Kiara
Kata orang libur adalah anugerah. Waktu luang. Hela napas setelah berkutat dengan tuntutan dunia yang menggebu tanpa jeda.
Namun tidak bagi Kiara. Bagi Kiara, libur adalah kekosongan. Rasa hampa.
Kaki kecilnya masih menyentuh hamparan pasir dibawahnya namun ia tidak berkutik. Tidak seperti anak-anak lain yang sibuk berlarian kesana kemari dan bermain dengan pasir dan ombak, Kiara hanya diam dan membiarkan air berkali kali menggulung membasahi kakinya.
Masih terpatri dalam memorinya kala terakhir ia ke tempat ini bersama Aksa dan Aska, dua orang yang pernah menjadi penguat dalam sisa napas hidupnya yang ia kira hampir berakhir.
Ironi. Napas hidupnya berlanjut, namun hubungan mereka terputus oleh maut dan menyebabkan yang lain juga harus pergi meninggalkannya.
“Tidak ikut main?”
Seorang perempuan tiba tiba datang menghampiri Kiara sambil mengelus kepalanya. Kiara mendongak sejenak untuk menatapnya lalu menggeleng pelan. Perempuan itu menghela napas lalu duduk disebelahnya.
“Mau menelepon Aska lagi?” tanyanya membuat Kiara menoleh cepat. Matanya membulat menatap perempuan itu nanar.
“Dia tidak mau. Sibuk.”jawabnya singkat. Tangannya mengepal mencoba menahan kesedihan yang membelenggunya sejak kemarin.
Other Stories
Egler
Anton mengempaskan tas ke atas kasur. Ia melirik jarum pendek jam dinding yang berada di ...
The Innocent
Rio terbangun di sebuah TKP pembunuhan. Ia menyimpulkan dirinya dan rekanya telah diserang ...
Pertemuan Di Ujung Kopi
Dari secangkir kopi yang tumpah, Aira tak pernah tahu bahwa hidupnya akan berpapasan kemba ...
Langit Ungu
Cerita tentang Oc dari Penulis. karakter utama - Moon Light "Hidup cuma sekali? Lalu be ...
Padang Kuyang
Warga desa yakin jika Mariam lah hantu kuyang yang selama ini mengganggu desa mereka. Bany ...
Sayonara ( Halusinada )
Raga berlari di tengah malam, tanpa sekalipun menengok ke belakang. Ia kelalahan hingga te ...