Menjamah Jauh: Tentang Kota Dan Kenangan

Reads
56
Votes
5
Parts
5
Vote
Report
Menjamah jauh: tentang kota dan kenangan
Menjamah Jauh: Tentang Kota Dan Kenangan
Penulis Sughz

Bab.1. Kenangan.

Musim Panas Juli 2022.

Terik siang hari di ibu kota saat musim kemarau seperti ini akan selalu membuatku kewalahan. Kipas angin di kamarku berdengung keras mencoba melawan terik yang merembes dari sela-sela jendela kamar. Liburan ke tempat yang lebih dingin adalah hal yang pas saat ini. Malang. Kota yang dingin dan tak terlupakan, meski bukan itu satu-satunya alasanku untuk kesana.

Dengan terik panas di luar, aku menghabiskan waktuku dari pagi untuk menyiapkan barang-barang yang harus aku bawa untuk liburan kali ini: beberapa pasang baju dan celana, kamera, laptop. Semua tertata rapi di atas kasur.

“Tamaaa... ayo makan dulu!!!” teriak wanita dari luar kamar. “Iya buuu... bentar lagi selesai” aku bergegas menjejalkan barang-barang itu ke dalam tas, menatanya serapi mungkin lalu tidak lupa memakai gelang hitam yang selalu aku pakai, dan memandangi gelang itu sebentar. Beberapa bagiannya sudah mengelupas. “Ingat ya, kalau kamu balik ke Malang. Gelang ini harus masih terpasang” suara seorang perempuan tiba-tiba berputar di kepalaku.

Setelah selesai semua aku menenteng tas dan meraih ponselku, lalu keluar dari kamar dengan jantung yang semakin berdegup kencang.

Aku bergegas ke dapur yang ada di lantai satu. Saat aku menuruni tangga, aroma masakan dari arah dapur sudah kuat menyerbak menembus hidung—aku tahu ini pasti soto ayam kebanggaan keluarga ini. Perutku langsung meronta. Aku menaruh tas itu ke sembarang tempat, lalu melangkah cepat ke arah dapur dan melihat wanita paruh baya yang sedang sibuk menyiapkan makanan di atas meja.

“Wiii... kenapa banyak banget masaknya, bu?” celetukku saat memasuki dapur. Ibu hanya melirikku, lalu ku balas dengan senyum tengilku seperti biasa ingin menggodanya. “Jangan senyum-senyum aja, itu tolong ambilin sendok di rak” perintahnya, yang langsung ku turuti.

“Ayah mana, bu?” tanyaku menyodorkan sendok.

“Tumben nyariin ayah?” suara berat dari belakang yang membuat cukup waspada.

Aku menatap pria dengan kepala yang sudah mulai banyak beruban itu, lalu menggelengkan kepalaku dengan cepat.

“Kamu jadi berangkat hari ini?” tanya ayahku.

“Iya... Kenapa? Udah kangen?” usilku.

Ayah tidak menanggapinya.

Kami duduk bertiga di meja makan. Ibu masih sibuk menyiapkan nasi untuk setiap orang.

“Jadi berapa hari di sana?” tanya ibuku, menyodorkan sepiring nasi untukku.

“Satu minggu mungkin, bisa lebih juga” jawabku sambil menyentong soto yang membuat perutku memberontak sejak tadi.

“Terus kerjaan kamu gimana?” ayahku menimpali dengan pertanyaan lagi.

“Aman kok” jawabku singkat, aku malas menjelaskan pada mereka berdua.

Ayah menatapku dengan heran, lalu ku balas dengan senyum tengil kebanggaanku. Kami bertiga mulai menyantap makanan kami masing-masing.

“Tapi kamu kok liburan ke Malang lagi?” tanya ibuku tiba-tiba.

Aku mengunyah makananku, mencoba berpikir.

“Emmm... ada yang harus aku beresin di sana” jawabku. “Lagian, itu kan kampung halaman ibu, jadi kayaknya aku betah di sana”

“Aneh kamu itu, dulu pas kakek nenek kamu masih hidup, kamu pasti nggak bakal mau kalau diajak kesana. Sekarang malah ngomong betah di sana” hardik ayahku. Aku hanya bisa diam, mengunyah nasi dan ayam di mulutku.

“Kamu ada pacar di sana?” tanya ayahku tiba-tiba, membuat makananku susah tertelan

UHUK!!!
Aku minum dengan cepat.

“Tapi kenapa sih bu, sekarang ibu nggak penah pulang ke Malang?” tanyaku mengalihkan topik, yang membuat sendok hampir melayang ke kepalaku.

Ibu meneguk pelan air dari gelas. “Ya apa lagi, kakek nenek kamu udah meninggal. Ibu mau nemuin siapa di sana? Orang nenek sama ibu anak tunggal kayak kamu” jelas ibuku.

Aku hanya mengangguk paham. Lalu kami melanjutkan makan dengan sedikit obrolan ringan seperti biasa.

.
.

“Hati-hati. Jangan lupa kasih kabar kalau sudah sampai,” ucap ibuku saat aku mencium punggung tangannya.

“Iyaaa...”

“Kalau kamu pulang jangan lupa beli keripik tempe ya” kata ayahku saat aku akan meraih tangannya.

Aku mengurungkan niatku, lalu menatapnya. “Tambahin uang saku ya”

Ayah tidak menjawab, hanya menyodorkan tangannya. Aku terkekeh kecil.

“Aku berangkat ya” kataku, beranjak keluar dari pagar lalu naik ke motor ojek online yang sudah menunggu.

Motor melaju pelan, menyusuri jalanan ibukota. Macet yang sudah biasa aku rasakan sekarang tampak lebih memuakkan dari biasanya. Entahlah, mungkin aku saja yang sudah tidak sabar.

Butuh hampir satu jam buatku sampai di stasiun. Dan setelah melalui rangkaian registrasi yang panjang, aku menunggu kereta sambil memotret suasana dengan kamera ponsel, karena terlalu malas mengeluarkan kamera dari tas. Aku sengaja datang satu jam lebih awal, karena aku ketagihan memotret suasana di stasiun. Kegiatan seperti ini memang selalu aku lakukan di mana pun, kedai kopi, jalanan, pasar. Dimanapun itu. Bekerja sebagai fotografer, membuatku selalu gatal untuk mengabadikan momen apa pun.

Saat aku masih sibuk dengan kamera ponsel, pandanganku tiba-tiba menyasar pada sepasang pria dan wanita yang sedang berpelukan tidak jauh dari tempatku berdiri. Aku memotret mereka, tapi pandanganku terpaku pada layar, ingatan satu tahun lalu terlintas di kepalaku. Ingatan yang masih sangat jelas tergambar, seorang wanita berdiri, melambaikan tangannya ke arahku dan tersenyum lalu menyuruhku untuk bergegas masuk ke dalam kereta. Senyum yang selalu aku rindukan dalam satu tahun ini.

TUNG… TING…TUNG…TUNG…
“Pelanggan terhormat, kereta api Gajayana tujuan Malang akan segera diberangkatkan dari jalur satu.”

Suara pengumuman membuyarkan lamunanku.

“Bagi penumpang yang memiliki tiket, diharapkan segera memasuki gerbong kereta. Pastikan kembali barang bawaan anda tidak tertinggal. Selamat jalan dan terima kasih telah menggunakan jasa layanan Kereta Api Indonesia.”

Itu keretaku, aku bergegas menuju jalur satu. Setelah teringat dengan kenangan itu, perasaan ingin sampai di Malang berlipat berkali-kali lipat.

Setelah memasuki kereta, aku duduk di kursiku. Sengaja aku memesan dekat jendela agar tidak terlalu bosan saat perjalanan dan memang, pemandangan sepanjang jalur kereta ke Malang tidak boleh terlewatkan oleh kameraku.

Sebelum kereta melaju, aku menyempatkan untuk membuka ponselku, langsung menuju Instagram dan membuka satu profil akun yang selalu menggangguku. Akun yang susah payah aku cari sejak tahun kemarin, susah payah aku menemukannya dengan menelusuri akun kedai tempatnya bekerja dulu. Namun, profil itu seperti ruang kosong; tidak ada jawaban apa pun atas pesanku sejak aku menemukan akun itu dua bulan lalu. Dengan sedikit menggerutu aku memasang earphone, mendengarkan alunan jazz yang akan menemaniku selama dua belas jam ke depan. Mencoba menutup mataku, aku ingin tidur sebentar.


Musim Panas Juli 2021.

Dingin. Udara dari luar kedai masuk secara perlahan.

Dengan suasana kedai yang cukup ramai tapi tidak berisik membuat tempat ini sangat cocok untukku. Aroma kopi dan daging yang dipanggang benar-benar menambah kenyamanan tempat ini. Kedai yang tidak sengaja aku temukan saat menulusuri google maps, langsung membuatku jatuh cinta. Aku yang baru sampai Malang sejak pagi, merasa kebingungan harus kemana dulu karena beberapa tempat di tutup untuk perbaikan katanya. Membuatku hanya terlentang di atas kasur penginapan. Tempat ini seperti penyelamat untukku.

“Permisi kak, pesanan atas nama Nara” seorang perempuan mengantar burger dan es americano.

“Nara...?” tanyaku, kebingungan.

Perempuan itu tersenyum. “Nama kamu Naratama, kan?”

Aku mengangguk.

“Ya, ini pesanannya” ucap perempuan itu meletakkan pesanan yang dibawanya lalu pergi tanpa berkata apa-apa.

Aku yang masih bingung, hanya diam menatap tingkah perempuan itu. Lalu aku melihat lagi nota pesananku, dan saat melihat nama yang tertulis “Naratama”, aku paham kenapa perempuan itu memanggilku Nara. Aku memijat pangkal hidungku, sedikit kesal. “Sial, malu banget goblok!!!” gerutuku dalam hati.

“Pesanan atas nama Bella!!!” teriak seseorang. Aku menoleh suara itu, ternyata wanita tadi, sedang sibuk mengantar pesanan pelanggan lain.

Pandanganku mulai terpaku beberapa saat, memperhatikan perempuan itu. Aku rasa dia tipe ekstrovert akut. Dia bisa mengobrol dan tertawa dengan siapa pun. Mungkin akan menyenangkan untuk berinteraksi dengannya.

Aku menggoyangkan kepalaku, mencoba tersadar dari pikiran-pikiran aneh.

Setelahnya. Aku mulai terhanyut dalam suasana kedai ini. Burger daging berpadu americano dingin di kedai ini seakan jebakan yang sudah disiapkan. Bagaimana tidak, aku harus menambah satu burger lagi untuk menambal rasa penasaranku. Lalu ada buku-buku terpajang di rak dinding yang mencegahku beranjak, dan musik-musik yang mereka putar seperti menjadi lem tambahan untukku. Aku menghabiskan enam jam penuh di kedai itu—pencapaian terbaru.

Lalu saat melihat sekitar, aku baru sadar, suasana yang tadinya ramai sekarang mulai terasa kosong, hanya beberapa orang yang sedang sibuk merapikan kursi dan meja. Saat aku melirik jam di tangan, ternyata sudah tengah malam.

Aku dengan cepat mengembalikan buku yang kubaca ke rak, merapikan barang-barangku lalu keluar dari kedai.

Saat sudah di luar, aku berniat memesan ojek online dari ponsel. Tapi ponselku nggak bisa menyala saat aku tekan tombol power.

“Berak, perasaan tadi baterainya masih setengah, deh” aku masih mencoba menekan tombol power dengan keras berkali-kali, tapi hasilnya nihil. Ponselku tetap mati total. Harusnya aku memang sudah memperbaiki ponsel ini sebelum berangkat kemarin, dan harusnya aku juga mencatat alamat penginapanku di kertas atau setidaknya bawa laptop untuk jaga-jaga. Sial.

“Apa coba di charge aja ya?” pikirku. Tapi saat melihat ke kedai tadi semua lampu sudah mati semua. Tak lama, beberapa orang keluar, aku rasa mereka semua pegawai kedai. Semua orang menyapaku dengan senyum dan mengangguk—sangat khas orang jawa. Ini malah membuatku nggak nyaman buat minta tolong. Aku berjalan menjauh, menggaruk kepalaku karena bingung, masih mencoba menyalakan ponselku lagi berharap ada keajaiban.

“Permisi” suara lembut dari belakang, aku menolehnya pelan. Ternyata perempuan yang tadi mengantar pesananku.

“Ke-kenapa mbak?” tanyaku, sedikit kikuk karena kaget.

“Butuh bantuan?” tanya perempuan itu.

Aku langsung tersenyum mendengar itu. “Oh, iya mbak, ponselku mati, aku bisa numpang ngecharge bentar nggak di dalem?”

“Ah, maaf. Pintunya udah dikunci, aku nggak bawa kuncinya, jadi maaf” jelas perempuan itu, sambil tersenyum kaku.

Aku menutup wajahku dengan tangan.

“Kalau boleh tahu, rumah kamu dimana? Aku bisa anter kalau mau, kebetulan aku bawa motor” katanya, menunjuk satu motor yang tersisa di parkiran.

“Ah, nggak usah mbak. Nggak perlu repot-repot” jawabku dengan nada sesopan mungkin.

Dia hanya mengangguk pelan.

“Oh, kalau boleh aku pinjam ponselnya aja, biar aku bisa pesen ojol” ucapku dengan sungkan.

“Hehe...” dia tersenyum. “Hari ini, kayaknya emang hari apes kamu deh, ponselku juga di tempat service dari kemarin” jelasnya dengan senyum yang semakin lebar.

Aku semakin pasrah dan kesal. Memijat lagi pangkal hidungku.

Aku mengambil napas dalam-dalam, lalu menatap perempuan itu.

“Nanti aku ganti bensinnya aja gapapa, kan?” tanyaku dengan canggung.

Perempuan itu terkekeh, membuatku semakin canggung. Lalu dia mengangguk.

“Btw, kenalin, nama aku Jingga”

Other Stories
Tukar Pasangan

Ratna, wanita dengan hiperseksualitas ekstrem, menyadari suaminya Ardi berselingkuh dengan ...

Awas, Ada Bakpao!

Liburan Ramadhan yang Lulu kira bakal adem dan hangat, berubah ketika dia bertemu dengan R ...

Lombok; Tanah Surga

Perjalanan ini bukan hanya perjalanan yang tidak pernah diduga akan terjadi. Tetapi menjad ...

Bayang Bayang

Riel terus bereinkarnasi untuk keseimbangan Klan Iblis dan Klan Dewi. Tapi ia harus merela ...

Love Of The Death

Cowok itu tak berani menatap wajah gadis di sampingnya. Pandangannya masih menatap pada ...

Kesempurnaan Cintamu

Devi putus dari Rifky karena tak direstui. Ia didekati dua pria, tapi memilih Revando. Saa ...

Download Titik & Koma