Bab 18 - Retak Yang Tak Terucap
Sekitar jam delapan lewat tiga puluh, Banyu datang menjemput. Masih memakai kemeja dan celana formal, langkahnya tergesa melewati gerbang griya. Tas hitam menggelantung di pundaknya. Kehadirannya menarik perhatian tiga gadis yang sedang mengobrol di teras hunian lain. Debu-debu kecil beterbangan, berjatuhan di atas sepatu oxfordnya begitu dia berhenti di depan hunian Rubi.
“Hey, Kak Banyu,” sapa Rubi ceria. “Pasti mau jemput Soga, ya?”
Banyu membetulkan kacamatanya yang melorot, lalu memaksakan senyum kaku di wajahnya. “Iya, Bi.” Lelaki jangkung itu menengok ke arah ruang tamu Rubi tanpa berniat masuk. “Ke mana Soga? Apa dia baik-baik aja?”
“Oh, Soga lagi di toilet, Kak. Udah gede juga masih aja dijemput...” ledek Rubi.
“Kebetulan aku lewat sini dan tahu Soga ada di kosan kamu,” sahut Banyu agak tegas, tidak suka mendengar ucapan Rubi. Dadanya berdebar sedikit, berharap adiknya baik-baik saja di dalam. Ia membuka percakapan ringan dengan Rubi—tentang kuliah, tentang pekerjaannya di cafe—apa saja asal tidak menyentuh satu hal yang rahasia. Otot wajahnya berkedut samar, menahan diri agar tidak melontarkan kalimat apa pun mengenai kondisi adiknya.
Tawa Rubi, yang biasanya terdengar menyenangkan, kini mengiritasi telinga Banyu. Ia melihat bayangan adiknya di tanah, dan berbalik. Pandangan mereka saling bertemu. Banyu tak sungguh-sungguh mendengarkan Rubi berbicara selain memperhatikan adiknya yang bergerak lambat. Ada jeda-jeda kecil dalam gerakan tangannya, dan itu membuat Banyu sesak, hampir kehilangan kesabaran.
“Aku bawa dulu jurnalnya, ya," kata Soga sambil mengacungkan buku cat air itu sebelum diselipkan ke dalam ranselnya. Ia menarik napas dalam-dalam. "Aku mau bikin covernya.” Ia lalu batuk, canggung dan ditahan, sebelum pura-pura mengaduh. “Aduh—kemasukkan debu. Kamu harusnya bersih-bersih dong, Bi.”
Rubi langsung memutar setengah badan ke arah Soga. Alisnya terangkat. “Eh, aku selalu bersih-bersih, ya. Tas kamu kali yang kotor.”
Di belakang Rubi, kedua tangan Banyu mengepal di balik punggung, menonton bagaimana adiknya masih saja bercanda, masih saja berusaha tegar.
Mau sampai kapan kamu akting kayak gitu, Ga? geram Banyu dalam hati. Ketakutan yang tidak mau ia akui menyusupi amarahnya.
“Ngomong-ngomong,” ujar Rubi ringan sambil mengantar mereka ke pintu gerbang, “bikinin covernya yang bagus, ya. Yang ada pelanginya gitu.” Ia tersenyum hingga tampak jajaran giginya. “Salam juga buat Tante Wulan,” tambahnya.
Soga berbalik dan menjawab, “Iya. Nanti aku kabarin lagi.” Pandangannya melembut, terkunci di wajah Rubi. Muncul dorongan kuat untuk mengusap pipi gadis itu, dan meninggalkan kecupan ringan di sana, tapi ia menahan diri. Ia tahu itu hanya akan membuat Banyu tambah kesal. Soga membenarkan kupluknya dan bergumam, “Bye”.
Masih memaksakan senyum, Banyu hanya mengangguk singkat pada Rubi.
Rubi melambaikan tangannya di bawah cahaya lampu neon yang dikerubungi serangga-serangga kecil. Siluetnya mengecil dan tampak rapuh di mata Soga, menghamparkan kerinduan di hatinya.
Begitu Rubi menghilang di balik gerbang, realita menghantam Soga tanpa ampun. Ia menghela napas berat, bahunya merosot; seluruh beban yang tadi ditahannya kini jatuh menimpanya sekaligus. Angin malam menyapu, dinginnya menusuk kulitnya yang berkeringat. Kedua kakinya mendadak terasa ditindih batu tak kasatmata. Sesuatu yang tebal, menggumpal menekan-nekan dari balik kepalanya, membuat tanah di bawahnya sedikit miring.
Nyeri merambat pelan, perutnya bergejolak seolah gyudon yang tadi dimakannya memaksa naik kembali ke kerongkongan. Ia sendawa tanpa suara. Cairan pahit lolos dari mulutnya. Soga membungkuk cepat, batuk sekali, satu kaki melangkah mundur untuk menjaga keseimbangan. Ia tidak muntah sepenuhnya—hanya cairan kekuningan yang jatuh ke tanah, sedikit tapi cukup membakar tenggorokannya.
Banyu tidak mengatakan apa-apa selain berupaya tetap tenang. Ia langsung memegangi lengan adiknya dan mengusap punggungnya dengan gerakan pelan. Ia lalu meraih botol air dari dalam tas, membuka tutupnya sampai terdengar bunyi retak kecil, dan menyodorkannya ke dekat mulut Soga.
Soga minum beberapa teguk, napasnya masih berat. Hati-hati, ia menegakkan punggungnya, mengusap dagunya yang basah, lalu melangkah lagi. Namun, baru dua atau tiga langkah, tubuhnya oleng. Lututnya melemah, dan ia hampir ambruk. Banyu sigap menahan, memposisikan diri, dan tak banyak berpikir menggendong adiknya di punggungnya.
Seorang bapak tua yang datang dari arah berlawanan, menghentikan langkah. “Kenapa sama temannya, Dek?” tanyanya serak. Kumis putihnya bergerak naik turun. Rasa cemas melintas di matanya yang kelabu. “Pingsan, ya? Sini, dibaringkan dulu.” Bapak itu menunjuk ke tempat poskamling kosong, sebelum mengangkat kedua tangannya hendak menyentuh Soga.
Banyu refleks mundur selangkah. “Oh, enggak perlu, Pak,” jawabnya cepat, berusaha tetap sopan meski merasa terganggu. “Ini adik saya memang lagi kurang sehat. Mau saya langsung bawa pulang.” Banyu mengeratkan lengannya di bawah berat tubuh Soga, dan melanjutkan langkah.
“Hati-hati,” ucap bapak itu, pandangannya mengikuti Banyu dan Soga yang menggelap di bawah bayangan, sampai mereka tiba di mobil yang terparkir di pinggir jalan.
Dengan hati-hati, Banyu mendudukkan Soga di kursi penumpang. Ia melepaskan ransel dari bahu adiknya, dan menaruhnya agak kasar di kursi belakang—sedikit luapan emosi hampir lolos dari kendalinya. Ia menarik tuas di samping kursi hingga sandarannya menurun, membuat Soga bisa rebahan.
Tangannya lalu menyentuh leher adiknya, meraba denyut nadi. Masih ada, walau lemah dan tidak beraturan. Ia melihat Soga membuka mata, menangkap pandangan setengah kosong dan suram. Setelah pertimbangan singkat, Banyu memutuskan membawanya ke rumah. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia menutup pintu, berlari memutari mobil, dan duduk di belakang setir.
Tatapan Soga mengabur. Kelopak matanya setengah turun, menatap siling keabu-abuan. Kilatan-kilatan lampu jalan membelah wajahnya satu per satu saat mobil melaju. Udara keluar masuk dari mulutnya yang setengah terbuka, membuat bibirnya semakin kering. Kepalanya berdenyut malas namun semakin menyakitkan.
Ia mendengar suara Banyu dari kursi pengemudi. “Kamu enggak bisa kayak gini terus, Ga. Rubi harus tahu kondisi kamu.” Namun, kata-kata itu hanya berupa dengungan tidak bernada, menyatu dengan deru mesin mobil dan gemuruh di telinganya.
“Kita enggak tau sejauh mana kamu bakal bertahan,” lanjut Banyu, suaranya sedikit menegang. Apa yang pernah disampaikan dokter spesialis melintas di benaknya. “Aku enggak mau kamu...” ia menghentikan kalimatnya, terlalu takut menyebut kata “itu”. Takut adiknya akan meninggalkannya tanpa peringatan. Masih sambil menyetir, Banyu mengusap wajah dan rambut, lalu menyalakan radio.
Lagu dari radio mengalun dengan volume rendah. Soga memiringkan sedikit kepalanya ke arah jendela. Matanya terbuka, tapi tak satu pun cahaya yang tertangkap oleh pandangannya yang semakin sayu.
Lagu itu familiar di pendengarannya—lagu pop lokal. Ia tahu ia pernah mendengarnya, bahkan pernah tidak menyukainya. Liriknya cengeng, melodinya mudah ditebak, tidak istimewa, sampai bertanya-tanya kenapa banyak orang yang menggemari lagu ini.
Sekarang, lagu itu justru mengingatkannya pada Rubi—pada rambut panjangnya yang bergoyang-goyang, pada kakinya yang melompat-lompat, tawanya yang secerah mentari, dan cara warna-warna di sekitarnya membaur dengan figurnya.
Kehangatan menyusup, meredakan sakit di kepalanya. “Aku pengen kue ladu,” bisik Soga, suaranya nyaris tidak terdengar.
Banyu menoleh sekilas, ragu—apakah dia benar-benar mendengar adiknya atau tidak. Tangannya terulur, menyentuh pipi adiknya yang hangat dan kering. Ia tidak menjawab, tidak juga bertanya. Perhatiannya kembali ke jalan di depan, rahangnya mengeras. Ia menginjak gas perlahan, menambah kecepatan mobil.
Other Stories
Just, Open Your Heart
Muthia terjebak antara cinta lama yang menyakitkan dan cinta baru dari bosnya yang penuh k ...
Di Bawah Langit Al-ihya
Meski jarak dan waktu memisahkan, Amri dan Vara tetap dikuatkan cinta dan doa di bawah lan ...
Nyanyian Hati Seruni
Awalnya ragu dan kesal dengan aturan ketat sebagai istri prajurit TNI AD, ia justru belaja ...
Metafora Diri
Cerita ini berkisah tentang seorang wanita yang mengalami metafora sejenak ia masih kanak- ...
Mak Comblang Jatuh Cinta
Miko jatuh cinta pada sahabatnya sejak SD, Gladys. Namun, Gladys justru menyukai Vino, kak ...
Ilusi Yang Sama
Jatuh cinta pada wanita yang selalu tersakiti, Rian bertekad menjadi pria yang berbeda. Na ...