Bab 3 - Benda Hitam Tak Berbentuk
“Aku sayang kamu...”
Waktu pun berlalu sejak itu. Kalimatnya memudar bersamaan musik di Campus Art Week dua tahun lalu.
Soga menghela napas, menatap wajahnya di cermin—jauh, hampir tidak dikenalnya. Cahaya pagi dari balik tirai menyorot rambutnya yang berwarna cokelat tembaga, pendek dan hampir botak. Warna-warna kelabu setengah melingkar di bawah matanya yang cokelat muda. Bibirnya masih bersemu merah, enggan tersenyum.
Ragu-ragu, dia mengangkat tangannya, menelusuri garis gelap bekas jahitan yang melengkung di sisi kiri kepalanya. Jari-jarinya gemetar, seakan menyentuh sesuatu yang bukan bagian dari dirinya, namun tetap tidak bisa ia tolak.
Ada yang hidup, menyebar di balik tengkoraknya, memakan otaknya— entah dari mana asalnya, dan mengapa dia datang. Hari itu, hari di mana hujan turun terus-menerus, ia mengalami gejala-gejala aneh. Kepalanya berdenyut tanpa henti, perutnya bergejolak, pandangan mengabur, dan keseimbangannya mudah goyah. Kata-kata yang mudah diucapkan, beberapa kali terselip di lidah, hilang terhembus angin. Semua yang biasa ia lakukan terasa berat, membingungkan, menakutkan. Semua itu menuntunnya pada keputusan yang tidak bisa ditunda—operasi.
Sayangnya, tindakan itu tidak sama sekali mengangkat penyakitnya, selain untuk meringankan gejala, dan memperpanjang harapan hidupnya. Dan Soga tidak pernah benar-benar mendengar penjelasan dokter.
Ia bahkan tidak mengingat nama penyakitnya. Kalau pun dia ingat, namanya sangat asing, rumit, dan mengancam—seperti benda hitam besar tak berbentuk, yang bersemayam di bawah ranjang, yang mencabut napasnya perlahan-lahan dalam sunyi. Hal-hal yang jelas disadari olehnya hanya isak tangis ibunya, helaan pasrah kakak lelakinya, dan perawatan lanjutan yang harus dia jalani.
Apakah ini hukuman? Kutukan? Soga tidak pernah tahu.
Tatapan Soga turun ke kupluk merah tua di meja dan mengambilnya. Ia memakai itu dengan hati-hati, memastikan luka bekas jahitannya tertutup.
Ketukan lembut terdengar dari luar pintu yang setengah terbuka, disusul suara ibunya yang memanggil pelan.
"Soga."
Pintu dibuka lebih lebar. Wulan berdiri di ambang, memandangi putranya yang sedang merapikan kerah jaket hitam bergaris merah di depan cermin. Di lantai kayu belakang Wulan, tampak bayangan buram Banyu, kakaknya Soga, yang bergerak dari kamarnya ke ruang tamu. Ia menebar aroma parfum yang menempel di kemeja kelabunya—menunggu Soga.
"Kamu yakin mau berangkat?" tanya Wulan, memainkan jemarinya tanpa sadar.
Soga menoleh. “Iya, Bu. Soga janji enggak akan ke mana-mana setelah beres kuliah,” jawabnya, tersenyum tipis. Dia membungkuk ke atas ranjang, memasukkan buku-buku yang menumpuk ke dalam ranselnya.
Wulan masuk mendekati anaknya, hampir mau meraih lengannya dan memeluknya. “Kalau kamu capek atau pusing, langsung pulang, ya? Jangan dipaksain.” Helaian rambut ikal Wulan terlepas dari jepitannya. Seraya menggulung rambutnya kembali, ia berusaha meredam bisikan-bisikan yang mengkritik dirinya sendiri.
Soga mengangguk.
Ia tahu kekhawatiran itu bukan sekadar soal fisik. Setelah semua yang terjadi—pengobatan, operasi, ruang-ruang dingin rumah sakit, malam-malam panjang penuh aroma steril dan kecemasan—ibunya jadi lebih mudah menangis—khawatir Soga akan terlepas darinya dan tak lagi pulang.
Tapi justru hari ini, Soga merasa perlu kembali. Kembali ke rutinitas, ke ruang kelas, ke teman-temannya... dan yang paling utama, kepada Rubi.
“Jangan lupa bawa minumannya,” gumam Wulan sambil menunjuk botol metalik di atas meja.
Soga mengambilnya. “Makasih, Bu.”
Wulan mengusap bahu putranya sebentar, senyumnya pahit, kemudian bergeser memberi jalan dan mengikutinya ke luar. “Hati-hati, ya,” pintanya.
Kakaknya sudah duduk di dalam mobil saat Soga berjalan ke arah garasi. Pantulan sinar matahari di dinding rumah menyorot terlalu terang, hingga ia harus menyipitkan matanya yang perih. Sebelum ibunya membukakan pintu penumpang, Soga sudah lebih dulu membukanya dan masuk.
"Siap bro?" tanya Banyu sambil mendorong kacamatanya yang hampir melorot di batang hidungnya. Ia memperhatikan adiknya yang sedang mengencangkan sabuk pengaman.
Soga mengangguk pelan. Mobil mundur perlahan keluar dari garasi, lalu meluncur melewati jalanan kompleks perumahan.
Biasanya, Soga mendengarkan radio atau musik melalui ponselnya, tapi kali ini ia tidak melakukannya. Bukan karena bosan, melainkan takut hanyut terbawa oleh rasa yang tidak menentu.
Banyu melirik sekilas. Ia menangkap sesuatu yang berbeda dari cara adiknya duduk, caranya menatap keluar jendela, serta getaran kecil di tangannya ketika menggenggam botol airnya. Mereka sudah sering bepergian bersama, dan keduanya sama-sama berpikir: mungkin ini perjalanan terakhir mereka. Membayangkan bangku itu kosong membuat hati Banyu ngilu, dan ia menepisnya dengan doa yang ragu.
“Kalau kamu nanti butuh dijemput, kabarin aja,” kata kakaknya tiba-tiba, suaranya nyaris tenggelam oleh bunyi deru truk yang lewat—mesinnya berdesis, menyemburkan asap gelap ke udara.
“Iya,” jawab Soga pelan.
Banyu tidak membalas lagi; tangannya tanpa sadar menggenggam setir lebih erat, menahan diri agar tidak menarik adiknya ke dalam pelukannya dan tidak melepaskannya lagi. Di kaca spion, matanya tampak sedikit berair—atau mungkin itu hanya cahaya yang membias di kacamatanya. Ia berkedip satu dua kali, menatap jalan di depan.
Dan Soga... ia hanya terus memandang ke luar. Ia mengira dunia tidak akan berakhir begitu memasuki usia dua puluh tahun. Dia juga hampir tidak pernah mengukur waktu, membiarkannya berlalu tanpa memberinya makna. Sejak pulih dari operasi, segalanya menjadi berbeda, di mana ia belajar mengukur waktu dalam momen—momen saat kesadaran dan ingatan masih utuh.
Matanya memperhatikan setiap detail warna, cahaya, dan bayangan pada trotoar, pepohonan, rumah, dan orang-orang yang mereka lewati, seolah dia mencoba hadir di sana sepenuhnya. Benaknya merekam semua yang dilihatnya dalam bentuk kepingan-kepingan gambar, walaupun rasanya seperti menonton dari balik kaca berembun yang dingin.
Ia juga mencatat dalam-dalam aroma daun yang masih basah, garis-garis kuning sinar matahari yang memanjang di lantai koridor kampus, senyuman teman-temannya, ekspresi dan detail pakaian mereka. Batinnya menyebut nama mereka satu per satu. Ia menyerap semuanya, seolah ingin mengemas dunia ke dalam dirinya, sebelum kata-kata terburai dari bibir, sebelum pikirannya melupakan segalanya, termasuk namanya sendiri.
Dan nama Rubi bergema di paling akhir.
Arunika... Arunika Rubi. Apa kabar kamu sekarang, ya? Pasti kamu bertanya-tanya ke mana aku pergi..
Sambil menaiki tangga menuju kelasnya, Soga lanjut berpikir. Wajah Rubi memenuhi hatinya yang menyesal dan bimbang.
Apa ini semua sudah terlambat?
Apakah dia harus mengungkapkan semuanya padanya?
Atau dibiarkan menjadi rahasia saja?
Akan seperti apa reaksinya? Sedih, sudah pasti.
Mungkin dia juga akan kecewa karena raga ini tidak lagi kuat menggendongnya di punggung.
Dan apabila ingatannya memudar, akankah kasih sayang ini juga akan hilang?
Semoga tidak.
Other Stories
Baim Dan Kelapa Yang Masih Puber
Baim menghabiskan liburan akhir tahun di pantai dengan harapan menemukan ketenangan. Namun ...
Manusia Setengah Siluman
Reno tak pernah tahu apa itu arti punya orang tua. Ia seorang yatim piatu yang berjuang hi ...
Rembulan Digenggam Malam
Pernah nggak kamu kamu membayangkan suatu hari kamu bangun di 1 Januari, terus kamu diberi ...
Cinta Di Ibukota
Sari, gadis desa yang polos, terjerat dalam hubungan berbahaya dengan fotografer ambisius ...
Mozarella Bukan Cinderella
Moza tinggal di Panti Asuhan Muara Kasih Ibu sejak ia pertama kali melihat dunia. Seseo ...
Cahaya Di Ujung Mihrab
Amara adalah seorang wanita yang terjebak dalam gemerlap dunia malam yang hampa, hingga se ...