Cahaya Di Ujung Mihrab

Reads
37
Votes
0
Parts
14
Vote
Report
Cahaya di ujung mihrab
Cahaya Di Ujung Mihrab
Penulis Matchaa

Bab 8: Di Ambang Senja


Ada sebuah pepatah yang mengatakan bahwa waktu akan terasa berjalan sangat lambat bagi mereka yang sedang menunggu, namun terasa sangat cepat bagi mereka yang sedang mencintai. Bagi Amara, setiap detik saat ini terasa seperti tarikan napas yang berat. Ia seolah sedang berdiri di peron stasiun, melihat kereta yang membawa separuh jiwanya perlahan mulai bergerak meninggalkan peron, dan ia tidak punya kuasa untuk menghentikannya.

Pagi itu, apartemen mereka kedatangan tamu spesial. Dokter Andi datang bersama seorang perawat. Namun, berbeda dari biasanya, kali ini Dokter Andi tidak membawa banyak peralatan medis. Ia hanya membawa stetoskop dan raut wajah yang lebih tenang, namun juga lebih serius.

Setelah memeriksa Rayyan yang kini hanya bisa bernapas pendek-pendek dengan bantuan oksigen, Dokter Andi mengajak Amara bicara di balkon. Angin pagi berembus pelan, menerbangkan helai hijab Amara yang berwarna abu-abu pucat.

"Ibu Amara," suara Dokter Andi terdengar sangat hati-hati. "Kondisi Mas Rayyan sudah masuk dalam fase terminal. Fungsi organ-organnya mulai menurun secara sistematis. Saya rasa... ini saatnya Ibu fokus untuk terus berada di sampingnya. Tidak perlu lagi ada tindakan medis yang menyakitkan."

Amara terdiam. Meskipun ia sudah menyiapkan hatinya setiap hari, mendengar kalimat itu keluar secara resmi dari mulut seorang dokter tetap saja rasanya seperti ada lubang besar yang menganga di dadanya. "Maksud Dokter... dalam hitungan jam?"

Dokter Andi hanya menunduk pelan. "Hanya Allah yang tahu pastinya, Bu. Tapi secara medis, waktunya tidak akan lama lagi. Pastikan dia mendengar hal-hal yang baik. Indera pendengaran adalah indera terakhir yang berfungsi sebelum seseorang berpulang."

Amara mengangguk pelan. Ia tidak menangis sehebat dulu. Air matanya seolah sudah kering, berganti dengan ketabahan yang mengeras.

"Terima kasih, Dok. Terima kasih sudah membantu kami sejauh ini."

Setelah Dokter Andi pergi, Amara masuk kembali ke kamar. Ia melihat Rayyan yang tampak sangat tenang. Wajahnya yang tirus terlihat sangat bersih. Amara mengambil minyak zaitun dan mengoleskannya ke bibir Rayyan yang kering.

Tiba-tiba, mata Rayyan terbuka. Tatapannya tidak lagi kosong. Ada secercah kesadaran yang tajam di sana, meski tubuhnya sudah tidak bisa bergerak. Ia menatap ke arah meja di sudut kamar, tempat sebuah mushaf Al-Qur'an tua milik Rayyan tergeletak.

Amara mengerti. Ia mengambil mushaf itu, membawanya ke dekat Rayyan. "Kamu mau aku baca surah apa, Yan?"

Rayyan tidak bisa menjawab, namun matanya melirik ke arah sebuah tanda pembatas buku yang ia selipkan berbulan-bulan lalu. Amara membukanya. Itu adalah Surah Ar-Rahman.

Surah yang sama yang menjadi mahar pernikahan mereka. Surah yang sama yang Rayyan bacakan saat Amara menangis pertama kali karena merasa tidak layak menjadi wanita salihah.

Amara menarik napas panjang, mencoba menguasai suaranya agar tidak bergetar. Ia mulai membaca.

"Ar-Rahman... 'Allamal Qur'an... Khalaqal Insaan... 'Allamahul bayaan..."

Setiap ayat yang keluar dari bibir Amara terasa seperti siraman air dingin di tengah padang pasir. Rayyan memejamkan matanya, menikmati setiap harakat yang dibacakan istrinya. Amara melihat dada Rayyan naik turun dengan sangat perlahan, seolah ia sedang mencoba menyelaraskan detak jantungnya dengan ritme bacaan tersebut.

Saat sampai pada ayat "Fabiayyi aalaai rabbikuma tukadzdziban", Amara berhenti sejenak. Ia menggenggam tangan Rayyan. "Yan, terima kasih ya. Karena kamu, aku tahu arti ayat ini. Nikmat Tuhan mana yang aku dustakan? Memiliki kamu, meski sebentar, adalah nikmat terbesar dalam hidupku setelah hidayah-Nya."

Tangan Rayyan memberikan remasan yang sangat lemah, sebuah respon kecil yang membuat Amara tersenyum di tengah pedihnya.


Siang harinya, pintu apartemen diketuk pelan. Amara membukanya dan menemukan Dika serta beberapa anak jalanan lainnya berdiri di sana.

Mereka tidak lagi membawa kue, melainkan masing-masing membawa setangkai bunga melati yang tampaknya dipetik dari taman kota.

"Kak Amara, boleh kami lihat Kak Rayyan sebentar saja?" tanya Dika dengan mata yang berkaca-kaca. Rupanya kabar tentang kondisi Rayyan yang kritis sudah tersebar.

Amara sempat ragu, namun ia ingat betapa Rayyan mencintai anak-anak ini. Ia membiarkan mereka masuk satu per satu. Anak-anak itu berdiri mengelilingi tempat tidur Rayyan dengan khidmat.

"Kak Rayyan... ini Dika," bisik bocah itu di samping telinga Rayyan. "Dika udah bisa baca Surah Al-Ikhlas tanpa salah sekarang. Kak Rayyan cepat sembuh ya, nanti kita main lagi."

Mata Rayyan yang terpejam tampak bergerak-gerak di balik kelopaknya. Amara tahu suaminya mendengar. Satu per satu anak-anak itu membisikkan doa dan kata-kata perpisahan yang jujur. Sebelum mereka pergi, Amara memberikan mereka masing-masing sebuah buku cerita nabi dari rak buku Rayyan.

"Ini dari Kak Rayyan buat kalian. Dijaga ya, dibaca terus," ucap Amara.

Setelah anak-anak itu pergi, ruangan kembali sunyi. Namun sunyinya kini terasa lebih hangat, dipenuhi dengan doa-doa tulus dari jiwa-jiwa yang murni.


Menjelang waktu Maghrib, cuaca di luar tampak sangat cantik. Langit berwarna jingga kemerahan, matahari terbenam dengan perlahan di balik gedung-gedung tinggi Jakarta. Amara membuka gorden lebar-lebar agar Rayyan bisa melihat cahaya terakhir hari itu.

"Lihat, Yan. Langitnya bagus banget. Kamu selalu bilang, matahari terbenam itu pengingat kalau segala sesuatu ada akhirnya, tapi akhir itu bisa jadi sangat indah kalau kita sudah menyelesaikannya dengan baik," bisik Amara.

Napas Rayyan mulai berubah. Jeda antara satu tarikan napas dengan napas berikutnya semakin panjang. Amara tahu, ini adalah saatnya. Ia segera mengambil posisi di samping kepala Rayyan. Ia membisikkan kalimat paling suci ke telinga kanan suaminya.

"Yan... ikutin aku ya. Di dalam hati aja nggak apa-apa," Amara berusaha tegar, meski hatinya terasa seperti sedang diiris-iris. "Lailahaillallah... Lailahaillallah..."

Setiap kali Amara mengucapkan kalimat itu, ia melihat bibir Rayyan bergerak sedikit, seolah sedang mencoba mengikuti.

"Kamu sudah berjuang dengan hebat, Yan. Kamu sudah selesaikan tugas kamu buat nuntun aku. Sekarang, kamu boleh pulang. Allah sudah nunggu kamu. Jangan khawatir soal aku, aku bakal terus di jalan ini. Aku bakal jaga diri aku sampai kita ketemu lagi nanti."

Amara mencium kening Rayyan yang mulai mendingin. Air mata yang sejak pagi ia tahan akhirnya jatuh juga, menetes di pipi Rayyan.

Rayyan tiba-tiba membuka matanya untuk terakhir kali. Ia menatap Amara dengan tatapan yang sangat dalam, penuh dengan cinta, terima kasih, dan kedamaian. Ia mengembuskan satu napas panjang yang sangat lega, seolah semua beban di pundaknya baru saja diangkat. Setelah itu, tidak ada lagi tarikan napas berikutnya.

Ruangan itu mendadak menjadi sangat sunyi.
Amara masih menggenggam tangan Rayyan. Ia menunggu beberapa saat, berharap suaminya akan bernapas lagi. Namun, denyut nadi di pergelangan tangan Rayyan sudah tidak ada. Genggaman tangannya telah sepenuhnya lemas.
Rayyan telah pulang.

Amara terdiam cukup lama. Ia tidak menjerit. Ia tidak meraung. Ia hanya memeluk tubuh suaminya yang sudah tak bernyawa itu, menyembunyikan wajahnya di dada Rayyan yang sudah tidak lagi berdetak.

"Innalillahi wa inna ilaihi raji'un..." bisik Amara di sela isak tangisnya yang sunyi. "Selamat jalan, Imamku. Selamat beristirahat."

Di luar, azan Maghrib mulai berkumandang dari masjid-masjid sekitar. Suara panggilan Tuhan itu seolah mengiringi keberangkatan jiwa Rayyan menuju keabadian. Amara bangkit perlahan, mengusap sisa air matanya, dan menatap wajah Rayyan yang kini tampak sangat tenang dengan senyum tipis yang tersisa di bibirnya—senyum husnul khatimah.

Amara melangkah menuju jendela, menatap langit yang kini mulai gelap. Ia tahu, mulai malam ini, ia harus berjalan sendiri. Tapi ia juga tahu, ia tidak benar-benar sendiri. Ada Allah yang selalu menjaganya, dan ada memori tentang Rayyan yang akan selalu menjadi kompas dalam hidupnya.



Other Stories
Kucing Emas

Kara Swandara, siswi cerdas, mendadak terjebak di panggung istana Kerajaan Kucing, terikat ...

Blek Metal

Cerita ini telah pindah lapak. ...

Pesan Dari Hati

Riri hanya ingin kejujuran. Melihat Jo dan Sara masih mesra meski katanya sudah putus, ia ...

Lombok; Tanah Surga

Perjalanan ini bukan hanya perjalanan yang tidak pernah diduga akan terjadi. Tetapi menjad ...

Membabi Buta

Mariatin dan putrinya tinggal di rumah dua kakak beradik tua yang makin menunjukkan perila ...

Mereka Yang Tak Terlihat

Saras, anak indigo yang tak dipahami ibunya, hidup dalam pertentangan dan kehilangan. Saat ...

Download Titik & Koma