Rei Kazama

Reads
510
Votes
0
Parts
10
Vote
Report
Penulis Ayu Ayy

BAB 6 - Yang Tidak Ditulis Dalam Berita

Helm itu kini berada di kamar Sekar.

Arga sengaja membawanya malam itu. Ia tidak ingin meninggalkannya sendirian di rumah.

Helm hitam dengan garis merah itu diletakkan di atas meja belajar. Retak di bagian depan terlihat jelas di bawah cahaya lampu.

Rei berdiri tidak jauh dari sana.

Ia tidak bisa menjauh lebih dari beberapa langkah dari helm itu. Setiap kali mencoba, tubuhnya seperti memudar.

Sekar sudah memahami polanya.

Ia duduk di kursi. Arga duduk di sampingnya, laptop terbuka.

"Aku coba cari berita kecelakaan dua tahun lalu di Jepang," kata Arga pelan. "Tapi mungkin bahasanya Jepang semua."

"Coba pakai translate," jawab Sekar.

Rei menatap layar. Lalu suaranya terdengar di dalam kepala Sekar.

"Tanggalnya 17 Oktober. Balapan malam di distrik Shibuya lama. Bukan jalan utama. Jalan belakang gudang."

Sekar mengulang dengan suara pelan, "Tanggal 17 Oktober. Shibuya lama. Dekat gudang."

Arga menoleh cepat.
"Itu dia yang bilang?"

Sekar mengangguk.

Arga mengetik ulang.

Beberapa artikel lama muncul.

PEMBALAP LIAR TEWAS DALAM KECELAKAAN TUNGGAL. DIDUGA REM BLONG.

Arga membaca pelan.
"Rem blong karena modifikasi tidak standar..."

Sekar terdiam.

"Aku tidak pernah memodifikasi remku," suara Rei terdengar lagi, lebih tegas.
"Motorku dirawat rutin. Tidak mungkin blong begitu saja."

Sekar mengulanginya.

Arga berhenti mengetik.

"Berarti ada kemungkinan sabotase," gumamnya.

Rei mendekat ke helm. Tangannya tidak bisa menyentuhnya, tapi tatapannya tajam.

"Sebelum balapan dimulai, motorku sempat ditinggal lima menit. Aku ke toilet. Hanya satu orang yang berdiri paling dekat dengan motorku."

Sekar menelan ludah.
"Siapa?"

"Daichi Moriyama."

Arga langsung mengetik nama itu.

Muncul beberapa forum lama balap jalanan Jepang.

Salah satu postingan anonim menarik perhatian.

"Kazama terlalu percaya diri. Dia tidak sadar ada yang bermain kotor."

Arga membaca keras-keras.

Sekar merinding.

"Dia selalu kalah dariku," Rei melanjutkan.
"Tiga musim berturut-turut."

"Dan malam itu?" tanya Sekar dalam hati.

Rei terdiam cukup lama.

Lalu jawabannya datang, lebih pelan.

"Saat aku jatuh... dia tidak berhenti."
"Dia tetap melaju."

Hening menyelimuti kamar.

Arga menutup laptop perlahan.

"Helm ini," katanya serius, "datang ke Indonesia lewat jalur barang bekas. Bisa jadi dari barang sitaan polisi atau dilelang."

Sekar menatapnya.

"Kita nggak mungkin ke Jepang," lanjut Arga realistis. "Tapi jejak digital nggak pernah benar-benar hilang."

Rei berdiri di antara mereka.

Untuk pertama kalinya sejak dua tahun kematiannya, ada arah.

Bukan balas dendam.

Bukan amarah.

Hanya satu hal.

Kebenaran.

Sekar memejamkan mata sebentar.

"Aku tidak ingin dia mati," suara Rei terdengar lagi.
"Aku hanya ingin tahu... apakah dia sengaja melakukannya."

Sekar membuka mata.

"Kita cari tahu pelan-pelan," katanya tegas.

Arga menatapnya.
"Aku ikut."

Bukan karena penasaran.

Bukan karena sensasi.

Tapi karena ia tidak ingin Sekar menghadapi dunia yang tak terlihat sendirian.

Di meja itu, helm retak itu diam.

Tapi untuk pertama kalinya—

Retakan itu terasa seperti petunjuk.

Bukan akhir.



Other Stories
The Ridle

Gema dan Mala selalu kompak bersama dan susah untuk dipisahkan. Gema selalu melindungi Mal ...

Kota Ini

Plak! Terdengar tamparan keras yang membuat Jesse terperanjat dari tempat tidurnya. "S ...

Tentang Kita : Yang Tertulis Untuk Bian

Sepeninggal ayahnya, Bian dihadapkan pada situasi rumit antara uang dan kekasihnya. Di sat ...

Pertemuan Di Ujung Kopi

Dari secangkir kopi yang tumpah, Aira tak pernah tahu bahwa hidupnya akan berpapasan kemba ...

Warung Kopi Reformasi

Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir alun-alun Garut tahun 1998, hidup berjalan deng ...

Chromatic Goodbye

"Kalau aku tertawa, apa bentuk dan warnanya?" "Cokelat gelap dan keemasan. Kayak warna dar ...

Download Titik & Koma