Chapter 1: Pengembara Yang Nyaris Abadi
Aku akan bercerita tentang Seseorang yang diberkati dengan Umur Panjang. Ardha namanya, berasal dari kata Ard, yang juga diterjemahkan menjadi Earth atau Bumi. Tak ada yang tahu pasti asal usulnya, dia hanya hidup berpindah-pindah, kadang mengembara. Suatu saat di sebuah pengembaraannya, dia singgah di sebuah desa, dengan padi sebagai komoditas utamanya. Siang itu panas sekali, Matahari tepat diatas kepala, Ardha pun mencari tempat berteduh dibawah sebatang pohon, duduk diam memandangi persawahan.
Didatangilah dia oleh salah seorang petani, menawarkannya bekal yang petani itu bawa untuk dibagi. Seketika, perut Ardha langsung berbunyi, petani itu pun tertawa dan Ardha jadi tidak bisa menolaknya. Masakan sederhana berupa nasi putih dan lauk rebusan entah kenapa terasa sangat enak siang itu. Setelah makan, ditanyalah Ardha perihal kedatangannya, Ardha hanya menjawab:
"aku hanya pergi kemana kakiku melangkah, atau kemana angin membawaku"
lalu Ardha menyaut lagi "terimakasih atas makanannya, ini ada koin sebagai gantinya"
Petani itu menolak dengan halus "ohh kami ini desa pedalaman, tidak butuh koin. sudah sudah, lagian kamu akan lebih membutuhkannya daripada aku, aku hanya senang kamu temani makan siang, hahaha"
Ardha pun tersenyum, takjub dengan cara hidup Pak Petani itu, mereka yang tinggal di pedalaman tidak butuh koin untuk hidup. Ardha lalu menyaut "Pak, nasi yang bapak hidangkan untuk saya benar-benar terasa enak, seolah dimasak oleh seorang dewi"
"Seperti Dewi ya, hahaha terimakasih terimakasih... ini yang masak istriku. oh iya, membahas dewi aku teringat sebuah kisah tentang 7 Dewi yang mandi di sungai dan salah satu selendangnya diambil seorang pria..." tambah sang petani itu.
petani itu pun menceritakan Kisah Jaka Tarub kepada Ardha, tentang bagaimana Jaka Tarub mencuri salah satu selendang Dewi yang mandi di sungai hingga Dewi itu tidak lagi bisa pergi ke Kahyangan, hingga akhirnya diperistri oleh jaka Tarub.
Jaka Tarub hidup makmur dengan istrinya, makanan hampir tidak terbatas karena satu butir beras bisa untuk makan seharian berkat kuasa seorang Dewi, dengan satu syarat bahwa Jaka Tarub tidak boleh membuka nasi yang sedang dimasak, namun kepenasaranan seorang manusia membuatnya melanggar satu-satunya syarat. Maka hilanglah sudah Keajaiban dari sebutir beras tadi dan mereka hidup normal tanpa kuasa dewi lagi. Hari demi hari mereka mengikis simpanan beras mereka dilumbung.
Hingga akhir yang memilukan saat Selendang yang dicuri akhirnya ditemukan Sang Istri Dewi Nawang Wulan saat beras di lumbung mulai habis. Nawang Wulan yang menemukan selendangnya harus kembali ke Kahyangan meninggalkan Jaka Tarub dan Nawangsih, putri mereka.
Ada yang mengatakan bahwa Nawang Wulan sudah mengetahui selendangnya dicuri Jaka Tarub sejak lama, dan hanya menunggunya mengembalikan selendangnya sendiri kepadanya. Namun harapan Sang Dewi sepertinya tidak kunjung terjadi dan takdir lain menghampirinya terlebih dahulu. Anak mereka, Nawangsih, hanya bisa menangis dalam diam saat menatap Rembulan hampir setiap malam.
Ardha memang suka mendengarkan cerita cerita seperti itu, tanpa tanya kapan, tanpa tanya tempat, tanpa tanya benar atau tidaknya, ia hanya menikmati ceritanya. Ardha menyimpulkan bahwa kisah Jaka Tarub ini adalah tentang sebuah ketidakjujuran yang akhirnya berbuah pahit di masa depan, dan jelas mendapatkan pemahaman baru bahwa Kejujuran haruslah selalu diutamakan. Setelah menginap beberapa hari di Desa itu, Ardha melanjutkan lagi perjalanannya, yang entah kemana.
Other Stories
Susan Ngesot
Reni yang akrab dipanggil Susan oleh teman-teman onlinenya tewas akibat sumpah serapah Nat ...
Menolak Jatuh Cinta
Maretha Agnia, novelis terkenal dengan nama pena sahabatnya, menjelajah dunia selama tiga ...
KEDUNG
aku adalah dia yang tertutup ...
Kita Pantas Kan?
Bukan soal berapa uangmu atau seberapa cantik dirimu tapi, bagaimana cara dirimu berdiri m ...
Adam & Hawa
Adam mencintai Hawa yang cantik, cerdas, dan sederhana, namun hubungan mereka terhalang ad ...
Permainan Mematikan: Narsistik
Delapan orang asing diculik dan dipaksa mengikuti serangkaian permainan mematikan. Tujuh d ...