Mimi & Peri

Reads
30
Votes
0
Parts
4
Vote
Report
Penulis Blueberries

BAB 2 - Kebenaran Si Panda Merah Berkecambah

Burung kehicap Flores itu terbang rendah di antara kanopi hutan, kepakan sayapnya cepat namun tidak kuat untuk jarak jauh, dan kini ia ditunggangi seorang peri dengan hati penuh gejolak serta seorang gadis mungil yang senyumnya tak pernah lebih lebar. Machi duduk di depan, memegang bulu leher burung dengan hati hati, sementara Mimi memeluk pinggangnya dari belakang.

“Aku harap kau tahu arah sarang elang itu,” bisik Mimi.

“Aku hidup di hutan ini lebih lama daripada usiamu di dunia,” balas Machi.

“Aku cuma memastikan.”

“Kau terlalu banyak memastikan.”

Meski nada mereka terdengar saling menyindir, ada sesuatu yang berubah; Mimi tidak lagi melihat Machi sebagai makhluk aneh berbentuk panda merah dengan kepala berkecambah, melainkan mulai melihatnya sebagai seseorang yang… kesepian. Kehicap itu hinggap di dahan.

Krek.

Ranting bergetar, dan Machi memberi isyarat agar mereka berhenti sejenak.

“Burung ini tidak seperti elang. Ia harus beristirahat,” katanya.

Hutan terdengar damai; angin menyentuh dedaunan, serangga berdengung, dan untuk sesaat semuanya terasa tenang.

Lalu
DOR!

Suara itu memecah hening seperti petir yang ditembakkan dari bumi. Tubuh kehicap bergetar, bulu bulunya berhamburan.

WHOOSH!

Lesatan angin panas melesat di samping mereka. Burung itu terhuyung.

“Pegangan!” teriak Machi.

Namun sudah terlambat; kehicap kehilangan keseimbangan.

BRUAAAK!

Ia jatuh menabrak dahan dahan, membawa Mimi dan Machi bersamanya. Segalanya terasa lambat; tubuh Mimi terhantam sesuatu yang keras.

Lalu gelap.

Ia belum sepenuhnya pingsan; ia masih bisa merasakan bau tanah, bau darah, dan bau bulu hangus. Tubuh kehicap yang jauh lebih besar dari ukuran mungilnya kini menindihnya, dan kakinya terasa nyeri luar biasa.

“Mimi!” suara Machi terdengar serak.

Machi mengerahkan seluruh tenaganya, kedua tangan kecilnya mendorong bangkai burung itu; otot ototnya bergetar.

“Cepat… keluar…”

Mimi merangkak, napasnya tersengal, dan Machi terjatuh terduduk begitu tubuh Mimi berhasil bebas. Mereka terdiam beberapa detik, hanya napas yang terdengar, dan hutan tidak lagi terasa damai.

“Manusia,” kata Machi pelan, namun nadanya tajam seperti duri.

Mimi menoleh.

“Suara itu… tembakan,” lanjut Machi. “Kaummu.”

Mimi mengepalkan tangan.

“Aku…”

“Cukup! Jangan tambahkan garam pada luka ini!”

Ada kebencian dalam suaranya kebencian lama.

“Kau tahu, ini alasanku enggan membantu. Kaummu keji dan tak bisa dipercaya!”

“Aku…”

Gadis itu hanya mengulangi perkataannya dengan lirih. Machi menunduk, matanya berkaca kaca.

“Kau tahu, aku berbohong. Tak semua peri kehilangan kekuatannya seperti diriku… bumi telah mengutukku.”

“Mengutukmu, bumi? Itu tak masuk akal. Apa yang sebenarnya kau maksud?”

Air mata mulai mengalir di wajah sang peri.

“Aku pernah menyelamatkan seorang bocah lelaki di hutan ini. Ia tersesat. Ketakutan.”

Suaranya berubah lebih berat

.“Aku membantunya pulang.”

Angin berdesir pelan.

“Bocah itu tumbuh. Ia menjadi pemilik tambang. Menebangi hutan. Menggali bumi. Menghancurkan tempat yang pernah menyelamatkannya.”

Mimi tak menyela.

“Aku dihukum oleh bumi karena membantunya. Sejak itu, kekuatanku diambil. Aku terjebak dalam wujud ini.”

Ia menatap tangan berbulu kemerahannya.

“Jika bisa kembali ke masa itu… mungkin aku akan membiarkannya mati.”

Kalimat itu menggantung.
Berat.

Machi merasakan kekuatan hilang dari kedua kakinya, tubuhnya menjatuhkan diri ke tanah, dan sang peri berlutut di samping kehicap yang tak lagi bernyawa. Mimi mendekat dan menggenggam tangan kecil Machi.

“Kau tidak salah.”

Machi terdiam.

“Kau menolong karena hatimu murni,” lanjut Mimi. “Yang salah adalah pilihan yang ia buat setelahnya.”

Machi menatapnya.

“Tak semua manusia seperti itu, tak semua harus menjadi sama dengannya. Aku tak mau seperti dia!” ujar Mimi dengan nada yang terdengar lirih. “Dan… aku tahu kau percaya karena dirimu tak pernah berubah jahat. Kau menyelamatkanku Machi… meski kau begitu membenci manusia.”

Tangis Mimi yang tenang berubah menjadi sesenggukan saat kata kata itu selesai diutarakannya. Keheningan panjang menemani keduanya, lalu Machi berkata pelan,

“Jika kau kembali menjadi ukuran manusia… berjanjilah. Kau akan menjaga hutan ini. Mencegah kaummu menghancurkannya.”

Mimi mengusap kedua matanya, mencoba menenangkan diri, lalu mengangkat jari kelingkingnya; di wajahnya kini tampil suatu senyuman getir.

“Janji.”

Machi memandangnya bingung.

“Apa itu?”

“Janji kelingking. Manusia serius kalau sudah begini.”

Machi mengaitkan kelingkingnya yang kecil, dan sentuhan sederhana itu terasa lebih kuat dari sihir. Keduanya tersenyum kecil, namun momen mengharukan itu tak bertahan lama.

BUM…

Tanah bergetar.
Sekali.
Dua kali.

Mereka menoleh bersamaan, dan di sebuah liang gelap sepasang mata oranye menyala; tampaknya aroma dari bangkai kehicap telah membangunkan seekor makhluk kelam dari tidurnya. Mimi tertawa gugup.

“Kau bisa mengendalikan semua hewan, kan?”

Machi meneguk ludah.

“Hampir semua, kecuali... keturunan naga.”

Liang itu mengeluarkan sosok besar bersisik tebal.

Komodo.

Kadal terbesar di dunia, predator puncak Pulau Komodo dan Flores, tubuhnya panjang dengan cakar kuat, lidah bercabang yang mencicipi udara, dan air liurnya mengandung bakteri mematikan; kini dari sudut pandang mereka yang sekecil serangga
Ia tampak seperti naga purba.

Napasnya berbau busuk menusuk.

Sssshhh…

Lidahnya menjulur, ia mendekat, semakin dekat, dan Mimi memejamkan mata; namun tak ada gigitan. Ia membuka mata perlahan, dan komodo itu berdiri kebingungan karena tak melihat mereka; penglihatannya buruk untuk objek kecil yang diam, sementara sisiknya tebal. Ide menyambar benak Mimi.

“Aku punya rencana,” bisiknya.

“Kau terlihat seperti orang yang akan melakukan hal bodoh,” jawab Machi.

“Percayalah.”

Sebelum Machi bisa melarang, Mimi berlari kecil dan memanjat kaki komodo itu.

“GILA!” teriak Machi pelan.

Mimi meraih sisik sisik kasar itu; komodo hanya bergerak sedikit tanpa menyadari, dan Machi akhirnya mengikuti. Mereka memanjat tubuh naga purba itu seperti mendaki bukit bergerak; setiap langkah goyah, setiap gerakan komodo membuat mereka hampir terlempar.

“Tujuanmu apa?!” bisik Machi panik.

Mimi menunjuk ke kepala. Mereka tiba di atas kepala komodo, dan Mimi duduk dekat lubang telinga kanan lalu memberi isyarat.

Satu.
Dua.
Tiga.

PUK!

Ia menepuk tepat di luar lubang telinga, dan komodo menoleh keras ke kanan.

WHOOSH!

Nyaris membuat mereka terlempar. Mimi tertawa, Machi hampir muntah.

“Sekarang kau!” bisik Mimi.

Machi menepuk sisi kiri.

PUK!

Komodo menoleh ke kiri. Mimi mengacungkan jempol.

“Transportasi baru kita.”

“Kau benar benar tidak waras,” gerutu Machi.

Namun ia tersenyum tipis, dan mereka mulai mengarahkan komodo dengan tepukan bergantian kiri, kanan, lurus.

HYAT!
HYAT!

Hutan berguncang oleh langkah berat komodo; perjalanan itu kasar dan penuh hentakan, namun perlahan kepercayaan di antara mereka menjadi nyata tak lagi sekadar janji, kini kerja sama. Untuk pertama kalinya, Machi tidak melihat Mimi sebagai ancaman dari kaum manusia; ia melihatnya sebagai sekutu. Di depan, pohon rajumas raksasa menjulang rumah sang elang Flores.

Petualangan mereka belum selesai.

Justru
Baru akan memasuki klimaks yang sesungguhnya.

Other Stories
Melepasmu Untuk Sementara

Perjalanan meraih tujuan tidaklah mudah, penuh rintangan dan cobaan yang hampir membuat me ...

Langit Di Atas Warteg Bu Sari

hari libur kita ngapain yaa ...

Hanya Ibu

kisah perjuangan bunga, pengamen kecil yang ditinggal ayahnya meninggal karena sakit jantu ...

Pulang Tanpa Diikuti

Sekar menghabiskan liburan panjang di rumah neneknya, sebuah rumah tua di desa yang menyim ...

Arungi Waktu; Ombak Bergulung, Waktu Berderai—namun Jangkar Tak Pernah Ia Turunkan

Arunika pernah percaya bahwa hidup berjalan lurus, sepanjang rencana yang ia susun dengan ...

Buku Mewarnai

ini adalah buku mewarnai srbagai contoh upload buku ...

Download Titik & Koma