Lantas, Kepada Siapa Ayah Bercerita?

Reads
218
Votes
10
Parts
10
Vote
Report
Lantas, kepada siapa ayah bercerita?
Lantas, Kepada Siapa Ayah Bercerita?
Penulis Aogsta

Mata Elang Ayah

Pukul 10.05 saat mobil mulai melintasi batas kota, aku mencengkeram kemudi, mencoba fokus pada truk-truk besar di depan, sementara Satria sudah memasang headphone di kursi samping, pura-pura tidur agar tidak perlu memulai percakapan.
Di kursi belakang, Ayah duduk seperti patung. Dia tidak bersandar, punggungnya tegak lurus, mata elangnya menatap spion tengah, menatap mataku.
“Gimana kerjaan di agency, Mas? Ga capek sering pulang subuh?” Suara Ayah memecah keheningan. Berat, tipe suara yang biasa dia pakai untuk membubarkan kerumunan pedagang kaki lima ketika penertiban.
“Lancar, Yah. Emang ritmenya begitu kalau lagi ada campaign,” jawabku singkat. Aku sengaja tidak pakai istilah pitching atau deadline biar tidak memperpanjang urusan.
“Kerja di depan komputer sampai pagi itu nggak ada jaminan, Mas. Kamu sudah dua puluh dua, harusnya sudah pikirkan untuk daftar PNS atau coba masuk administrasi di kantor dinas. Biar masa depanmu nggak luntang-lantung kayak pedagang musiman,” sambungnya tanpa beban.
Aku menarik napas panjang, mencoba menahan emosi yang mulai naik ke leher. “Aku nggak mau kayak Ayah, Yah. Kerja puluhan tahun cuma buat dihargai dengan gaji pas-pasan dan seragam yang warnanya sudah pudar begitu,” kalimat itu tertelan lagi di tenggorokanku, masih belum berani mengeluarkannya.
Satria melepas sebelah earphone-nya, ikut mendengarkan dengan raut wajah malas.
“Ayah tahu kamu pikir Ayah ini kuno, Mas. Tapi hidup itu bukan cuma soal branding atau apa itu istilahmu. Kamu lihat Satria, dia udah SMA. Udah mau kuliah, biaya kuliah nggak murah. Kamu pikir uang dari mana kalau bukan dari persiapan yang jelas?” Ayah menatapku dari spion tengah, telak menembus mataku.
“Ya, nanti dipikirkan lagi, Yah. Fokus nyetir dulu,” potongku.
“Berhenti di depan, Mas. Ada warung,” perintah Ayah tiba-tiba.
Aku mengernyit. “Kenapa, Yah? Baru juga sejam jalan. Bensin masih penuh.”
“Berhenti saja. Ibumu haus itu,” katanya pendek sambil menepuk bahu Ibu yang sedari tadi cuma diam menyimak.
Aku mendengus, memutar setir ke bahu jalan yang berdebu. “Tuh kan, paling cuma mau merokok,” bisikku pelan ke arah Satria saat Ayah turun dari mobil. Satria hanya mengangguk malas, mengiyakan asumsiku bahwa Ayah hanya sedang mencari alasan untuk memuaskan kecanduannya.
Aku memperhatikan dari balik kaca film yang gelap. Ayah berjalan menuju penjual es kelapa di pinggir jalan, tapi dia tidak langsung menyulut rokok. Dia berdiri cukup lama di sana, menunggu kelapa muda dikupas, lalu membawanya kembali ke mobil dengan langkah yang tegas.
“Ini, minum dulu, Bu,” ucap Ayah sambil menyodorkan plastik es kelapa itu ke Ibu melalui jendela.
Ibu menerimanya dengan senyum kecil yang aneh, senyum yang seolah bilang kalau dia tidak perlu mengeluh untuk membuat Ayah paham. Aku dan Satria hanya terdiam. Kami nangkepnya Ayah cuma mau istirahat buat merokok, padahal dia baru saja menyulut batangnya setelah memastikan Ibu memegang minumannya.
Ayah berdiri di samping mobil, menyandar di pintu sambil mengembuskan asap pertamanya ke udara bebas. Ada kerutan di sudut matanya yang baru kusadari. Kerutan yang dalam, seolah setiap garisnya adalah tahun-tahun yang dia habiskan untuk menelan makian orang di jalan demi bisa membelikan kami sepatu baru. Dia tampak sangat lelah, tapi anehnya, dia tetap berusaha berdiri setegak mungkin, seolah-olah jika dia bersandar sedikit saja, seluruh hidup kami akan ikut roboh bersamanya.
Mobil kembali melaju menjauh dari kenyamanan kota. Membawa seorang Satpol-PP rasa prajurit, seorang ibu yang penuh kasih sayang, dan dua anak laki-laki yang masih kesal.


Other Stories
Seoul Harem

Raka Aditya, pemuda tangguh dari Indonesia, memimpin keluarganya memulai hidup baru di gem ...

Bad Close Friend

Denta, siswa SMA 91 Cirebon yang urakan dan suka tawuran, tak pernah merasa cocok berteman ...

Cerita Guru Sarita

Sarita merasa berbeda dari keluarganya karena mata cokelatnya yang dianggap mirip serigala ...

Queen, The Last Dance

Di panggung megah, di tengah sorak sorai penonton yang mengelu-elukan namanya, ada air mat ...

Dante Fair Tale

Dante, bocah kesepian berusia 9 tahun, membuat perjanjian dengan peri terkurung dalam bola ...

Nyanyian Hati Seruni

Awalnya ragu dan kesal dengan aturan ketat sebagai istri prajurit TNI AD, ia justru belaja ...

Download Titik & Koma