Aksara
Aska memiliki segalanya. Pakaian mahal, mainan bagus, orang tua lengkap yang bisa memenuhi semua yang ia inginkan, kamar rawat inap rumah sakit yang besarnya beberapa kali lipat dari kamar Kiara.
Kehidupan Aska tampak sempurna dimata si kembar Kiara dan Aksa, awalnya.
Kala itu, hari biasa dimana Kiara masih menjalani perawatan di rumah sakit. Aksa sedang berjalan-jalan di lorong rumah sakit bersama salah satu penjaga panti, namun tiba-tiba tersesat saat penjaga panti sibuk mengurus administrasi.
Hari itu, awal mula takdir yang mengubah jalan hidupnya.
“Aksara?”
Aksa menoleh ke arah salah satu perawat yang terlihat canggung dan panik saat melihatnya.
“Iya?”
“Kenapa bisa nyasar sampai disini, sudah dibilang jangan jauh-jauh.”
Beberapa saat kemudian perawat tersebut sudah menggandengnya dan membawanya ke sebuah kamar rawat inap yang tidak pernah dilihat Aksa sebelumnya. Kamar itu besar, besar sekali. Sofa di kamar itu bahkan masih lebih besar dari tempat tidur di kamar Kiara.
“Eh, saya kira..”
Perawat itu tertegun sejenak. Dihadapannya, tampak anak sebaya yang berpakaian hampir mirip dengan anak yang ia gandeng sedang duduk santai bermain mobil-mobilan diatas tempat tidur. Aksa juga sedikit takjub namun heran. Anak itu tampak tidak sakit sama sekali tapi bisa berada di kamar rawat inap dengan beberapa perawat yang tampak sigap menjaganya.
"Maaf, saya kira anak ini Aksara yang tersesat, karena tadi bilangnya mau jalan-jalan keluar.”
"Suster, namaku Aska. Askara bukan Aksara.”
Anak diatas tempat tidur itu mengonfirmasi. Salah seorang perawat lain yang terlihat lebih senior menggelengkan kepalanya.
"Lebih teliti lain kali. Bisa fatal," ucap perawat senior itu membuat perawat yang salah membawa anak itu mengangguk seraya kembali meminta maaf.
Perawat senior itu kemudian menatap Aksa.
“Dek, namamu siapa? Kenapa berjalan sendirian di rumah sakit?”
"Namaku Aksa. Aksara." Aksa menelan ludah. "Sebenarnya aku tersesat. Kukira suster tadi mau mengantarku."
"Namamu Aksara?”
Aska yang berada diatas tempat tidur langsung beranjak turun mendekati Aksa. Matanya membulat. “Nama kita hanya beda satu huruf. Aska dan Aksa. Seperti anak kembar!” ujarnya berbinar-binar.
Dan sejak saat itu, mereka mulai bersahabat. Aksa jadi sering mengunjungi Aska di kamar itu. Mulai terbiasa jika ada beberapa orang yang salah memanggil nama mereka. Sekilas selain nama mereka hampir mirip, mereka memang tampak serupa. Tinggi dan perawakan mereka hampir sama. Rambut mereka hitam legam. Mata mereka sama-sama hitam bulat. Aska bilang itu seperti takdir, karena dia tidak punya saudara.
“Aku punya kakak. Dia kembaranku, benar-benar kembar.”
Aksa akhirnya bercerita.
“Menarik. Kamu ada dua?” tanya Aska antusias.
Beberapa saat kemudian mereka berdua sudah berada di dalam kamar rawat inap Kiara. Aska takjub melihat banyak botol infus berisi cairan intravena. Ia sibuk bertanya kegunaan masing masing botol pada dokter yang kebetulan berada disitu. Kiara yang baru pertama melihatnya heran dan melempar kode pada Aksa.
Dia siapa? Aksa hanya menggeleng. Nanti saja.
“Aku mau jadi dokter.”
“Kenapa?”
Aska tersenyum yakin sebelum menjawab, ”Karena mereka hebat.”
Pandangan Aska beralih pada Kiara yang masih menatapnya bingung.
“Wah, kamu benar-benar ada dua.” Aska bergantian menatap Aksa dan Kiara. “Hai, Kiara. Aku Aska. Askara. Ayo kita berteman.”
Kiara hanya membiarkan tangan Aska menggantung dihadapannya.
“Kamu sakit apa?” tanya Kiara, memperhatikan perban yang melilit di kepala Aska.
“Jatuh dari tangga,” jawabnya singkat.
Obrolan mereka selanjutnya beragam. Kamar Aska yang besar dan membuat Kiara penasaran dengan isinya, sampai Aska yang bercerita kamar aslinya di rumah lebih besar dari disini.
“Menyenangkan sekali hidupmu.”
Aska tiba-tiba berkata setelah mereka mengunjungi Kiara. Mereka kini sedang dudk di kursi panjang yang menghadap langsung ke kaca rumah sakit di lantai yang cukup tinggi, memperlihatkan panorama gedung-gedung bertingkat dari kejauhan.
Aksa mengernyitkan dahi. “Seharusnya aku yang bilang begitu padamu,” kelakarnya.
Aska tertawa. Ia terdiam sejenak seraya memandangi langit dari kaca rumah sakit. Aksa mengikuti arah pandangnya.
“Menyenangkan rasanya… punya alasan untuk hidup.”
“Maksudmu?”
“Kiara.” Aska terdiam sejenak. “Kamu ingin dia hidup selama kamu hidup kan? Biarpun dia mungkin mati..”
“Dia tidak akan mati.” potong Aksa cepat. “Kakakku tidak pernah sekalipun menyerah pada hidupnya.”
Aska menatapnya lalu tersenyum kecil.
“Menyenangkan sekali,” ulangnya. “Aku ingin punya semangat hidup seperti itu.”
“Kalau aku jadi kamu mungkin aku akan semangat seumur hidupku,” ucap Aksa.
“Benarkah? Mau bertukar denganku?”
“Jangan gila.”
Aska tertawa lagi. Kali ini lebih miris.
“Kamu tahu kenapa aku bilang mau jadi dokter?”
“Tadi kamu bilang karena mereka hebat.”
“Kamu tahu kenapa aku bilang mereka hebat?”
Aksa menggeleng. Suasana hening sejenak.
“Karena..” Aska menghela napas sejenak sebelum melanjutkan, “Mereka bisa tahu aku berbohong saat aku bilang lukaku ini karena jatuh dari tangga.”
Other Stories
Kidung Vanili
Menurut Kidung, vanili memiliki filosofi indah: di mana pun berada, ia tak pernah kehilang ...
Viral
Nayla, mantan juara 1 yang terkena PHK, terpaksa berjualan donat demi bertahan. Saat video ...
Eksperimen Kuasa
Sepuluh hari di pulau terpencil. Sekelompok mahasiswa-aktivis antikorupsi dibagi secara ac ...
Separuh Dzrah
Saat salam terakhir dalam salat mulai terdengar, di sana juga akan mulai terdengar suar ...
Cinta Koma
Cinta ini tak tahu sampai kapan akan bertahan. Jika semesta tak mempertemukan kita, biarla ...
Puzzle
Karina menyeret kopernya melewati orang-orang yang mengelilingi convayer belt. Koper ber ...