Cahaya Di Ujung Mihrab

Reads
43
Votes
0
Parts
14
Vote
Report
Cahaya di ujung mihrab
Cahaya Di Ujung Mihrab
Penulis Matchaa

Bab 10: Cahaya Yang Tak Padam


Empat bulan sepuluh hari bukanlah waktu yang singkat, namun bagi Amara, waktu itu terasa seperti sebuah madrasah batin yang sangat padat. Hari ini, masa iddah-nya resmi berakhir. Pagi-pagi sekali, Amara sudah berdiri di depan cermin besar di kamarnya. Ia mengenakan gamis berwarna cokelat tua dengan kerudung lebar senada. Tidak ada lagi sisa-sisa "Amara sang Ratu Malam". Yang ada hanyalah seorang wanita dengan tatapan mata yang tenang namun menyimpan keteguhan yang luar biasa.

Ia melangkah menuju meja kerja Rayyan, mengambil kunci kecil yang ia temukan di kotak kayu suaminya. Kunci itu adalah kunci loker perpustakaan—kunci menuju amanah yang ditinggalkan untuknya.

"Bismillah, Yan. Aku jalan dulu," bisiknya pelan ke arah foto pernikahan mereka yang masih terpajang rapi.

Saat kakinya melangkah keluar dari apartemen, udara pagi Jakarta yang lembap menyambutnya. Ada rasa canggung yang sempat merayap di dadanya. Ini adalah pertama kalinya ia benar-benar berinteraksi dengan dunia luar tanpa didampingi Rayyan sejak mereka menikah.

Setiap langkah kaki di lorong apartemen terasa begitu nyata, seolah ia sedang berjalan di atas titian yang sangat tipis.


Perpustakaan tua itu tampak kusam. Debu tipis menempel di jendela kacanya, dan beberapa tumpukan koran bekas berserakan di teras.

Amara menarik napas panjang, lalu memasukkan kunci ke lubangnya.

Cklek.

Pintu terbuka dengan suara derit yang akrab.

Bau buku lama dan kayu lapuk langsung menyergap indra penciumannya. Amara terdiam sejenak di ambang pintu. Di sana, di sudut ruangan, terdapat kursi kayu tempat Rayyan dulu sering duduk membacakan cerita. Amara seolah bisa melihat bayangan suaminya di sana, tersenyum menyambut kedatangannya.

"Assalamualaikum," ucap Amara lirih, menyapa ruangan yang sunyi itu.

Ia segera bergerak. Amara bukan lagi tipe wanita yang hanya bisa meratapi keadaan. Ia mengambil kemoceng, sapu, dan kain pel.

Selama beberapa jam, ia membersihkan setiap sudut perpustakaan. Ia mengelap rak-rak buku, menyusun kembali kitab-kitab yang miring, dan menyapu halaman depan. Peluh bercucuran di dahi, namun ia merasakannya sebagai bentuk ibadah.

Saat ia sedang sibuk menyusun buku, suara langkah kaki kecil terdengar di teras.

"Kak Amara?"

Amara menoleh. Di sana berdiri Dika, masih dengan seragam sekolahnya yang sedikit berantakan. Mata anak itu berbinar melihat pintu perpustakaan yang terbuka.

"Dika! Sini masuk," ajak Amara dengan senyum tulus.

Dika berlari masuk, namun ia langsung terhenti saat melihat kursi kosong di pojok. Wajahnya sedikit berubah muram. "Kak Rayyan beneran nggak ada ya, Kak?"

Amara berlutut di hadapan Dika, memegang kedua bahu anak itu. "Kak Rayyan fisiknya memang sudah nggak ada, Dika. Tapi ilmunya, kebaikannya, masih ada di sini. Di buku-buku ini, dan di hati kita. Sekarang, Kak Amara yang bakal gantiin Kak Rayyan buat jaga perpustakaan ini. Dika mau bantu?"

Dika mengangguk mantap. "Mau, Kak! Teman-teman yang lain juga mau. Kami kangen baca buku."


Setelah kondisi perpustakaan mulai rapi, Amara menuju ke loker pengurus di bagian belakang. Ia mencari loker dengan nomor yang tertera di surat Rayyan. Dengan tangan bergetar, ia memutar kunci itu.

Di dalamnya, terdapat sebuah amplop cokelat besar dan sebuah buku catatan kecil bersampul hitam. Amara membuka amplop itu terlebih dahulu. Isinya adalah sejumlah uang tunai yang tidak terlalu banyak, namun cukup untuk biaya operasional perpustakaan selama setahun ke depan, lengkap dengan catatan rapi tentang asal-usul uang tersebut—hasil dari sisa gaji Rayyan yang disisihkan dengan sangat ketat.

Namun, yang lebih menarik perhatiannya adalah buku catatan hitam itu. Saat membukanya, Amara mendapati daftar nama anak-anak jalanan di sekitar lingkungan tersebut, lengkap dengan catatan tentang kemajuan belajar mereka, masalah keluarga yang mereka hadapi, hingga impian-impian kecil yang pernah mereka ceritakan pada Rayyan.

Dika: Cita-citanya ingin jadi pilot. Bacanya sudah lancar, tapi masih sering bingung dengan matematika dasar. Perlu dibimbing lebih sabar.
Siti: Sangat rajin, tapi sering tidak masuk karena harus membantu ibunya jualan gorengan. Perlu bantuan biaya seragam sekolah.


Amara menutup mulutnya dengan tangan, air matanya menetes mengenai halaman buku itu. Rayyan bukan hanya seorang penjaga perpustakaan; ia adalah seorang ayah bagi anak-anak yang terabaikan oleh dunia. Rayyan memikirkan masa depan mereka hingga detail terkecil.

"Aku nggak akan sanggup sendiri, Yan," isak Amara. "Aku belum sepintar kamu."

Namun kemudian, ia teringat potongan surat Rayyan: Allah tidak pernah meninggalkanmu. Dia hanya mengambil 'perantara' hidayahmu agar kamu bisa langsung bersandar pada-Nya.

Amara menyeka air matanya. Ia mengambil pena, lalu di bawah catatan terakhir Rayyan, ia menuliskan kalimat pertamanya sebagai pengurus baru: "Mulai hari ini, aku akan melanjutkan mimpi-mimpi mereka. Bimbinglah aku, Ya Allah."


Membuka kembali perpustakaan ternyata tidak semudah menyapu lantai. Kabar bahwa "Istri Rayyan yang mantan wanita nakal" kini mengurus perpustakaan mulai menyebar di lingkungan sekitar.

Sore itu, saat Amara sedang mengajar Dika dan dua temannya mengaji, beberapa ibu-ibu warga sekitar melintas di depan perpustakaan. Mereka berhenti sejenak, berbisik-bisik sambil menunjuk-nunjuk ke arah Amara.

"Itu kan perempuan yang dulu rambutnya dicat-cat itu, kan? Yang sering pulang pagi naik motor gede?" bisik salah satu ibu dengan nada sinis yang sengaja dikeraskan.

"Iya, masa sekarang pakai hijab besar gitu terus ngajar anak-anak mengaji? Paling cuma akting biar kelihatan suci habis ditinggal mati suaminya," timpal yang lain.

Suara-suara itu sampai ke telinga Amara. Dadanya sesak. Rasanya ingin sekali ia berdiri dan berteriak membela diri, mengatakan betapa kerasnya perjuangan yang ia lalui untuk sampai di titik ini. "Amara yang lama" hampir saja bangkit untuk membalas cacian itu.

Namun, ia melihat ke arah Dika. Dika sedang menatapnya dengan pandangan bingung. Amara teringat betapa Rayyan selalu tersenyum saat dihina, betapa Rayyan selalu mengatakan bahwa hanya Allah yang berhak menilai hati seseorang.
Amara memejamkan mata sejenak, menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan gemuruh di dadanya. Ia kembali menatap Al-Qur'an di depannya.

"Ayo Dika, lanjut lagi. Tadi sampai di ayat berapa?" tanya Amara dengan suara yang diusahakan tetap lembut, meskipun hatinya terasa nyeri.

Ibu-ibu itu akhirnya pergi setelah tidak mendapatkan reaksi dari Amara. Namun, kejadian itu menyadarkan Amara bahwa jalan hijrah ini bukan hanya tentang melawan nafsu pribadi, tapi juga tentang keikhlasan menghadapi penilaian manusia.


Malam harinya, setelah perpustakaan tutup, Amara tidak langsung pulang. Ia pergi ke masjid kecil di sebelah gedung tersebut—mihrab tempat Rayyan sering bersujud.

Ia melaksanakan salat Isya berjamaah, lalu berdiam diri di sana. Tak lama, pengurus masjid yang sudah tua, Haji Mansur, menghampirinya.

"Nak Amara," sapa beliau dengan suara parau yang menyejukkan. "Saya senang melihat lampu perpustakaan menyala lagi tadi sore. Mas Rayyan pasti bangga di sana."

"Saya hanya mencoba melanjutkan amanah beliau, Pak Haji. Tapi... rasanya berat. Banyak orang yang meragukan saya karena masa lalu saya," jawab Amara jujur.

Haji Mansur terkekeh pelan. "Nak, matahari itu tidak pernah peduli berapa banyak orang yang mencelanya saat ia terbit. Ia hanya terus bersinar karena itu tugasnya dari Allah. Masa lalu itu seperti bayangan; ia ada di belakangmu untuk mengingatkan seberapa jauh kamu sudah berjalan menuju cahaya. Jangan biarkan bayangan itu menghentikan langkahmu."

Kata-kata Haji Mansur memberikan kekuatan baru bagi Amara. Ia menyadari bahwa ia tidak butuh pengakuan dari seluruh warga. Ia hanya butuh pengakuan dari Tuhannya, dan senyum kecil dari anak-anak yang ia bimbing.

Saat Amara pulang menuju apartemennya, ia melewati sebuah gang sempit tempat ia dulu sering nongkrong sebelum mengenal Rayyan. Di sana, ia melihat beberapa pemuda sedang duduk-duduk sambil memegang botol minuman. Salah satu dari mereka mengenali Amara dan bersiul menggoda.

Amara tidak menoleh. Ia terus berjalan dengan langkah yang mantap, memegang erat tasnya yang berisi buku catatan hitam milik Rayyan. Di dalam hatinya, ia terus merapal doa agar hatinya tetap ditetapkan di jalan ini.

Ia sampai di depan pintu apartemennya. Sebelum masuk, ia melihat ke arah langit yang bertabur bintang. Ia merasa seolah-olah bintang-bintang itu adalah mata Rayyan yang sedang mengawasinya dengan bangga.

"Babak pertama sudah aku lewati, Yan," bisik Amara. "Ternyata benar kata kamu. Syurga itu harus diperjuangkan, dan perjuangan itu rasanya manis kalau kita tahu untuk siapa kita melakukannya."

Amara duduk di meja makannya, mulai menyusun jadwal pelajaran untuk anak-anak jalanan di minggu depan. Lampu meja belajarnya adalah satu-satunya cahaya yang menyala di ruangan itu, namun cahaya itu terasa sangat terang, menerangi masa depan yang kini ia bangun dengan tangannya sendiri.



Other Stories
Mewarnai

ini adalah contoh uplot buku ...

Cahaya Dalam Ketidakmungkinan

Nara pernah punya segalanya—hidup yang tampak sempurna, bahagia tanpa cela. Hingga suatu ...

Cinta Di 7 Keajaiban Dunia

Menjelang pernikahan, Devi dan Dimas ditugaskan meliput 7 keajaiban dunia. Pertemuan Devi ...

Curahan Hati Seorang Kacung

Saat sekolah kita berharap nantinya setelah lulus akan dapat kerjaan yang bagus. Kerjaan ...

Love Of The Death

Cowok itu tak berani menatap wajah gadis di sampingnya. Pandangannya masih menatap pada ...

Lombok; Tanah Surga

Perjalanan ini bukan hanya perjalanan yang tidak pernah diduga akan terjadi. Tetapi menjad ...

Download Titik & Koma