Mimi & Peri

Reads
30
Votes
0
Parts
4
Vote
Report
Mimi & peri
Mimi & Peri
Penulis Blueberries

BAB 1 - Seruling Dari Rubanah Dan Peri Yang Terbuang

Liburan sekolah selalu memiliki aroma yang berbeda bagi Mimi.
Aroma kebebasan.
Aroma petualangan.
Dan kali ini, aroma tanah baru yang belum pernah ia pijak sebelumnya.

Mimi adalah seorang gadis belia yang tumbuh di pesisir Pulau Dewata, Bali sebuah pulau yang dikenal dunia karena pantainya, pura-puranya, dan kebudayaannya yang kaya. Namun bagi Mimi, Bali bukan sekadar destinasi wisata; ia adalah rumah bagi burung-burung pantai yang terbang rendah menjelang senja, bagi kepiting kecil yang berlari menyilang pasir, dan bagi angin laut yang membawa kabar dari cakrawala. Ia mencintai alam bukan sebagai hobi.
Melainkan sebagai sahabat.

Dan ketika kedua orang tuanya mengumumkan bahwa mereka akan menghabiskan liburan sekolah di Flores di tanah baru yang baru saja mereka beli Mimi merasa seolah-olah semesta memanggil namanya.

“Benarkah, Bu? Ke Flores? Yang lautnya lebih jernih itu?”

Mimi nyaris melompat kegirangan. Ayahnya tertawa kecil.

“Iya. Anggap saja ini petualangan liburanmu.”

Perjalanan itu terasa seperti mimpi yang berjalan pelan, dan tanpa disangkanya, ia telah sampai di sana bak tersentak dari mimpi sampai di tanah yang sama yang dijajaki oleh para makhluk purba. Flores menyambutnya dengan langit yang lebih biru daripada yang pernah ia lihat. Lautnya bukan sekadar biru ia transparan, memperlihatkan dasar berpasir putih dan bayangan ikan-ikan kecil yang melesat. Padang rumput membentang luas, dihiasi semak dan pohon yang berdiri berjauhan seperti penjaga kuno. Hamparan padang luas berayun pelan tertiup angin, seperti karpet alam yang tak berujung, dan rumah kayu yang dijanjikan orang tuanya berdiri di tengah padang itu sederhana, lapuk oleh waktu, memancarkan aroma kayu tua yang lembab namun akrab.

Rumah kayu itu berdiri sendiri di tengah hamparan hijau.
Aromanya khas kayu tua, tanah lembab, dan waktu.

Mimi melangkah masuk perlahan dan lantai berdecit di bawah kakinya.

KREEEK…

Ia tersenyum.

“Seperti rumah dalam cerita,” gumamnya.

Ayah dan ibunya sibuk di dapur, membongkar kardus, sementara Mimi berjalan menyusuri lorong. Cahaya sore menyelinap di sela jendela, memotong ruangan menjadi garis-garis emas, dan tiba-tiba ia mendengarnya sebuah lantunan, tidak keras, tidak jelas, seperti nada yang tak selesai.

“Mimi…”

Ia membeku. Suara itu tidak membuatnya takut; justru terasa akrab, seolah pernah ia dengar dalam mimpi yang sudah lama dilupakan.

“Mimi…”

Ia mengikuti arah suara itu tanpa benar-benar tahu mengapa, melewati ruang tamu menuju ujung lorong, hingga berhenti di depan sebuah pintu kayu polos. Pintu itu biasa.
Terlalu biasa.

Namun anehnya tak ada gagang.

Mimi meraba permukaannya; tak ada celah, tak ada lubang kunci.

“Kalau begitu…” gumamnya pelan.

Ia mendorongnya.

BRAK!
Pintu itu terlepas begitu saja.

Dan Mimi
“Aaaaa!”

Tubuhnya meluncur bersama pintu, menuruni tangga tersembunyi di baliknya; ia sempat merasakan angin menyibak rambutnya sebelum
Bruuuk!

Ia terjatuh di anak tangga terakhir.

Gelap.
Sebuah rubanah.
Ruangan bawah tanah.

Mimi belum pernah melihat rumah dengan rubanah sebelumnya. Ruangan itu hangat, berbeda dari udara rumah yang sejuk, dan bau yang menguar tak bisa dikenali bukan bau busuk, bukan pula harum. Ia bangkit pelan; jantungnya berdebar, tetapi rasa takutnya tidak sebesar rasa ingin tahunya. Lantunan itu kembali terdengar, kini lebih jelas, dan di ujung ruangan terdapat satu sumber cahaya redup yang berkilau, terbaring di atas meja tua yang berdebu.

Mimi melangkah perlahan; di kegelapan itu hanya benda itu yang terlihat.

Sebuah seruling.
Namun bukan seruling biasa.

Seruling itu memancarkan kilau lembut, seakan memiliki cahaya sendiri. Meja di bawahnya berdebu, tetapi seruling itu bersih, seolah waktu tak pernah menyentuhnya. Mimi mengangkatnya.

Dan lantunan itu
Lenyap.

Sunyi total.

Ia mengamatinya; seruling bambu kuning, tetapi berbeda dari yang pernah ia lihat terasa hangat, hampir seperti bernafas.

“Aku cuma coba sedikit…” bisiknya.

Ia meniup nada pertama.

Fuuuuuuuuuu

Gelap.
Sekejap.

Dan ketika Mimi membuka mata…

Ia berada di antara awan.

“Apa?!”

Ia menjerit. Tangannya menyentuh kabut lembab basah, nyata, ini bukan mimpi. Dari kejauhan terdengar suara memekakkan yang kian mendekat, angin menerpa tubuhnya.

WHOOSH!

Deruan hebat mengguncangnya; ia terhuyung, tubuh kecilnya melayang tanpa kendali. Siluet besar muncul sekali, dua kali, dan pada kali ketiga ia melihatnya dengan jelas.

Seekor elang Flores.

Burung pemangsa endemik Flores, biasanya berukuran sedang, bersayap lebar dengan perpaduan warna putih dan hitam yang kontras. Namun yang ini
Lima kali lebih besar dari dirinya.

“Tidak mungkin…” Mimi berbisik histeris.

Ia tahu tentang elang Flores; ia sering membaca tentang satwa endemik, dan elang itu tak seharusnya sebesar ini. Namun ia tak sempat berpikir; kanopi hutan muncul di hadapannya.

Dan segalanya kembali gelap.

Saat Mimi membuka mata untuk kedua kalinya, ia tak bisa bergerak. Tubuhnya terikat di kursi kayu berbentuk bulat.

Dan di hadapannya
Seekor panda merah?

Panda merah adalah mamalia kecil berbulu kemerahan dengan ekor panjang bercincin, biasanya hidup di Himalaya bukan di Nusantara. Namun makhluk ini berdiri dengan dua kaki, memegang tongkat, dan dari kepalanya tumbuh kecambah kecil.

Mimi menjerit.

“AAAAAA!”

Makhluk itu mengusap telinganya kesal.

“Kau tahu, suaramu sungguh bising.”

Plop!

Sesuatu seperti potongan jamur menutup mulutnya.

“Diam!”

Makhluk itu mendekat.

“Aku lepaskan kalau kau berjanji tak berteriak. Setuju?”

Mimi mengangguk cepat.

Jamur dilepas.

Ia menarik napas
“AAAAA”

Plop!

Jamur kembali masuk.

Makhluk itu menghela napas panjang dan duduk di kursi sudut ruangan yang ternyata… adalah rumah jamur raksasa. Mimi menatap sekeliling; batang jamur menjadi dinding rumah itu, sedangkan kursi dan meja yang mengisi ruangan terbuat dari kayu dan daun kering. Ia mengira dirinya pasti telah mati dan bahwa inilah nerakanya, namun ia bisa merasakan sesuatu yang lain, seakan ada yang berkeriapan di sekujur tubuhnya. Ia pun melihat ke arah tubuhnya, dan benar saja makhluk-makhluk kecil dan mengerikan tengah melintas ke sana dan kemari.

“Agh! Apwa ni?! Menjiji-an!” sebut sang gadis dengan mulut yang masih tersumpal potongan jamur, dirinya meronta-ronta.

“Makhluk apa ini?!”

“Isopod,” jawab makhluk itu santai. “Sangat berguna menjaga kebersihan.”

Isopod adalah krustasea kecil pemakan sisa organik, biasanya sebesar kuku manusia; namun yang ini sebesar telapak tangan Mimi. Makhluk itu mengangkat suatu benda dari mejanya sebuah apel berwarna merah dan bulat lalu menggigitnya dan melemparkannya ke seberang ruangan.

PLOK!

Isopod berbondong-bondong mengejar sisa apel itu. Makhluk itu kembali mendekati sang gadis.

“Sudah tenang?” ucapnya pelan.

Mimi memberikan anggukan pelan, dan potongan jamur pun kembali dikeluarkan dari mulutnya. Sang gadis bernafas lega.

“Terima kasih… sekarang bisakah kau lepaskan aku?”

“Melepaskanmu?” Makhluk itu menyeringai. “Dan membiarkanmu menghancurkan rumahku?”

“Aku tidak menghancurkan apa pun!”

Makhluk itu menunjuk ke atas.

Langit.
Lubang menuju dunia nyata.

Mimi menelan ludah.

“Itu bukan salahku! Aku hanya memainkan seruling dan-”

“Peri kecil sepertimu berbohong dengan buruk.”

“Aku manusia!”

Makhluk itu tertawa pendek.

“Tidak ada manusia sekecil ini.”

Namun Mimi terus menceritakan seruling itu lagi dan lagi kilaunya, kehangatannya, dan lantunan yang didengarnya hingga makhluk itu menegang dan matanya melebar.

“Mustahil, bambu itu sudah sirna dari muka bumi!” serunya.

Bambu kuning ajaib tanaman kuno yang konon telah punah dan menjadi sumber sihir alam. Itulah yang dimaksud oleh sang makhluk. Isopod hampir kembali mengerubungi Mimi ketika makhluk itu akhirnya menggerutu dan melepaskannya.

“Jika kau berbohong…”

“Aku tidak!”

Dan untuk pertama kalinya, ketegangan di antara mereka berubah menjadi sesuatu yang lain.

Keraguan.
Curiga.
Namun juga
Kemungkinan.

Di dalam dirinya, makhluk itu juga menginginkan seruling Mimi untuk alasannya sendiri. Ia menghela napas dan akhirnya memperkenalkan dirinya.

“Aku Machi. Seorang peri.”

Mimi tertawa.

“Peri? Serius?”

Sang gadis menyebutnya dalam hati sebagai Si Panda Berkecambah. Machi mendengus dan menjelaskan bahwa peri tidak bersayap indah seperti dongeng manusia; mereka meniru bentuk hewan karena hewan bisa bergerak bebas. Namun kehancuran alam oleh manusia membuat banyak peri kehilangan kekuatannya.

Termasuk dirinya.

Kini ia terjebak dalam wujud panda merah kecil. Namun sebelum percakapan mereka selesai
Ciiiiiit!

Seekor burung kehicap Flores menyambar masuk, membuat lubang besar di rumah jamur kian melebar. Suatu burung kecil pemakan serangga dengan paruh ramping, biasanya lincah dan gesit, namun dari ukuran Mimi sekarang burung itu tampak seperti monster. Mimi memejamkan matanya, mengira kematiannya hanya tertunda sedari tadi, tetapi sambaran yang ditunggunya tak pernah tiba. Ia menurunkan kedua tangannya perlahan dan membuka matanya.

Sang gadis terbelalak.

Di hadapannya, Machi tengah mengelus makhluk raksasa itu. Burung itu tenang.

“Ini satu-satunya hal magis yang tersisa,” katanya lirih.

Dan di situlah benih pertama kepercayaan mulai tumbuh.

Namun mereka belum tahu
Di balik bayang-bayang hutan, sepasang mata yang diselimuti kejahatan telah mengawasi.

Dan konflik mereka yang sesungguhnya…
Baru saja dimulai.

Other Stories
Tiada Cinta Tertinggal

Kehadiran Aksan kembali membuat Tresa terusik, teringat masa lalu yang ingin ia lupakan, m ...

Separuh Dzarrah

Dzarrah berarti sesuatu yang kecil, namun kebaikan atau keburukan sekecil apapun jangan di ...

Waktu Tambahan

Seorang mantan pesepakbola tua yang karirnya sudah redup, berkesempatan untuk melatih seke ...

Youtube In Love

Wahyu yang berani kenalan lewat komentar YouTube berhasil mengajak Yunita bertemu. Asep pe ...

Misteri Kursi Goyang

Rumah tua itu terasa hangat, sampai kursi goyang mewah dari tetangga itu datang. Saretha d ...

The Museum

Mario Tongghost, penangkap hantu asal Medan, menjadi penjaga malam di Museum Bamboe Kuning ...

Download Titik & Koma