9. Cara Menghilang Tanpa Suara
Kala kembali ke kamarnya dengan langkah yang tidak lagi yakin apakah itu langkahnya sendiri.
Kamar nomor tujuh terasa berbeda.
Atau mungkin ia yang berbeda.
Ia duduk di tepi tempat tidur. Laptopnya masih terbuka. Layar kosong. Kursor berkedip seperti detak jantung yang menunggu keputusan.
Ia mencoba mengingat kapan tepatnya ia mulai takut pada dirinya sendiri.
Bukan pada dunia.
Pada dirinya.
Mungkin saat ia mulai menulis bukan karena ingin bercerita—
melainkan karena ingin diakui.
Mungkin saat pujian pertama terasa lebih penting daripada prosesnya.
Atau mungkin saat satu kegagalan terdengar lebih keras daripada seratus keberanian yang pernah ia punya.
Ketukan terdengar di pintu.
Pelan. Tiga kali.
Kala membukanya.
Resepsionis berdiri di sana.
“Aturan hotel ini sederhana,” katanya tenang.
“Siapa pun yang tidak ingin melihat dirinya… akan perlahan menghilang.”
“Menghilang bagaimana?”
Perempuan itu tidak langsung menjawab.
Sebaliknya, ia bertanya, “Kapan terakhir kali kamu benar-benar mengenali dirimu sendiri, Kala?”
Pertanyaan itu lebih tajam dari apa pun.
Kala mencoba mengingat wajahnya.
Ia gagal.
Ia mencoba mengingat suaranya saat tertawa.
Ia hanya ingat gema.
Ia mencoba mengingat alasan pertama kali ia menulis.
Sunyi.
Resepsionis itu melangkah mundur.
Lorong terasa semakin panjang.
“Hotel ini tidak meniadakan cermin,” katanya pelan.
“Hotel ini hanya meniadakan kebohongan.”
Kala berdiri mematung.
“Kalau aku pergi sekarang?”
“Kamu akan kembali pada hidupmu.”
“Dan kalau aku tinggal?”
Resepsionis tersenyum tipis.
“Kamu tidak perlu lagi menghadapi siapa pun. Bahkan dirimu sendiri.”
Sunyi menggantung.
Kala melihat ke dalam kamar.
Tempat tidur tampak nyaman. Sunyi terasa aman. Tidak ada tuntutan. Tidak ada penilaian. Tidak ada bayangan yang harus dihadapi.
Menghilang terdengar… mudah.
Sangat mudah.
Ia melangkah masuk kembali.
Resepsionis tidak mencegah.
Lampu kamar meredup perlahan.
Kala duduk di depan laptop.
Ia mulai mengetik.
Kalimat pertama mengalir tanpa ragu.
Ia menulis tentang seorang perempuan yang menginap di hotel tanpa cermin.
Tentang bagaimana perempuan itu perlahan lupa wajahnya sendiri.
Tentang bagaimana ia memilih untuk tinggal.
Huruf-huruf itu terasa ringan.
Tidak ada beban. Tidak ada ketakutan.
Ia tersenyum.
Dan untuk pertama kalinya sejak tiba di hotel itu—
ia tidak lagi merasa perlu memiliki wajah.
Other Stories
Egler
Anton mengempaskan tas ke atas kasur. Ia melirik jarum pendek jam dinding yang berada di ...
Anak Singkong
Sebuah tim e-sport dari desa, "Anak Singkong", mengguncang panggung nasional. Dengan strat ...
The Labsky
Keyra Shifa, penggemar berat kisah detektif, membentuk tim bernama *The Labsky* bersama An ...
Takdir Cinta
Di balik keluarga yang tampak sempurna, tersimpan rahasia pahit: sang suami memilih pria l ...
Setinggi Awan
Di sebuah desa kecil yang jauh dari hiruk-pikuk kota, Awan tumbuh dengan mimpi besar. Ia i ...
Hidup Sebatang Rokok
Suratemu tumbuh dalam belenggu cinta Ibu yang otoriter, nyaris menjadi kelinci percobaan d ...