Bab 7: Dalam Dekapan Sunyi
Ada sebuah keheningan yang berbeda yang menyelimuti apartemen itu belakangan ini. Bukan keheningan yang damai seperti saat mereka baru menikah, melainkan keheningan yang mencekam, seolah-olah setiap sudut ruangan sedang menahan napas, menunggu sesuatu yang tak terelakkan. Rayyan kini sudah tidak mampu lagi duduk di kursi roda. Seluruh dunianya kini terbatas pada kasur empuk dengan seprai berwarna biru muda yang selalu diganti Amara setiap pagi agar tetap harum.
Penyakit itu kini telah merampas kemampuan motorik Rayyan hampir sepenuhnya. Ia sulit menggerakkan tangan, dan suaranya hanya terdengar seperti embusan angin yang membentuk suku kata tak sempurna. Namun, Amara telah menjadi ahli dalam bahasa kalbu. Ia tahu arti dari setiap kerutan dahi, setiap kedipan mata, dan setiap tarikan napas suaminya.
Pagi itu, Amara sedang membersihkan wajah Rayyan dengan handuk hangat. Ia melakukannya dengan gerakan yang sangat lembut, seolah-olah ia sedang menyentuh porselen yang paling mahal di dunia.
"Nah, sudah segar sekarang," ucap Amara sambil tersenyum, meski hatinya terasa nyeri melihat betapa tirusnya pipi laki-laki yang ia puja itu.
"Hari ini udaranya bagus, Yan. Burung-burung di luar jendela berisik sekali, mungkin mereka juga mau titip salam buat kamu."
Rayyan menatap Amara. Matanya yang sayu bergerak pelan mengikuti gerakan Amara. Bibirnya bergerak-gerak, mencoba mengatakan sesuatu. Amara mendekatkan telinganya ke bibir Rayyan.
"A... ma... ra..." bisik Rayyan, nyaris tak terdengar.
"Iya, Sayang. Aku di sini. Aku nggak ke mana-mana," sahut Amara sambil menggenggam tangan Rayyan yang kini terasa sangat ringan.
"Ngaji..."
Amara mengerti. Rayyan rindu mendengarkan ayat-ayat suci. Meskipun ingatannya sering timbul tenggelam, kecintaannya pada Al-Qur'an tampaknya sudah terpatri begitu dalam di jiwanya sehingga tumor itu tak mampu menghapusnya. Amara mengambil Al-Qur'an kecil miliknya, duduk bersila di samping ranjang, dan mulai melantunkan Surah Yasin.
Suara Amara kini sudah tidak segugup dulu. Ia telah menghabiskan banyak malam untuk belajar, demi bisa membacakannya untuk Rayyan. Saat ia sampai pada ayat-ayat tentang kebesaran Allah, ia melihat air mata mengalir dari sudut mata Rayyan. Bukan air mata kesakitan, melainkan air mata kerinduan akan perjumpaan dengan Sang Pencipta.
Di tengah perjuangan merawat Rayyan, sebuah ujian datang dari dunia luar. Pintu apartemen diketuk dengan keras di siang hari yang terik.
Saat dibuka, Amara terkejut melihat Riko dan dua teman lamanya berdiri di sana. Mereka tampak seperti makhluk dari planet lain bagi Amara sekarang—dengan pakaian mencolok dan aroma alkohol serta rokok yang langsung menyeruak masuk.
"Wah, beneran jadi Ibu Hajah sekarang si Mara," ejek Riko sambil mencoba masuk tanpa izin.
"Mana si ustad itu? Katanya lagi sekarat ya? Makanya, Mara, kalau milih laki itu yang bisa kasih lu kesenangan, bukan yang cuma kasih lu beban."
Darah Amara mendidih. Amarah yang dulu sering meledak-ledak sempat bangkit sesaat. Namun, ia melihat ke arah kamar, tempat Rayyan sedang beristirahat. Ia teringat betapa Rayyan selalu membalas keburukan dengan kelembutan.
"Riko, mending kalian pergi," suara Amara rendah namun penuh otoritas. "Gue nggak punya waktu buat omong kosong kalian. Laki-laki yang lo ejek itu adalah orang yang udah nyelamatin gue dari kehancuran yang kalian banggain."
"Halah! Jangan sok suci, Mara! Lo itu milik dunia malam, bukan milik sajadah," tawa Riko meledak.
Amara menatap mata Riko dengan tajam. "Gue nggak pernah merasa sebersih sekarang, Ko. Dan laki-laki di dalam sana, dia lebih laki daripada kalian semua digabungin. Dia nggak pernah ninggalin gue, bahkan di saat dia sendiri lagi berjuang buat hidup. Sekarang, tolong pergi atau gue panggil keamanan."
Melihat ketegasan Amara yang berbeda dari "Amara yang lama", Riko dan teman-temannya akhirnya pergi sambil menggerutu. Amara menutup pintu dan menyandarkan tubuhnya di sana. Ia menarik napas panjang. Ia menyadari satu hal: ia tidak lagi tergoda dengan kehidupan lamanya. Godaan itu terasa hambar, bahkan menjijikkan. Hidayah yang ditanamkan Rayyan telah tumbuh menjadi pohon yang akarnya menghujam kuat ke dalam hatinya.
Kondisi Rayyan semakin kritis malam itu. Napasnya mulai terdengar berat, sebuah tanda yang sering disebut oleh para medis sebagai death rattle. Amara tidak tidur sedetik pun. Ia duduk di samping Rayyan, mengusap telapak tangannya, dan terus membisikkan doa-doa yang ia hafal.
Setiap kali Rayyan tampak gelisah, Amara akan membisikkan kalimat tauhid. "Lailahaillallah... Lailahaillallah..."
Tiba-tiba, Rayyan membuka matanya lebar-lebar. Kesadarannya seolah kembali secara penuh untuk sekejap. Ia menatap Amara dengan tatapan yang jernih, seperti Rayyan yang pertama kali Amara temui di perpustakaan.
"Mara..." suaranya terdengar lebih jelas dari biasanya, meski sangat lirih.
"Iya, Yan? Aku di sini," Amara mendekat, hatinya berdegup kencang.
"Terima kasih..." Rayyan tersenyum tipis. "Terima kasih sudah bertahan. Kamu... kamu adalah hidayah terindah yang Allah titipkan buat aku."
"Aku yang makasih, Yan. Kamu yang bawa aku pulang," isak Amara, air matanya tak lagi bisa dibendung.
"Janji satu hal..." Rayyan mengambil napas pendek. "Jangan pernah... berhenti belajar. Syurga itu... nyata, Mara. Aku tunggu... di sana."
Setelah mengucapkan kalimat itu, mata Rayyan perlahan meredup kembali. Ia masuk ke dalam fase tidur yang dalam, namun tangannya tetap menggenggam jari-jari Amara dengan sisa tenaga yang ada.
Amara menyadari bahwa waktu perpisahan itu semakin dekat. Ia mulai mengemasi beberapa barang Rayyan, menyumbangkan buku-buku perpustakaan pribadi suaminya ke masjid terdekat, sesuai wasiat tertulis yang pernah dibuat Rayyan saat ia baru didiagnosis.
Setiap kali ia melihat buku-buku itu, ia teringat bagaimana Rayyan sangat mencintai ilmu.
Amara berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan melanjutkan perjuangan Rayyan. Jika Rayyan tidak lagi bisa mengajar anak-anak jalanan, maka dialah yang akan melakukannya.
Ia menelepon Ayahnya, meminta maaf atas segala kesalahannya di masa lalu dan memberi tahu kondisi Rayyan. Sang Ayah, yang tersentuh melihat perubahan drastis putrinya, berjanji akan datang dan membantu segala keperluan medis yang tersisa.
"Pa," ucap Amara di telepon. "Ternyata bener kata Rayyan. Kebahagiaan itu bukan soal berapa banyak yang kita punya, tapi seberapa tenang hati kita saat menerima apa yang Allah kasih."
Malam itu, Amara tidur di samping ranjang Rayyan, memegang tangan suaminya. Ia memimpikan sebuah taman yang sangat luas dengan sungai yang mengalir jernih. Di sana, ia melihat Rayyan sedang berdiri dengan pakaian putih bersih, tampak sehat dan bercahaya.
Rayyan melambaikan tangan ke arahnya, namun tidak mendekat. Ia hanya menunjuk ke arah langit, seolah memberi tahu bahwa di sanalah tujuan akhir mereka.
Amara terbangun dengan perasaan tenang yang luar biasa. Ia menatap wajah suaminya yang sedang tertidur. Meskipun kematian mengintai, Amara tidak lagi merasa takut. Ia merasa bersyukur karena telah diberikan kesempatan untuk mencintai dan dicintai oleh seorang hamba Allah sesaleh Rayyan.
"Aku siap, Yan," bisik Amara sambil mencium kening Rayyan yang dingin. "Kapan pun Allah mau jemput kamu, aku sudah ikhlas. Karena aku tahu, kamu cuma pulang lebih dulu untuk nyiapin tempat buat aku."
Other Stories
Way Back To Love
Karena cinta, kebahagiaan, dan kesedihan datang silih berganti mewarnai langkah hidup ki ...
Mauren Lupakan Masa Lalu
Mauren menolak urusan cinta karena trauma keluarga dan nyaman dengan tampilannya yang mask ...
Kehidupan Yang Sebelumnya
Aku menunggu kereta yang akan membawaku pulang. Masih lama sepertinya. Udara dingin yang b ...
Test
Test ...
After Meet You
kacamata hitam milik pria itu berkilat tertimpa cahaya keemasan, sang mata dewa nyaris t ...
Love Of The Death
Cowok itu tak berani menatap wajah gadis di sampingnya. Pandangannya masih menatap pada ...