BAB 2 MENCARI
Mereka bertiga pun berjalan ke rumah Riani diarahkan dengan Zian. Zian mudah mengingat arah jalan, apalagi kerumah nya!
"Kalau jangan-jangan Riani diculik bagaimana? " tanya Arum meringis ketakutan.
"Tenang saja kak, aku kan bisa karate! Aman deh kak kalau sama aku! " jawab Zian mengepalkan tangannya mengikuti pukulan karate.
Riuh tawa dari Arum dan Lila memecah suasana takut dan ketegangan. Zian ikut cekikikan sambil menepuk-nepuk pahanya. Sesampainya dirumah Riani, Zian mengingat-ingat letak kamar kakaknya. Ah iya sebelah kolam renang!. Zian mengendap-endap didepan, sedangkan Lila dan Arum berjalan dibelakang sambil mempersiapkan diri apa yang harus dilakukan nya nanti.
"Wah, besar sekali rumahnya Riani, nyaman sekali disini, ada kolam renang dan parkiran mobil yang luas! " pekik Arum sambil memegang air kolam renang yang jernih.
"Ssshhtt, jangan berisik... Aku mau cek dulu di jendela kamarnya" bisik Zian meringis takut ketahuan
Arum dan Lila pun terduduk disudut kolam renang. Sedangkan Zian mengecek jendela kamar, Zian sangat lama melihat kedalam kamar lalu kembali ke Arum dan Lila dengan wajah panik.
"Cici tidak ada di dalam kamar! Aku tidak melihat siapapun didalam, aku hanya melihat bonekanya tergeletak di atas kasurnya! Kasurnya saja masih rapi! " pekik Zian panik.
"A...apa yang terjadi? I....ini beneran Riani tidak ada didalam kamar? " tanya Lila cemas.
"Ini bahaya sekali ! Dirumah kan tidak ada siapa-siapa, aku benar-benar takut Riani diculik! " ucap Arum setengah menangis.
"Hari mulai sore, apa kita pulang dahulu ya? Besok pagi kita harus cari lagi" ucap Lila memutuskan.
Tetapi Zian memaksa teman-teman kakak nya untuk menginap saja dirumah nya. Setelah didiskusikan akhirnya mereka pun menginap dirumah Zian karena sudah tanggung datang ke rumah Zian. Malamnya sebelum mereka tertidur, mereka mencari jejak untuk mengetahui siapa tahu ada petunjuk dimana keberadaan nya Riani. Arum lah yang paling di butuhkan, Arum memang pandai mencari jejak. Arum menggunakan senter ala detektif dan memancarkan sinarnya ke lantai dan benda sekitarnya.
"Hmmm, kelihatannya benda-benda dan lantai ini belum terpijak sana sekali. Rumah ini mudah terkena debu, lihat saja, lantai dan benda-benda ini berdebu. Bila sudah tersentuh atau terpijak, debu-debu tertentu pasti akan sedikit berkurang. " ucap Arum menjelaskan pada temannya.
Setelah lelah mencari jejak, Arum dan kawannya tidur dikamar Zian. Zian mempunyai 2 kasur, kamarnya sangat luas. Kata Zian, bila ada keluarganya yang menginap mereka tidur di kamar Zian! Arum dan Lila tidur di 1 kasur, 1 kasurnya lagi untuk Zian. Nyaman nya kasur empuk! Bisa berbaring setelah seharian penuh mencari Riani.
"Aduhh! Pasti aku akan susah bangun tidur, bangunkan aku pagi jam 7 ya Lilaa! " ucap Arum putus asa.
"Eh kak! Jangan bangun pagi-pagi jam 7, dirumah ini kalau bangun pagi harus jam 9 keatas. " tegur Zian khawatir.
"Kenapa Zian? Ada sesuatu? " tanya Lila merinding.
"Ehhmm...besok aku ceritain nya, aku lagi super lelah. " jawab Zian menutupi, Ia mulai menyesal menegur Arum, padahal Ia tidak mau menceritakan nya.
"Oke deh, ayo pada tidur semuanya! " ucap Lila mengajak.
Ia melihat ke arah Arum, Arum sudah tertidur sangat lelap bahkan mendengkur. Ketika Lila melihat ke arah Zian, anak itu memainkan tab nya dengan asyik padahal bawah matanya sudah terlihat seperti mata panda.
"Ssshhtt...Ziannn!....tidur..." tegur Lila berbisik.
Zian menutup tab nya lalu tidur membelakangi Arumw dan Lila. Lila pun menutup matanya lalu memeluk guling. Beberapa jam kemudian jam diruang tamu berdenting menunjukkan jam 03.00 dinihari. Arum terlihat ingin buang air kecil. Ia terbangun sambil mengucek matanya yang penuh dengan kotoran mata. Ia turun dari kasur dengan rasa lemas dan mengantuk. Arum mengetahui letak kamar mandi dirumah itu karena Zian yang memberitahu kemarin. Arum tidak tahu sekarang jam berapa, Ia memperkirakan sekitar pukul 05.00 subuh. Ia membuka pintu kamar lalu berjalan menuju kamar mandi, kamar mandi nya lumayan jauh. Sekitar 35 langkah kaki yang perlu dilaluinya. Rumahnya terlalu luas, tetapi jarak dari kamar ke kamar mandi nya lumayan jauh. Benda-benda disana sangat antik, jam dinding, hiasan dan lain-lain sangat antik. Rumah nya saja rumah tahun 90an. Lampu-lampu dirumah itu ada yang kedap kedip karena mau rusak, lampu nya kuning karena sudah lama. Sangat terasa vibesnya dimasa lalu. Riani pernah cerita katanya rumah itu bekas peninggalan buyutnya. Maka dari itu keluarganya bertahan tinggal disitu demi menghargai perjuangan buyutnya Riani yang bekerja keras membangun rumah itu. Desainnya pun tidak diubah sama sekali, kecuali pada saat ada kerusakan barulah mereka memperbaiki nya. Arum pun sampai di kamar mandi, lampu didepan pintu kamar mandi mati tidak bisa dinyalakan mungkin karena rusak. Akhirnya Arum pun terpaksa menggunakan senter yang ada di atas meja, senter pun dinyalakan, senter itu menyala redup tidak seterang biasanya. Arum menghela nafas lalu membuka pintu kamar mandi yang tertutup.
"Yahh terkunci! " pekik Arum ketakutan panik.
Ternyata pintu tersebut tidak bisa dibuka, Arum ingin sekali berteriak meminta tolong, tetapi Ia ingat teman-teman nya sedang tertidur dengan pulas. Dengan kuat Arum mendobrak pintu dengan kencang. Ia sudah menahan untuk buang air kecil terlalu lama. Setelah beberapa lama Ia mendobrak pintu, akhirnya pintu terbuka lebar. Senter pun diarahkan ke arah kamar mandi, saat Ia melihat ke kloset, Ia melihat anak kecil kotor berambut kusut membelakangi nya. Terdengar anak itu sedang tertawa sendiri, anak itu sangat kecil. Arum gemetar ketakutan, Ia ngompol karena tidak kuat lagi, di kamar mandi sangat horor. Tak terfikir olehnya untuk memaksakan masuk kedalam kamar mandi. Anak kecil itu membalikkan badan ke arah Arum secara perlahan. Matanya putih, giginya besar berdarah, dan tertawa-tawa. Arum berteriak sekencang mungkin sambil mundur ketakutan dan sangat gemetar. Suara Arum terdengar jauh oleh Lila dan Zian. Awalnya Zian yang mendengar disusul oleh Lila. Lila dan Zian bangun tidur sekaligus lalu berlari ke arah suara.
"Arum!!! Kamu kenapa!! Kamu dimanaa! " teriak Lila cemas.
Lila dan Zian pegangan, Mereka pun berlari ke arah suara. Lama-lama suara semakin dekat.
"Ohh! Itu dia! Kak Arum! Kenapa kak? "tanya Zian panik ketakutan.
" ta...ta...tadi ada...ayo lari dari rumah ini! Ayo kabur! "Jawab Arum sambil menangis.
Lila dan Zian sangat tidak mengerti apa yang terjadi, Lila melongo melihat Arum menangis. Tidak banyak waktu lagi, mereka berlari keluar rumah lewat pintu depan. Pintu pun mereka dobrak, kunci mereka putar juga. Lila, Arum, dan Zian keluar rumah. Mereka berlari tengah malam di jalanan. Jalanan kosong, lampu tidak ada. Arum benar-benar menangis, matanya banjir dipenuhi air mata.
"Kita harus kemana" tanya Zian ketakutan sambil berkaca-kaca.
"Sekarang kita harus kerumah aku! Kalian menginap saja dirumah ku" jawab Arum sambil menangis.
"Kan jauh Arum! Kita kesana pakai apa? Disini gelap, aku takut!" jawab Lila panik.
"Oh iya! Kita minta tolong ke satpam di gerbang komplek ini saja! Nanti kita minta antarkan ke rumah Arum! " ucap Zian memutuskan.
"Kalau jangan-jangan Riani diculik bagaimana? " tanya Arum meringis ketakutan.
"Tenang saja kak, aku kan bisa karate! Aman deh kak kalau sama aku! " jawab Zian mengepalkan tangannya mengikuti pukulan karate.
Riuh tawa dari Arum dan Lila memecah suasana takut dan ketegangan. Zian ikut cekikikan sambil menepuk-nepuk pahanya. Sesampainya dirumah Riani, Zian mengingat-ingat letak kamar kakaknya. Ah iya sebelah kolam renang!. Zian mengendap-endap didepan, sedangkan Lila dan Arum berjalan dibelakang sambil mempersiapkan diri apa yang harus dilakukan nya nanti.
"Wah, besar sekali rumahnya Riani, nyaman sekali disini, ada kolam renang dan parkiran mobil yang luas! " pekik Arum sambil memegang air kolam renang yang jernih.
"Ssshhtt, jangan berisik... Aku mau cek dulu di jendela kamarnya" bisik Zian meringis takut ketahuan
Arum dan Lila pun terduduk disudut kolam renang. Sedangkan Zian mengecek jendela kamar, Zian sangat lama melihat kedalam kamar lalu kembali ke Arum dan Lila dengan wajah panik.
"Cici tidak ada di dalam kamar! Aku tidak melihat siapapun didalam, aku hanya melihat bonekanya tergeletak di atas kasurnya! Kasurnya saja masih rapi! " pekik Zian panik.
"A...apa yang terjadi? I....ini beneran Riani tidak ada didalam kamar? " tanya Lila cemas.
"Ini bahaya sekali ! Dirumah kan tidak ada siapa-siapa, aku benar-benar takut Riani diculik! " ucap Arum setengah menangis.
"Hari mulai sore, apa kita pulang dahulu ya? Besok pagi kita harus cari lagi" ucap Lila memutuskan.
Tetapi Zian memaksa teman-teman kakak nya untuk menginap saja dirumah nya. Setelah didiskusikan akhirnya mereka pun menginap dirumah Zian karena sudah tanggung datang ke rumah Zian. Malamnya sebelum mereka tertidur, mereka mencari jejak untuk mengetahui siapa tahu ada petunjuk dimana keberadaan nya Riani. Arum lah yang paling di butuhkan, Arum memang pandai mencari jejak. Arum menggunakan senter ala detektif dan memancarkan sinarnya ke lantai dan benda sekitarnya.
"Hmmm, kelihatannya benda-benda dan lantai ini belum terpijak sana sekali. Rumah ini mudah terkena debu, lihat saja, lantai dan benda-benda ini berdebu. Bila sudah tersentuh atau terpijak, debu-debu tertentu pasti akan sedikit berkurang. " ucap Arum menjelaskan pada temannya.
Setelah lelah mencari jejak, Arum dan kawannya tidur dikamar Zian. Zian mempunyai 2 kasur, kamarnya sangat luas. Kata Zian, bila ada keluarganya yang menginap mereka tidur di kamar Zian! Arum dan Lila tidur di 1 kasur, 1 kasurnya lagi untuk Zian. Nyaman nya kasur empuk! Bisa berbaring setelah seharian penuh mencari Riani.
"Aduhh! Pasti aku akan susah bangun tidur, bangunkan aku pagi jam 7 ya Lilaa! " ucap Arum putus asa.
"Eh kak! Jangan bangun pagi-pagi jam 7, dirumah ini kalau bangun pagi harus jam 9 keatas. " tegur Zian khawatir.
"Kenapa Zian? Ada sesuatu? " tanya Lila merinding.
"Ehhmm...besok aku ceritain nya, aku lagi super lelah. " jawab Zian menutupi, Ia mulai menyesal menegur Arum, padahal Ia tidak mau menceritakan nya.
"Oke deh, ayo pada tidur semuanya! " ucap Lila mengajak.
Ia melihat ke arah Arum, Arum sudah tertidur sangat lelap bahkan mendengkur. Ketika Lila melihat ke arah Zian, anak itu memainkan tab nya dengan asyik padahal bawah matanya sudah terlihat seperti mata panda.
"Ssshhtt...Ziannn!....tidur..." tegur Lila berbisik.
Zian menutup tab nya lalu tidur membelakangi Arumw dan Lila. Lila pun menutup matanya lalu memeluk guling. Beberapa jam kemudian jam diruang tamu berdenting menunjukkan jam 03.00 dinihari. Arum terlihat ingin buang air kecil. Ia terbangun sambil mengucek matanya yang penuh dengan kotoran mata. Ia turun dari kasur dengan rasa lemas dan mengantuk. Arum mengetahui letak kamar mandi dirumah itu karena Zian yang memberitahu kemarin. Arum tidak tahu sekarang jam berapa, Ia memperkirakan sekitar pukul 05.00 subuh. Ia membuka pintu kamar lalu berjalan menuju kamar mandi, kamar mandi nya lumayan jauh. Sekitar 35 langkah kaki yang perlu dilaluinya. Rumahnya terlalu luas, tetapi jarak dari kamar ke kamar mandi nya lumayan jauh. Benda-benda disana sangat antik, jam dinding, hiasan dan lain-lain sangat antik. Rumah nya saja rumah tahun 90an. Lampu-lampu dirumah itu ada yang kedap kedip karena mau rusak, lampu nya kuning karena sudah lama. Sangat terasa vibesnya dimasa lalu. Riani pernah cerita katanya rumah itu bekas peninggalan buyutnya. Maka dari itu keluarganya bertahan tinggal disitu demi menghargai perjuangan buyutnya Riani yang bekerja keras membangun rumah itu. Desainnya pun tidak diubah sama sekali, kecuali pada saat ada kerusakan barulah mereka memperbaiki nya. Arum pun sampai di kamar mandi, lampu didepan pintu kamar mandi mati tidak bisa dinyalakan mungkin karena rusak. Akhirnya Arum pun terpaksa menggunakan senter yang ada di atas meja, senter pun dinyalakan, senter itu menyala redup tidak seterang biasanya. Arum menghela nafas lalu membuka pintu kamar mandi yang tertutup.
"Yahh terkunci! " pekik Arum ketakutan panik.
Ternyata pintu tersebut tidak bisa dibuka, Arum ingin sekali berteriak meminta tolong, tetapi Ia ingat teman-teman nya sedang tertidur dengan pulas. Dengan kuat Arum mendobrak pintu dengan kencang. Ia sudah menahan untuk buang air kecil terlalu lama. Setelah beberapa lama Ia mendobrak pintu, akhirnya pintu terbuka lebar. Senter pun diarahkan ke arah kamar mandi, saat Ia melihat ke kloset, Ia melihat anak kecil kotor berambut kusut membelakangi nya. Terdengar anak itu sedang tertawa sendiri, anak itu sangat kecil. Arum gemetar ketakutan, Ia ngompol karena tidak kuat lagi, di kamar mandi sangat horor. Tak terfikir olehnya untuk memaksakan masuk kedalam kamar mandi. Anak kecil itu membalikkan badan ke arah Arum secara perlahan. Matanya putih, giginya besar berdarah, dan tertawa-tawa. Arum berteriak sekencang mungkin sambil mundur ketakutan dan sangat gemetar. Suara Arum terdengar jauh oleh Lila dan Zian. Awalnya Zian yang mendengar disusul oleh Lila. Lila dan Zian bangun tidur sekaligus lalu berlari ke arah suara.
"Arum!!! Kamu kenapa!! Kamu dimanaa! " teriak Lila cemas.
Lila dan Zian pegangan, Mereka pun berlari ke arah suara. Lama-lama suara semakin dekat.
"Ohh! Itu dia! Kak Arum! Kenapa kak? "tanya Zian panik ketakutan.
" ta...ta...tadi ada...ayo lari dari rumah ini! Ayo kabur! "Jawab Arum sambil menangis.
Lila dan Zian sangat tidak mengerti apa yang terjadi, Lila melongo melihat Arum menangis. Tidak banyak waktu lagi, mereka berlari keluar rumah lewat pintu depan. Pintu pun mereka dobrak, kunci mereka putar juga. Lila, Arum, dan Zian keluar rumah. Mereka berlari tengah malam di jalanan. Jalanan kosong, lampu tidak ada. Arum benar-benar menangis, matanya banjir dipenuhi air mata.
"Kita harus kemana" tanya Zian ketakutan sambil berkaca-kaca.
"Sekarang kita harus kerumah aku! Kalian menginap saja dirumah ku" jawab Arum sambil menangis.
"Kan jauh Arum! Kita kesana pakai apa? Disini gelap, aku takut!" jawab Lila panik.
"Oh iya! Kita minta tolong ke satpam di gerbang komplek ini saja! Nanti kita minta antarkan ke rumah Arum! " ucap Zian memutuskan.
Other Stories
Cinta Di Ujung Asa
Alya mendapat beasiswa ke Leiden, namun dilema karena harus merawat bayi kembar peninggala ...
Just, Open Your Heart
Muthia terjebak antara cinta lama yang menyakitkan dan cinta baru dari bosnya yang penuh k ...
Rindu Yang Tumbuh Jadi Monster
Adrian nggak pernah nyangka, jatuh cinta bisa berawal dari hal sesederhana ngeliat cewek n ...
Separuh Dzarrah
Dzarrah berarti sesuatu yang kecil, namun kebaikan atau keburukan sekecil apapun jangan di ...
Conclusion
Liburan Dara ke kota Sapporo di Hokkaido Jepang membawanya pada hal yang tak terduga. Masa ...
Ryan Si Pemulung
Ryan, remaja dari keluarga miskin, selalu merasa hidupnya terkunci dalam sebuah rumah reot ...