BAB 5 - Senyum Yang Mengingatkan Pada Rumah
Lampu mall menyala terang, kontras dengan langit malam di luar.
Sekar dan Arga baru saja keluar dari studio bioskop. Filmnya sudah selesai, tapi Arga masih membahas adegan terakhir dengan semangat.
"Ending-nya kurang greget," katanya sambil berjalan santai di samping Sekar.
Sekar tersenyum kecil. "Kamu aja yang kebanyakan maunya."
Arga meliriknya. "Kalau kamu jadi penulisnya, ending-nya gimana?"
Sekar tertawa pelan. "Rahasia."
Mereka berhenti di sebuah restoran di lantai dua. Duduk berhadapan. Suasananya tidak terlalu ramai. Cukup tenang untuk percakapan yang lebih dalam.
Sekar menatap Arga beberapa detik lebih lama dari biasanya.
"Ga..." panggilnya pelan.
"Hm?"
"Helm yang di kamar kamu itu... kamu beli di mana sebenarnya?"
Arga mengangkat alis. "Loh, kemarin kan aku bilang. Thrifting."
"Iya. Tapi dari siapa?"
Arga berpikir sebentar. "Toko barang second. Katanya sih barang sitaan kecelakaan yang nggak diambil keluarga. Kenapa?"
Sekar menarik napas pelan.
"Aku mau ngomong sesuatu. Tapi kamu jangan langsung anggap aku aneh."
Arga tidak tertawa. Tidak mengejek.
Ia hanya menatap Sekar dengan serius.
"Aku bisa lihat... mereka."
"Mereka?"
"Makhluk tak kasat mata."
Hening beberapa detik.
Sekar sudah siap kalau Arga akan menertawakannya.
Tapi yang terjadi justru sebaliknya.
Arga terdiam. Lama.
Lalu bertanya pelan, "Yang kamu lihat di kamarku... siapa?"
Sekar menatapnya, memastikan ia tidak bercanda.
"Namanya Rei Kazama. Cowok Jepang. Dia pemilik helm itu. Dia meninggal karena kecelakaan. Pendarahan di kepala."
Arga tidak terlihat takut.
Hanya kaget.
"Kamu yakin?"
Sekar mengangguk. "Dia ikut denganku."
Hening lagi.
Suara sendok beradu dengan piring dari meja lain terdengar samar.
Lalu Arga bersandar pelan di kursinya.
"Kalau aku bilang... aku percaya?"
Sekar terdiam.
Arga tersenyum kecil. Bukan senyum mengejek. Tapi senyum yang lembut.
"Mamaku dulu juga begitu."
Sekar membeku.
"Beliau bisa lihat dan ngobrol sama makhluk halus," lanjut Arga pelan. "Waktu aku kecil, aku sering lihat mama ngomong sendiri. Tapi tiap aku tanya, beliau cuma bilang... 'Ada yang lagi butuh ditemenin.'"
Sekar merasakan sesuatu menghangat di dadanya.
"Orang-orang bilang mama aneh," Arga tersenyum tipis. "Tapi buatku, mama cuma berbeda."
Tatapan Arga berubah lebih dalam.
"Waktu kamu pertama kali senyum ke aku di kampus..." katanya pelan, "aku kaget."
Sekar mengernyit. "Kenapa?"
"Senyummu mirip mama."
Waktu seperti berhenti sebentar.
Arga menunduk, memainkan gelas minumnya.
"Mama meninggal waktu aku SMP. Sakit," lanjutnya pelan. "Sejak itu rumah rasanya beda."
Sekar tidak tahu harus berkata apa.
"Kalau aku nyaman sama kamu," Arga mengangkat wajahnya lagi, "mungkin karena kamu bikin aku ingat rumah."
Jantung Sekar berdetak pelan tapi berat.
Ia tidak pernah menyangka alasan itu.
Di sudut ruangan restoran—
Rei berdiri.
Diam.
Mendengar semuanya.
Tatapannya tidak lagi cemburu.
Hanya... mengerti.
Sekar menggigit bibirnya pelan.
"Rei bilang dia terikat sama helm itu," katanya hati-hati. "Mungkin ada yang belum selesai."
Arga mengangguk pelan.
"Kita cari tahu sama-sama."
Bukan nada takut.
Bukan nada menolak.
Tapi nada seseorang yang memilih tinggal.
Rei menatap Arga cukup lama.
Untuk pertama kalinya...
Ia melihat laki-laki itu bukan sebagai saingan.
Tapi sebagai seseorang yang juga kehilangan.
Dan malam itu—
Di antara lampu mall yang terang, suara sendok, dan tawa pengunjung lain—
Tiga hati yang berbeda dunia duduk dalam satu cerita yang sama.
Satu hidup.
Satu mati.
Sekar dan Arga baru saja keluar dari studio bioskop. Filmnya sudah selesai, tapi Arga masih membahas adegan terakhir dengan semangat.
"Ending-nya kurang greget," katanya sambil berjalan santai di samping Sekar.
Sekar tersenyum kecil. "Kamu aja yang kebanyakan maunya."
Arga meliriknya. "Kalau kamu jadi penulisnya, ending-nya gimana?"
Sekar tertawa pelan. "Rahasia."
Mereka berhenti di sebuah restoran di lantai dua. Duduk berhadapan. Suasananya tidak terlalu ramai. Cukup tenang untuk percakapan yang lebih dalam.
Sekar menatap Arga beberapa detik lebih lama dari biasanya.
"Ga..." panggilnya pelan.
"Hm?"
"Helm yang di kamar kamu itu... kamu beli di mana sebenarnya?"
Arga mengangkat alis. "Loh, kemarin kan aku bilang. Thrifting."
"Iya. Tapi dari siapa?"
Arga berpikir sebentar. "Toko barang second. Katanya sih barang sitaan kecelakaan yang nggak diambil keluarga. Kenapa?"
Sekar menarik napas pelan.
"Aku mau ngomong sesuatu. Tapi kamu jangan langsung anggap aku aneh."
Arga tidak tertawa. Tidak mengejek.
Ia hanya menatap Sekar dengan serius.
"Aku bisa lihat... mereka."
"Mereka?"
"Makhluk tak kasat mata."
Hening beberapa detik.
Sekar sudah siap kalau Arga akan menertawakannya.
Tapi yang terjadi justru sebaliknya.
Arga terdiam. Lama.
Lalu bertanya pelan, "Yang kamu lihat di kamarku... siapa?"
Sekar menatapnya, memastikan ia tidak bercanda.
"Namanya Rei Kazama. Cowok Jepang. Dia pemilik helm itu. Dia meninggal karena kecelakaan. Pendarahan di kepala."
Arga tidak terlihat takut.
Hanya kaget.
"Kamu yakin?"
Sekar mengangguk. "Dia ikut denganku."
Hening lagi.
Suara sendok beradu dengan piring dari meja lain terdengar samar.
Lalu Arga bersandar pelan di kursinya.
"Kalau aku bilang... aku percaya?"
Sekar terdiam.
Arga tersenyum kecil. Bukan senyum mengejek. Tapi senyum yang lembut.
"Mamaku dulu juga begitu."
Sekar membeku.
"Beliau bisa lihat dan ngobrol sama makhluk halus," lanjut Arga pelan. "Waktu aku kecil, aku sering lihat mama ngomong sendiri. Tapi tiap aku tanya, beliau cuma bilang... 'Ada yang lagi butuh ditemenin.'"
Sekar merasakan sesuatu menghangat di dadanya.
"Orang-orang bilang mama aneh," Arga tersenyum tipis. "Tapi buatku, mama cuma berbeda."
Tatapan Arga berubah lebih dalam.
"Waktu kamu pertama kali senyum ke aku di kampus..." katanya pelan, "aku kaget."
Sekar mengernyit. "Kenapa?"
"Senyummu mirip mama."
Waktu seperti berhenti sebentar.
Arga menunduk, memainkan gelas minumnya.
"Mama meninggal waktu aku SMP. Sakit," lanjutnya pelan. "Sejak itu rumah rasanya beda."
Sekar tidak tahu harus berkata apa.
"Kalau aku nyaman sama kamu," Arga mengangkat wajahnya lagi, "mungkin karena kamu bikin aku ingat rumah."
Jantung Sekar berdetak pelan tapi berat.
Ia tidak pernah menyangka alasan itu.
Di sudut ruangan restoran—
Rei berdiri.
Diam.
Mendengar semuanya.
Tatapannya tidak lagi cemburu.
Hanya... mengerti.
Sekar menggigit bibirnya pelan.
"Rei bilang dia terikat sama helm itu," katanya hati-hati. "Mungkin ada yang belum selesai."
Arga mengangguk pelan.
"Kita cari tahu sama-sama."
Bukan nada takut.
Bukan nada menolak.
Tapi nada seseorang yang memilih tinggal.
Rei menatap Arga cukup lama.
Untuk pertama kalinya...
Ia melihat laki-laki itu bukan sebagai saingan.
Tapi sebagai seseorang yang juga kehilangan.
Dan malam itu—
Di antara lampu mall yang terang, suara sendok, dan tawa pengunjung lain—
Tiga hati yang berbeda dunia duduk dalam satu cerita yang sama.
Satu hidup.
Satu mati.
Other Stories
Osaka Meet You
Buat Nara, mama adalah segalanya.Sebagai anak tunggal, dirinya dekat dengan mama dibanding ...
Cinta Kadang Kidding
Seorang pemuda yang sedang jatuh cinta kepada teman sekelas saat sedang menempuh pendidika ...
Institut Tambal Sains
Faris seorang mahasiswa tingkat akhir sudah 7 tahun kuliah belum lulus dari kampusnya. Ia ...
Cerella Flost
Aku pernah menjadi gadis yang terburuk.Tentu bukan karena parasku yang menjaminku menjadi ...
Hati Diatas Melati ( 17+ )
Melati adalah asisten pribadi yang perfeksionis dengan penampilan yang selalu tertutup dan ...
Pasti Ada Jalan
Sebagai ibu tunggal di usia muda, Sari, perempuan cerdas yang bernasib malang itu, selalu ...