Askara (epilog)
Anak laki-laki itu masih menggenggam gagang telepon, meskipun ia sendiri yang memutus sambungannya. Tangan satunya menggenggam satu buah foto yang selama ini ia sembunyikan. Foto mereka bertiga. Ia memandang sejenak foto itu kemudian merobeknya menjadi serpihan-serpihan kecil dan membuangnya.
Setelahnya ia menarik napas panjang dan melihat ke luar jendela. Pandangannya mengabur. Air matanya mengalir. Sudah lama ia tidak menangis. Selama ini, hidupnya hanya bertahan. Kenangan itu kembali mengusik memorinya.
“Aksa!”
Kala itu, Kiara langsung memeluknya dan menangis. Aksa hanya terdiam dan tidak membalasnya.
“Ka-katanya kamu tidak selamat huhuhu.”
Aksa melepas pelukan Kiara setelah merasa ia cukup tenang.
“Aksa memang tidak selamat,” ucapnya. Kiara tertegun sejenak.
“Aku bukan Aksa. Mulai sekarang, namaku Aska.” lanjutnya.
“Apa maksudmu..”
“Adikmu sudah meninggal. Itu yang ada di berita..”
“Tidak!” Kiara menggeleng. “Kamu adikku, sadarlah.”
Aksa menatap Kiara nanar.
“Kamu mau sembuh, kan? Orang tuaku akan memastikan kamu sembuh. Ini juga.. akan jadi kamarmu setiap kamu dirawat inap disini.”
“Aku mau sembuh. Tapi kamu bukan Aska, kamu adikku. Aska sudah tidak ada…”
“Aska harus masih ada kalau kamu mau sembuh.”
Tangannya mengepal. Ia bersumpah tawaran itu awalnya terdengar menggiurkan tapi ia langsung menolaknya. Ia tidak mungkin sanggup meninggalkan Kiara.
Namun ia sadar, itu bukan sekedar tawaran.
Orang tua Aska memegang kendali penuh rumah sakit ini. Mereka sanggup mengacak-acak birokrasi yang membuat semua personel tunduk pada aturan mereka. Termasuk memutus semua akses perawatan Kiara dan bersumpah mengerahkan seluruh koneksi mereka agar tidak ada rumah sakit manapun yang menerima Kiara andai saja Aksa menolak menjadi pengganti anak mereka.
Dan Kiara tidak pernah tahu hal itu. Kiara hanya tahu Aska dan Aksa kini pergi meninggalkannya.
Aksa dibawa menjauh dari orang-orang yang pernah mengenal Aska. Dilatih menjadi Aska. Dilatih agar pantas menjadi cucu pewaris perusahaan keluarganya. Dan setiap kali ia melakukan kesalahan, ia dipukuli. Bukan hanya dipukuli, ia juga sering dikurung di ruang gelap. Sama seperti Aska dulu. Namun ia harus bertahan. Ia tidak boleh mati, karena napas hidupnya memperpanjang napas hidup Kiara. Karena sekejam apapun orang tua Aska yang kini menjadi orang tuanya, mereka tetap menepati janji.
Kiara mendapat akses perawatan penuh. Bahkan sampai mendapat perawatan di luar negeri hingga ia benar-benar dinyatakan sembuh. Ia menjadi survivor muda. Ia selamat dan mendapat kesempatan kedua untuk hidup. Dan saat ia mendapatkannya, ia kehilangan dua orang yang dulu selalu ada disisinya.
Setelah Kiara sembuh, Aksa memutuskan menjauh. Karena ia tahu ia tidak akan pernah kembali menjadi Aksa. Dan ia tidak tahu selama apa ia akan bertahan di keluarga ini. Bagaimana mungkin ia bisa menelepon Kiara dengan tenang saat setiap hari ia memikirkan kemungkinan ia akan mati hari itu. Dan satu-satunya hal yang ia pikirkan hanya ia harus menjauh dari Kiara.. Supaya Kiara bisa membencinya dan melupakannya. Supaya Kiara tidak terlalu memikirkannya saat bayangan kematiannya di depan mata.
Aksa mendengar pintu depan terbuka. Derap langkah cepat di tangga terasa dan butuh beberapa detik saja hingga langkah itu membuka pinta kamarnya. Ia paham derap langkah cepat itu berarti tinggal menunggu penyiksaan apalagi yang akan ia alami selanjutnya.
Aksa tidak tahu kapan ini akan berakhir. Liburan tahun lalu, ia kehilangan sahabatnya. Tahun ini, ia kehilangan saudaranya. Dan tahun-tahun berikutnya ia mungkin akan kehilangan jati dirinya.
Ia mungkin akan lebih dulu melupakan Aksa, bahkan sebelum Kiara benar-benar melupakannya.
Other Stories
Way Back To Love
Karena cinta, kebahagiaan, dan kesedihan datang silih berganti mewarnai langkah hidup ki ...
Konselor
Musonif, 45 tahun, seorang pemilik kios tindik, hidup dalam penantian hampa dan duka yang ...
Bukan Cinta Sempurna
Pesona kepintarannya terpancar dengan jelas, rambut sebahunya yang biasanya dikucir ekor ...
Nyanyian Hati Seruni
Begitu banyak peristiwa telah ia lalui dalam mendampingi suaminya yang seorang prajurit, p ...
Di Bawah Panji Dipenogoro
Damar, adalah seorang petani yang terpanggil untuk berjuang bersama mengusir penjajah Bela ...
Diary Anak Pertama
Sejak ibunya meninggal saat usianya baru menginjak delapan tahun, Alira harus mengurus adi ...