Lantas, Kepada Siapa Ayah Bercerita?
Perjalanan pulang kali ini terasa berbeda. Tidak ada lagi suasana kaku seperti saat berangkat. Aku sengaja melemparkan lelucon konyol tentang klien-klien agency-ku yang ajaib, membuat Ibu tertawa sampai menepuk pundakku berkali-kali.
Satria melirikku, lalu tangannya bergerak pelan menuju head unit mobil. Dia mengeluarkan sebuah kaset tua yang pita magnetiknya sudah agak kusam, kaset hadiah dari Ibu untuk Ayah zaman mereka pacaran dulu yang tidak sengaja kami temukan di laci lama. Kami sempat saling tatap, ada ketakutan kalau Ayah akan menegur karena musik bisa mengganggu fokusku menyetir.
Tapi saat melodi lagu kesayangan Ayah mulai mengalun, pria kaku di kursi belakang itu tidak marah. Ayah sempat terdiam sebentar, lalu pelan, sangat pelan, dia mulai mengikuti liriknya. Suara Ayah ternyata bagus, berat dan stabil. Kami semua menyanyi bersama di sepanjang jalur pantura, seolah jarak di keluarga yang kemarin ada sebelum liburan di rumah Nenek sudah terbang terbawa angin jendela. Ayah tersenyum lebar, senyum yang membuat kerutan di matanya tampak lebih manusiawi. Perjalanan itu adalah momen paling menyenangkan yang pernah kami miliki seumur hidup.
Dua minggu berlalu. Waktu melompat ke suatu subuh yang dingin. Aku baru saja memarkir mobil setelah lembur gila-gilaan di kantor. Begitu masuk rumah, Satria langsung menarik lenganku. Wajahnya pucat.
"Mas! kemana aja sih? Aku telpon belasan kali nggak diangkat!" bisiknya panik. Dia membawaku ke arah Ibu yang sedang duduk di meja makan dengan tatapan kosong. Ibu tidak menangis, tapi aku tahu ada air mata yang dia tahan sekuat tenaga agar tidak jatuh di depan kami.
"Nak, kalau Ayahmu terasa keras selama ini, tolong jangan dibenci ya, Nak," suara Ibu bergetar. Kalimat yang membuat hatiku berdetak sangat kencang karena kaget mendengar itu tanpa aba-aba. Ibu bercerita bahwa Tante Ila akan menjual rumah Nenek. Tante Ila diam-diam memanipulasi Nenek untuk menandatangani pengalihan nama lahan rumah itu. Ibu sudah mau menyerah, tapi Ayah tidak. Ayah pamit subuh-subuh sekali, dia naik bis ke desa.
"Ayahmu itu manusia paling peduli yang Ibu pernah jumpai, Mas. Padahal ini masalah keluarga Ibu, tapi dia kekeh mau menjaga kenangan Ibu di sana. Dia nggak mau rumah itu diubah, dia nggak mau jalan warga ditutup. Ibu cuma takut Ayahmu kenapa-kenapa di sana. Keluarga tantemu sudah dibutakan harta."
Mendengar itu, kantukku hilang seketika. Aku menyambar kembali kunci mobil. Aku melarang Satria ikut karena dia harus menjaga Ibu. Sebelum tancap gas, aku mengecek saldo tabunganku. Cukup. Uang ini lebih dari cukup untuk membungkam mulut tanteku yang tidak tahu diuntung itu, wanita yang mungkin lupa kalau tanpa Ayah yang menggantikan peran kakek di pernikahannya dulu, dia tidak akan berdiri di posisinya sekarang.
Aku membelah jalanan menuju desa dengan kecepatan tinggi. Begitu sampai di rumah Nenek, pemandangan itu menghancurkan hatiku. Aku melihat Ayah, pria yang paling kuhormati, pria yang tidak pernah tunduk pada siapapun, baru saja hendak bersimpuh di depan Paman demi memohon belas kasihan agar mengurungkan niatnya.
"Yah!" teriakku. Aku berlari, merangkul bahunya dan menarik tangannya agar tidak lagi membungkuk. Aku tidak sudi melihat Ayahku merendah seperti itu.
Aku menatap Paman dengan tajam. "Kalau Paman cuma butuh uang karena nggak sanggup bayar cicilan mobil baru itu, biar aku yang bayar." Aku mengeluarkan uang tabunganku, menaruhnya dengan sopan tapi tegas di atas meja. "Ini rumah Nenekku. Sampai kapanpun akan tetap menjadi rumah Nenekku."
Aku mengambil surat kuasa itu, merobeknya di depan wajah mereka, dan meminta Paman keluar. Paman terdiam, lalu mengucapkan terima kasih dengan suara lirih. Dia mengaku bahwa sebenarnya dia terpaksa karena cicilan yang menunggak, dan Ayah sudah berjanji akan mencarikannya uang tapi tak kunjung dapat sampai tenggat waktu tiba. "Lain kali kalau mau gengsi, mikir konsekuensinya dua kali," kataku dingin sebelum mengajak Ayah pulang.
Di dalam mobil menuju Jakarta, suasana kembali hening. Ayah duduk di sampingku, menatap kosong ke luar jendela. Dia tampak merasa menjadi orang paling gagal di dunia karena harus "diselamatkan" oleh anaknya sendiri. Dia tidak bercerita, tapi bahunya yang layu mengatakan segalanya.
"Makasih ya, Yah. Sudah berhasil mendidik Asdar," kataku memecah sunyi. "Ini peluru Ayah."
Ayah menoleh, menatapku lama. Ada binar yang pecah di matanya, sebuah pengakuan yang tak terucap. Dan dari tatapan itu, di hatiku masih saja muncul pertanyaan yang sama. Pertanyaan yang mungkin tidak akan pernah ada jawabannya.
“Kalau ayah sedih seperti saat ini, kepada siapa ya Ayah bercerita?” Batinku.
Satria melirikku, lalu tangannya bergerak pelan menuju head unit mobil. Dia mengeluarkan sebuah kaset tua yang pita magnetiknya sudah agak kusam, kaset hadiah dari Ibu untuk Ayah zaman mereka pacaran dulu yang tidak sengaja kami temukan di laci lama. Kami sempat saling tatap, ada ketakutan kalau Ayah akan menegur karena musik bisa mengganggu fokusku menyetir.
Tapi saat melodi lagu kesayangan Ayah mulai mengalun, pria kaku di kursi belakang itu tidak marah. Ayah sempat terdiam sebentar, lalu pelan, sangat pelan, dia mulai mengikuti liriknya. Suara Ayah ternyata bagus, berat dan stabil. Kami semua menyanyi bersama di sepanjang jalur pantura, seolah jarak di keluarga yang kemarin ada sebelum liburan di rumah Nenek sudah terbang terbawa angin jendela. Ayah tersenyum lebar, senyum yang membuat kerutan di matanya tampak lebih manusiawi. Perjalanan itu adalah momen paling menyenangkan yang pernah kami miliki seumur hidup.
Dua minggu berlalu. Waktu melompat ke suatu subuh yang dingin. Aku baru saja memarkir mobil setelah lembur gila-gilaan di kantor. Begitu masuk rumah, Satria langsung menarik lenganku. Wajahnya pucat.
"Mas! kemana aja sih? Aku telpon belasan kali nggak diangkat!" bisiknya panik. Dia membawaku ke arah Ibu yang sedang duduk di meja makan dengan tatapan kosong. Ibu tidak menangis, tapi aku tahu ada air mata yang dia tahan sekuat tenaga agar tidak jatuh di depan kami.
"Nak, kalau Ayahmu terasa keras selama ini, tolong jangan dibenci ya, Nak," suara Ibu bergetar. Kalimat yang membuat hatiku berdetak sangat kencang karena kaget mendengar itu tanpa aba-aba. Ibu bercerita bahwa Tante Ila akan menjual rumah Nenek. Tante Ila diam-diam memanipulasi Nenek untuk menandatangani pengalihan nama lahan rumah itu. Ibu sudah mau menyerah, tapi Ayah tidak. Ayah pamit subuh-subuh sekali, dia naik bis ke desa.
"Ayahmu itu manusia paling peduli yang Ibu pernah jumpai, Mas. Padahal ini masalah keluarga Ibu, tapi dia kekeh mau menjaga kenangan Ibu di sana. Dia nggak mau rumah itu diubah, dia nggak mau jalan warga ditutup. Ibu cuma takut Ayahmu kenapa-kenapa di sana. Keluarga tantemu sudah dibutakan harta."
Mendengar itu, kantukku hilang seketika. Aku menyambar kembali kunci mobil. Aku melarang Satria ikut karena dia harus menjaga Ibu. Sebelum tancap gas, aku mengecek saldo tabunganku. Cukup. Uang ini lebih dari cukup untuk membungkam mulut tanteku yang tidak tahu diuntung itu, wanita yang mungkin lupa kalau tanpa Ayah yang menggantikan peran kakek di pernikahannya dulu, dia tidak akan berdiri di posisinya sekarang.
Aku membelah jalanan menuju desa dengan kecepatan tinggi. Begitu sampai di rumah Nenek, pemandangan itu menghancurkan hatiku. Aku melihat Ayah, pria yang paling kuhormati, pria yang tidak pernah tunduk pada siapapun, baru saja hendak bersimpuh di depan Paman demi memohon belas kasihan agar mengurungkan niatnya.
"Yah!" teriakku. Aku berlari, merangkul bahunya dan menarik tangannya agar tidak lagi membungkuk. Aku tidak sudi melihat Ayahku merendah seperti itu.
Aku menatap Paman dengan tajam. "Kalau Paman cuma butuh uang karena nggak sanggup bayar cicilan mobil baru itu, biar aku yang bayar." Aku mengeluarkan uang tabunganku, menaruhnya dengan sopan tapi tegas di atas meja. "Ini rumah Nenekku. Sampai kapanpun akan tetap menjadi rumah Nenekku."
Aku mengambil surat kuasa itu, merobeknya di depan wajah mereka, dan meminta Paman keluar. Paman terdiam, lalu mengucapkan terima kasih dengan suara lirih. Dia mengaku bahwa sebenarnya dia terpaksa karena cicilan yang menunggak, dan Ayah sudah berjanji akan mencarikannya uang tapi tak kunjung dapat sampai tenggat waktu tiba. "Lain kali kalau mau gengsi, mikir konsekuensinya dua kali," kataku dingin sebelum mengajak Ayah pulang.
Di dalam mobil menuju Jakarta, suasana kembali hening. Ayah duduk di sampingku, menatap kosong ke luar jendela. Dia tampak merasa menjadi orang paling gagal di dunia karena harus "diselamatkan" oleh anaknya sendiri. Dia tidak bercerita, tapi bahunya yang layu mengatakan segalanya.
"Makasih ya, Yah. Sudah berhasil mendidik Asdar," kataku memecah sunyi. "Ini peluru Ayah."
Ayah menoleh, menatapku lama. Ada binar yang pecah di matanya, sebuah pengakuan yang tak terucap. Dan dari tatapan itu, di hatiku masih saja muncul pertanyaan yang sama. Pertanyaan yang mungkin tidak akan pernah ada jawabannya.
“Kalau ayah sedih seperti saat ini, kepada siapa ya Ayah bercerita?” Batinku.
Other Stories
Sinopsis
hdhjjfdseetyyygfd ...
Bayang Bayang
Riel terus bereinkarnasi untuk keseimbangan Klan Iblis dan Klan Dewi. Tapi ia harus merela ...
Kelabu
Kulihat Annisa tengah duduk di sebuah batu besar di pinggir sungai bersama seorang anak ...
32 Detik
Hanya 32 detik untuk menghancurkan cinta dan hidup Kirana. Saat video pribadinya bocor, du ...
Awas, Ada Bakpao!
Liburan Ramadhan yang Lulu kira bakal adem dan hangat, berubah ketika dia bertemu dengan R ...
Seoul Harem
Raka Aditya, pemuda tangguh dari Indonesia, memimpin keluarganya memulai hidup baru di gem ...