Chromatic Goodbye

Reads
147
Votes
16
Parts
26
Vote
Report
Chromatic goodbye
Chromatic Goodbye
Penulis NarayuPita

Bab 26 - Romantis, Kering, Dan Asin

Rubi menggeliat di bawah selimut merah jambunya, kesadarannya perlahan merayap masuk melalui udara pagi. Dari balik tirai yang menguning menyaring sinar matahari, terdengar keriuhan yang akrab dari aktivitas harian di sekitar rumah kosnya. Sepeda motor yang meraung, suara ayam yang berkokok, gumaman dan tawa penghuni-penghuni lain, musik dangdut yang bergema di kejauhan. Sementara itu, Rubi tetap diam berbaring, pandangannya tertuju ke atas, pada bias-bias cahaya di langit-langit.

Dia menguap dan menggosok matanya beberapa kali. Lalu, bibirnya melengkung, tersenyum kecil saat peristiwa kemarin malam terulang kembali dalam pikirannya.

Taman itu tampak lebih sepi. Lampu-lampunya yang redup membuat bayangan pohon terlihat lebih besar dan kelabu. Mereka berjalan berdampingan setelah makan malam, membicarakan hal-hal yang sama sekali tidak penting. Kadang mereka mengulang obrolan yang lalu, hanya untuk tertawa sampai perut Rubi sakit.

Mereka duduk di kursi kayu yang dingin, dan percakapan mereka melambat. Bukan karena kehabisan topik. Justru karena keduanya sama-sama menyadari sesuatu sedang menunggu di ujung malam. Dan di mata Rubi, tatapan lembut Soga kala memandang bintang-bintang, membuat wajahnya jadi lebih tampan.

Rubi ingat bagaimana Soga beberapa kali tampak hendak mengatakan sesuatu, lalu mengurungkannya. Ia juga ingat bagaimana hangatnya telapak tangan Soga saat menangkup jemarinya. Sentuhan yang dulu terasa biasa, entah mengapa malam itu terasa lebih membumi.

Dan kemudian... itu. Ciuman pertamanya, ciuman yang sesungguhnya dengan Soga, yang tidak dapat disangkal mengasyikkan. Mereka melakukannya dengan canggung, jantung berdegup kencang, dan tangannya sedikit gemetar, sebelum akhirnya menemukan pinggangnya. Ia hampir bisa menghirup aroma mint yang tertinggal di napas mereka, sebuah upaya putus asa untuk menutupi aroma daging dari makan malam mereka.

Sambil terus mengingatnya, Rubi menutup wajah dengan boneka kura-kuranya, dan bergumam. “Ya Tuhan...”

Bagian paling memalukan bukanlah ketika gigi dan lidah mereka saling beradu. Bukan pula ketika hidung mereka saling bertabrakan. Melainkan kenyataan bahwa setelah itu mereka tertawa seperti orang bodoh selama hampir satu menit penuh.

“Aku mau bilang kamu amatiran, tapi aku sendiri malah kikuk.”

Rubi mengulang lagi ucapan Soga di kepalanya. Wajahnya ikut terpampang jelas di sana; giginya yang berjejer rapi, garis-garis di sekitar senyum lebarnya, dan kilauan di matanya yang menyipit.

Semakin dipikirkan, semakin ingin ia menyembunyikan kepala di bawah bantal. Namun, di balik rasa malu itu, ada kehangatan yang terus menyebar di dada. Itu memang bukan ciuman yang sempurna, dan tidak seperti dalam adegan film romantis. Tapi itu nyata. Buktinya dia masih bisa merasakan kesemutan di bibirnya. Kesemutan yang meninggalkan kesan seakan bibir Soga masih menempel di sana.

Di luar jendela, suara bising motor yang lewat memekakkan telinga, memecahkan lamunannya. Rubi melirik ke jam di dinding. Baru jam setengah delapan. Ia masih punya banyak waktu sebelum kuliah.

Ia menjauhkan boneka kura-kuranya, menoleh ke ponselnya yang tergeletak tidak jauh dari bantal. Layarnya menyala sesaat, menampilkan notifikasi email yang masuk. Belum ada pesan baru dari Soga, selain obrolan mereka semalam yang masih terbuka.

Rubi menatapnya selama beberapa detik. Aneh juga. Baru satu dua tahun lalu, nama itu hanyalah salah satu nama dari sekian banyak mahasiswa desain grafis yang dia kenal. Dia tidak ingat secara pasti, kapan keinginan memiliki ini tumbuh. Dia hanya menyadari, betapa beruntungnya kala perasaannya dibalas. Dan sekarang, melihat foto profilnya saja sudah cukup membuat hatinya melompat-lompat.

Ia memutar badan, memeluk guling, lalu membuka kembali percakapan mereka. Tidak ada alasan khusus. Dia hanya ingin membacanya. Keluh kesah soal tugas dan dosen yang pilih kasih, lelucon-lelucon, stiker dan emoji. Kemudian jarinya melayang, mengetuk galeri, mengamati sekumpulan foto baru. Foto mereka yang diambil di Senja Rasa, foto makanan dan minuman, pemandangan kota, dan mereka di taman itu.

Ponselnya tiba-tiba bergetar. Ada pesan masuk dari Soga.

Rubi refleks duduk tegak. Selama hampir lima detik dia hanya menatap layarnya. Pipinya menghangat dan memerah.

Apa dia bakal bahas soal ciuman semalam? pikirnya. Apa yang dia rasain, ya? Aku pengen dia bahas itu, sekaligus enggak kepengen.

Rubi menggulir layar ponselnya, dan membuka pesannya.

“Pagi, Sayang. Kamu udah bangun? Aku lagi sarapan nih.”

Rubi tersenyum. Lega sekaligus senang.

“Aku baru bangun, tahu? Ada apa sih?”

“Eh, eh .. suka pura-pura jutek gitu. Padahal seneng 'kan dibangunin pacar? Memangnya enggak ada kuliah?”

“Aku enggak jutek. Aku beneran baru bangun. Kuliah nanti jam 10. Kenapa? Mau ketemu?”

“Hari ini aku enggak ada kuliah, tapi aku ada tugas. Jadi mungkin kita baru bisa ketemu besok atau lusa. Aku cuma mau kirim link lagu.”

Muncul sebuah tautan di layar.

“Link lagu? Beneran itu link lagu? Jangan-jangan link judol lagi.”

“Jangan konyol dong. Itu beneran link lagu. Ada tulisan YouTube-nya di situ. Itu lagu yang ditulis si Sadewa, temenku dari klub musik. Aku pikir mungkin kamu bakalan suka.”

“Oke, oke. Kasih aku waktu buat dengerin, ya.”

Rubi mengambil earphone dari nakas, dan memasangnya pada telinga. Sembari berbaring terlentang di ranjang, jarinya mengetuk tautan itu, dan halaman baru muncul. Di sana ada sebuah gambar kartun sederhana. Kaset pita berwarna kuning muda berdiri tegak di samping album bergambar wajah perempuan; dilatarbelakangi warna-warna lembut gading dan orange.

“Kusimpan Namamu." Rubi membaca judulnya.

Petikan senar membuka lagu itu, pelan dan berulang. Setiap petikan terdengar tipis, rapuh, berbunyi seperti retakan kecil di antara gigi. Hal itu membuat Rubi tidak yakin apakah itu semacam gitar akustik, atau alat musik petik lainnya. Dalam pikirannya muncul objek berwarna coklat kelabu dan ungu samar. Objek itu berbentuk tulang ikan asin, mengapung di hadapannya.

Iya. Tulang ikan asin!

Suara senarnya membuatnya merasa sedang menggerogoti tulang ikan asin yang sudah tidak berdaging. Renyah, asin, dan meninggalkan jejak gatal di ujung lidah. Tidak hanya itu, setiap nada sederhana yang didengarnya memancarkan warna kuning dan orange, yang berkilauan di antara sekotak warna biru, coklat susu, dan segaris warna merah.

Tidak ada alat musik lain yang mengiringinya. Tidak ada dentuman drum yang mendesak lagunya bergerak cepat. Lagunya juga bukan lagu sedih, tidak juga terlalu ceria. Vokal Sadewa mengalun ringan dan sederhana, hampir malas. Dia terdengar seperti seseorang yang duduk sendirian di beranda rumahnya, meninabobokan pujaannya dari kejauhan.

Lagunya selesai hanya dalam tiga menit lebih beberapa detik. Sebelum Rubi menutup tautannya, pesan dari Soga sudah masuk lagi.

”Gimana? Enak 'kan lagunya?“

”Iya. Enak. Seenak tulang ikan asin.“

”Ha? Maksudnya?“

Rubi cekikikan pelan, dan membalas, ”Enggak tau. Pokoknya aku ngerasa kayak lagi ngemut-ngemut tulang ikan asin pas ngedengerin. Dan alat musik yang dia mainin itu mungkin bukan alat musik, tapi tulang ikan asin besar. Lagunya romantis, kering, dan asin.“

”Romantis, kering, asin? Cute banget. Cuma aku enggak yakin ini kamu lagi bercanda atau bukan. Aku gak bisa bayangin gimana reaksi Sadewa.“

”Ya jangan kamu kasih tau ke Sadewa, dong. Aku serius lho. Masukin aja ke jurnal sekalian.“

”Oke. Lusa, ya.“



Other Stories
DAISY’s

Kisah Tiga Bersaudari ...

Yume Tourou (lentera Mimpi)

Kanzaki Suraha, seorang Shinigami, bertugas menjemput arwah yang terjerumus iblis. Namun i ...

Aswin, Kami Menyayangimu

Aswin adalah remaja bermasalah yang terpaksa tinggal di sebuah panti asuhan karena ia tak ...

Puzzle

Karina menyeret kopernya melewati orang-orang yang mengelilingi convayer belt. Koper ber ...

Mission Escape

Apa yang akan lo lakukan jika Nyokap lo menjadikan lo sebagai ‘bahan gosip’ ke tetangg ...

Desa Di Ujung Senja

Namaku Anin, aku hanya ingin berlibur ke rumah oma untuk mengisi liburanku seperti biasany ...

Download Titik & Koma