Chromatic Goodbye

Reads
147
Votes
16
Parts
26
Vote
Report
Penulis NarayuPita

Bab 25 - Senja Rasa

“Kamu memang enggak tau kan, Bi?”

“Enggak tahu. Maksud kamu apa, Ga?”

Soga menunduk. Ia mengamati pantulan cahaya-cahaya lampion yang berkilauan menyerupai debu peri di mata Rubi. Lampion-lampion itu menari di atas mereka, menyorot kebingungan yang tersirat di sana.

Tatapan Soga turun bibir Rubi yang merona dan sedikit membuka. Napasnya tercekat pelan. Ingin sekali dia menangkup dagunya, menciumnya, namun dia tidak melakukan itu.

“Kamu kenapa sih ngeliatan aku kayak gitu?" Rubi memprotes. Rona merah jambu melingkar di pipinya. ”Kita jadi masuk apa enggak? Dari tadi kamu ngomong aneh terus.“

Pandangan Soga melembut. Ia mengangguk pelan.

”Oke. Yuk, kita masuk.“ Tangannya merosot dari bahu Rubi ke jemarinya, menggenggamnya. Soga menuntunnya masuk ke dalam gedung hotel tua.

Seorang staff mengangguk dan tersenyum menyambut mereka.

”Kami mau ke Senja Rasa, Kak,“ kata Soga.

”Oh, kalau gitu silakan naik lift yang di sana,“ jawab staff itu seraya menunjuk pintu lift yang ada di ujung.

Masih bergandengan tangan, Soga dan Rubi berjalan ke lift itu. Ketika Soga menekan tombolnya, dia mendengar Rubi bertanya.

”Kamu beneran udah sembuh dari demam kamu?" Rubi menyelidik wajah Soga.

“Iya,” ujar Soga berbarengan dengan terbukanya pintu lift. Ruangan itu kosong. Ia menarik lembut tangan Rubi, dan mereka masuk ke dalam. “Aku udah sehat, kok.”

Sehat. Kata itu sangat asing di lidahnya.

“Kamu hebat banget deh,” puji Rubi, polos. Lift bergerak ke atas. “Deman tipes sembuh dalam empat hari. Biasanya orang lain sembuh dalam sepuluh hari. Si Mega bahkan sampai dirawat di rumah sakit selama dua minggu gara-gara itu.”

Soga terkekeh, memandang ke sepatunya yang berdampingan dengan sepatu Rubi di atas karpet merah. Hatinya meringis getir dan perih. Dia tidak lagi menanggapi karena tidak mau terus berbohong.

Pengecut, bisik Soga mencemooh dirinya sendiri.

Mereka tiba di lantai paling atas, di mana restoran rooftop itu berdiri di puncak gedung hotel. Restoran itu tidak terlalu ramai, hanya beberapa meja yang terisi. Dan ada band akustik di sudut, membawakan lagu-lagu jazz dan pop.

Lampu-lampu gantung berwarna keemasan memancarkan cahaya hangat di antara meja-meja kayu. Dinding kaca bening mengelilingi tempat itu, membiarkan panorama petang terbentang tanpa penghalang. Dan Soga memilih meja yang menghadap langsung ke barat kota.

“Wah.” Hanya satu kata itu yang terucap dari bibir Rubi, saat dia mendekat ke dinding kaca.

Dari sana, kota seolah berubah menjadi hamparan galaksi yang jatuh ke bumi. Lampu-lampu gedung dan rumah berkilauan, berpendar sejauh mata memandang. Jalan-jalan raya membelah kegelapan seperti sungai-sungai keemasan, sementara langit menggantung di atas kepala mereka.

“Gimana? Keren 'kan?” tanya Soga.

Rubi mengangguk cepat. “Keren banget!” Matanya berbinar. “Aku enggak nyangka ada tempat kayak gini di kota kota. Maksud aku... aku memang belum pernah ke sini.”

Angin menerpa lembut wajah Soga, membuat ujung bandananya bergerak halus. Ia memang pernah berkunjung ke tempat ini beberapa waktu lalu, sebelum sakit. Dan ucapan Rubi membuat dadanya terasa sesak. Mungkin untuk pertama kalinya, Soga tidak yakin apakah ia akan punya kesempatan lagi membawa Rubi ke restoran ini. Dan justru karena itulah dia mengajaknya ke sini.

“Nah,” Rubi menepuk tangan satu kali, menggeser kursinya ke dekat meja, “sekarang, kita lihat menunya. Ada menu spesial apa, ya?” Ia mulai membuka buku menu.

“Menurutku semuanya enak kok,” kata Soga ikut membuka menu, dan menelan ludah. “Aku udah pernah coba, apalagi iga bakarnya. Mantap banget.”

“Mantap sih mantap,” ujar Rubi, memelankan suaranya. “Tapi, harganya mahal banget.” Dia menatap Soga di seberang, mencondongkan tubuhnya ke depan. “Mendingan kita makan di cafe biasa aja, yuk. Aku enggak punya duit lebih, Ga.”

Senyum Soga hilang. Matanya menyipit memandang Rubi. Dia menarik napas dan katanya, “Gimana sih kamu? Memangnya kamu belum gajian?Atau uangnya kamu hambur-hamburin?”

“Kok kamu ngomong gitu sih, Ga?” Rubi membelalak kaget.

Soga tertawa dan segera meraih tangan Rubi. “Aku bercanda kok.” Ia mencubit pipi gadis itu yang menggembung sedikit. “Dan kamu enggak usah khawatir. Aku yang traktir.”

“Beneran?” tanya Rubi, bibirnya yang cemberut berkedut ingin senyum.

“Masa' kamu enggak percaya sama pacar sendiri.”

Pipi Rubi memerah tanpa dia sadari. “Oke,” katanya sambil mengangguk dan kembali ke menu. Hidungnya agak kembang kempis, antara ingin marah sekaligus tertawa. “Kalau gitu aku mau coba iga bakarnya. Dan aku ingin segelas lemon squash dingin. Kamu sendiri mau apa, Ga?”

“Enggak sekalian sama dessert-nya?” Soga balik tanya. “Ada es kesukaan kamu tuh. Es sarang burung walet.” Dia lalu memberi sinyal pada salah satu pelayan, sementara Rubi menelusuri menu kembali.

“Wah, iya ada.” Senyum Rubi merekah. “Kalau gitu aku mau satu dong.”

“Sop buntutnya pakai ekstra kentang kukus ya, Kak,” pesan Soga kepada pelayan itu.

Pelayan itu mengangguk dan mencatat, kemudian membaca ulang pesanan mereka.

“Kok kamu makan sop enggak pake nasi? Lagi diet?” tanya Rubi begitu pelayan itu pergi.

“Enggak diet sih,” jawab Soga menghela napas. “Cuma pengen ngurangin karbo aja.”

Rubi tidak boleh tahu bahwa dia sering memuntahkan nasi yang dia makan akhir-akhir ini. Dia juga tidak tahu apakah dia akan melewati makan malam ini tanpa drama apa pun.

Belum sempat mereka lanjut berbincang, band akustik memainkan sebuah lagu balada. Ekspresi Rubi berubah menjadi berseri-seri sambil menahan diri supaya tidak menjerit.

“Memangnya ini .. lagu apa sih?” tanya Soga menoleh ke arah band, menutupi kecemasannya. Cemas karena dia tidak ingat judul lagu dan nama penyanyi aslinya.

“Istana di Atas Pasir,” jawab Rubi. “Nama penyanyinya Drupadi. Lagu ini rilis sekitar enam tahun lalu.” Ia lalu menyandarkan punggungnya pada kursi.

"Menurutku, ini lagu yang punya harmoni unik dan dreamy. Seperti beberapa lagunya Vina Panduwinata, tapi dengan sentuhan instrumen yang modern. Ah, aku jadi ingat masa-masa SMP. Mengkhayal punya pacar yang ganteng—hehehe.”

Soga mengangguk samar, melipat bibirnya. Enam tahun lalu tentu cukup lama. Ia bahkan tidak ingat apakah dia pernah tidak sengaja mendengarnya atau tidak. Setiap potongan masa lalunya bahkan menguap satu per satu.

“Ini romantis,” gumam Rubi, menikmati lagu itu. Pandangannya agak naik ke langit. Dia secara sadar menyenandungkan rangkaian nada yang tidak ada pada lagu aslinya, seolah-olah dia penyanyi latar belakangnya.

“Romantis? Liriknya tentang putus gitu.”

Rubi menghela napas dan memutar bola matanya. “Warna-warnanya yang romantis. Enggak ada hubungannya sama liriknya.” Pandangannya naik lagi ke langit.

“Kalau gitu, sebutin warna-warnanya.” Soga kemudian mengambil watercolor pocket dan buku cat air mini dari tas pinggangnya. “Siapa tahu ini cocok buat jurnal kita.

Bagi Rubi, lagu ini selalu dimulai dengan biru tua dan titik-titik warna putih di bawahnya—berkelap-kelip seperti bintang. Warna ungu gelap, fuchsia, dan hijau meliuk-liuk tipis di sekitar warna putih itu. Begitu masuk chorus warna-warna itu luntur.

Saat itu, di langit di belakang Soga, Rubi seakan melihat warna-warna lembut membanjiri angkasa. Diawali oleh biru muda yang terang dan pucat keputih-putihan, diikuti warna merah jambu, orange muda yang hangat, garis-garis kuning, dan sentuhan kabut lilac.

“Oh, ini sih dominan warna pastel,” gumam Soga, mengamati coretan-coretan warna di buku cat airnya.

“Kita masukin ke jurnal kita, ya.” Rubi tersenyum manis.

Soga mengulurkan tangan ke seberang meja, jari-jarinya menemukan jari Rubi. Hampir penuh hormat, dia meremas tangannya, seakan Rubi adalah hal paling berharga di dunia. Dan, dalam banyak hal, memang demikian adanya.

Di sekeliling mereka, restoran itu menjadi lebih ramai. Keluarga-keluarga yang menikmati makanan, sekelompok muda-mudi yang tertawa sambil makan dan minum, pasangan lain yang sedang berkencan. Tapi, semua itu tidak penting bagi Soga. Seluruh dunianya telah menyempit ke meja ini, ke gadis ini, ke kehangatan yang terpancar dari tangannya yang mungil.





Other Stories
Free Mind

“Free Mind” bercerita tentang cinta yang tak bisa dimiliki di dunia nyata, hanya tersi ...

Kisah Cinta Super Hero

cahyo, harus merelakan masa mudanya untuk menjaga kotanya dari mutan saat dirinya menjadi ...

Metafora Diri

Cerita ini berkisah tentang seorang wanita yang mengalami metafora sejenak ia masih kanak- ...

Puzzle

Ros yatim piatu sejak 14 tahun, lalu menikah di usia 22 tapi sering mendapat kekerasan hin ...

Keikhlasan Cinta

6 tahun Hasrul pergi dari keluarganya, setelah dia kembali dia dipertemukan kembali dengan ...

Air Susu Dibalas Madu

Nawasena adalah anak dari keluarga yang miskin. Ia memiliki cita-cita yang menurut orang-o ...

Download Titik & Koma