Cahaya Di Ujung Mihrab

Reads
11
Votes
0
Parts
14
Vote
Report
Cahaya di ujung mihrab
Cahaya Di Ujung Mihrab
Penulis Matchaa

Bab 5: Gugur Daun Di Musim Gugur


Waktu tidak lagi dihitung berdasarkan putaran jarum jam di dinding apartemen mereka, melainkan dari jadwal minum obat Rayyan. Tiga minggu telah berlalu sejak Amara membuka laci kayu yang mengubah takdirnya. Dalam tiga minggu itu pula, Amara belajar lebih banyak tentang keikhlasan daripada yang ia pelajari seumur hidupnya.

Rutinitas pagi yang dulu dipenuhi dengan aroma masakan kini bercampur dengan bau tajam antiseptik dan obat-obatan. Amara mencatat setiap miligram pil yang masuk ke tubuh suaminya dalam sebuah buku kecil. Ia belajar membedakan mana obat untuk meredakan tekanan di otak, mana anti-kejang, dan mana pereda nyeri tingkat tinggi.

Dulu, Amara tidak pernah bisa bangun sebelum matahari bersinar terik. Kini, alarm tubuhnya tersetel otomatis pada pukul tiga pagi. Bukan untuk bersiap pulang dari klub malam seperti dulu, melainkan untuk merebus air hangat, membasuh tubuh suaminya yang sering kali basah oleh keringat dingin akibat menahan sakit sepanjang malam.

"Mara," panggil Rayyan dengan suara parau suatu pagi, saat Amara sedang mengancingkan kemeja kokonya. "Maafkan aku. Tanganmu yang seharusnya memegang buku atau merias wajah, sekarang harus sibuk mengurus laki-laki penyakitan sepertiku."

Amara menghentikan gerakan tangannya. Ia menatap wajah Rayyan yang semakin tirus. Mata laki-laki itu mulai kehilangan binarnya, tertutup selaput kelelahan yang tak berujung. Amara tersenyum lembut, sebuah senyum yang ia latih berhari-hari di depan cermin agar tidak terlihat menyedihkan di depan suaminya.

"Tangan ini dulu dipakai buat pegang gelas minuman keras, Yan," jawab Amara pelan namun mantap. "Sekarang, Allah kasih kesempatan buat tangan ini nyari pahala dengan ngurusin suami. Kamu pikir aku rugi? Aku malah untung besar."

Rayyan terkekeh pelan, meski tawa itu diakhiri dengan ringisan tertahan saat kepalanya kembali berdenyut. "Kamu semakin pintar menjawab, ya."

"Kan gurunya kamu," balas Amara sambil merapikan kerah baju Rayyan. "Yuk, wudu. Sebentar lagi subuh."


Pagi itu, udara Jakarta terasa lebih dingin dari biasanya. Rayyan bersikeras untuk tetap mengimami salat Subuh, meskipun Amara sudah menyarankan agar ia salat sambil duduk di kursi.

"Selama kakiku masih bisa menopang, aku ingin berdiri di depanmu, Mara," kata Rayyan bersikeras. Amara akhirnya mengalah, menggelar sajadah mereka berdekatan agar ia bisa berjaga-jaga.

Salat dimulai dengan khusyuk. Suara Rayyan melantunkan surah Al-Baqarah terdengar syahdu, menggetarkan hati Amara seperti biasa. Namun, saat memasuki rakaat kedua, tepat setelah membaca Al-Fatihah, suara Rayyan tiba-tiba terhenti.

Keheningan menyelimuti ruangan itu selama beberapa detik yang terasa seperti selamanya. Amara, yang berada di belakangnya, menahan napas. Ia menunggu.

"Yan?" bisik Amara dalam hati, tidak berani merusak keheningan salat.

Tiba-tiba, tubuh Rayyan bergetar hebat. Buku-buku jari tangan kanannya yang terlipat di depan dada tampak memutih karena mencengkeram kain kemejanya terlalu kuat. Sebelum Amara sempat bereaksi, kaki kanan Rayyan kehilangan tenaga. Laki-laki itu rubuh ke sisi kanan, menghantam lantai dengan suara berdebum yang mengerikan.

"Astaghfirullah! Rayyan!" Amara membatalkan salatnya seketika. Ia menghambur ke arah suaminya.

Mata Rayyan mendelik ke atas, tubuhnya kejang-kejang tak terkendali. Mulutnya mengeluarkan suara erangan yang tertahan, sementara napasnya tersengal. Ini adalah kejang pertama yang disaksikan Amara dengan mata kepalanya sendiri. Kepanikan luar biasa menyergapnya. Jantungnya berpacu gila-gilaan, tangannya gemetar hebat.

"Yan! Ya Allah, Yan! Sadar, Yan!" Amara menangis histeris. Ia mencoba memeluk kepala suaminya, melindunginya agar tidak terus-menerus terbentur lantai ubin yang keras.

Ia teringat pesan Dokter Andi. Miringkan tubuhnya, jauhkan benda berbahaya, dan jangan masukkan apa pun ke mulutnya. Dengan sisa tenaga yang ia miliki, Amara memiringkan tubuh Rayyan yang kaku. Ia menyelipkan bantal sofa di bawah kepala suaminya. Air matanya menetes deras membasahi wajah Rayyan. Ia terus membisikkan kalimat Lailahaillallah di telinga suaminya, berharap suara itu bisa menembus kekacauan di dalam saraf otak Rayyan.

Dua menit berlalu, namun bagi Amara rasanya seperti berjam-jam. Perlahan, kejang itu mereda. Napas Rayyan masih memburu, matanya setengah terpejam, dan ia terlihat sangat kebingungan. Seluruh tubuhnya lemas tak berdaya.

"Mara..." bisik Rayyan parau, tatapannya kosong. "Aku... aku di mana? Kenapa aku jatuh?"

Pertanyaan itu menghancurkan pertahanan Amara. Tumor itu mulai merampas kesadaran suaminya. Amara memeluk dada Rayyan erat-erat, menyembunyikan isak tangisnya di perpotongan leher suaminya.

"Kamu di rumah, Yan. Di atas sajadah. Sama aku," jawab Amara terisak. "Kamu nggak apa-apa. Kamu cuma capek. Aku di sini, Yan. Aku di sini."

Rayyan perlahan mengangkat tangan kirinya yang masih bisa digerakkan, mengusap punggung Amara yang berguncang. "Maafkan aku, Mara... Salatnya... rakaatnya belum selesai..."

"Nggak apa-apa, Yan. Nggak apa-apa. Allah ngerti. Allah maha ngerti," tangis Amara semakin pecah mendengar suaminya masih memikirkan salat di tengah kondisi seperti itu.


Siang harinya, setelah Rayyan tertidur pulas akibat pengaruh obat penenang pasca-kejang, terdengar ketukan pelan di pintu apartemen. Amara, yang sedang menyetrika baju, bergegas membukanya agar suara ketukan tidak membangunkan suaminya.

Di depan pintu, berdiri seorang anak laki-laki berusia sekitar sepuluh tahun. Ia mengenakan seragam pramuka yang sedikit lusuh, membawa sebuah kotak makan plastik. Amara mengenalinya. Itu Dika, salah satu anak jalanan yang sering diajari membaca oleh Rayyan di pelataran perpustakaan.

"Eh, Dika. Ada apa, Dek?" sapa Amara, berusaha melembutkan suaranya dan menyembunyikan mata sembabnya.

"Kak Amara, Kak Rayyan ada? Udah tiga minggu Kak Rayyan nggak ke perpus. Kata Pak RT, Kak Rayyan sakit. Ini... ibunya Dika bikin kue bolu buat Kak Rayyan, biar cepat sembuh," ucap Dika polos, menyodorkan kotak plastik itu.

Hati Amara terasa diremas. Ia mengambil kotak itu dengan tangan bergetar. "Makasih banyak ya, Dika. Salam buat ibu. Kak Rayyan memang lagi sakit, butuh banyak istirahat. Jadi belum bisa ngajar dulu."

"Kak Rayyan sakit apa, Kak? Kapan sembuhnya? Teman-teman pada kangen didongengin kisah Nabi," tanya Dika lagi, matanya penuh harap.

Pertanyaan sederhana itu memaksa Amara menelan ludah yang terasa seperti duri. Kapan sembuhnya? Amara sendiri ingin meneriakkan pertanyaan itu kepada langit.

"Dika doain Kak Rayyan aja ya setiap habis salat. Minta sama Allah biar Kak Rayyan nggak sakit lagi. Dika anak baik, doanya pasti didengar Allah," Amara tersenyum pahit, menahan air matanya agar tidak jatuh di depan anak kecil itu.

Dika mengangguk semangat. "Pasti, Kak! Nanti kalau udah sembuh, kasih tahu Dika ya. Dika pamit dulu, Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam."

Amara menutup pintu perlahan. Ia bersandar di balik pintu kayu itu, memeluk kotak bolu pemberian Dika, dan membiarkan tubuhnya merosot ke lantai. Ia menangis tanpa suara.

Rayyan bukan hanya miliknya; laki-laki itu adalah cahaya bagi banyak orang di luar sana. Dan cahaya itu kini perlahan-lahan sedang ditiup oleh takdir.


Malam merangkak larut. Jam menunjukkan pukul dua dini hari. Rayyan tidur dengan napas yang berat, sesekali merintih dalam tidurnya.

Amara beranjak dari kasur. Ia mengambil air wudu, air dingin membasuh wajahnya yang lelah. Ia menggelar sajadahnya di sudut kamar, sengaja agak jauh dari ranjang agar tangisannya tidak membangunkan Rayyan.

Untuk pertama kalinya sejak ia belajar salat, Amara berdiri tegak menunaikan salat Tahajud sendirian. Tidak ada punggung kokoh yang menjadi panduannya di depan. Tidak ada suara berat yang melantunkan ayat suci. Ia harus mengeja surah-surah pendek itu dengan suaranya sendiri, yang terus-menerus patah oleh isak tangis.

Di sujud terakhirnya, Amara menumpahkan segalanya. Kepalanya menyentuh bumi, sementara hatinya mengetuk pintu langit.

"Ya Allah... Engkau yang membolak-balikkan hati, Engkau yang memberiku hidayah melalui tangannya. Jika memang rasa sakit ini adalah cara-Mu membersihkan dosanya, maka aku mohon, bagilah rasa sakit itu denganku. Jangan biarkan dia menanggungnya sendirian, ya Rabb. Dan jika... jika waktunya memang sudah dekat, kuatkan pundakku. Jangan biarkan imanku ikut mati saat napasnya terhenti..."

Malam itu, Amara menyadari bahwa hijrahnya telah naik kelas. Ia tidak lagi beribadah karena malu pada Rayyan, atau karena ingin dipuji suaminya. Ia bersujud murni karena ia menyadari betapa lemah dan tak berdayanya ia sebagai manusia tanpa pertolongan dari Yang Maha Kuasa.



Other Stories
Suffer Alone In Emptiness

Shiona Prameswari, siswi pendiam kelas XI IPA 3, tampak polos dan penyendiri. Namun tiap p ...

Hellend ( Noni Belanda )

Sudah sering Pak Kasman bermimpi tentang hantu perempuan bergaun zaman kolonial yang terus ...

Pada Langit Yang Tak Berbintang

Langit memendam cinta pada Kirana, sahabatnya, tapi justru membantu Kirana berpacaran deng ...

Rindu Yang Tumbuh Jadi Monster

Adrian nggak pernah nyangka, jatuh cinta bisa berawal dari hal sesederhana ngeliat cewek n ...

Kisah Cinta Super Hero

cahyo, harus merelakan masa mudanya untuk menjaga kotanya dari mutan saat dirinya menjadi ...

DI BAWAH PANJI DIPONEGORO

Damar, seorang Petani, terpanggil untuk berjuang mengusir penjajah Belanda dari tanah airn ...

Download Titik & Koma