Cahaya Di Ujung Mihrab

Reads
13
Votes
0
Parts
14
Vote
Report
Cahaya di ujung mihrab
Cahaya Di Ujung Mihrab
Penulis Matchaa

Bab 6: Memori Yang Tercecer


Ada jenis kesedihan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata, yaitu ketika kamu menatap mata orang yang paling kamu cintai, namun kamu menyadari bahwa di balik mata itu, ia sedang kehilangan arah. Bagi Amara, fase ini jauh lebih menyakitkan daripada melihat Rayyan kejang. Kejang adalah serangan fisik, tapi kehilangan ingatan adalah serangan terhadap jiwa.

Satu bulan telah berlalu sejak insiden kejang di waktu Subuh. Kondisi Rayyan menurun drastis.

Ia kini lebih banyak menghabiskan waktu di tempat tidur atau kursi roda yang baru saja dibeli Amara dari hasil menjual beberapa perhiasan lamanya. Tubuh Rayyan yang dulu tegap kini tampak layu, seperti daun yang kehilangan asupan air. Namun, yang paling menakutkan bagi Amara adalah tatapan mata Rayyan yang sering kali kosong, seolah jiwanya sedang bertamasya ke tempat yang jauh dan lupa jalan pulang.

Pagi itu, matahari masuk melalui celah gorden, menyinari butiran debu yang menari di udara. Amara datang membawa nampan berisi bubur gandum dan segelas air hangat.

"Selamat pagi, Sayang," sapa Amara ceria, suara yang selalu ia usahakan tetap stabil meski hatinya hancur berkeping-keping. "Hari ini kita makan bubur gandum pakai madu ya, kesukaan kamu."

Rayyan menoleh perlahan. Ia menatap Amara cukup lama. Tidak ada senyum yang biasanya langsung merekah di bibirnya. Hanya kerutan di dahi, seolah ia sedang mencoba memecahkan teka-teki yang sangat sulit.

"Terima kasih..." Rayyan menggantung

kalimatnya. Ia terdiam sebentar, lalu bertanya dengan suara yang sangat pelan, "Maaf... kamu siapa, ya? Apakah kamu perawat baru yang dikirim rumah sakit?"

Prang!

Nampan di tangan Amara hampir saja jatuh. Dadanya terasa seperti dihantam godam raksasa. Napasnya tercekat di tenggorokan. Ini dia. Momen yang paling ia takuti selama ini benar-benar terjadi. Rayyan melupakannya.
Amara menelan ludah yang terasa seperti menelan kerikil tajam. Ia menarik napas panjang, mencoba menahan air mata yang sudah mendesak di pelupuk mata. Ia duduk di tepi ranjang, meraih tangan Rayyan yang terasa dingin dan kaku.

"Aku Amara, Yan. Istri kamu," suara Amara bergetar namun penuh kelembutan. "Masa lupa sih? Aku makmum kamu yang paling bandel, yang dulu kamu ajarin Al-Fatihah sambil sabar banget itu."

Rayyan mengernyitkan dahi. Ia menatap tangan Amara yang menggenggam tangannya, lalu kembali menatap wajah Amara. "Amara... Istri?" Ia mengulang kata itu berkali-kali, seolah mencoba mencicipi rasanya di lidah. "Ah, ya... Amara. Nama yang indah. Maafkan aku, kepalaku rasanya sangat penuh dan berisik, sampai aku sulit mencari namamu di sana."

Amara tersenyum pahit. Ia menyuapkan sesendok bubur ke mulut Rayyan. "Nggak apa-apa, Yan. Kalau kamu lupa, aku yang bakal ingetin setiap hari. Aku bakal jadi memori kamu."


Sepanjang hari itu, Amara melakukan apa yang ia janjikan. Ia membawa album foto pernikahan mereka yang sederhana. Ia menunjukkan foto-foto saat mereka duduk di perpustakaan tua, saat Rayyan membimbingnya membaca Al-Qur'an untuk pertama kali.

"Lihat ini, Yan. Ini waktu aku pertama kali pakai hijab. Kamu bilang aku mirip bidadari yang kesasar di Bumi, inget nggak?" Amara tertawa kecil, meski matanya berkaca-kaca.

Rayyan menatap foto itu, lalu tersenyum tipis. "Aku... aku ingat perasaan ini. Rasanya sangat damai."

Namun, kedamaian itu hanya bertahan sebentar. Menjelang siang, Rayyan tiba-tiba panik. Ia mencoba bangun dari tempat tidurnya dengan tenaga yang tersisa, hampir saja terjatuh jika Amara tidak sigap menangkapnya.

"Aku harus pergi! Aku harus ke perpustakaan!" teriak Rayyan cemas. "Dika dan teman-temannya sudah menunggu. Aku belum menyiapkan cerita tentang Nabi Yunus! Mereka akan kecewa, Mara! Di mana tas kerjaku?"

"Yan, tenang... tenang sayang," Amara memeluk suaminya erat, menahan tubuh Rayyan yang meronta. "Ini sudah jam satu siang. Dika sudah pulang. Besok saja ya? Kamu lagi kurang sehat."

"Tidak! Aku tidak boleh malas! Allah tidak suka orang yang menyia-nyiakan amanah!" Rayyan terus meracau. Penyakit itu menyerang bagian lobus frontalnya, membuat emosinya menjadi labil dan sulit dikendalikan.

Amara terus mendekapnya, membisikkan salawat di telinga suaminya hingga perlahan-lahan rontaan Rayyan melemah. Rayyan akhirnya menangis di bahu Amara, tangis yang sangat memilukan seperti anak kecil yang kehilangan arah.

"Mara... kenapa kepalaku seperti ini? Kenapa semuanya hilang?" rintihnya di sela isak tangis.

"Ini cuma ujian, Yan. Allah lagi sayang banget sama kamu. Dia mau kamu istirahat sebentar saja dari urusan dunia," bisik Amara, sambil mengusap punggung suaminya yang kian kurus.
Ujian Kesabaran yang Sesungguhnya
Pernah suatu malam, Rayyan terbangun dan berteriak ketakutan karena ia merasa berada di tempat asing. Ia bahkan tidak mengenali apartemen mereka. Ia mengira Amara adalah orang jahat yang menculiknya.

"Pergi! Jangan dekati aku!" teriak Rayyan sambil melemparkan bantal ke arah Amara.

Amara berdiri di sudut kamar, hanya bisa menangis diam-diam. Ia tidak boleh marah. Ia tahu itu bukan Rayyan yang asli. Itu adalah efek dari tumor yang menekan saraf-saraf memorinya. Ia teringat nasehat Rayyan dulu:

"Sabar itu tidak ada batasnya, Mara. Kalau ada batasnya, namanya bukan sabar, tapi bertahan."
Kini, Amara sedang mempraktikkan "sabar" dalam level yang paling ekstrem. Ia harus menelan egonya, menahan sakit hatinya saat dipandang dengan penuh curiga oleh suaminya sendiri, dan tetap memberikan pelayanan terbaik.

Ia mengambil wudu, lalu kembali ke sisi Rayyan. Ia tidak mendekat, ia hanya duduk di lantai dekat ranjang, lalu mulai melantunkan surah Ar-Rahman dengan suara yang lembut.

Suara Amara yang terbata-bata—karena ia sendiri masih dalam tahap belajar—ternyata menjadi obat penenang yang paling ampuh. Perlahan, napas Rayyan yang memburu mulai teratur. Tatapan matanya yang liar mulai melunak. Ia menatap Amara yang sedang mengaji di bawah temaram lampu tidur.

"Fabiayyi aalaai rabbikuma tukadzdziban..."
Rayyan perlahan menurunkan bantal yang ia peluk. "Suara itu... suara itu yang selalu aku dengar di mimpiku," bisiknya lirih.

Amara menghentikan bacaannya, menatap Rayyan dengan penuh cinta. "Itu surah favorit kamu, Yan. Kamu yang ngajarin aku."

Rayyan mengulurkan tangannya yang gemetar. Amara menyambutnya, mencium punggung tangan suaminya itu.

"Mara... maafkan aku ya? Aku sering menyakitimu belakangan ini, kan?" tanya Rayyan, seolah-olah kesadarannya kembali sejenak ke permukaan.

"Nggak pernah, Yan. Kamu nggak pernah nyakitin aku," bohong Amara demi menenangkan hati suaminya.


Di tengah badai yang melanda, Amara menemukan kekuatan baru. Ia menyadari bahwa imannya bukan lagi sekadar mengikuti Rayyan. Ia mulai menemukan hubungannya sendiri dengan Allah. Di saat ia tidak bisa bersandar pada suaminya, ia dipaksa untuk bersandar sepenuhnya pada Sang Pencipta.

Setiap kali ia merasa lelah, ia teringat wajah anak-anak jalanan yang menanyakan kabar Rayyan. Ia teringat bagaimana Rayyan menyelamatkannya dari lembah hitam.

"Kalau dulu kamu yang bawa senter buat aku, sekarang biar aku yang jadi lilin kecil di kamar ini, Yan," gumam Amara saat ia sedang mencuci baju-baju Rayyan di tengah malam.

Ia mulai belajar menuliskan hal-hal penting di sebuah papan tulis putih besar yang ia pasang di depan tempat tidur Rayyan.
* Nama Istri: Amara (Sangat Mencintaimu)
* Kita di Rumah Kita Sendiri
* Kamu Sedang Sakit, Tapi Allah Selalu Menjaga
* Hari Ini Adalah Hari Yang Berkah

Setiap kali Rayyan bangun dan kebingungan, Amara akan menunjuk ke papan tulis itu. Cara sederhana ini perlahan membantu Rayyan untuk tetap "membumi" di tengah kekacauan memorinya.

Namun, fisik Rayyan tidak bisa berbohong. Ia mulai sulit untuk menelan makanan padat. Suaranya kian menghilang, menyisakan bisikan-bisikan yang hanya bisa dimengerti oleh Amara yang selalu setia berada di sampingnya. Dokter Andi yang datang berkunjung dua hari sekali hanya bisa menggelengkan kepala pelan, memberikan tanda bahwa waktu yang tersisa mungkin tinggal hitungan minggu, atau bahkan hari.

Amara tahu itu. Ia bisa melihat ajal yang kian mendekat di setiap helaan napas Rayyan yang berat. Namun, ia tidak lagi merasa takut seperti dulu. Ada sebuah kedamaian yang aneh yang menyelimuti hatinya—sebuah penerimaan bahwa setiap yang bernyawa pasti akan kembali.

"Yan," bisik Amara suatu sore saat ia sedang menyisir rambut Rayyan yang mulai rontok akibat efek obat. "Kalau nanti kamu ketemu Allah duluan, ceritain ya kalau Amara udah berusaha jadi murid yang baik. Bilangin kalau Amara nggak akan balik lagi ke jalan yang gelap itu."

Rayyan tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya meremas tangan Amara pelan, dan sebuah air mata jatuh dari sudut matanya yang sayu. Sebuah jawaban yang lebih dari cukup bagi Amara.

Perjuangan mereka kini memasuki fase paling akhir. Bukan lagi perjuangan untuk sembuh, melainkan perjuangan untuk mengakhiri segalanya dengan husnul khatimah.




Other Stories
Death Cafe

Sakti terdiam sejenak. Baginya hantu gentayangan tidak ada. Itu hanya ulah manusia usil ...

Bisikan Lada

Tiga pemuda nekat melanggar larangan sesepuh demi membuktikan mitos, namun justru mengalam ...

Langit Di Atas Warteg Bu Sari

hari libur kita ngapain yaa ...

Balada Cinta Kamaliah

Badannya jungkir balik di udara dan akhirnya menyentuh tanah. Sebuah bambu ukuran satu m ...

Awan Favorit Mamah

Hidup bukanlah perjalanan yang mudah bagi Mamah. Sejak kecil ia tumbuh tanpa kepastian sia ...

Impianku

ini adalah sebuah cerita tentang impianku yang tertunda selama 10 tahun ...

Download Titik & Koma