Bab 4: Memeluk Badai
Malam itu terasa seperti satu abad bagi Amara. Ia menangis hingga suaranya habis, tertidur karena kelelahan di atas lantai bersandar pada dada Rayyan, dan terbangun sebelum subuh dengan mata yang membengkak perih.
Udara sejuk Jakarta di sepertiga malam terakhir biasanya membawa ketenangan. Namun pagi ini, udara itu terasa menusuk tulang. Amara membuka matanya perlahan. Ia menyadari dirinya sudah berpindah ke atas kasur, diselimuti dengan rapi. Di sudut kamar, di atas sajadah hijaunya yang mulai pudar, Rayyan sedang duduk bersimpuh. Laki-laki itu sedang melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an dengan suara yang parau dan tertahan.
Amara menatap punggung suaminya lekat-lekat. Baru sekarang ia menyadari betapa kemeja tidur itu tampak kebesaran di tubuh Rayyan. Tulang belikatnya menonjol, dan bahunya yang dulu tampak kokoh kini terlihat rapuh. Perasaan marah, dibohongi, dan sedih kembali mengaduk-aduk dadanya. Namun, di atas semua itu, ada rasa takut yang teramat besar. Ketakutan akan kehilangan satu-satunya manusia yang memanusiakannya.
Amara menyingkap selimut dan melangkah turun. Ia berjalan gontai mendekati Rayyan, lalu duduk bersimpuh tepat di belakang suaminya. Ia memeluk pinggang Rayyan dari belakang, menyandarkan pipinya yang masih basah di punggung laki-laki itu.
Bacaan Rayyan terhenti. Tangan kirinya yang terasa dingin terangkat, mengusap lembut lengan Amara yang melingkari tubuhnya.
"Maafkan aku membangunkanmu, Mara," bisik Rayyan pelan.
"Jangan minta maaf untuk hal yang nggak perlu, Yan," suara Amara serak. "Minta maaflah karena kamu berniat ninggalin aku sendirian."
Setelah salat Subuh berjamaah yang diwarnai dengan isak tangis tertahan dari Amara, mereka duduk berhadapan di ruang tengah. Cangkir teh chamomile yang dibuatkan Amara perlahan kehilangan kepul asapnya. Tidak ada yang menyentuhnya.
"Sejak kapan kamu tahu?" tanya Amara memecah keheningan. Tatapannya lurus, mencoba mencari sisa-sisa kebohongan, namun yang ia temukan hanyalah sepasang mata yang kelelahan.
Rayyan menunduk, menatap jari-jarinya yang bertaut di atas meja. "Enam bulan sebelum kita bertemu di perpustakaan malam itu. Awalnya hanya sakit kepala biasa dan pandangan kabur. Aku mengira itu hanya kelelahan karena harus mengurus perpustakaan dan mengajar mengaji. Tapi sakitnya semakin tidak tertahankan. Saat aku memeriksakan diri... tumornya sudah bersarang terlalu dalam."
"Lalu kenapa kamu biarin?!" Nada suara Amara meninggi, pertahanan yang ia coba bangun kembali runtuh. "Kenapa kamu nggak operasi? Kenapa kamu biarin penyakit sialan itu menggerogoti kepala kamu?!"
"Letaknya terlalu riskan, Mara," jawab Rayyan dengan nada yang sangat tenang, sebuah ketenangan yang justru membuat hati Amara semakin tersayat. "Dokter bilang, operasi bisa membuatku lumpuh total, kehilangan ingatan, atau bahkan meninggal di meja operasi. Peluang keberhasilannya sangat kecil. Aku... aku hanya punya dua pilihan: menghabiskan sisa waktuku di ranjang rumah sakit dengan selang yang menancap di sekujur tubuh, atau menjalaninya seperti biasa, beribadah, dan berusaha bermanfaat bagi orang lain."
Amara menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Tapi kenapa aku, Yan? Kenapa kamu narik aku masuk ke dalam hidup kamu kalau ujungnya kamu bakal pergi? Kamu tahu aku rapuh! Kamu tahu aku baru aja belajar merangkak untuk kenal Tuhan, dan sekarang... sekarang kamu mau mati?!"
Kata 'mati' itu meluncur begitu saja, terdengar kasar dan kejam di telinga Amara sendiri. Ia langsung menyesalinya, tapi rasa frustrasinya terlalu besar.
Rayyan bangkit dari kursinya, berjalan mendekati Amara, dan berlutut di hadapan istrinya. Ia menggenggam kedua tangan Amara yang menutupi wajah.
"Mara, tatap aku," pinta Rayyan lembut.
Perlahan, Amara membuka matanya yang sembab.
"Aku memintamu menjadi istriku bukan karena aku ingin mencari perawat untuk mengurusku di sisa hidupku. Sama sekali bukan," mata Rayyan berkaca-kaca. "Aku menikahimu karena aku mencintaimu karena Allah. Aku melihat cahaya yang luar biasa di dalam dirimu. Aku ingin menemanimu berhijrah, meski hanya sebentar. Jika hidayahmu bergantung padaku, maka kamu akan hancur saat aku pergi. Tapi jika hidayahmu murni karena Allah, kepergianku tidak akan menggoyahkan imanmu sedikit pun."
"Gimana aku bisa kuat, Yan?" isak Amara, air matanya kembali tumpah ruah. "Dunia aku sebelumnya gelap. Kamu yang bawa senternya. Kalau kamu pergi, aku bakal nabrak tembok lagi."
"Kamu tidak butuh senterku lagi, Mara. Kamu sudah punya cahayamu sendiri," Rayyan tersenyum pedih sambil mengusap kepala istrinya. "Janji padaku satu hal. Marahlah padaku sepuasmu. Bencilah aku karena menyembunyikan ini. Tapi, tolong, jangan pernah marah pada Allah. Jangan pernah menyalahkan takdir-Nya."
Dua hari setelah malam pengakuan itu, dinamika di rumah kecil mereka berubah drastis. Amara tidak lagi membiarkan Rayyan berangkat ke perpustakaan sendirian. Ia mengunci semua botol obat pereda nyeri yang selama ini disembunyikan suaminya, dan mengambil alih kendali penuh atas jadwal minum obatnya.
Pagi ini, Amara memaksa Rayyan untuk pergi ke rumah sakit. Ia ingin mendengar langsung dari mulut dokter tentang kondisi suaminya. Ia masih memendam secercah harapan bahwa dokumen yang ia temukan adalah sebuah kesalahan, atau setidaknya, ada teknologi medis baru yang terlewatkan.
Ruang praktik Dr. Andi, spesialis onkologi yang menangani Rayyan, terasa sangat dingin. Bau antiseptik membuat perut Amara mual. Di dinding, terpampang gambar-gambar anatomi otak manusia yang membuat bulu kuduknya berdiri.
"Senang akhirnya bisa bertemu dengan Anda, Ibu Amara. Rayyan banyak bercerita tentang istrinya yang hebat," sapa Dr. Andi ramah, meski raut wajahnya menyiratkan simpati yang dalam.
Amara hanya memaksakan sebuah senyum tipis. Ia menggenggam tangan Rayyan erat-erat, seolah takut suaminya akan menghilang jika ia lepaskan sedikit saja.
"Dokter, tolong jujur pada saya," suara Amara bergetar namun tegas. "Apakah benar-benar tidak ada cara? Kemoterapi? Radiasi? Operasi di luar negeri? Berapa pun biayanya, saya akan usahakan. Saya bisa jual apartemen saya, saya bisa jual mobil saya."
Dr. Andi menghela napas panjang. Ia membuka hasil pemindaian MRI terbaru Rayyan yang diambil seminggu lalu di layar komputernya. "Ibu Amara, Glioblastoma adalah jenis tumor yang sangat agresif. Bentuknya seperti tentakel yang menyusup ke jaringan otak sehat. Pada kasus Mas Rayyan, posisinya berada di batang otak, pusat kendali saraf vital manusia."
Dokter itu menunjuk ke area putih yang membesar di layar. "Kemoterapi dan radiasi sudah sempat kita coba di awal diagnosis, namun tubuh Mas Rayyan menolaknya dengan keras. Mengingat kondisinya saat ini, intervensi medis agresif hanya akan merusak kualitas sisa hidupnya. Fokus kita sekarang adalah palliative care—perawatan paliatif."
"Perawatan paliatif..." Amara mengulang kata itu seolah rasanya pahit di lidah. "Maksudnya... kita cuma menunggu waktu?"
Dr. Andi menatap Amara dengan lembut. "Tugas saya sebagai dokter adalah meringankan rasa sakitnya sebaik mungkin. Mas Rayyan akan sering mengalami sakit kepala hebat, mual, kejang, dan perlahan-lahan... mungkin akan mengalami penurunan fungsi motorik atau ingatan. Kita harus bersiap untuk fase itu, Bu Amara."
Mendengar kata-kata itu, hati Amara terasa seperti dihantam palu godam. Ingatan? Suaminya akan kehilangan ingatan? Laki-laki yang mengajarinya membaca Al-Qur'an ini perlahan akan melupakan ayat-ayat itu, atau lebih buruk lagi, melupakan siapa Amara?
Rayyan meremas tangan Amara, memberikan isyarat agar istrinya tenang. "Dokter Andi benar, Mara. Kita sudah membahas ini. Aku lebih memilih menghabiskan waktuku bersamamu dengan pikiran yang jernih, daripada terbaring di ICU tanpa kesadaran berbulan-bulan."
Perjalanan pulang dari rumah sakit dihabiskan dalam keheningan. Hujan gerimis membasahi kaca depan taksi online yang mereka tumpangi. Amara memandang ke luar jendela, melihat jalanan Jakarta yang selalu sibuk, orang-orang yang berlarian mencari tempat berteduh. Tiba-tiba dunia terasa begitu asing. Kemarin ia adalah seorang murid yang haus akan ilmu agama dari suaminya; hari ini, ia dipaksa takdir untuk lulus lebih cepat dan mengambil peran sebagai pelindung.
Sesampainya di apartemen, setelah Rayyan beristirahat di kamar akibat efek obat penahan sakit yang baru ditebus, Amara berdiri di depan cermin kamar mandi.
Ia menatap pantulan dirinya. Mata yang membengkak, wajah yang lelah, dan kerudung yang sedikit berantakan. Ia teringat masa lalunya. Dulu, jika ia menghadapi masalah, ia akan melarikan diri ke botol minuman keras atau dentuman musik malam. Ia akan mengutuk dunia dan mencari pelarian sesaat.
Tapi kini, pelarian itu tidak ada lagi.
Amara membuka keran air, membasuh wajahnya berulang kali. Air mata kembali menetes, namun kali ini ia segera mengusapnya dengan kasar. Ia menatap tajam ke arah cermin, berbicara pada pantulannya sendiri.
"Kamu bukan lagi Amara yang cengeng. Kamu bukan lagi perempuan nakal yang lari dari kenyataan," bisiknya pada diri sendiri dengan suara bergetar.
Ia mengambil napas panjang, menelan sisa-sisa isak tangis di tenggorokannya. Mengingat nasehat Rayyan tentang kesabaran, ia bergumam pelan, mengucapkan ayat yang sering dibacakan suaminya. "Innama yuwaffash shabiruna ajrahum bighairi hisab... Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas."
Mulai hari ini, rutinitas akan berubah. Jika selama ini Rayyan yang menuntunnya berjalan ke masjid, maka kini Amara yang akan menjadi tongkatnya. Jika kelak Rayyan lupa cara merapal doa, maka Amara yang akan membisikkannya di telinga suaminya. Ia akan melawan penyakit ini bersama Rayyan, bukan dengan harapan muluk akan sebuah mukjizat kesembuhan yang mustahil, melainkan dengan penerimaan yang lapang dada.
Ia merapikan kerudungnya, mematikan lampu kamar mandi, dan melangkah keluar menuju kamar. Ia duduk di tepi ranjang, menatap wajah suaminya yang tertidur dengan dahi berkerut menahan nyeri. Amara meraih tangan kanan Rayyan, mencium punggung tangan itu lama sekali.
"Aku nggak akan lari ke mana-mana, Yan," bisik Amara di dekat telinga suaminya. "Aku bakal jadi perawat terbaik buat kamu. Kita lewati ini sama-sama, sampai waktu kamu benar-benar habis."
Badai telah resmi masuk ke dalam rumah tangga mereka. Dan Amara, dengan segala sisa kekuatan dari iman yang baru seumur jagung, memilih untuk berdiri di garis depan, merentangkan tangan, dan memeluk badai itu erat-erat.
Other Stories
Dante Fairy Tale
“Dante! Ayo bangun, Sayang. Kamu bisa terlambat ke sekolah!” kata seorang wanita ge ...
Misteri Kursi Goyang
Rumah tua itu terasa hangat, sampai kursi goyang mewah dari tetangga itu datang. Saretha d ...
Eksperimen Kuasa
Sepuluh hari di pulau terpencil. Sekelompok mahasiswa-aktivis antikorupsi dibagi secara ac ...
Bukan Cinta Sempurna
Pesona kepintarannya terpancar dengan jelas, rambut sebahunya yang biasanya dikucir ekor ...
Jogja With You
Tertinggal kereta mungkin tidak selamanya menjadi hal buruk. Mungkin Tuhan mau kamu bertem ...
Keikhlasan Cinta
6 tahun Hasrul pergi dari keluarganya, setelah dia kembali dia dipertemukan kembali dengan ...