Bab 13 - Cokelat Tua Dan Emas
“Kenapa kamu ngeliatin aku kayak gitu sih?”
“Kamu.. kayaknya lebih cakep sekarang. Apa aku lagi mabok, ya?”
Terkekeh, rona merah merayap di pipi Soga. “Mabok aja kamu enggak pernah.”
Soga melirik sebentar ke arah lain, ke ibunya yang terbingkai kusen pintu, sibuk mengobrol melalui ponsel. Mereka saling bertemu pandang. Ibunya tersenyum kecil—senyumnya penuh harap sekaligus cemas—lalu mengangguk, mengisyaratkan dalam diam bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Tiga puluh menit sebelumnya, ibunya yang cukup terampil menyamarkan bekas luka operasi di kepala Soga. Dia menggunakan produk-produk riasan yang tidak dipahami Soga, menyulapnya seolah bekas luka itu tak pernah ada sejak awal. Namun, Soga masih khawatir, jadi dia menutupi kepalanya dengan kain kepala merah bercorak batik. Mungkin karena kain inilah, yang membuatnya tampak berbeda di mata Rubi.
“Apa kamu... cukur rambut, Ga” tanya Rubi, memasukkan lagi sebutir anggur ke mulutnya. Pertanyaannya terdengar polos, tapi menyelidik.
Soga terkesiap. Dadanya berdebar.
“Nah, benar 'kan?” ujar Rubi lagi. “Aku tahu dari sehari sebelum kita pacaran, kamu memang udah cukur rambut. Soalnya, kamu 'kan enggak biasa pake kupluk apalagi kain kepala kayak gini.” Rubi mencondongkan tubuhnya ke meja, tersenyum nakal—tidak menyadari kegelisahan Soga yang duduk di seberangnya. “Kamu malu ya?” Alisnya bergoyang-goyang menggoda Soga.
“A-aku enggak malu kok...” gumam Soga, cemberut, suaranya memelan. Dia setengah menjauh dari Rubi, takut tiba-tiba gadis itu iseng menarik kain kepalanya. Rubi memang punya kebiasaan seperti itu; suka mendekat, blak-blakan, menyentuh dan mencubit tanpa pikir panjang. “Aku memang ... pengen ganti penampilan aja.. Dan, ya... supaya kamu muji aku.” Senyumnya melebar, tapi terlihat seperti meringis daripada nyengir.
Rasa bersalah dan rasa takut menggumpal membebani paru-parunya hingga begitu berat menarik napas. Bagaimana kalau Rubi mendapatinya telah berbohong? Apa reaksinya andai dia tahu tentang penyakitnya?
Titik-titik keringat yang mulai terbentuk menggelitik pori-porinya.
Aduh. Jangan-jangan alas bedaknya ikut luntur.
Habislah sudah.
“Tapi,” Rubi kembali bersandar pada kursinya, dan melahap sebutir anggur lagi, “kamu beneran cakep lho dengan penampilan yang sekarang. Mirip sama itu... uum,” matanya melirik ke atas, “siapa nama pemain bass Dewa itu?”
Soga tahu siapa yang Rubi maksud—wajah musisi itu langsung muncul di kepalanya, tapi dia mendadak lupa namanya.
“Ah,” Rubi menjentikkan jarinya, “Yuke. Yuke Sampurna! Ya, kamu sekarang mirip sama dia kalau dia muda—mungkin.” Rubi cekikikan.
Soga tersenyum, diam-diam menghela napas lega. Dia mencondongkan dadanya ke depan. “Kenapa sih susah amat bilang aku ganteng? Pake muter-muter harus mikir nama bassist Dewa segala.” Soga menyeringai tipis.
“Eh, aku tadi udah bilang cakep 'kan? Masa kamu lupa?” Rubi sedikit melotot.
“Cakep sama ganteng itu beda,” bantah Soga sambil pura-pura mencemooh, puas bisa menggoda balik Rubi.
“Sama aja tahu!" Rubi mengambil almond slice dari jar kaca dan melemparnya ke wajah Soga. ”Kamunya yang serakah!”
Tawa mereka mengudara, pecah hingga menerobos ke ruangan lain. Gemanya membangunkan Banyu yang sedang tidur siang, membuatnya menggerutu sambil mengubah posisi tidurnya.
Soga dan Rubi kini pindah ke teras yang menghadap ke halaman belakang. Dinaungi langit biru, dan awan-awan putih berarak menghalangi terik matahari.
Rubi duduk bersandar pada daun pintu geser yang terbuka, menikmati angin sejuk beraroma mawar, mengusap keringat di kulitnya. Dia tak menyadari Soga di seberangnya, yang meringis menahan nyeri ketika duduk di atas bantal.
“Kamu beneran mau tahu soal itu, Ga?” Rubi menoleh.
“Oh.” Soga buru-buru menenangkan dirinya sambil membenarkan kain kepalanya. “Iya.” Dia diam beberapa saat, merenung.
Pikirannya melayang ke hari itu, ke hari di mana Rubi menyanyi di Asmaraloka. Ekspresinya yang mengawang-ngawang seakan menyaksikan sesuatu yang tak bisa ditangkap oleh pandangannya atau siapa pun—misterius sekaligus indah. “Aku yakin kamu.. mengalami sesuatu saat kamu nyanyi. Iya' kan?” Tatapannya kembali pada Rubi.
“Menurut kamu, kenapa kamu sampai bisa berpikir begitu?” tanya Rubi.
“Yaaah.” Soga mengusap tengkuknya. Dia melirik ke ruangan lain, memastikan tidak ada yang mendengar obrolan mereka. “Ya, karena aku sayang sama kamu, Bi. Kamu ngerti 'kan... Perasaan kita pasti.. saling bertautan.” Soga berdeham, sebal dengan ucapannya sendiri yang tidak bisa ditariknya kembali. “Lagian, aku udah lama kenal kamu, dan...” Soga melipat bibirnya, menggantungkan kalimatnya.
Rubi tidak langsung menjawab. Burung-burung gereja berkicau diiringi bunyi lembut riak air dari kolam ikan koi di tengah halaman. Tanpa sadar ia memainkan hiasan pita yang menjuntai dari bantal yang dipeluknya.
“Iya, Ga,” gumam Rubi, sedikit menunduk. Ketakutannya akan dihakimi atau dinilai aneh memicu debaran tak terkendali di hatinya. Batinnya berulang kali mengingatkan bahwa Soga tak akan melakukan itu karena dia pacarnya. Tapi, akankah dia memahaminya? Selama ini, Rubi tidak pernah menceritakan rahasianya pada siapa pun. “Aku lihat warna-warna. Bukan cuma pas lagi nyanyi, tapi juga setiap kali aku dengerin lagu.”
“Lihat... warna-warna?” Soga mengerutkan kening, memproses ucapan Rubi. “Literally... Lihat warna? Gimana maksudnya?”
Rubi menghela. "Duh, gimana jelasinnya, ya?“ Dia menggaruk punggungnya yang memang gatal, terkekeh canggung.
”Tenang. Enggak apa-apa.“ Soga mengangkat tangannya sejajar dengan dada. ”Jelasin aja pelan-pelan pake bahasa kamu.“
”Jadi, um,“ Rubi meremas bantal, ”setiap kali aku dengar lagu, aku pasti melihat warna-warna. Tergantung progresi akornya. Pada dasarnya, aku melihat bentuk dan warna dari suara yang aku dengar. Misalnya, suara kamu, Ga.“ Rubi senyum malu-malu.
”Suara aku?“ mata Soga membulat. Ia semakin penasaran, walaupun dia belum bisa menangkap poinnya. ”Suaraku ada warna dan bentuknya?“
”Iya. Suara kamu itu warnanya cokelat tua dan emas, bentuknya persegi panjang sekaligus cair—seperti cokelat hitam batang yang dituang madu.“ Rubi mulai merasakan getaran samar di rahangnya. Ia mengusap dagunya pelan-pelan. ”Kalau kamu ketawa, coklatnya pecah jadi bubuk satu per satu.“
Soga tercekat. Tanpa sadar bibirnya terbuka sedikit. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya.
”Warna dan bentuk itu muncul begitu aja di kepalaku,“ tambah Rubi. ”Aku enggak sedang mengkhayal, sebab mengkhayal itu...“
”Mengkhayal itu pekerjaan yang sengaja kita lakukan,“ Soga melanjutkan, tertegun dan mengangguk. Dia tertegun mendengar penjelasan Rubi tentang warna dan bentuk suaranya, hingga jiwanya tersentuh dan kagum. ”Aku ngerti. Artinya apa yang kamu alami itu memang tanpa niat, tanpa sengaja.. alias otomatis.“
”Iya. Saking otomatisnya, kadang-kadang aku sampai enggak bisa nangkep warna dan bentuknya,“ kata Rubi lagi, senang melihat reaksi Soga. ”Aku juga lihat warna pada hari-hari. Misalnya... sekarang 'kan Minggu. Nah, Minggu itu kuning. Senin itu putih. Selasa itu putih dan kelabu tua. Rabu itu merah jambu. Kamis itu silver dan biru laut. Jumat itu merah dan coklat tanah. Sabtu itu biru muda kehijauan.“
Bibir Soga merekah, hampir membentuk senyuman. ”Jangan-jangan kamu juga lihat warna pada bulan dan tahun...“ duganya, berbisik.
”Iya, Ga.“ Rubi tertawa. Jarinya menyeka helaian rambut yang jatuh ke pipinya.
”Sekarang,“ ujar Soga sembari meraih ponselnya, ”gimana kalau dengar lagu? Ini lagu kesukaan kamu kok. Apa kamu siap?“
Rubi menatap Soga. Dia membenamkan telapak tangannya yang lembap dan dingin pada bantal yang hangat. Getaran di rahangnya semakin menjadi-jadi, namun cukup samar untuk disadari Soga. Getaran yang tak diundang itu berasal dari perasaan gugup dan lega sekaligus; gugup karena masih takut Soga akan menganggapnya aneh, dan lega karena akhirnya ia mampu menceritakan rahasia yang selama ini selalu disimpannya.
Other Stories
Ijr
hrj ...
Perahu Kertas
Satu tahun lalu, Rehan terpaksa putus sekolah karena keadaan ekonomi keluarganya. Sekarang ...
Sumpah Cinta
Gibriel Alexander,penulis muda blasteran Arab-Jerman, menulis novel demi membuat mantannya ...
Hanya Ibu
kisah perjuangan bunga, pengamen kecil yang ditinggal ayahnya meninggal karena sakit jantu ...
Sebelum Ya ( Ketika Hidup Butuh Diperjuangkan )
(Diangkat dari kisah nyata. Kisah-kisah penuh hikmah bagi tokoh utama, yang diharapkan bis ...
Jatuh Untuk Tumbuh
Layaknya pohon yang meranggas saat kemarau panjang, daunnya perlahan jatuh, terinjak, bahk ...