BAB 2 - Malam Terakhir Rei Kazama
Angin malam masuk lewat celah jendela.
Sekar duduk di tepi kasur, tangannya mencengkeram selimut.
Rei berdiri beberapa langkah darinya.
Diam.
Terlalu diam.
"Aku tidak berniat mengikutimu," ucap Rei akhirnya, suaranya rendah dan tenang. "Aku terikat pada helm itu."
Sekar menelan ludah.
"Kenapa... kamu berdarah waktu pertama kali aku lihat?"
Rei terdiam lama.
Lalu perlahan, ia mengangkat tangan dan menyentuh pelipisnya sendiri.
Sekejap.
Darah itu muncul lagi.
Mengalir dari sisi kepalanya. Membasahi alisnya. Menetes ke rahang.
Sekar menahan napas.
"Itu adalah detik terakhirku," katanya datar. "Yang kau lihat... adalah ingatan tubuhku."
Udara terasa lebih berat.
Rei menurunkan tangannya. Darah itu menghilang lagi.
"Aku pembalap jalanan," lanjutnya. "Bukan untuk uang. Bukan untuk nama. Hanya... karena di atas motor, aku merasa hidup."
Sekar menatapnya.
Tatapannya tak lagi setajam tadi. Kini lebih seperti seseorang yang lelah.
"Malam itu hujan," Rei berkata pelan. "Aspal licin. Aku sudah memimpin jauh di depan."
Matanya menatap kosong ke dinding kamar Sekar, seolah layar besar kenangan terpampang di sana.
"Aku melihat lampu mobil dari arah berlawanan. Terlalu cepat. Terlalu dekat."
Sekar merasakan bulu kuduknya meremang.
"Aku bisa menghindar," katanya. "Tapi di belakangku ada satu pembalap lain. Jika aku menghindar mendadak... dia yang akan tertabrak."
Rei tersenyum tipis.
"Aku memilih tetap lurus."
Napas Sekar tercekat.
"Kamu sengaja?"
"Aku hanya tidak ingin dia mati."
Suara itu tetap tenang. Tidak dramatis. Tidak memohon simpati.
Justru itu yang membuat dada Sekar terasa sesak.
"Motor tergelincir. Kepalaku lebih dulu menghantam aspal."
Ia berhenti sejenak.
"Setelah itu... gelap."
Hening.
Hanya suara jam dinding berdetak.
"Aku tidak langsung pergi," lanjut Rei. "Aku berdiri di jalan. Melihat tubuhku sendiri terbaring. Mendengar orang-orang berteriak."
Matanya menatap Sekar sekarang.
"Tak ada yang bisa melihatku."
Ada sesuatu yang rapuh di sana.
"Helmku retak. Mungkin karena itu aku tertahan. Aku tidak tahu."
Sekar menggenggam ujung bajunya sendiri.
"Kamu... kesepian?"
Pertanyaan itu keluar pelan.
Rei tidak langsung menjawab.
Beberapa detik berlalu.
"Aku sudah mencoba berbicara pada banyak orang," katanya akhirnya. "Mereka hanya merasa dingin. Lalu pergi."
Langkahnya mendekat satu langkah.
"Tapi kau berbeda."
Sekar menegang.
"Ketika kau melihatku... kau tidak lari."
Tatapan itu tidak menyeramkan lagi.
Hanya penuh harap.
"Aku tidak ingin menakutimu," Rei berkata pelan. "Aku hanya... tidak ingin sendirian lagi."
Jantung Sekar berdetak lebih cepat.
Ada rasa takut.
Tapi juga iba.
Dan entah kenapa... ia tidak ingin Rei menghilang.
"Apa kamu ingin... pergi?" tanya Sekar hati-hati.
Rei terdiam.
Untuk pertama kalinya, wajahnya benar-benar terlihat muda. Bukan legenda jalanan. Bukan sosok menyeramkan.
Hanya seorang pria yang hidupnya berhenti terlalu cepat.
"Aku tidak tahu caranya," jawabnya pelan.
Hening kembali turun.
Lalu, dengan suara hampir tak terdengar, Rei berkata—
"Bolehkah aku tinggal... sampai aku tahu harus ke mana?"
Dan untuk pertama kalinya sejak ia melihat arwah itu—
Sekar tidak merasa takut.
Ia hanya merasa... ada seseorang yang sangat, sangat kesepian berdiri di hadapannya.
Sekar duduk di tepi kasur, tangannya mencengkeram selimut.
Rei berdiri beberapa langkah darinya.
Diam.
Terlalu diam.
"Aku tidak berniat mengikutimu," ucap Rei akhirnya, suaranya rendah dan tenang. "Aku terikat pada helm itu."
Sekar menelan ludah.
"Kenapa... kamu berdarah waktu pertama kali aku lihat?"
Rei terdiam lama.
Lalu perlahan, ia mengangkat tangan dan menyentuh pelipisnya sendiri.
Sekejap.
Darah itu muncul lagi.
Mengalir dari sisi kepalanya. Membasahi alisnya. Menetes ke rahang.
Sekar menahan napas.
"Itu adalah detik terakhirku," katanya datar. "Yang kau lihat... adalah ingatan tubuhku."
Udara terasa lebih berat.
Rei menurunkan tangannya. Darah itu menghilang lagi.
"Aku pembalap jalanan," lanjutnya. "Bukan untuk uang. Bukan untuk nama. Hanya... karena di atas motor, aku merasa hidup."
Sekar menatapnya.
Tatapannya tak lagi setajam tadi. Kini lebih seperti seseorang yang lelah.
"Malam itu hujan," Rei berkata pelan. "Aspal licin. Aku sudah memimpin jauh di depan."
Matanya menatap kosong ke dinding kamar Sekar, seolah layar besar kenangan terpampang di sana.
"Aku melihat lampu mobil dari arah berlawanan. Terlalu cepat. Terlalu dekat."
Sekar merasakan bulu kuduknya meremang.
"Aku bisa menghindar," katanya. "Tapi di belakangku ada satu pembalap lain. Jika aku menghindar mendadak... dia yang akan tertabrak."
Rei tersenyum tipis.
"Aku memilih tetap lurus."
Napas Sekar tercekat.
"Kamu sengaja?"
"Aku hanya tidak ingin dia mati."
Suara itu tetap tenang. Tidak dramatis. Tidak memohon simpati.
Justru itu yang membuat dada Sekar terasa sesak.
"Motor tergelincir. Kepalaku lebih dulu menghantam aspal."
Ia berhenti sejenak.
"Setelah itu... gelap."
Hening.
Hanya suara jam dinding berdetak.
"Aku tidak langsung pergi," lanjut Rei. "Aku berdiri di jalan. Melihat tubuhku sendiri terbaring. Mendengar orang-orang berteriak."
Matanya menatap Sekar sekarang.
"Tak ada yang bisa melihatku."
Ada sesuatu yang rapuh di sana.
"Helmku retak. Mungkin karena itu aku tertahan. Aku tidak tahu."
Sekar menggenggam ujung bajunya sendiri.
"Kamu... kesepian?"
Pertanyaan itu keluar pelan.
Rei tidak langsung menjawab.
Beberapa detik berlalu.
"Aku sudah mencoba berbicara pada banyak orang," katanya akhirnya. "Mereka hanya merasa dingin. Lalu pergi."
Langkahnya mendekat satu langkah.
"Tapi kau berbeda."
Sekar menegang.
"Ketika kau melihatku... kau tidak lari."
Tatapan itu tidak menyeramkan lagi.
Hanya penuh harap.
"Aku tidak ingin menakutimu," Rei berkata pelan. "Aku hanya... tidak ingin sendirian lagi."
Jantung Sekar berdetak lebih cepat.
Ada rasa takut.
Tapi juga iba.
Dan entah kenapa... ia tidak ingin Rei menghilang.
"Apa kamu ingin... pergi?" tanya Sekar hati-hati.
Rei terdiam.
Untuk pertama kalinya, wajahnya benar-benar terlihat muda. Bukan legenda jalanan. Bukan sosok menyeramkan.
Hanya seorang pria yang hidupnya berhenti terlalu cepat.
"Aku tidak tahu caranya," jawabnya pelan.
Hening kembali turun.
Lalu, dengan suara hampir tak terdengar, Rei berkata—
"Bolehkah aku tinggal... sampai aku tahu harus ke mana?"
Dan untuk pertama kalinya sejak ia melihat arwah itu—
Sekar tidak merasa takut.
Ia hanya merasa... ada seseorang yang sangat, sangat kesepian berdiri di hadapannya.
Other Stories
Ada Apa Dengan Rasi
Saking seringnya melihat dan mendengar kedua orang tuanya bertengkar, membuat Rasi, gadis ...
Death Cafe
Sakti tidak dapat menahan diri lagi, ia penasaran dengan death cafe yang selama ini orang- ...
Rindu Yang Tumbuh Jadi Monster
Adrian nggak pernah nyangka, jatuh cinta bisa berawal dari hal sesederhana ngeliat cewek n ...
Hati Yang Terbatas
Kinanti mempertahankan cintanya meski hanya membawa bahagia sesaat, ketakutan, dan luka. I ...
Wajah Tak Dikenal
Ketika Mahesa mengungkapkan bahwa ia mengidap prosopagnosia, ketidakmampuan mengenali waja ...