke telapak tangan Rubi.
Ia menjulurkan lidah, menjilat serbuk itu.
Asam, pikirnya.
Rasa itu bercampur dengan sensasi dingin dari permen mint yang tadi dikulumnya.
Memasuki bagian penutup, langit meleleh menghitamkan semua pemandangan, kecuali sang purnama yang berubah suram. Warna-warna melebur bersama purnama, menjadi satu warna putih. Warna putih itu memanjang dan melesat ke atas—entah ke mana—hingga lenyap digulung lapisan hitam.
Rubi mengedipkan matanya beberapa kali. Siling yang semula buram, kini tampak jelas kembali. Dia memiringkan kepalanya ke paduan suara itu, yang bertepuk tangan untuk diri mereka sendiri.
Bangkit dan duduk, Rubi merapikan rambutnya. Dadanya berdebar, otaknya berputar, merenungkan apa yang baru saja dialaminya.
Bubuy Bulan versi mereka memberinya pengalaman yang berbeda dari sebelumnya. Ia ingin berterima kasih, tapi urung. Dia tak mengenal semua anggotanya. Dia juga tak punya kepentingan apa pun selain sebagai pendengar.
Tatapannya kemudian turun ke bindernya. Ia menghela napas, memandangi puisinya yang belum selesai. Lagipula, ini sudah jam lima, dan Rubi harus bekerja. Dia meraih barang-barangnya dan memasukkannya ke dalam tas, sebelum beranjak meninggalkan gedung.
***
Duduk di halte bus depan kampus, Rubi membuka layar ponselnya. Dia mengirim pesan kepada Soga.
”Ga. Kamu lagi apa? Sibuk, ya?“ ketiknya. ”Sorry.. Kemaren aku ngejawabnya enggak bener. Aku bingung gimana jelasinnya sama kamu. Tapi, kalau ada waktu, aku mau jelasin semuanya. Asalkan cuma kita berdua.“
Bersamaan dengan datangnya bus, pesan itu meluncur ke dunia maya, dan tiba di ponsel Soga. Tanpa menunggu, Rubi melompat masuk ke dalam bus.
Soga menurunkan tangannya yang sejak tadi menangkup mulutnya, menahan mual. Ia membaca pesan Rubi. Senyum kecil menghiasi wajah lelahnya. Jari jempolnya melayang di atas layar ponsel, mengetik balasan. Tremor di tangannya membuatnya harus menghapus kata-kata yang salah diketik supaya Rubi tidak curiga.
"Iya, nih. Aku lagi sibuk ngerjain video pendek,” ketik Soga. “Kamu pikir aku kemarin serius?” Bibirnya terlipat, menahan cekikikan. “Aku tuh pengen ngomentarin ekspresi kamu pas lagi nyanyi. Aneh...”
“Kamu kenapa sih, Ga? Kalau cuma pengen ngetawain aku kan bisa pake alasan lain. Lagian banyak kok penyanyi lain yang ekspresinya lebih aneh!” balas Rubi.
Hanya membaca pesannya saja membuat Soga bisa membayangkan Rubi yang cemberut. Dia menggigit bibir bawahnya.
“Oke, oke. Maafin aku, ya, toge aku yang cantik. Kalau mau ngobrolin itu, kita bisa atur waktunya. Di rumah aku juga bisa...” Soga diam, mengamati pesannya, menimbang-nimbang apakah membawa Rubi ke rumahnya dalam keadaan seperti ini adalah hal yang tepat atau tidak. Menggelengkan kepala dan berdecak, Soga memutuskan mengirim pesan itu.
“Kok toge sih? Emangnya aku ini apaan? Sayur? Okelah. Aku bisa ke rumah kamu hari Minggu.”
“Soalnya kamu mungil sih, kayak toge! Tapi cantik togenya—beneran, deh! Sip, hari Minggu aku senggang.”
“Okay... Ngomong-ngomong kamu ada di mana sih? Aku bisa telepon sebentar, enggak? Aku lagi di bus, mau ke Asmaraloka.”
“Aku di rumah Todi, Bi.”
Aroma steril dan obat-obatan memenuhi lubang hidung Soga sejak tadi, berteriak di dalam paru-parunya, menegurnya agar berbicara jujur. Dingin dan sunyinya ruangan itu mencubit perih kulitnya. Matanya panas tergenang air mata.
"Sementara ini jangan telepon aku dulu. Aku masih sibuk. Tapi, aku bakal sempetin ngobrol sama kamu habis kamu pulang kerja. Hati-hati dan kabarin aku, ya."
Akhirnya, air mata itu menetes ke celana jeans Soga setelah dia mengirim pesannya. Ia mendongak begitu seorang suster menyebut namanya. Di hadapannya, ruang radioterapi sudah menunggunya.
Pertanyaan itu terabaikan sementara oleh tawa Rubi dan teman-temannya. Mereka mengobrol di koridor fakultas sastra, di antara lalu lalang para mahasiswa lain.
Wajah Soga melintas di pikirannya, menyamarkan suara dan figur teman-temannya. Pertanyaan itu kembali menggema di dalam sana. Perlahan, rasa sesal menghinggapi dadanya, karena kemarin dia menepis pertanyaan itu dengan candaan.
Aku takut kamu anggap aku aneh, Ga. Rubi membatin, seolah dia sedang bicara pada Soga.
”Kamu enggak mau ikut kita, Bi?" tanya Rika, membuyarkan bayangan Soga di benak Rubi. “Atau kamu harus kerja?” tanyanya lagi. Keningnya mengernyit, sibuk merogoh tasnya dan mengambil cermin. Sambil menunggu jawaban, dia bercermin, mengusap rambut lurusnya yang dicat coklat kemerahan.
“Kita mau makan malam di restoran Jepang yang baru launching itu.” Lita, yang tubuhnya lebih tinggi dari mereka, menyahut. “Kata yang lain sih menunya enak. Terutama ramen sama shabu-shabunya.”
Rubi menghela napas dan menggeleng. “Iya nih,” jawabnya, tersenyum kecut. “Aku memang ada jadwal kerja hari ini. Mungkin lain kali aku ikut kalian.”
“Semangat kerjanya, ya," ucap Lita, menepuk pelan bahu Rubi.
Setelah berpisah dari teman-temannya, Rubi tidak segera meninggalkan kampus. Dia berbelok ke arah taman, menuju gedung serba guna di mana mahasiswa paduan suara sedang latihan.
Matahari sore menyorot terang. Sinarnya tersaring jendela-jendela gedung, menciptakan pola-pola kuning yang memanjang di lantai kayu. Saat Rubi masuk, para mahasiswa paduan suara sudah berkumpul di tengah. Seraya memperhatikan mereka, ia melangkah di sisi, dan duduk bersandar di dekat jendela.
Pertanyaan Soga mengiang lagi ketika Rubi membuka bungkus sebutir permen mint, dan mengulumnya. Tidak lupa mengeluarkan binder dan pulpen, lanjut menulis puisi yang sempat tertunda selama beberapa hari. Hatinya tetap diam, mendengarkan pertanyaan itu terus diulang oleh pikirannya sendiri.
Memangnya dia bakalan ngerti apa yang aku rasain, dan apa yang aku lihat? Rubi berbisik sambil menulis. Tawa dan nyanyian para mahasiswa paduan suara menjauh ke belakang. Kalau aku kasih tahu, bakal kayak apa reaksinya, ya? Tapi, gimana cara jelasinnya?
Satu kalimat telah terangkai, dan Rubi berhenti, tersenyum samar pada kalimat itu. Lalu, dia menoleh ke seberang ruangan, menyadari keheningan dari paduan suara.
Masih sambil memegang partitur, pandangan mereka tertuju pada konduktor yang berdiri di hadapan. Ekspresi mereka serius, menunggu aba-aba yang tepat untuk mulai menyanyi, seolah mereka sedang tampil dalam acara resmi.
Rubi membaringkan tubuhnya di lantai secara naluriah. Rahangnya bergemeretak, buru-buru menghancurkan permen mintnya. Kedua lengannya terlipat di atas perut, kakinya lurus, pandangannya tertuju ke siling tinggi. Dia juga menunggu, sama-sama menarik napas dan menghembuskannya, tapi tak ikut menyanyi.
Barisan bass bersenandung dan menggumam, diikuti barisan tenor, alto dan soprano. Nada-nada yang berlapis, saling mengiringi dan mengisi. Mereka berdengung turun naik, membentuk harmoni indah, membuka lantunan lagu Bubuy Bulan.
Bibir Rubi setengah terbuka. Bulu-bulu halusnya berdiri, membuat pori-porinya memuai dan menggelitik. Harmoni yang didengarnya mewujud menjadi garis-garis dan lingkaran warna; hitam, coklat tanah, ungu anggur merah, orange tua, merah darah, hijau, kuning, emas dan putih. Semuanya melayang ke udara, meluruhkan seluruh gedung.
Warna-warna itu membangun sebuah semesta.
Cakrawala menelan matahari yang terbakar merah. Langit gelap membentang luas. Bumi mengembang dan mengempis, menarik udara wangi cempaka. Dedaunan bergemerisik, diiringi bunyi gemeletuk lembut batang bambu, dan air yang mengalir.
Rama-rama beraneka warna beterbangan bersama kunang-kunang, mengikuti angin. Batang-batang emas timbul tenggelam—mengapung melingkar-lingkar di antara pepohonan.
Rubi berlari tanpa alas kaki. Ia merasakan tanah dan kerikil di bawahnya; merasakan rerumputan menggesek betisnya, meninggalkan garis-garis putih di kulitnya. Ia bergerak di antara gunung-gunung yang tenang, yang menyimpan gejolak magma yang menyala-nyala.
Ia berhenti.
Matanya membulat dan berkilauan, memantulkan cahaya purnama raksasa yang mengorbit pelan-pelan. Purnama itu hampir berwarna putih, seperti mutiara besar yang disinari matahari. Tak ada kawahnya. Tak ada kelabunya. Kemilaunya menetes ke bumi.
Serbuk-serbuk bintang yang kering, berjatuhan ke telapak tangan Rubi.
Ia menjulurkan lidah, menjilat serbuk itu.
Asam, pikirnya.
Rasa itu bercampur dengan sensasi dingin dari permen mint yang tadi dikulumnya.
Memasuki bagian penutup, langit meleleh menghitamkan semua pemandangan, kecuali sang purnama yang berubah suram. Warna-warna melebur bersama purnama, menjadi satu warna putih. Warna putih itu memanjang dan melesat ke atas—entah ke mana—hingga lenyap digulung lapisan hitam.
Rubi mengedipkan matanya beberapa kali. Siling yang semula buram, kini tampak jelas kembali. Dia memiringkan kepalanya ke paduan suara itu, yang bertepuk tangan untuk diri mereka sendiri.
Bangkit dan duduk, Rubi merapikan rambutnya. Dadanya berdebar, otaknya berputar, merenungkan apa yang baru saja dialaminya.
Bubuy Bulan versi mereka memberinya pengalaman yang berbeda dari sebelumnya. Ia ingin berterima kasih, tapi urung. Dia tak mengenal semua anggotanya. Dia juga tak punya kepentingan apa pun selain sebagai pendengar.
Tatapannya kemudian turun ke bindernya. Ia menghela napas, memandangi puisinya yang belum selesai. Lagipula, ini sudah jam lima, dan Rubi harus bekerja. Dia meraih barang-barangnya dan memasukkannya ke dalam tas, sebelum beranjak meninggalkan gedung.
***
Duduk di halte bus depan kampus, Rubi membuka layar ponselnya. Dia mengirim pesan kepada Soga.
”Ga. Kamu lagi apa? Sibuk, ya?“ ketiknya. ”Sorry.. Kemaren aku ngejawabnya enggak bener. Aku bingung gimana jelasinnya sama kamu. Tapi, kalau ada waktu, aku mau jelasin semuanya. Asalkan cuma kita berdua.“
Bersamaan dengan datangnya bus, pesan itu meluncur ke dunia maya, dan tiba di ponsel Soga. Tanpa menunggu, Rubi melompat masuk ke dalam bus.
Soga menurunkan tangannya yang sejak tadi menangkup mulutnya, menahan mual. Ia membaca pesan Rubi. Senyum kecil menghiasi wajah lelahnya. Jari jempolnya melayang di atas layar ponsel, mengetik balasan. Tremor di tangannya membuatnya harus menghapus kata-kata yang salah diketik supaya Rubi tidak curiga.
"Iya, nih. Aku lagi sibuk ngerjain video pendek,” ketik Soga. “Kamu pikir aku kemarin serius?” Bibirnya terlipat, menahan cekikikan. “Aku tuh pengen ngomentarin ekspresi kamu pas lagi nyanyi. Aneh...”
“Kamu kenapa sih, Ga? Kalau cuma pengen ngetawain aku kan bisa pake alasan lain. Lagian banyak kok penyanyi lain yang ekspresinya lebih aneh!” balas Rubi.
Hanya membaca pesannya saja membuat Soga bisa membayangkan Rubi yang cemberut. Dia menggigit bibir bawahnya.
“Oke, oke. Maafin aku, ya, toge aku yang cantik. Kalau mau ngobrolin itu, kita bisa atur waktunya. Di rumah aku juga bisa...” Soga diam, mengamati pesannya, menimbang-nimbang apakah membawa Rubi ke rumahnya dalam keadaan seperti ini adalah hal yang tepat atau tidak. Menggelengkan kepala dan berdecak, Soga memutuskan mengirim pesan itu.
“Kok toge sih? Emangnya aku ini apaan? Sayur? Okelah. Aku bisa ke rumah kamu hari Minggu.”
“Soalnya kamu mungil sih, kayak toge! Tapi cantik togenya—beneran, deh! Sip, hari Minggu aku senggang.”
“Okay... Ngomong-ngomong kamu ada di mana sih? Aku bisa telepon sebentar, enggak? Aku lagi di bus, mau ke Asmaraloka.”
“Aku di rumah Todi, Bi.”
Aroma steril dan obat-obatan memenuhi lubang hidung Soga sejak tadi, berteriak di dalam paru-parunya, menegurnya agar berbicara jujur. Dingin dan sunyinya ruangan itu mencubit perih kulitnya. Matanya panas tergenang air mata.
"Sementara ini jangan telepon aku dulu. Aku masih sibuk. Tapi, aku bakal sempetin ngobrol sama kamu habis kamu pulang kerja. Hati-hati dan kabarin aku, ya."
Akhirnya, air mata itu menetes ke celana jeans Soga setelah dia mengirim pesannya. Ia mendongak begitu seorang suster menyebut namanya. Di hadapannya, ruang radioterapi sudah menunggunya.
Other Stories
Kenangan Yang Sulit Di Ulang Kembali
menceritakan hidup seorang Murid SMK yang setelah lulus dia mendapatkan kehampaan namun di ...
Cahaya Dalam Ketidakmungkinan
Nara pernah punya segalanya—hidup yang tampak sempurna, bahagia tanpa cela. Hingga suatu ...
Buah Mangga
buah mangga enak rasanya ...
Kita Pantas Kan?
Bukan soal berapa uangmu atau seberapa cantik dirimu tapi, bagaimana cara dirimu berdiri m ...
Cinta Di Ujung Asa
Alya mendapat beasiswa ke Leiden, namun dilema karena harus merawat bayi kembar peninggala ...
Mother & Son
Zyan tak sengaja merusak gitar Dana. Rasa bersalah membawanya pulang dalam diam, hingga na ...