0. Prolog
“Kamu nggak pernah mau ngertiin aku, selalu nuntut ini-itu, harus begini harus begitu.” Suara seorang wanita dewasa terdengar dipenuhi amarah sekaligus kekecewaan.
“Emange aku salah nuntut kon, ngono ngene[1]? Apa sih yang kamu lakuin di rumah seharian sampai semua kerjaan rumah nggak ada yang beres. Aku wis kesel[2] kerja masih harus bantuin kamu beberes.” Seorang laki-laki menimpali dengan suara tak kalah keras.
"Oh, jadi kamu ngerasa jadi superior sekarang?”
“Aku laki-laki, jelas aku superior.”
“Karena alasan itu kamu selingkuh dari aku? Karena alasan kelelakian dan kesuperioran kamu itu? Hah?” Kali ini suara si wanita terdengar naik dua oktaf.
Tak ada balasan dari si lelaki, sebagai gantinya terdengar suara pukulan yang diiringi dengan rintihan pelan.
***
Rasi menebalkan telinga. Mungkin ini adalah pertengkaran kesejuta kali yang didengarnya sejak berusia dua belas tahun, dia tak benar-benar menghitung. Ironisnya, angka dua belas itu baru disandangnya sejak sebulan yang lalu. Kalau dalam waktu sebulan saja mama dan ayah bisa bertengkar hingga sejuta kali, bisa bayangkan berapa kali dalam sehari Rasi harus mendengarkan pertengkaran mereka.
Kalau pertempuran orangtuanya sudah dimulai, Rasi memilih naik ke loteng rumah yang disulap menjadi observatorium tiruan sebagai hadiah ulang tahunnya bulan lalu. Ayah juga menghadiahkan sebuah teleskop untuk Rasi agar gadis kecil itu bisa melihat bintang sepuasnya.
Lalu untuk apa mereka menyiapkan hadiah seperti itu di ulang tahun Rasi kalau dalam kenyataannya mereka malah asyik bertengkar dan tidak memedulikan perasaan anaknya?
Rasi kembali berjibaku dengan teleskopnya, mendongakkan benda itu hingga menatap langit gelap yang sedikit berselimut mendung malam ini. Hanya sedikit bintang yang terlihat malam ini, sebagiannya tertutup awan hitam. Dari sedikit bintang itu, tak satu pun yang berhasil menghibur Rasi. Gadis kecil itu tetap saja merasa kesepian.
Tidur di loteng sebenarnya bukan pilihan yang tepat, tapi Rasi tak peduli. Dia tak ingin turun ke kamarnya dan kembali mendengar pertengkaran orangtuanya. Maka, dengan teleskop yang masih menghadap langit, Rasi merebahkan tubuh di atas matras lipat yang sengaja dia bawa kemarin.
Matanya menerawang, jauh melewati batas yang bisa dilihat dengan teleskopnya.
[1] Emangnya aku salah nuntut kamu, begini begitu?
[2] Udah capek
Other Stories
Bumi
Seni mencintai terkadang memang menyenangkan, tetapi tak selamanya berada dalam titik mani ...
Baca Tanpa Dieja
itulah cara jpload yang bener da baik ...
Kucing Emas
Suasana kelas 11 IPA SMA Kartini, Jakarta senin pagi cukup kondusif. Berhubung ada rapat ...
Aku Ingin Kau Menjadi Ibu Dari Anak-anakku
Cerita ini mengisahkan perjalanan cinta dan perjuangan Maya, seorang desainer muda, dan Ra ...
Air Susu Dibalas Madu
Nawasena adalah anak dari keluarga yang miskin. Ia memiliki cita-cita yang menurut orang-o ...
Kenangan Yang Sulit Di Ulang Kembali
menceritakan hidup seorang Murid SMK yang setelah lulus dia mendapatkan kehampaan namun di ...