Bab 20 - Lilin
Hari Minggu, Soga melirik ke seberang meja makan yang beraroma vanilla dan teh melati.
Potongan demi potongan kue bolu masuk ke mulut Rubi yang rakus. Bibir penuhnya meninggalkan jejak tak beraturan di pinggiran kue. Remah-remahnya ada yang menempel di sudut bibirnya, ada juga yang berjatuhan. Lipstik merah jambu di bagian dalam bibirnya memudar. Pandangannya fokus saat dia mencelupkan potongan bolu ke krim keju, lalu menggigitnya.
Di ruang tengah, televisi menyala. Banyu duduk setengah rebahan, menggenggam remote. Dia menonton pertandingan tinju sambil sesekali mengecek ponsel. Sementara itu, Wulan berada di ruang kerjanya, di mana gaun-gaun pengantin terbungkus plastik menggantung. Buku pesanan terbuka di meja. Jadwal makeup artist ditandai stabilo.
Soga tidak sungguh-sungguh menikmati bolunya, walaupun sebenarnya rasanya tidak terlalu buruk. Diam-diam, dia menghitung setiap potongan yang menghilang di mulut pacarnya. Itu saja sudah membuat perutnya kenyang dan hangat. Senyum kecil tersimpul di bibirnya.
Sadar pandangan Soga tertuju padanya, Rubi menoleh dan berhenti sebentar. “Kenapa kamu enggak makan bolunya? Enggak enak, ya?”
Soga setengah menunduk. Satu tangannya terangkat menutupi kening. Bahunya gemetar saat dia cekikikan tanpa suara. “Enggak. Ini enak, kok.” Ia menggigit kuenya yang nyaris terlupakan, mengunyahnya sambil cekikikan. Matanya sedikit berair.
“Ada apa sih?” tanya Rubi lagi dengan mulut penuh.
“Kamu kayak hamster.” Soga menutup mulutnya yang masih tertawa, menelan kuenya dengan hati-hati supaya tidak tersedak.
“Hah? Apa?” Dahi Rubi mengernyit. Ekspresinya polos sekaligus bingung.
“Kamu makan kue kayak hamster,” ulang Soga, pandangannya bertemu Rubi. Suara tawanya kini lebih keras, membuat Banyu menoleh sebentar ke dapur.
Soga meneguk segelas air. Ia mengusap wajahnya beberapa kali, dan pandangannya tidak ke mana pun selain kepada Rubi.
“Dasar,” gumam Rubi, melempar potongan almond ke Soga tapi meleset.
“Maaf, maaf.” Soga mengangkat tangannya, menghalangi serangan Rubi. Potongan almond yang lain mendarat di telapaknya. “Udah, dong. Nanti ibuku ngambek kalau dapur berantakkan.”
“Ya, aku bilang aja kamu yang mulai duluan,” kata Rubi, cemberut, tidak mempedulikan Soga yang masih cekikikan di seberang meja. Ia lanjut menghabiskan bolunya.
Tawa Soga mereda, pandangannya melembut. Ia menarik napas dan mengambil selembar kertas cat air ukuran 5A dan marker akrilik dari dalam tas tote. Rubi menggeser duduknya, mengambil roda warna—diagram melingkar yang menampilkan spektrum warna.
“Apa ini?” tanya Rubi, memutar-mutar diagram itu pelan-pelan. Mataya sedikit menyipit, membaca beberapa tulisan berbahasa Inggris di sana.
“Itu namanya color wheel. Itu untuk memandu kita membuat kombinasi warna,” jelas Soga, ringan. “Aku jarang pake itu, tapi barangkali itu bakal berguna buat kamu.”
Rubi mengangguk sambil menyesap airnya, masih memutar diagram warna itu seperti mainan baru. “Kadang aku melihat warna yang aku enggak tahu apa nama warnanya.”
Soga tersenyum, menopangkan dagu hingga wajah mereka cukup berdekatan. Jempolnya bergerak lembut, menyapu remah kue dan krim yang menempel di sekitar bibir Rubi. “Jadi... Apa kita mau lanjut bikin jurnal kita?” Jantungnya berdegup, senang gesturnya itu menciptakan lingkaran-lingkaran merah muda di pipi Rubi.
Sentuhan itu terasa seperti aliran listrik bagi Rubi—menyengat namun menyenangkan. Selama beberapa detik, ia tidak mengatakan apa pun, selain mempelajari detail wajahnya. Ketika tatapannya berhenti di bibirnya Soga, dia membayangkan seperti apa rasanya andai bibir mereka saling menangkup.
“Lagu apa yang akan kita bahas hari ini?” gumam Rubi, menepis pikirannya tentang ciuman. Ia tidak menoleh sedikit pun.
Soga tidak langsung menjawab. Senyumnya agak memudar. Lagu yang ingin ia bahas dan dipecah menjadi ilustrasi adalah The Day Has No Edges. Itu adalah lagu yang dibawakan oleh band kampus di acara Campus Art Week dua tahun lalu—lagu yang membuat Rubi menari, dan menarik Soga ke semestanya.
Soga ingin tahu warna-warna apa yang dilihat Rubi waktu itu. Tapi, judul yang lepas dari bibirnya malah judul lagu lain. “Gimana kalau Roots? Itu lagu dari Sea Static. Kamu tahu'kan?” Senyumnya kembali.
Mata Rubi melebar sedikit. “Oh, aku tahu itu. Itu soundtrack dari animasi robot itu 'kan? Film favorit aku tuh.”
Soga mengangguk samar dan menengok sebentar ke ruang tengah. Di sana, ia melihat bagian belakang kepala Banyu—rambutnya yang berantakkan setengah terhalang sandaran sofa. Kakaknya masih menonton pertandingan tinju, tapi tidak ada yang tahu apakah ia tidur atau tidak.
Melalui speaker bluetooth yang disambungkan ke ponselnya, Soga memutar lagu Roots—berharap tidak terlalu mengganggu Banyu. Lagu itu dimulai dengan bunyi gabungan synth pad dan piano, yang membentuk harmoni sederhana yang berulang. Tatapan Rubi berpindah ke jendela di seberang mereka, seakan melamun.
Kata Rubi bunyi dan harmoninya membuatnya melihat warna putih dan kuning. Soga lalu mencoret marker berwarna sama di atas kertas, menorehkan pola garis-garis tebal.
“Dan..” lanjut Rubi, yang kemudian meraih roda warna, “aku juga lihat warna ini.” Jari mungilnya mendarat di sektor oranye yang agak kusam. “Lho.. kenapa ini ada di bagian oranye? Aku pikir seharusnya di bagian cokelat...” Ia memutar-mutar diagramnya, mencari bagian warna cokelat, tapi tidak ada. “Soalnya, warna yang aku lihat itu seperti warna cokelat karamel.”
Soga nyengir dan menghentikan lagunya sementara. Ia menggeser duduknya hingga bahu mereka berdempetan, dan memutar lagi diagram itu tanpa merebutnya dari Rubi. Ia kembali ke sektor oranye yang berwarna cerah di tengah, lalu semakin ke pinggir semakin gelap dan kusam. Warna oranye di ujung bernuansa lebih dalam, seperti warna tanah yang muda.
“Cokelat, termasuk cokelat karamel, enggak punya tempat sendiri di roda warna,” Soga menjelaskan. “Dia cuma oranye yang udah 'diredupin'—eh, diturunin kecerahannya, atau ditambah warna gelap. Kelihatannya memang cokelat tapi akarnya dari oranye.”
Segaris kerutan terbentuk di antara alis Rubi, bingung sekaligus mulai paham. “Di kepalaku jelas itu cokelat yang seperti karamel, tapi di sini... Ternyata itu cuma oranye yang nyaru jadi cokelat.”
Soga memutar kembali lagunya, menurunkan volumenya sedikit. Ia mengambil marker berwarna putih, kuning, dan cokelat. Ia menumpuk ketiga warna itu di atas kertas, hingga tampak cokelat karamel seperti yang dilihat Rubi. Ia juga mencampur tiga warna lain—merah, kuning, dan cokelat untuk membuat warna merah bata.
Lagu berlanjut, menciptakan lengkungan-lengkungan tinggi dan megah, berwarna biru gelap dan hitam. Suasananya hangat, sederhana, dan tetap ceria. Paduan suara bernuansa gospel dari Afrika Selatan yang melatarbelakangi vokalisnya, berubah menjadi cahaya kelap-kelip berwarna-warni.
“Ini kayak kamu berada di kegelapan,” ujar Rubi seolah merenung, “lalu kamu menyalakan korek api dan membakar lilin. Enggak ada apa pun di bawah kamu selain tanah yang kemerahan, dan di atasmu hanya langit hitam kebiru-biruan yang jernih, dan berbintang. Mungkin waktu yang tepat, yang digambarkan oleh warna-warna ini adalah subuh hari.”
Bulu-bulu halus di bahu Soga berdiri, menangkap gambaran Rubi.
Di atas kertas cat air yang lain, dia menggambar ilustrasi dirinya dan Rubi, yang sedang duduk mengitari sebuah lilin. Warna-warna cokelat karamel dan merah bata melingkupi mereka seperti halo yang berlapis. Kemudian, di atas mereka langit hitam dan biru gelap melengkung tinggi, menaungi taburan bintang yang berkilauan.
“Tiba-tiba aku ingat kisah Gadis Penjual Korek Api, ya?” Soga berkomentar, agak sendu.
“Tapi, di sini kita enggak sedih. Iya 'kan?” kata Rubi.
Other Stories
Absolute Point
Sebuah sudut pandang mahasiswa semester 13 diambang Drop Out yang terlalu malu menceritaka ...
Lydia
Di usianya yang menginjak tiga puluh satu tahun, Lydia merasa waktu berjalan terlalu cepat ...
Tentang Kita : Yang Tertulis Untuk Bian
Sepeninggal ayahnya, Bian dihadapkan pada situasi rumit antara uang dan kekasihnya. Di sat ...
Balada Cinta Kamaliah
Badannya jungkir balik di udara dan akhirnya menyentuh tanah. Sebuah bambu ukuran satu m ...
Awan Favorit Mamah
Mamah sejak kecil sudah ditempa kehidupan yang keras, harus bekerja untuk bisa sekolah, tu ...
Conclusion
Liburan Dara ke kota Sapporo di Hokkaido Jepang membawanya pada hal yang tak terduga. Masa ...