Tatapan Yang Tidak Pernah Sampai
Ia tidak pernah percaya pada cinta pandangan pertama.
Baginya, cinta adalah hasil dari waktu yang sabar, dari percakapan yang panjang, dari keberanian membuka diri sedikit demi sedikit. Cinta bukan kilat. Cinta adalah api yang dinyalakan pelan.
Sampai hari itu.
Sore itu biasa saja. Langit tidak lebih biru dari biasanya. Angin tidak membawa pertanda apa pun. Ia hanya berdiri di sebuah ruang tunggu yang penuh wajah asing, menunggu sesuatu yang bahkan ia sendiri tidak yakin ingin ia terima.
Lalu ia melihatnya.
Tidak ada musik. Tidak ada perlambatan waktu seperti di film. Hanya satu tatapan yang tidak sengaja bertemu di antara riuh yang datar.
Namun sesuatu bergerak.
Bukan di luar. Di dalam.
Seperti ada bagian dari dirinya yang tiba-tiba dikenali oleh mata orang lain.
Tatapan itu tidak lama. Hanya beberapa detik yang terlalu singkat untuk disebut kebetulan, terlalu lama untuk dianggap tidak berarti.
Ia tidak tahu nama orang itu. Tidak tahu suaranya. Tidak tahu bagaimana ia tertawa atau apa yang membuatnya takut.
Yang ia tahu hanya satu: ada rasa yang tidak bisa dijelaskan dengan logika yang selama ini ia banggakan.
Ia pulang dengan perasaan yang mengganggu.
Mengapa satu tatapan bisa mengusik begitu dalam?
Ia mencoba menertawakan dirinya sendiri. Menganggapnya lelah. Menganggapnya terlalu banyak membaca cerita romantis. Menganggapnya sedang kesepian.
Namun malam itu, bayangan mata itu datang lagi.
Bukan wajahnya yang ia ingat.
Tatapannya.
Seolah ada sesuatu yang tidak selesai di sana.
Hari-hari berikutnya, ia kembali ke tempat yang sama. Dengan alasan yang ia buat-buat. Dengan harapan yang tidak ingin ia akui.
Orang itu tidak pernah muncul lagi.
Dan justru dalam ketidakhadiran itulah, rasa itu tumbuh.
Ia mulai membangun kemungkinan. Percakapan imajiner. Kebetulan yang direncanakan oleh takdir. Versi-versi masa depan yang bahkan belum tentu pernah ada.
Ia jatuh cinta.
Bukan pada seseorang yang ia kenal.
Melainkan pada perasaan dikenali.
Dan di situlah semuanya berubah.
Suatu malam, dalam keheningan yang terlalu jujur untuk dibohongi, ia bertanya pada dirinya sendiri:
Apakah aku mencintainya?
Atau aku mencintai diriku yang merasa terlihat saat itu?
Pertanyaan itu menghantam lebih keras dari kehilangan.
Ia mengingat kembali tatapan itu. Tidak ada janji di sana. Tidak ada undangan. Tidak ada pengakuan.
Yang ada hanyalah dua manusia yang kebetulan saling memandang.
Ia yang memberi makna.
Ia yang menanam harapan.
Ia yang menyiramnya dengan imajinasi.
Dan kini, ia yang menuai kekecewaan dari ladang yang ia tanam sendiri.
Kesadaran itu datang pelan.
Cinta pandangan pertama, mungkin, bukan tentang orang lain.
Mungkin itu adalah momen ketika kita melihat refleksi diri kita pada mata orang asing—dan untuk sesaat, kita menyukai apa yang kita lihat.
Ia tersenyum kecil.
Bukan karena ia sembuh.
Tetapi karena akhirnya ia mengerti.
Tatapan itu tidak pernah sampai pada sebuah kisah.
Ia berhenti di satu titik: kesadaran.
Bahwa yang ia kejar bukanlah seseorang.
Melainkan rasa ingin merasa berarti.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya, ia tidak lagi menunggu orang yang tidak pernah berjanji untuk datang.
Ia belajar menatap dirinya sendiri.
Tanpa perlu mata orang lain sebagai cermin
Other Stories
My 19 Story
Di usia sembilan belas, Liora dikhianati dan melarikan diri ke Jakarta, tempat seorang pri ...
Cinta Buta
Marthy jatuh cinta pada Edo yang dikenalnya lewat media sosial dan rela berkorban meski be ...
Ablasa
Perjalanan Nindya dan teman-temannya ke Nusakambangan menjadi menyeramkan setelah mereka t ...
Mission Escape
Apa yang akan lo lakukan jika Nyokap lo menjadikan lo sebagai ‘bahan gosip’ ke tetangg ...
Kado Dari Dunia Lain
Kamu pasti pernah lelah akan kehidupan? Bahkan sampai di titik ingin mengakhirinya? Sepert ...
Percobaan
percobaan ...