Bab 17 - Da La Ti Na Mi Da
Hari itu, satpam griya membuka gerbang dan mempersilakan Soga masuk. “Silakan masuk.” Dia tersenyum hingga kumis tebalnya terangkat.
“Makasih, Pak.” Soga mengangguk sekali, dan melangkah masuk.
Langit biru gelap menaungi suasana kavling yang temaram. Bapak-bapak berbaju koko baru saja meninggalkan masjid. Tawa sekelompok mahasiswa terdengar dari hunian lain. Jendela-jendela hunian berjajar bercahaya putih dan kuning. Ketika Soga berjalan menuju tempat Rubi, lampu-lampu taman menyala satu per satu, menarik serangga-serangga kecil.
Semakin dekat Soga ke tujuan, semakin jelas getar samar di lututnya. Jantungnya berdebar cepat. Ia tahu ini bukan berasal dari sakitnya, melainkan dari gugupnya yang tak seharusnya ada. Ini bukan pertama kalinya dia berkunjung ke sini. Dia juga sudah mengenal tempat ini sejak lama. Tapi, membayangkan dirinya bersama Rubi, berdua di dalam sana, mengerjakan sesuatu, membuat perasaannya campur aduk.Dia membenarkan kupluknya, menyingkirkan imajinasi yang tidak boleh dia pikirkan.
Ia mundur setengah langkah, berdeham beberapa kali, dan menelan ludah pahit yang mengental di pangkal kerongkongannya. Sebelum sempat mengetuk pintu, gagangnya bergerak.
Rubi muncul di hadapannya.
Rambut gadis itu setengah basah, tergerai tanpa disisir dan agak bergelombang di bagian tengah ke bawah. Wangi apel tercium. Kulitnya berkilauan di bawah cahaya lampu. Dan dia hanya memakai daster pendek warna orange berpola lingkaran-lingkaran kuning dan biru.
“Hai, sayang,” sambut Rubi, senyumnya merekah ceria. “Yuk, masuk.”
Rona merah merayap di pipi Soga. Dia ingin memuji kecantikannya, tapi kalimat yang keluar malah gumaman, “Kamu kayak emak-emak.”
“Hah? Apa?” Rubi menoleh.
“Enggak.” Soga melepas sepatu dan menaruhnya di samping keset.
Begitu ia melangkah masuk, aroma hangat makanan menyelip di atas wangi rambut Rubi—bau daging bersaus kecap dan nasi pulen. Ia familiar dengan bau itu, dan terbayang sebuah masakan di kepalanya. Tapi, dia tidak ingat namanya.
“Duduk, Ga.” Rubi menggeser dua bantal cushion di atas karpet merah. Di tengah ruangan, ada meja kayu jati berkaki rendah.
“Kamu masak, Bi?” tanya Soga, menurunkan ranselnya dari bahu. Ia meringis kecil ketika lengannya tergesek tali ransel tanpa sengaja. Ransel itu ia taruh di bawah tirai bercorak dedaunan. Ia duduk bersila di atas cushion, dan menenggak air beberapa teguk dari botol.
“Enggak.” Rubi beranjak dan menghilang ke dapur, lalu kembali membawa kresek putih berisi dua kotak makanan, dua gelas minuman dingin, serta dua mangkuk keramik dan sendok. “Aku pesan gyudon,” katanya tersenyum. “Aku pikir kita pasti lapar dan bakal lebih enak kalau ngerjain jurnalnya sambil makan. Iya, enggak?”
Ya. Ini bau gyudon. Nama makanan itu seperti menyambar pikiran Soga sendiri. Ia tertegun, memperhatikan Rubi menuangkan gyudon ke mangkuk merah jambu dan hijau, mengatur semuanya di atas meja. Saat ia hendak bicara, Rubi lebih dulu bicara.
“Kebeneran aku punya uang lebih, jadi ini aku yang traktir.” Lidahnya terjulur sedikit, menjilat jempolnya yang terkena saus. “Nah. Kita mau mulai dari mana nih?”
Air mata menggenang perlahan, memaksa Soga melepaskannya. Ia menahannya hingga tenggorokannya menegang dan sakit. Pahit kembali melapisi lidahnya—lebih tebal dari yang tadi. Bukan karena ia tak mau makan, tapi karena ia takut: takut tidak mampu menghabiskannya, takut tiba-tiba mual dan memuntahkannya ke meja, dan segalanya akan runtuh di depan Rubi.
“Kok kamu diem aja sih?” suara Rubi memecah pikirannya.
Cepat-cepat Soga mengusap matanya. “Sebenernya.. aku tadi makan kue keju di kampus,” karangnya. “Ada yang ulang tahun.” Ia diam sejenak. “Tapi, kamu bener. Kayaknya aku lapar lagi.” Mulutnya nyengir. Kebohongan itu menghimpit keras dadanya.
“Ya udah,” kata Rubi santai. “Kalau punyamu enggak habis, biar aku makan nanti.” Dia mulai makan.
Soga terkekeh—entah dia harus merasa lega atau malah sebaliknya. Gyudon itu memang menggoda. “Dasar rakus. Nanti pipi kamu nambah bulet kayak bapao.” Ia akhirnya menyuap. Rasanya tidak seenak dulu, tapi tidak terlalu buruk juga.
“Ini juga gara-gara kamu enggak ngajak aku ke restotan Jepang.” Rubi pura-pura mengeluh, mulutnya penuh.
Soga tercekat, hampir tersedak. Dia buru-buru menenggak air.
“Janji?” ulangnya seraya mengusap bibirnya dengan punggung tangan. Suaranya serak. Oh, Tuhan! Aku enggak ingat sama sekali. Aku semestinya mulai bikin catatan pengingat. “Apa aku memang bilang aku mau ajak kamu ke sana, Bi?”
“Iya,” Rubi mengangguk sambil mengaduk gyudon-nya. “Tapi, kayaknya kamu lupa, dan itu enggak apa-apa kok.”
“Kalau tahu aku lupa, kenapa enggak ingetin aku?” Perasaan bersalah merambat di hatinya. Ini semua gara-gara penyakitnya.
“Karena kamu pasti sibuk, bukan? Aku juga sibuk sih, jadi ya udahlah.” Senyum tulus menghiasi bibir Rubi yang agak mengkilap.
Soga diam. Ia menyuap lagi gyudon-nya.
Kenyataannya, Soga tidak sibuk. Beberapa tugas tertunda, sebagian lagi tidak selesai. Dia juga batal ikut membuat proyek bersama Raka dan teman-temannya. Belum lagi kunjungan ke rumah sakit untuk cek kesehatan dan radioterapi. Semuanya menjadi lingkaran rutinitas yang masih ia rahasiakan dari Rubi.
Ketika Soga berniat menyusun rencana baru untuk mereka berdua, Soga mendengar gadisnya berkata, “Udahlah, enggak usah dipikirin. Begini juga aku udah happy kok.” Ia tersenyum lagi. “So, kita mau mulai dari mana nih? Aku udah bikin daftar lagu yang layak banget kamu lukis buat jurnal Katumbiri kita.”
Pandangan Soga melembut. Ketegangannya luruh. “Kita mulai dari akar,” katanya, yang lalu menyuap lagi gyudon-nya.
“Akar?” Rubi mengangkat wajahnya dari makan malamnya, matanya melirik ke samping sejenak. “Akar pohon?”
“Bukan.” Jari telunjuk Soga mendarat lembut di kening Rubi. Mereka tertawa. Dari ranselnya, dia mengeluarkan buku catatan kecil dan buku cat air A4—yang nantinya akan dijadikan jurnal mereka. “Yang aku maksud 'akar' itu adalah budaya kita. Misalnya... warna apa yang kamu lihat waktu kamu denger notasi Sunda.”
Mata Rubi berbinar dan menelan makanannya. Ia lalu memvokalisasikan da la ti na mi da bolak balik. Suaranya ringan dan bervibrasi di ujungnya.
“Warna notasinya itu kayak ini.” Rubi menarik laci di bawah meja kopi, mengeluarkan sebatang coklat berbungkus emas. “Emas, cokelat susu, dan...” Ia berpikir. “Kacang mete itu warnanya apa sih?”
“Kacang mete matang umumnya berwarna golden brown,” guman Soga sambil mencatat. Ia mendongak sebentar. “Terus, apa rasa suaranya juga kayak coklat itu?”
“Enggak.” Rubi menggeleng. Ia menyesap minuman dinginnya. “Bunyi gamelan, degungan, itu bikin aku kayak lagi makan kue ladu.”
Soga mengangkat wajah dari bukunya, keningnya mengernyit. “Ladu? Kue apaan tuh?”
“Eh.. Serius?” Rubi menatap pacarnya tidak percaya. “Kue ladu itu salah satu kue tradisional Jawa Barat.” Ia menjelaskan dengan antusias. “Bentuknya bisa macam-macam—persegi panjang, kotak, segitiga. Dibuat dari ketan sama gula merah, ditabur bubuk kelapa. Teksturnya padat tapi lembut, agak berpasir. Rasanya enggak manis banget.” Rubi membuka ponselnya dan menunjukkan wujud kue ladu pada Soga. “Kalau makan itu, bikin aku mikir.. andai bumi bisa dimakan, mungkin rasanya kayak ladu.”
“Hah?” Soga yang sedang memperhatikan gambar-gambar itu, tertawa. “Bisa-bisanya kamu bayangin makan bumi.” Mulanya ia mengira itu dodol karena warnanya sama-sama cokelat tua. Ia menuliskan warna cokelat tua dan catatan singkat tentang kue ladu di bukunya. “Ada warna lain?”
“Aku juga melihat warna merah dan putih,” jawab Rubi, pandangannya tertuju ke sudut siling. “Tapi, merahnya itu kayak buah delima. Terus ada hitam, biru langit, biru gunung, hijau dedaunan, warna batang bambu, dan kuning matahari.”
Di luar, sebuah motor berhenti di seberang saat Soga mulai melukis. Ia menggambar kue ladu berbentuk persegi panjang, dikelilingi gambar alat-alat musik degungan. Ia juga menambahkan deretan pola setengah lingkaran—sempit, sedang, lebar—bentuk-bentuk yang Rubi lihat saat mendengar harmoni itu. Warna-warna yang tadi disebutkan tertuang dalam bentuk abstrak, seperti bercak-bercak air.
Soga hampir melupakan sakit dan lelahnya. Gyudon di mangkoknya juga habis. Semuanya seolah tergulung oleh waktu yang bergulir.
Tepat pukul delapan, halaman pertama Jurnal Katumbiri selesai. Judulnya: “Da La Ti Na Mi Da.”
Di bawahnya, di atas warna-warna yang sudah mengering, Rubi menulis bait Sunda, yang artinya:
Ini adalah gempita warna bumi dan langit.
Warna yang menyambut kelahiran kita, sekaligus warna yang mengantar kita kembali pulang.
Tanpa Rubi ketahui, Soga menyeka setitik air mata yang jatuh.
Other Stories
Mauren, Lupakan Masa Lalu
“Nico bangun Sayang ... kita mulai semuanya dari awal anggap kita mengenal pribadi ya ...
Buku Mewarnai
ini adalah buku mewarnai srbagai contoh upload buku ...
Agum Lail Akbar
Tentang seorang anak yang terlahir berkebutuhan khusus, yang memang Allah ciptakan untuk m ...
Perpustakaan Berdarah
Segala sumpah serapah memenuhi isi hati Gina. Tatapan matanya penuh dendam. Bisikan-bisika ...
Melinda Dan Dunianya Yang Hilang
Melinda seorang gadis biasa menjalani hari-hari seperti biasa, hingga pada suatu saat ia b ...
Losmen Kembang Kuning
Rumah bordil berkedok losmen, mau tak mau Winarti tinggal di sana. Bapaknya gay, ibunya pe ...