Chromatic Goodbye

Reads
147
Votes
16
Parts
22
Vote
Report
Penulis NarayuPita

Bab 15 - BemBem

BemBem

BemBem yakin jagung manis adalah sejenis ikan

Dia memberitahuku seakan itu agamanya

Demi ekor pendeknya, aku tak membantah

Dia lebih tua dariku dengan segala kebijaksanaannya

Putih bulunya adalah susu kental manis yang beku

Tiga corak melingkar di punggungnya adalah potongan keju

Semuanya tampak seperti kode semesta yang baku

Yang tak bisa aku pecahkan satu satu

Saat kupeluk, dia gemuk seperti babi

Saat kugendong, tulangnya kokoh seperti besi

Seolah dia sudah pernah mati berkali-kali

Lalu hidup kembali sebagai kucing

Ketika BemBem menghilang, yang tertinggal hanya matanya

Bulat bersinar, mengintip dalam malam

Senyumnya melengkung mencapai telinganya

Hingga terlihat kilat-kilat taringnya

Kepalanya bagaikan purnama, melayang-layang

Dengkurannya membawa rahasia-rahasia

Bantalan tangannya mengusap air mata

Bersamaan dengan cakarnya yang membuka luka

Soga menunduk membaca puisi Rubi. “BemBem? Nama macam apa itu?” gumam Soga, tersenyum geli. Dia merobek kertas majalah yang memuat puisi itu. Punggung tangannya diangkat ke mulut, dan dia batuk ringan.

Beberapa waktu lalu dia muntah di toilet, dan itu adalah muntah terburuk yang pernah dia alami—atau memang karena dia lupa rasanya muntah setelah cukup lama tidak mengalaminya. Dia tahu, itu adalah efek samping dari pengobatan yang sedang dijalaninya sekarang. Menyadari bahwa itu akan menjadi bagian dari hidupnya ke depan, membuat Soga terpaksa melipat lelah di hatinya.

Soga menyelipkan potongan kertas itu ke dalam ranselnya, sedangkan majalah kampusnya ditinggalkan begitu saja di kursi. Dia meneguk air dari botolnya lagi, lalu beranjak lewat depan koperasi fakultas, yang ramai oleh mahasiswa-mahasiswa. Ia bergabung bersama teman-temannya di lantai empat.

Laboratorium komputer itu sekarang terlalu terang bagi Soga. Lampu neon putih berjajar rapi di langit-langitnya, tapi hanya dua-tiga lampu yang menyala. Selebihnya, cahaya yang masuk berasal dari jendela-jendela besar di seberang ruangan. Deru kipas angin bercampur dengan bunyi klik mouse dan ketukan keyboard, kadang disela oleh bisikan dan gumaman mahasiswa, menciptakan irama yang monoton.

Soga memilih duduk di kursi dekat pintu. Bukan karena dia datang terlambat, melainkan karena posisi itu memberinya rasa aman—jalur keluar yang cepat jika sesuatu yang tak diinginkan terjadi. Ia meletakkan ranselnya di atas, menyandarkan punggung, menyalakan komputer. Di layarnya, terpampang aplikasi desain yang terbuka, menampilkan kanvas kosong yang menunggu diisi.

Raka duduk sedikit menyerong di sebelahnya. Sejak dari tahun pertama kuliah, mereka cukup dekat. Raka tipe yang cerewet pada hal-hal yang sepele, tapi sejak tahu tentang penyakit Soga, dia lebih sering membicarakan hal yang penting saja. Dari sudut mata, Soga bisa merasakan Raka sesekali mencuri pandang padanya, memastikan semuanya baik-baik saja—atau setidaknya tampak begitu.

Hari ini mereka belajar Tipografi bersama bapak Sudarsana. Lingkaran sinar neon terpantul di tengah kepalanya yang setengah botak. Kacamatanya bertengger rendah di hidungnya. Wajahnya yang berkerut sedikit menunduk, pandangannya melirik tajam ke depan. Setiap kali dia bergerak, dia meninggalkan aroma sereh yang samar.

“Tugas hari ini gampang kok,” katanya, suaranya berat dan agak serak, terdengar lebih santai. “Kalian bikin font custom, lalu ilustrasi vektor yang detail untuk karakter branding. Fokus aja ke konsistensi dan karakter visual. Idenya bebas.” Pria itu kemudian duduk di kursinya, fokus pada laptop di depannya.

Soga mengangguk kecil. Tangannya langsung bergerak, membuka panel font, mulai membuat sketsa huruf demi huruf. Entah bagaimana, tugas ini memberinya ilusi kendali, seolah dunia bisa disusun ulang hanya menggunakan pen-tool dan titik-titik anchor.

Awalnya semua berjalan lancar. Huruf-huruf terbentuk rapi, bersih, dan konsisten. Raka bahkan menghentikan pekerjaannya sejenak hanya untuk menengok ke layar Soga.

“Kamu memang paling rapi, Ga,” pujinya, sambil tersenyum. “Detail kamu tuh nggak pernah asal.”

Soga mengerutkan kening. Ada sesuatu di nada suara temannya yang agak berbeda—terlalu hati-hati, terlalu terukur, hampir hampa. Seakan-akan pujian itu dipertimbangkan lebih dulu, dipoles agar tidak terdengar salah, agar tidak melukai. Gesturnya pun begitu; senyumnya yang tak sepenuhnya lepas, bahunya menegang, seperti dia merasa harus melakukan itu—padahal tak perlu.

Soga sebenarnya tidak suka dipandang lemah. Tidak suka Raka dan lainnya menatap kasihan padanya, hanya karena penyakit yang dideritanya sekarang. Ia ingin semua orang bersikap biasa saja, mempercayainya bahwa ia mampu bertahan hingga di penghujung hari.

“Ah, biasa aja,” tanggap Soga tanpa menoleh. Ludahnya mendadak mengental dan pahit. “Kerjaanmu rapi juga, kok.“

Raka tertawa tanpa suara, terdengar sedikit canggung sekaligus lega. Ia kembali ke layarnya. Biasanya, ia mengajak Soga nongkrong di warung mie samping kampus. Sekarang, ajakan itu hanya bisikan di masa lalu, tenggelam dalam kesibukan dan situasi masing-masing.

Waktu berjalan seperti biasa. Ketika hendak membuat ilustrasi vektor, Soga tidak bisa tidak memikirkan tentang BemBem, kucing mistik dalam puisi yang ditulis Rubi. Figur kucing itu mulai terbentuk di kepalanya, berbarengan dengan munculnya getaran di ujung jarinya—halus, nyaris tidak terlihat. Ia pun menarik napas, mengendurkan bahu, lalu lanjut membuat ilustrasinya.

Namun, ketika pen-tool menyentuh layar, garis yang dia tarik tidak mau menuruti niatnya. Sedikit bergoyang dan melenceng. Ia menghapusnya. Mengulang. Garis itu kembali bergetar.

Soga menahan napas kurang dari lima detik, rahangnya mengeras. Ia mencoba lagi, kali ini lebih pelan, lebih fokus—pikirin si BemBem! Sayangnya, getaran itu tetap ada, menjalar ke pergelangan. Kepalanya ikut berdenyut, nyeri tumpul yang sejak pagi sebenarnya sudah ada, kini semakin menuntut perhatian.

Ia berhenti sejenak, melepaskan mouse. Ibu jari dan telunjuknya menekan pelipisnya. Kupluknya terasa lebih kasar dan panas kala titik-titik keringat bermunculan di bawahnya. Di sekelilingnya, suara keyboard mengetuk-ngetuk, berbalapan dengan bunyi detik jam.

”Aman bro?“ tanya Raka, hampir berbisik.

Soga mengangguk cepat, dan refleks menjawab, ”Iya.“ — Oh, jangan ganggu aku, Ka. Biarin. Biarin aja. Aku enggak mau nyusahin siapa pun, termasuk kamu, Ka.

Ia meneguk air dari botol, menarik napas panjang, kembali ke layar. Dia tahu Raka sedang mengamatinya, tapi dia pura-pura tidak peduli. Lagipula, tugasnya belum selesai. BemBem—karakter branding itu masih membutuhkan detail yang menentukan ekspresi wajahnya. Ia tidak boleh berhenti dan menyerah begitu saja.

Di depan kelas, bapak Sudarsana membetulkan letak kacamatanya dan melirik ke arahnya. Tatapannya singkat, tapi cukup membuat Soga sadar bahwa kegelisahannya tidak sepenuhnya luput dari perhatian. Bapak Sudarsana mengamati beberapa detik lebih lama, lalu menurunkan pandangannya ke layar laptop, kembali membaca dan mengetik.

Bapak Sudarsana sudah mengetahui penyakit yang diderita Soga. Namun, pria paruh baya itu tidak menghampirinya. Tidak memanggilnya, tidak bertanya. Soga tidak tahu apakah dia harus bersyukur atau justru kecewa. Tapi, lebih baik dosennya tidak menghampirinya, karena itu hanya akan membuyarkan konsentrasi teman-temannya yang lain.

Soga kembali menarik garis di layar, kali ini dengan kesabaran yang dipaksakan. Setiap titik seperti pertaruhan. Setiap lengkungan menuntut kesempurnaan. Tangannya gemetar, kepalanya berdenyut, tapi hatinya bertahan pada beberapa bait puisi Rubi tentang BemBem. Ia ingin percaya bahwa dirinya masih utuh, seperti BemBem yang telah mati berkali-kali.

Di ujung sore, bapak Sudarsana masih duduk di laboratorium komputer. Warna kekuningan dari pantulan sinar matahari menegaskan keriput di kening dan matanya. Dia mengamati ilustrasi vektor yang dibuat Soga. Tiga ekor kucing putih dengan tiga totol kuning di punggungnya. Di dekat kaki mereka ada segelas cemilan jasuke (jagung susu keju), dikelilingi jagung-jagung yang masih utuh.

Sudut bibirnya menyeringai kecil. Dia berpikir apa hubungannya jagung dengan kucing.


Other Stories
Kelabu

Cinta? Apakah aku mencintai Samuel? Pertanyaan yang sulit kujawab. Perasaanku padanya sepe ...

Kenangan Indah Bersama

tentang cinta masa smk,di buat dengan harapan tentang kenangan yang tidak bisa di ulang ...

Yume Tourou (lentera Mimpi)

Kanzaki Suraha, seorang Shinigami, bertugas menjemput arwah yang terjerumus iblis. Namun i ...

DI BAWAH PANJI DIPONEGORO

Damar, seorang petani terpanggil jiwanya untuk berjuang mengusir penjajah Belanda di bawah ...

Manusia Setengah Siluman

Reno tak pernah tahu apa itu arti punya orang tua. Ia seorang yatim piatu yang berjuang hi ...

Hibur Libur

Aku (Byru) mencoba mencari nikmatnya sebuah "Liburan" dengan kesehariannya yang sangatlah ...

Download Titik & Koma