BAB 4 - Gadis Yang Menunggu Di Garis Finish
Malam itu lebih tenang dari biasanya.
Sekar duduk di meja belajarnya. Buku terbuka, tapi pikirannya tidak di sana.
Rei berdiri di dekat jendela, memandang keluar seperti seseorang yang masih bisa merasakan angin.
"Kamu pernah... pacaran?" tanya Sekar tiba-tiba.
Rei tidak langsung menjawab.
Pertanyaan itu sederhana.
Tapi efeknya seperti membuka pintu yang lama ia kunci.
"Aku pernah mencintai seseorang," jawabnya akhirnya.
Sekar menoleh perlahan.
Wajah Rei tidak lagi setenang biasanya.
"Aiko," lanjutnya pelan. "Namanya Aiko Tanaka."
Nama itu keluar seperti sesuatu yang rapuh.
"Dia bukan bagian dari dunia balapku," Rei tersenyum tipis. "Dia benci suara knalpot. Katanya terlalu berisik."
Sekar tersenyum kecil membayangkannya.
"Tapi dia tetap datang setiap aku balapan," Rei melanjutkan. "Dia selalu berdiri di garis finish. Membawa minuman hangat. Mengomel karena aku ngebut."
Ada cahaya aneh di mata Rei. Bukan seram. Bukan dingin.
Hangat.
"Dia memelukku setiap aku turun dari motor," katanya lirih. "Dan selalu bilang... 'Jangan mati sebelum kita menikah.'"
Kalimat itu menggantung di udara.
Sekar merasakan dadanya ikut sesak.
"Kamu... berencana menikah?"
Rei mengangguk pelan.
"Aku sudah membeli cincin."
Hening.
Jam dinding berdetak lagi.
"Malam kecelakaan itu," Rei menatap lantai, "dia mengirim pesan. Dia bilang merasa tidak enak hati. Memintaku tidak balapan."
Sekar menahan napas.
"Aku membaca pesannya... tapi tetap berangkat."
Suara Rei berubah lebih rendah.
"Aku berpikir, satu balapan terakhir tidak akan mengubah apa-apa."
Sekar tahu bagian selanjutnya.
Tapi tetap saja... rasanya menyakitkan.
"Aku tidak pernah sampai di garis finish," kata Rei pelan. "Dan dia... menungguku sampai pagi."
Udara terasa berat.
"Aku melihatnya di rumah sakit," lanjut Rei. "Dia menangis di samping tubuhku. Aku berdiri tepat di sampingnya... mencoba menyentuhnya."
Tangannya mengepal pelan.
"Tapi tanganku hanya menembus udara."
Untuk pertama kalinya, Sekar melihat sesuatu yang pecah di dalam mata Rei.
"Aku memanggil namanya," suaranya hampir berbisik. "Tapi dia tidak pernah mendengar."
Sekar berdiri perlahan.
Ia mendekat.
Rei menatapnya, kaget karena jarak mereka kini begitu dekat.
"Kamu masih mencintainya?" tanya Sekar lembut.
Rei terdiam lama.
"Aku tidak tahu apakah arwah boleh mencintai," jawabnya jujur. "Tapi jika rindu termasuk cinta... maka iya."
Sekar tidak tahu kenapa hatinya terasa perih.
Padahal ia tidak punya hak untuk cemburu.
Rei menatapnya lebih lama.
"Ketika aku melihatmu tertawa bersama Arga," katanya pelan, "aku teringat pada diriku sendiri."
Sekar terdiam.
"Aku tidak cemburu," Rei menambahkan cepat. "Aku hanya... merindukan perasaan itu."
Sunyi kembali turun.
Untuk pertama kalinya, Sekar tidak melihat Rei sebagai sosok menyeramkan.
Ia melihat seorang pria yang hidupnya berhenti tepat saat ia sedang mencintai paling dalam.
"Aiko sekarang bagaimana?" tanya Sekar hati-hati.
Rei tersenyum tipis.
"Aku berhenti mengikutinya."
Sekar mengernyit.
"Aku melihatnya menangis setiap hari. Aku tidak ingin dia terus terikat pada seseorang yang sudah mati."
Ada keheningan penuh makna di kalimat itu.
"Aku ingin dia hidup," lanjut Rei. "Meskipun tanpa aku."
Angin malam masuk pelan melalui jendela.
Sekar tidak sadar sejak kapan... jarak antara mereka terasa begitu tipis.
Dan untuk pertama kalinya...
Ia tidak melihat Rei hanya sebagai arwah.
Tapi sebagai seseorang yang pernah patah — dan belum selesai.
Sekar duduk di meja belajarnya. Buku terbuka, tapi pikirannya tidak di sana.
Rei berdiri di dekat jendela, memandang keluar seperti seseorang yang masih bisa merasakan angin.
"Kamu pernah... pacaran?" tanya Sekar tiba-tiba.
Rei tidak langsung menjawab.
Pertanyaan itu sederhana.
Tapi efeknya seperti membuka pintu yang lama ia kunci.
"Aku pernah mencintai seseorang," jawabnya akhirnya.
Sekar menoleh perlahan.
Wajah Rei tidak lagi setenang biasanya.
"Aiko," lanjutnya pelan. "Namanya Aiko Tanaka."
Nama itu keluar seperti sesuatu yang rapuh.
"Dia bukan bagian dari dunia balapku," Rei tersenyum tipis. "Dia benci suara knalpot. Katanya terlalu berisik."
Sekar tersenyum kecil membayangkannya.
"Tapi dia tetap datang setiap aku balapan," Rei melanjutkan. "Dia selalu berdiri di garis finish. Membawa minuman hangat. Mengomel karena aku ngebut."
Ada cahaya aneh di mata Rei. Bukan seram. Bukan dingin.
Hangat.
"Dia memelukku setiap aku turun dari motor," katanya lirih. "Dan selalu bilang... 'Jangan mati sebelum kita menikah.'"
Kalimat itu menggantung di udara.
Sekar merasakan dadanya ikut sesak.
"Kamu... berencana menikah?"
Rei mengangguk pelan.
"Aku sudah membeli cincin."
Hening.
Jam dinding berdetak lagi.
"Malam kecelakaan itu," Rei menatap lantai, "dia mengirim pesan. Dia bilang merasa tidak enak hati. Memintaku tidak balapan."
Sekar menahan napas.
"Aku membaca pesannya... tapi tetap berangkat."
Suara Rei berubah lebih rendah.
"Aku berpikir, satu balapan terakhir tidak akan mengubah apa-apa."
Sekar tahu bagian selanjutnya.
Tapi tetap saja... rasanya menyakitkan.
"Aku tidak pernah sampai di garis finish," kata Rei pelan. "Dan dia... menungguku sampai pagi."
Udara terasa berat.
"Aku melihatnya di rumah sakit," lanjut Rei. "Dia menangis di samping tubuhku. Aku berdiri tepat di sampingnya... mencoba menyentuhnya."
Tangannya mengepal pelan.
"Tapi tanganku hanya menembus udara."
Untuk pertama kalinya, Sekar melihat sesuatu yang pecah di dalam mata Rei.
"Aku memanggil namanya," suaranya hampir berbisik. "Tapi dia tidak pernah mendengar."
Sekar berdiri perlahan.
Ia mendekat.
Rei menatapnya, kaget karena jarak mereka kini begitu dekat.
"Kamu masih mencintainya?" tanya Sekar lembut.
Rei terdiam lama.
"Aku tidak tahu apakah arwah boleh mencintai," jawabnya jujur. "Tapi jika rindu termasuk cinta... maka iya."
Sekar tidak tahu kenapa hatinya terasa perih.
Padahal ia tidak punya hak untuk cemburu.
Rei menatapnya lebih lama.
"Ketika aku melihatmu tertawa bersama Arga," katanya pelan, "aku teringat pada diriku sendiri."
Sekar terdiam.
"Aku tidak cemburu," Rei menambahkan cepat. "Aku hanya... merindukan perasaan itu."
Sunyi kembali turun.
Untuk pertama kalinya, Sekar tidak melihat Rei sebagai sosok menyeramkan.
Ia melihat seorang pria yang hidupnya berhenti tepat saat ia sedang mencintai paling dalam.
"Aiko sekarang bagaimana?" tanya Sekar hati-hati.
Rei tersenyum tipis.
"Aku berhenti mengikutinya."
Sekar mengernyit.
"Aku melihatnya menangis setiap hari. Aku tidak ingin dia terus terikat pada seseorang yang sudah mati."
Ada keheningan penuh makna di kalimat itu.
"Aku ingin dia hidup," lanjut Rei. "Meskipun tanpa aku."
Angin malam masuk pelan melalui jendela.
Sekar tidak sadar sejak kapan... jarak antara mereka terasa begitu tipis.
Dan untuk pertama kalinya...
Ia tidak melihat Rei hanya sebagai arwah.
Tapi sebagai seseorang yang pernah patah — dan belum selesai.
Other Stories
Jjjjjj
ghjjjj ...
Absolute Point
Sebuah sudut pandang mahasiswa semester 13 diambang Drop Out yang terlalu malu menceritaka ...
Cinta Di 7 Keajaiban Dunia
Malam yang sunyi aku duduk seorang diri. Duduk terdiam tanpa teman di hati. Kuterdiam me ...
Rembulan Di Mata Syua
Syua mulai betah di pesantren, tapi kebahagiaannya terusik saat seorang wanita mengungkapk ...
Manusia Setengah Siluman
Reno tak pernah tahu apa itu arti punya orang tua. Ia seorang yatim piatu yang berjuang hi ...
Cahaya Menembus Senesta
Manusia tidak akan mampu hidup sendiri, mereka membutuhkan teman. Sebab dengan pertemanan, ...