Lantas, Kepada Siapa Ayah Bercerita?

Reads
654
Votes
11
Parts
11
Vote
Report
Lantas, kepada siapa ayah bercerita?
Lantas, Kepada Siapa Ayah Bercerita?
Penulis Aogsta

Barang Antik

Sore itu, halaman rumah Nenek penuh sesak. Tapi ini bukan arisan keluarga yang hangat. Ini lebih seperti panggung sandiwara. Tante Ila, adik Ibu, mendadak jadi orang paling rajin sedunia kalau Ibu sedang pulang. Padahal aku tahu, kalau Ibu tidak ada, dia jarang sekali menengok Nenek, kecuali kalau Nenek memaksa ingin bertemu Ovilya, anaknya.
Aku masih ingat betul, dulu waktu Tante Ila mau menikah, dia sampai minta sumbangan ke Ayah. Waktu itu aku sudah SMP, cukup besar untuk merekam bagaimana Ayah menyisihkan uang dapurnya demi gengsi adik ipar ini. Tapi sekarang? Gengsi itu sudah berubah jadi tumpukan perhiasan dan mobil Fortuner yang terparkir gagah di depan.
"Mobil baru, Mas?" Paman tiba-tiba bertanya, suaranya sengaja dikencangkan seolah ingin seluruh komplek dengar. "Tahun tua itu ya, Mas?"
Ayah hanya diam. Dia sedang sibuk mengelus kap mobil tua kami yang baru saja dilapnya. Ibu yang menyambar pembicaraan itu dengan senyum yang dipaksakan. "Mobil Asdar itu. Nurun tuh hobi dari Ayahnya yang suka barang antik. Mesinnya masih bagus kok."
Tante Ila mencibir pelan, sembari membetulkan posisi tas branded-nya. "Apa nggak lebih baik cari yang keluaran terbaru, Mas? Kan meskipun nyicil, tapi aman kondisinya sampai bertahun-tahun. Kalau barang tua gitu, paling ntar keluar masuk bengkel terus. Lebih boros." Ujarnya kepadaku.
Aku yang sedari tadi bersandar di pintu mobil, hanya bisa tersenyum miring. Aku berjalan mendekat, lalu mengambil Ovilya dari gendongan Tante Ila. "Santai, Te. Masalah merawat barang antik, aku sudah belajar sama ahlinya," kataku sambil melirik ke arah Ayah. Ayah hanya menatapku sekilas, ada binar kecil di matanya yang seolah berterima kasih karena aku sudah memasang badan.
Tak lama kemudian, suasana berubah. Paman dan Tante Ila menarik Ibu untuk bicara di sudut halaman yang agak jauh. Wajah mereka serius, tipe percakapan yang tidak ingin didengar anak-anak. Aku tidak terlalu peduli. Bagiku, drama keluarga besar selalu membosankan. Ayah kemudian menyusul mereka, berjalan pelan dengan tangan di saku celana safari-nya.
"Sat, PS yuk di atas. Biarin aja mereka rapat kabinet," ajakku pada Satria. Kami berdua naik ke lantai atas, meninggalkan sepupuku di pelukan nenek serta riuh rendah suara di bawah yang mulai terdengar berbisik-bisik tajam.

Other Stories
Naik Ke Langit, Turun Tuk Tuntaskan Kisah

Bagaimana jika kesempatan untuk memperbaiki kesalahan ternyata datang setelah semuanya ter ...

Kasih Ibu #1 ( Hhalusinada )

pengorbanan seorang ibu untuk putranya, Angga, yang memiliki penyakit skizofrenia. Ibu rel ...

The Last Escape

The Last Escape, Berawal dari rencana liburan oleh 15 sekawan dari satu universitas, untuk ...

Hati Yang Beku

Jasmine menatap hamparan metropolitan dari lantai tiga kostannya. Kerlap-kerlip ibukota ...

Harapan Dalam Sisa Senja

Apa yang akan dalam pikiran ketika dinyatakan memiliki penyakit kronis? Ketika hidup berg ...

JEJAK SENI BUDAYA DI TANAH BADUY

Dua mahasiswa antropologi dengan pandangan yang bertolak belakang harus mengesampingkan eg ...

Download Titik & Koma