BAB 1- Helm Yang Tidak Pernah Pulang
Arga Pratama selalu datang ke kampus dengan suara knalpot yang khas.
Tidak berisik. Tidak berlebihan. Tapi cukup untuk membuat orang menoleh.
Siang itu, Sekar baru saja keluar dari kelas ketika Arga menghampirinya dengan helm hitam di tangan.
"Sekar," panggilnya santai. "Tugas desain udah selesai? Laptopku error. Boleh ke rumah nggak? Sekalian ambil file yang kemarin."
Sekar mengangkat alis.
"Rumah kamu?"
Arga tertawa kecil. "Tenang aja. Cuma ambil tugas. Nggak aneh-aneh."
Entah kenapa Sekar mengangguk.
Rumah Arga tidak jauh dari kampus. Minimalis. Bersih. Wangi kayu.
Begitu masuk ke kamarnya, Sekar langsung menyadari satu hal.
Di atas meja dekat jendela, ada sebuah helm racing.
Helm itu indah. Hitam doff dengan garis merah tipis seperti kilat. Merek luar negeri. Terlihat mahal.
Tapi...
Ada retakan di bagian depan. Halus, tapi jelas. Seperti pernah menghantam sesuatu dengan keras.
"Helmnya bagus," gumam Sekar pelan.
Arga menoleh. "Oh itu? Dapet thrifting. Murah banget padahal limited edition. Gila sih yang jual."
Sekar melangkah mendekat.
Udara berubah.
Dingin.
Bau aspal basah seperti setelah hujan.
Dan tiba-tiba—
Di belakang helm itu...
Ada sosok berdiri.
Tinggi.
Bertato.
Memakai jaket racing hitam dengan resleting setengah terbuka.
Rambutnya sedikit berantakan.
Darah mengalir dari pelipisnya.
Matanya tajam.
Menatap lurus ke arah Sekar.
Napas Sekar tercekat.
Sosok itu tidak buram. Tidak transparan. Ia terlihat nyata. Terlalu nyata untuk disebut bayangan.
Darah masih mengalir di kepalanya.
Seolah kecelakaan itu baru saja terjadi.
Sekar mundur satu langkah.
Arga langsung menangkap lengannya.
"Eh? Kamu kenapa? Pucat banget."
Sekar tidak bisa menjawab.
Karena sosok itu... tersenyum tipis.
Dan bibirnya bergerak pelan.
"...Kau bisa melihatku?"
Sekar pulang dalam keadaan setengah linglung.
Sepanjang perjalanan, Arga beberapa kali meliriknya.
"Kalau kamu nggak enak badan, bilang ya," katanya lembut. "Jangan dipaksain."
Saat sampai di depan rumah Sekar, Arga melepas helmnya dan tersenyum.
"Besok aku kirim file tugasnya. Kamu istirahat aja."
Ada sesuatu dalam tatapan Arga. Perhatian yang tulus.
Sekar mengangguk pelan.
Ia tidak tahu...
Bahwa sejak ia keluar dari kamar itu—
Ia tidak pulang sendirian.
Malamnya, kamar Sekar gelap.
Hanya lampu meja yang menyala redup.
Sekar sedang duduk di kasur ketika udara kembali berubah dingin.
Perlahan, bayangan muncul di sudut ruangan.
Bukan lagi berdarah.
Bukan lagi rusak.
Ia berdiri utuh.
Tinggi.
Ganteng.
Jaket racing masih melekat di tubuhnya.
Tatapannya tidak lagi menyeramkan.
Hanya... kosong.
Kesepian.
"Akhirnya," suara berat itu terdengar jelas, "ada yang bisa melihatku."
Sekar membeku.
"K-kamu siapa?"
Ia melangkah mendekat. Kali ini tanpa darah.
"Rei," jawabnya pelan.
"Rei Kazama."
Tatapannya melembut.
"Aku sudah lama menunggu."
Dan untuk pertama kalinya...
Sekar melihat sesuatu yang lebih menakutkan daripada darah.
Kesepian yang tak berujung di mata seorang arwah.
Tidak berisik. Tidak berlebihan. Tapi cukup untuk membuat orang menoleh.
Siang itu, Sekar baru saja keluar dari kelas ketika Arga menghampirinya dengan helm hitam di tangan.
"Sekar," panggilnya santai. "Tugas desain udah selesai? Laptopku error. Boleh ke rumah nggak? Sekalian ambil file yang kemarin."
Sekar mengangkat alis.
"Rumah kamu?"
Arga tertawa kecil. "Tenang aja. Cuma ambil tugas. Nggak aneh-aneh."
Entah kenapa Sekar mengangguk.
Rumah Arga tidak jauh dari kampus. Minimalis. Bersih. Wangi kayu.
Begitu masuk ke kamarnya, Sekar langsung menyadari satu hal.
Di atas meja dekat jendela, ada sebuah helm racing.
Helm itu indah. Hitam doff dengan garis merah tipis seperti kilat. Merek luar negeri. Terlihat mahal.
Tapi...
Ada retakan di bagian depan. Halus, tapi jelas. Seperti pernah menghantam sesuatu dengan keras.
"Helmnya bagus," gumam Sekar pelan.
Arga menoleh. "Oh itu? Dapet thrifting. Murah banget padahal limited edition. Gila sih yang jual."
Sekar melangkah mendekat.
Udara berubah.
Dingin.
Bau aspal basah seperti setelah hujan.
Dan tiba-tiba—
Di belakang helm itu...
Ada sosok berdiri.
Tinggi.
Bertato.
Memakai jaket racing hitam dengan resleting setengah terbuka.
Rambutnya sedikit berantakan.
Darah mengalir dari pelipisnya.
Matanya tajam.
Menatap lurus ke arah Sekar.
Napas Sekar tercekat.
Sosok itu tidak buram. Tidak transparan. Ia terlihat nyata. Terlalu nyata untuk disebut bayangan.
Darah masih mengalir di kepalanya.
Seolah kecelakaan itu baru saja terjadi.
Sekar mundur satu langkah.
Arga langsung menangkap lengannya.
"Eh? Kamu kenapa? Pucat banget."
Sekar tidak bisa menjawab.
Karena sosok itu... tersenyum tipis.
Dan bibirnya bergerak pelan.
"...Kau bisa melihatku?"
Sekar pulang dalam keadaan setengah linglung.
Sepanjang perjalanan, Arga beberapa kali meliriknya.
"Kalau kamu nggak enak badan, bilang ya," katanya lembut. "Jangan dipaksain."
Saat sampai di depan rumah Sekar, Arga melepas helmnya dan tersenyum.
"Besok aku kirim file tugasnya. Kamu istirahat aja."
Ada sesuatu dalam tatapan Arga. Perhatian yang tulus.
Sekar mengangguk pelan.
Ia tidak tahu...
Bahwa sejak ia keluar dari kamar itu—
Ia tidak pulang sendirian.
Malamnya, kamar Sekar gelap.
Hanya lampu meja yang menyala redup.
Sekar sedang duduk di kasur ketika udara kembali berubah dingin.
Perlahan, bayangan muncul di sudut ruangan.
Bukan lagi berdarah.
Bukan lagi rusak.
Ia berdiri utuh.
Tinggi.
Ganteng.
Jaket racing masih melekat di tubuhnya.
Tatapannya tidak lagi menyeramkan.
Hanya... kosong.
Kesepian.
"Akhirnya," suara berat itu terdengar jelas, "ada yang bisa melihatku."
Sekar membeku.
"K-kamu siapa?"
Ia melangkah mendekat. Kali ini tanpa darah.
"Rei," jawabnya pelan.
"Rei Kazama."
Tatapannya melembut.
"Aku sudah lama menunggu."
Dan untuk pertama kalinya...
Sekar melihat sesuatu yang lebih menakutkan daripada darah.
Kesepian yang tak berujung di mata seorang arwah.
Other Stories
Awan Favorit Mamah
Hidup bukanlah perjalanan yang mudah bagi Mamah. Sejak kecil ia tumbuh tanpa kepastian sia ...
Perpustakaan Berdarah
Sita terbayang ketika Papa marah padanya karena memutuskan masuk Fakultas Desain Komunikas ...
Youtube In Love
Wahyu yang berani kenalan lewat komentar YouTube berhasil mengajak Yunita bertemu. Asep pe ...
Menolak Jatuh Cinta
Rasa aneh sudah sembilan bulan lenyap, ntah mengapa kini kembali menyusup di sudut hatik ...
Takdir Cinta
Di balik keluarga yang tampak sempurna, tersimpan rahasia pahit: sang suami memilih pria l ...
First Love Fall
Rena mengira dengan mendapat beasiswa akan menjadi petualangan yang menyenangkan. Tapi sia ...