Chromatic Goodbye

Reads
147
Votes
16
Parts
22
Vote
Report
Penulis NarayuPita

Bab 19 - Beringin Sore

Citra: Jadi ukurannya A4, ya?

Soga: Iya. Kertasnya yang 100% cotton, ya.

Citra: Siap. Covernya cakep banget, Ga. Kamu yang bikin?

Soga: Iya. Proyek personal. Hehe. Pokoknya bikinin kayak jurnal yang aku liat di workshop waktu itu. Berapa pun aku bayar deh.

Soga menutup percakapan di ponsel.

Cahaya matahari masuk dari sela tirai, menyinari matanya yang cekung. Selimut hijau menutup pahanya sampai ke lutut. Kedua kakinya yang terbungkus kaos kaki tersembunyi di bawah meja komputer. Tiga hari setelah malam itu, tubuhnya terasa cukup—tidak ringan, tidak berat—hanya lelah, jenis lelah yang menetap dan tidak perlu dijelaskan lagi.

Tangannya bergerak mengendalikan mouse. Dia kini sedang mengerjakan tugas desain yang lain.

Dari luar kamar, terdengar suara ibunya menuangkan kopi. Bunyi cairannya memenuhi gelas keramik, disusul denting sendok kecil.

Ada wanita lain, tamu ibunya, yang tertawa ringan. Mereka berbincang tentang jenis kain, potongan dan model gaun, dan tentang tanggal pernikahan putrinya yang masih berbulan-bulan lagi. Suara mereka bergumam, tidak mengganggu, menjadi sebuah latar yang menghangatkan Soga.

Masih sambil menatap layar komputer, Soga berhenti sejenak. Kursornya bergeser membuka file yang lain. Dia mengamati lagi cover Jurnal Katumbiri, cover yang dibuatnya sendiri, dan yakin Rubi akan menyukainya juga.

Ia memperbesar kanvas digital, menelusuri lengkung pelangi yang tinggi, yang tidak sepenuhnya simetris, dan hanya berupa potongan di antara awan-awan kelabu dan putih. Warna-warnanya tidak mencolok—merahnya tampak malu-malu, kuningnya tidak sungguh-sungguh terang, hijaunya ditipiskan.

Judul jurnalnya dibuat seperti tulisan tangan yang disambung, berwarna putih tulang. Dan di bawah naungan langit biru berbias warna salem itu, dua insan duduk berhadapan—ilustrasi dirinya dan Rubi. Di sekitar mereka, berserakan buku-buku, palet-palet warna, dan kuas-kuas.

Selimut di pahanya sedikit bergeser, tapi ia tidak membetulkannya. Jari-jarinya terangkat, mengusap air mata yang menyengat matanya.

“Rubi,” gumamnya, seolah-olah gadis itu ada di hadapannya. “Mudah-mudahan ini cukup ya...”

Bahu Soga gemetar, berdengus seperti menangis sekaligus terkekeh. Tawa kecilnya pahit, kontras dengan tawa riang tamu ibunya di luar.

“Bodoh! Ngomong apa sih aku barusan? Lemah banget!” gerutu Soga kepada dirinya sendiri, napasnya hangat berhembus ke telapak tangannya yang dingin.

Dari ruang tengah, suara ibunya naik sedikit, menjelaskan tentang renda dan payet. Tamunya terdengar puas. Ada piring atau mungkin jar kaca yang dipindahkan. Rumah mendadak terasa penuh, dan Soga tetap di kamarnya.

Ia meraih mouse-nya lagi, melanjutkan tugas.

* * *

Soga menunduk, membaca arlojinya—15:30. Dia mengangkat wajahnya, mengerutkan kening, dan pandangannya menyapu kampusnya yang ramai. Setelah membenarkan letak kupluknya, ia lanjut menyusuri koridor, melewati lalu-lalang mahasiswa, mencari Rubi.

“Ke mana lagi sih tuh anak?” gumamnya. “Seharian ini enggak ngasih kabar.” Ia sebenarnya enggan khawatir, tidak ingin terlihat seperti orang yang rapuh dan kebergantungan.

“Aku ada di taman kampus.” Soga membaca pesan Rubi yang masuk.

Soga berdecak, menggelengkan kepala. Lega datang tanpa diundang. Ia terus berjalan, dan seseorang tanpa sengaja menubruk bahunya. Tubuhnya hampir oleng, tapi ia segera menegakkan punggungnya, dan mengangguk singkat saat orang itu meminta maaf.

Ketika tiba di taman, Soga menghela panjang. Dia hanya menemukan dua mahasiswi lain, yang sedang berdiskusi di kursi kayu.

Tidak ada Rubi.

Bahunya bersandar pada pohon kersen. Ia mengatur napas sebentar, memejamkan matanya yang agak berkunang-kunang. Ucapan Banyu tempo hari melintas lagi dibenaknya—tentang kejujuran akan kondisinya sekarang, supaya Rubi mengerti, memahami batasan-batasan.

Enggak! Enggak sekarang, tepis Soga.

Kekhawatiran lain justru muncul, melawan keras di hatinya. Bagaimana kalau dia tak bisa mengejar Rubi sampai waktunya tiba?

Soga menyeka setitik keringat yang menggelitik pelipisnya, dan merogoh ponsel di saku jaketnya.

Pluk.

Satu butir kersen jatuh di lengan bawahnya.

Pluk. Pluk.

Kemudian terdengar cekikikan dari atas.

Soga mendongak. Tatapannya melebar— “Rubi?” Tenggorokannya yang kering membuat napasnya tercekat dan batuk pelan.

Rubi berdiri di atas cabang pohon kersen paling tinggi, bersandar pada cabang yang lain, bergoyang pelan dan santai. Tas lilac dan sepatunya bergelantungan di antara dedaunan. Rambutnya yang tergerai dibiarkan tersangkut pada ranting-ranting. Bibirnya tersenyum nakal, mengulum buah-buah kersen ranum.

Jantung Soga mencelos—bukan karena marah, tapi karena tahu tempat Rubi berdiri itu cukup jauh dari tanah.

“Dasar bandel,” kata Soga, menahan cemas dan dengan main-main mencemoohnya. “Aku cari kamu ke mana-mana, taunya lagi menclok di pohon. Ngapain sih di sana? Lagi jadi monyet?”

“Monyet?” ulang Rubi, cekikikan. “Kok ada sih cowok yang suka sama monyet?”

“Seharusnya kamu bersyukur masih ada yang sayang sama kamu meski kamu monyet, tahu?” balas Soga tidak mau kalah. Denyut di kepala dan lelahnya larut jadi tawa kecil. Dia merosot duduk di rerumputan, bersandar pada batang pohon, lalu meneguk air banyak-banyak dari botol. “Turun dong, Bi. Ada yang penting, nih.”

Bruk! Tas Rubi jatuh tepat di hadapan Soga, membuatnya tersentak.

“Hey.. bisa hati-hati enggak sih?“ protesnya, mendongak.

Sepatu Rubi menyusul, mendarat ke tanah di sampingnya.

”Rubi!“

Rubi merayap turun, tawanya mengeras mendengar omelan Soga. Begitu kakinya menyentuh tanah dan hendak duduk, Soga menarik pergelangan tangannya, mendekap kepalanya di pangkuan.

”Aduh!“ Rubi mengaduh sambil tertawa.

Kepalan tangan Soga mengacak puncak kepala Rubi, dan menggilingnya. ”Ini hukuman buat cewek kayak kamu!“ geramnya.

”Ampun! Ampun!“ Rubi masih tertawa, melingkarkan jemarinya di lengan jaket Soga.

Pandangan Soga melembut, pelukannya melonggar. Tawa mereka berbaur dengan desir dedaunan yang tertiup angin.

”Ada hal penting apa?“ tanya Rubi, akhirnya duduk bersila. Telapak kakinya kelabu karena debu yang menempel.

Soga mengeluarkan jurnal mereka dari ransel. Memamerkannya pada Rubi.

”Wow...“ kata Rubi. Segaris sinar matahari menyorot ekspresinya yang berseri-seri. Ia memegang jurnal itu dengan kedua tangannya, mengangkatnya sedikit, hingga sejajar dengan pandangannya. ”Cantik banget. Kayak gambar manga!“ Ia mengusap sampulnya yang dibingkai kain linen gading. ”Ini aku dan kamu, ya?“ ujarnya lagi, mengamati ilustrasinya. Ia membalikkan jurnal itu, memperhatikan jilidnya yang rapi. ”Gila sih.. Ini mah kayak jurnal mahal. Kamu yang bikin sendiri, Ga?“

”Bukan. Citra yang bikin,“ jawab Soga, menghela, senang Rubi menyukainya.

”Citra siapa?“

”Temen di jurusan Seni dan Budaya.“

Rubi mengangguk, keningnya sedikit mengernyit. Ia membuka halamannya.

”Hah?“ bisiknya, nyaris tidak terdengar.

Itu bukan halaman Da La Ti Na Mi Da yang mereka buat minggu lalu, melainkan lukisan akrilik yang dibuat Soga.

Dalam lukisan itu langit tergambar membentuk kubah kuning keemasan. Awan-awan bersemu biru dan salem. Mataharinya berbentuk lelehan putih terang. Rubi yang mengayun pada ayunan kayu pohon beringin, Soga yang duduk di tanah, gedung-gedung kampus, dan perkotaan di kejauhan—semuanya berwarna siluet kelabu dan ungu gelap.

Ya, Tuhan.... Ini kan' warna-warna itu... Kenapa dia tahu?

“Gimana? Kamu suka?” tanya Soga. “Di halaman berikutnya ada ilustrasi sinestetik pertama kita—Da Mi Na Ti La Da.”

Rubi tidak mengoreksi ucapan Soga. Tangannya melayang di atas ilustrasi pemandangan beringin itu. Kupu-kupu bergerak liar di perutnya. Dia melihat sesuatu pada lukisan itu—sesuatu yang seharusnya dia ungkapkan pada Soga. Tatapannya lalu naik, bertemu dengan mata pacarnya.

Soga diam. Dia menangkap lagi apa yang pernah disaksikannya kala pertama kali mereka bertemu.

Rubi memasuki dunia lain yang tak bisa dijangkaunya.

Detik-detik berlalu. Mereka masih saling berpandangan. Tidak ada kata-kata. Dan langit berubah warna, seolah ingin menyerupai warna lukisan itu.


Other Stories
Mozarella (bukan Cinderella)

Moza tinggal di Panti Asuhan Muara Kasih Ibu sejak ia pertama kali melihat dunia. Seseora ...

Plan B

Liburan tiga sahabat di desa terpencil berubah jadi mimpi buruk saat satu dari mereka meng ...

Aruna Yang Terus Bertanya

Cuplikan perjalanan waktu hidup Aruna yang selalu mempertanyakan semua hal dalam hidupnya, ...

Bad Close Friend

Denta, siswa SMA 91 Cirebon yang urakan dan suka tawuran, tak pernah merasa cocok berteman ...

.

. ...

Kau Bisa Bahagia

Airin harus menikah dalam 40 hari demi warisan ayahnya, namun hatinya tetap pada Arizal, c ...

Download Titik & Koma