Kok, Udara Pagi Ini Hangat Ya?
Aku terbangun dengan perasaan panik. Matahari sudah cukup tinggi menembus ventilasi kamar. Aku melirik jam dinding. Pukul delapan lewat. Sial, batinku. Ayah pasti akan mengomel karena aku telat bangun. Aku segera bangkit, mencuci muka kilat, dan berlari ke luar.
Tapi tidak ada teriakan. Tidak ada suara pintu digedor.
Di halaman depan yang sudah bersih, aku terpaku. Aku melihat pemandangan yang seolah ditarik dari memori masa kecil yang sudah sangat buram. Di sana, Ayah sedang memegang raket bulutangkis yang senarnya sudah agak kendor, tertawa lepas saat shuttlecock jatuh di depan Satria.
“Yah! Curang itu mah!” Satria tertawa, wajahnya tidak lagi menunjukkan bekas kemarahan kemarin.
Ibu berdiri di pinggir halaman, memegang handuk kecil dan botol air, bertindak sebagai wasit gadungan. “Keluar! Poin buat Satria!” teriak Ibu sambil tertawa.
Ayah menyeka keringat di dahinya, lalu melakukan servis lagi dengan gaya yang lucu. Aku bersandar di tiang teras, tersenyum sendiri. Udara pagi ini terasa sangat hangat, bukan karena matahari, tapi karena pemandangan di depanku. Ayah yang kaku, Ayah yang seram, pagi ini terlihat seperti seorang pria paruh baya biasa yang sedang menikmati hidup. Aku rindu momen ini. Momen di mana dunia masih tidak begitu kejam kepada kami.
“Mas, bangun juga kamu, ayo sini, gantiin Ayah. Napas Ayah sudah pendek nih!” teriak Ayah sambil melambai padaku.
Aku tertawa dan baru saja hendak turun ke halaman ketika sebuah mobil Fortuner hitam mengkilap berhenti tepat di depan pagar. Debunya beterbangan, mengotori udara pagi yang bersih.
Pintu mobil terbuka. Paman dan Tante turun dengan pakaian yang tampak terlalu mentereng untuk suasana desa. Paman merapikan kerah kemeja mahalnya, menatap rumah Nenek dari atas ke bawah seolah sedang menginspeksi bangunan tua yang hampir roboh.
“Wah, sudah ramai ya? Maaf telat, tadi mampir beli sarapan yang 'mahal' dulu di kota,” suara Paman terdengar nyaring, memutus tawa Ayah dan Satria seketika.
Tante menyusul di belakangnya, sibuk mengipasi wajah dengan tangan. “Aduh panas ya, padahal cuma beda desa tapi hawanya beda banget sama di rumah kami yang sejuk.”
Senyum di wajah Ayah memudar, tergantikan oleh garis kaku yang sangat kukenal. Aku merasakan firasat buruk. Liburan keluarga yang baru saja terasa hangat ini, tiba-tiba kedatangan tamu yang membawa hawa dingin dari rumah mereka yang mewah. Arisan yang katanya keluarga ini baru saja dimulai, dan aku tahu, ketenangan kami baru saja berakhir.
Tapi tidak ada teriakan. Tidak ada suara pintu digedor.
Di halaman depan yang sudah bersih, aku terpaku. Aku melihat pemandangan yang seolah ditarik dari memori masa kecil yang sudah sangat buram. Di sana, Ayah sedang memegang raket bulutangkis yang senarnya sudah agak kendor, tertawa lepas saat shuttlecock jatuh di depan Satria.
“Yah! Curang itu mah!” Satria tertawa, wajahnya tidak lagi menunjukkan bekas kemarahan kemarin.
Ibu berdiri di pinggir halaman, memegang handuk kecil dan botol air, bertindak sebagai wasit gadungan. “Keluar! Poin buat Satria!” teriak Ibu sambil tertawa.
Ayah menyeka keringat di dahinya, lalu melakukan servis lagi dengan gaya yang lucu. Aku bersandar di tiang teras, tersenyum sendiri. Udara pagi ini terasa sangat hangat, bukan karena matahari, tapi karena pemandangan di depanku. Ayah yang kaku, Ayah yang seram, pagi ini terlihat seperti seorang pria paruh baya biasa yang sedang menikmati hidup. Aku rindu momen ini. Momen di mana dunia masih tidak begitu kejam kepada kami.
“Mas, bangun juga kamu, ayo sini, gantiin Ayah. Napas Ayah sudah pendek nih!” teriak Ayah sambil melambai padaku.
Aku tertawa dan baru saja hendak turun ke halaman ketika sebuah mobil Fortuner hitam mengkilap berhenti tepat di depan pagar. Debunya beterbangan, mengotori udara pagi yang bersih.
Pintu mobil terbuka. Paman dan Tante turun dengan pakaian yang tampak terlalu mentereng untuk suasana desa. Paman merapikan kerah kemeja mahalnya, menatap rumah Nenek dari atas ke bawah seolah sedang menginspeksi bangunan tua yang hampir roboh.
“Wah, sudah ramai ya? Maaf telat, tadi mampir beli sarapan yang 'mahal' dulu di kota,” suara Paman terdengar nyaring, memutus tawa Ayah dan Satria seketika.
Tante menyusul di belakangnya, sibuk mengipasi wajah dengan tangan. “Aduh panas ya, padahal cuma beda desa tapi hawanya beda banget sama di rumah kami yang sejuk.”
Senyum di wajah Ayah memudar, tergantikan oleh garis kaku yang sangat kukenal. Aku merasakan firasat buruk. Liburan keluarga yang baru saja terasa hangat ini, tiba-tiba kedatangan tamu yang membawa hawa dingin dari rumah mereka yang mewah. Arisan yang katanya keluarga ini baru saja dimulai, dan aku tahu, ketenangan kami baru saja berakhir.
Other Stories
Hotel Tanpa Cermin
Kala memilih menetap sementara di sebuah hotel yang terasa berbeda dari tempat-tempat yang ...
Kacamata Kematian
Arsyil Langit Ramadhan naksir berat sama cewek bernama Arshita Bintang Oktarina. Ia berpik ...
Lantas, Kepada Siapa Ayah Bercerita?
Asdar terpaksa menjalani perjalanan liburan akhir tahun ke kampung halaman sang nenek sela ...
Cinta Kadang Kidding
Seorang pemuda yang sedang jatuh cinta kepada teman sekelas saat sedang menempuh pendidika ...
Suara Dari Langit
Apei tulus mencintai Nola meski ditentang keluarganya. Tragedi demi tragedi menimpa, terma ...
Kelabu
Cinta? Apakah aku mencintai Samuel? Pertanyaan yang sulit kujawab. Perasaanku padanya sepe ...