Chromatic Goodbye

Reads
147
Votes
16
Parts
22
Vote
Report
Penulis NarayuPita

Bab 21 - Kenangan Manis

Suara bersin Soga membuat Banyu tersentak dari tidurnya yang tidak disengaja.

Ia terdiam, linglung beberapa detik sebelum menyadari TV masih menyala. Layarnya kini menayangkan segmen komentar pertandingan tinju, belum ditentukan siapa juaranya.

Tapak tangan Banyu menempel di wajahnya, mengusap-usap, meredam jantungnya yang berdebar tak karuan. Dia setengah memutar tubuhnya ke belakang, ke arah dapur.

Kosong.

Lagu yang tadi diputar juga sudah tidak lagi terdengar.

Banyu melirik ke dinding yang membatasi dapur dan ruang TV. Dia mendengar suara samar mereka dari belakang rumah.

Banyu bangkit dari sofa, melangkah ringan melintasi ruangan, lalu berhenti sejenak di dapur. Ia meraih gelas, menuangkan air, dan meneguknya. Dari sana, dia melihat mereka.

Soga dan Rubi duduk di teras belakang rumah. Punggung mereka menghadap ke ruang dapur. Mereka membungkuk ke arah meja kecil berkaki rendah, kepala dan bahu saling beradu lembut. Tawa kecil menyela gumaman-gumaman yang tidak jelas, seperti dua orang yang sedang merencanakan persekongkolan.

Banyu menaruh gelasnya yang kini kosong. Ia mendekat perlahan, nyaris menahan napas dan tanpa suara. Tubuhnya condong ke depan, mengintip dari ambang pintu.

Di meja itu, terbuka Jurnal Katumbiri. Kuas-kuas terendam dalam gelas kaca, airnya sudah berubah keruh. Pensil-pensil berjajar rapi di dalam kotak pensil. Tabung-tabung cat air yang sudah penyok menumpuk di dalam dus, sebagian lagi berserakan di lantai.

“Coba kamu warnain bagian yang ini,” gumam Soga pada Rubi.

“Enggak, ah," Rubi menyelipkan helai rambutnya ke telinga. ”Aku enggak bisa. Nanti berantakan.“

Soga terkekeh. ”Kalau melukis itu, enggak ada yang namanya salah. Kecuali kamu DaVinci. Sini, aku tunjukin.“

Dia meraih tangan Rubi yang menggenggam kuas. Pelan, tidak tergesa-gesa. Diarahkannya tangan itu ke dalam air yang bening, dan mencelupkannya sebentar. Kuas itu lalu mengarah ke cat biru gelap, mengaduknya lembut.

”Nah, sekarang coba kamu oles warnanya di sini...“ Soga melepaskan genggamannya.

Rubi menurut, mengolesnya hati-hati. ”Begini?“ Ia berhenti, melirik ke Soga.

”Iya. Terusin.“ Soga mengalihkan tubuhnya sebentar. Berdeham pelan, mencoba mengusir pahit di kerongkongannya. Ia mengambil kuas yang lain.

Jurnal itu kini dipenuhi warna. Kuning, orange, coklat karamel, merah bata yang melingkari karikatur Soga dan Rubi seperti tabir pelindung yang rapuh. Warna putih memercik di sepanjang warna biru gelap, berubah menjadi bintang-bintang kecil. Hitamnya menahan semuanya agar tidak tercerai berai.

Dari ambang pintu, Banyu masih menyaksikan. Pandangannya pelan-pelan melunak. Ia tidak menemukan keganjilan apa pun pada Soga. Tidak ada tremor di jemarinya. Tidak ada genggaman yang goyah. Tidak ada gagap atau napas yang terjeda. Tidak ada pucat selain rona berseri-seri di wajahnya.

Banyu berbalik, hendak kembali ke ruang TV.

”Kak Banyu!“

Langkah Banyu terhenti. Ia menoleh, menangkap cengiran Rubi, dan tatapan Soga yang berubah.

”Mau ikutan ngelukis juga, Kak?“ tanya Rubi ringan.

Soga dan Banyu saling bertukar pandang. Sekejap saja.

”Ah, enggak. Cuma penasaran.. kalian lagi ngapain,“ ujar Banyu, mengusap rambutnya agak canggung. ”Sekalian ini...“ Ia berpindah ke dekat meja. "Nyuri bolu buatan kamu.” Dia menyomot sepotong bolu dan menggigitnya. “Dari tadi aromanya gangguin aku terus.”

Tawa Rubi berdering.

Soga hampir melupakan kuas di tangannya, bola matanya mengikuti gerak-gerik kakaknya. Pandangan mereka bertemu lagi ketika kelakar Rubi dan Banyu tentang bolu itu menggema di antara mereka.

Ada sesuatu di cara Banyu meliriknya—cepat dan dalam. Seperti keinginan untuk mengatakan semuanya, baik secara sarkas atau pun tidak, agar Rubi menyadari tentang penyakit yang diderita Soga. Agar Rubi peduli dan tahu batasan.

Tolong jangan katakan apa pun, Soga membatin, menatap tajam kakaknya, tak sadar jemarinya menegang di sekitar kuas. Jangan. Pokoknya jangan sekarang!

“Ini enak.” Banyu mengangguk, mulutnya penuh. Matanya pura-pura fokus ke bolu di tangannya. “Rasanya enggak terlalu manis, tapi..” Ia menggigitnya lagi dan lagi.

Caranya mengulas bolu itu—mengangguk-angguk, bibir menekuk, tangan dan bahunya bergerak—seolah-olah dia ahli makanan, membuat Soga mengangkat alis, jijik sekaligus malu. Sedangkan Rubi cekikkikan di sampingnya. Bagaimana pun, Soga tahu kakaknya sedang mengambil waktu, menimbang-nimbang apakah dia harus bicara atau tidak.

“Tapi, teksturnya masih kurang lembut. Sayang banget, lidahku bilang ini masih amatiran,” lanjut Banyu.

“Bilang amatiran tapi nambah,” sahut Rubi di tengah tawanya.

Banyu mengambil lagi potongan bolu dan membawanya ke ruang TV.

Soga menghela napas, bahunya mengendur. “Yuk, lanjut,” katanya pada Rubi, membenarkan kain yang menutupi kepalanya.

Banyu berhenti di ruang TV. Remah-remah kecil dari bolu di tangannya berjatuhan ke lantai. Dia menoleh lagi ke Soga dan Rubi, yang kini terhalangan salah satu pintu.

Tatapannya berubah sendu. Dia tahu adiknya sedang berputa-pura baik-baik saja. Menahan nyeri. Menahan mual. Menahan lelah, atau apa pun yang dirasakannya sekarang. Semua itu dilakukan hanya supaya gadisnya tetap tertawa. Supaya gadisnya tidak terbebani oleh kesedihan.

* * *

Waktu berlalu.

Kini Banyu berdiri di dekat sofa di mana adiknya terlelap.

Rubi sudah pergi tiga puluh menit lalu. Katanya, dia ada janji mengajar privat murid kelas satu SD. Gadis itu sedang membutuhkan uang tanpa mengatakannya secara terang-terangan, dan menolak bantuan dari Soga.

Banyu menunduk ke Soga. Segaris sinar matahari sore menyorot lembut. Ekspresinya damai. Ada sedikit kerutan di tengah alisnya, seperti tanda lelah dan gelisah yang ingin keluar. Kain yang tadi menutup kepalanya melonggar. Lengkungan bekas luka operasinya mengintip di bawah bayangan yang tipis. Banyu ingin mengambil kain itu, tapi tidak jadi.

Ia menyeringai masam. “Kalau ada obat yang enggak bisa dibeli di apotek mana pun, mungkin namanya Rubi. Iya 'kan, Ga?” Senyumnya hilang. “Tapi... mau sampai kapan? Kamu tahu, kita tahu, kalau kamu...” Dia berhenti, menelan sisa kalimatnya bersama ludah. Rasanya seperti gumpalan yang menyakitkan.

Banyu duduk di sofa yang lain. Dia mengambil Jurnal Katumbiri, mengamati sampulnya sebelum membuka halamannya. Baru tiga halaman yang terisi. Sisanya masih banyak halaman yang kosong. Ia sempat bertanya tentang jurnal ini tadi.

Benaknya mengulang kembali ucapan Soga.

“Aku cuma ingin dia ingat bahwa dunia yang dia lihat itu indah. Dan aku pengen bisa melihatnya juga, meskipun cuma lewat ilustrasi yang kubuat.” Soga mengatakan itu sambil melamun. “Semua ilustrasinya berasal dari warna-warna yang dilihat Rubi setiap dia dengerin lagu favoritnya.”

Banyu tersenyum samar. Walaupun dia tidak begitu memahami apa maksudnya, dia bisa merasakan sesuatu yang berat di dalam kalimatnya; harapan dan ketakutan saling berlomba, diam-diam ikut menggerogoti jiwa adiknya.

Ia tahu, jurnal ini bukan sekadar kenangan manis. Dan Rubi mengira ini hanya bentuk aktivitas yang mereka lakukan karena mereka saling menyayangi.

Tidak. Ini lebih lebih dari itu.

Ini adalah surat cinta yang Soga tulis untuk seseorang yang mungkin akan membacanya sendirian suatu hari nanti.




Other Stories
Blind

Ketika dunia gelap, seorang hampir kehilangan harapan. Tapi di tengah kegelapan, cinta dar ...

Kepingan Hati Alisa

Di sebuah rumah sederhana, seorang wanita paruh baya berkerudung hitam, berbincang agak ...

Dua Mata Saya ( Halusinada )

Raihan berendam di bak mandi yang sudah terisi air hangat itu, dikelilingi busa berlimpah. ...

Pasti Ada Jalan

Sebagai ibu tunggal di usia muda, Sari, perempuan cerdas yang bernasib malang itu, selalu ...

Mozarella Bukan Cinderella

Moza tinggal di Panti Asuhan Muara Kasih Ibu sejak ia pertama kali melihat dunia. Seseo ...

Download Titik & Koma