Chapter 6: Penebusan Sang Pengembara
Pintu diketuk, Mata Terbuka pelan-pelan, disitu Ardha terbangun, dengan bekas air mata yang mengering di pipinya. Ternyata yang mengetuk adalah sosok yang sebelumnya ada di kuil, ia bilang bahwa sudah menunggu Ardha disini.
“Jadi... seperti apa sosok orang paling jahat itu?” tanya sosok itu.
“akulah yang paling jahat, aku yang berprasangka, aku yang dikendalikan emosi... akulah yang paling jahat” Ardha menjawab dengan sedih, tapi air matanya tak lagi keluar, hanya kesunyian pagi hari, bahkan suara burung pun tak terdengar hari itu.
Tanpa menjawab, Sang sosok misterius itu pun memungut surat dari Sekar Sari, dan tahu harus kemana. Ia menarik Ardha untuk bangun, dan mengajaknya melakukan perjalanan menuju tempat paling dekat dengan Kahyangan. Ardha pun ikut saja, tak lupa membawa Arloji yang kini sudah tidak bergerak itu.
Tempat yang mereka tuju adalah sebuah puncak gunung tertinggi di daratan itu, perjalanan selama kurang lebih 2 hari mendaki. Ardha sudah sangat kelelahan, namun heran melihat sosok itu yang badannya lebih besar dan gendut bahkan berjalan tanpa berkeringat sedikitpun. 2 hari perjalanan hingga malam hari, sampailah mereka di puncak gunung. Disitu ada Kuil yang mirip dengan yang di Desa pinggir laut tempat Sosok misterius ini berada sebelumnya, seakan akan memang ada dua kuil, satu di dataran paling rendah dan satunya ada di puncak tertinggi.
Bedanya hanya terletak pada struktur bangunan mirip Gapura yang ada didepan kuil di puncak gunung, serta pohon besar yang sudah mulai layu, yang di satu sisi dahannya, ada sebuah selendang yang dililitkan, satu sisi selendang itu terterpa angin dan berkibar halus layaknya tangan yang menyambut kedatangan Ardha.
Ardha langsung tahu itu milik Sekar Sari hanya dari melihatnya. Sang sosok misterius itu kemudian mengambil selendangnya, lalu menempatkannya di atas gapura kuil, sehingga selendangnya menutupi pintu gapura kuil.
Dari situ, selendangnya terbuka dan terpancarlah cahaya putih keemasan yang lumayan terang. Sosok misterius itu menyuruh Ardha untuk masuk kedalam cahaya, supaya ia bisa bertemu dengan kekasihnya. Selendang itu menjadi pintu untuk pergi ke kahyangan. Disitu ada tangga bercahaya yang sangat panjang menjulang keatas.
Tanpa Ragu, Ardha pun menaiki anak tangga satu persatu, meski tahu dia sudah sangat lelah dengan pendakiannya ke gunung. Saat tangga bercahaya itu diinjak, bagian yang terinjak mengeluarkan debu-debu cahaya yang berterbangan seolah olah setiap langkah memurnikan kembali jiwanya. Setelah waktu yang entah berapa lama, Ardha sampai di gerbang Kahyangan.
Disana, ia melihat gerbang yang terbuka, seolah dia memang diterima disana.
Ardha pun masuk dan disambut wangi yang benar benar khas, inilah wangi kahyangan. Tak jauh dari sana, ada sesosok Dewi yang sedang menenun selendang, Ardha tanyakan tentang wanita berparas cantik bernama Sekar Sari. Dewi itu tahu Ardha siapa, dan langsung mengantarkannya menemuinya. Ardha melewati taman Kahyangan yang indah dan cukup panjang.
Setelah berjalan beberapa lama, Sampailah Ardha dan Dewi itu di sebuah Pohon yang sangat mirip dengan pohon di bukit desa tempat Sekar Sari mewujud jadi manusia. Dibalik Pohon itu, ada sosok yang juga duduk melamun, kakinya mulus dengan hiasan sederhana dan elegan, dia tahu itulah sosok yang selama ini dicarinya. Namun kaki Ardha lemas tidak bisa lagi bergerak, jadi dia langsung berteriak "Sekar Sari!" seketika, wanita yang bersandar di pohon itu langsung menoleh, Betapa kagetnya dia bahwa yang datang adalah Orang yang selama ini sebenarnya masih dinanti-nantikannya. Sekar Sari langsung berlari dan memeluk erat Ardha yang bahkan sudah tak sanggup lagi berdiri. Air mata tak sadar mengalir di pipi mereka. Sudut pandang kita dari mereka pun menjauh, dan suara mereka semakin menggaung dan mengabur tidak jelas...
Lompat Setelah beberapa lama melepas rindu dan saling cerita, Sekar Sari pun mengatakan bahwa Ardha belum seharusnya ada disini, tugasnya masih belum berakhir, dan ada takdir yang menunggunya di bumi. Ardha pun mengiayakan, karena dia hanya perlu bertemu dengan sang Kekasih untuk yang terakhir kalinya serta berjanji lagi setelah umurnya sudah genap, takdir sudah terpenuhi, maka Ardha akan mencari Sekar Sari di Kahyangan ini.
Lalu ditemani 2 Dewi itu, Ardha diantar kembali ke gerbang Kahyangan. Namun sebelum Ardha turun ke bumi, Dewi yang mengantarnya pun meminta tolong satu hal kepada Ardha, ia pun menyerahkan sebuah selendang indah, dan memperkenalkan namanya, bahwa ia adalah Nawang Wulan, istri dari Jaka Tarub. Ardha langsung teringat dan tahu konteks cerita dan nama itu. Selain itu, Sekar Sari juga ternyata bernama asli Nawang Sari, salah satu dewi yang ikut Nawang Wulan mandi di sungai. Ardha merespon dengan tenang, seolah memang sudah tahu, hanya mengangguk, dan bersedia untuk menjalankan permohonan Nawang Wulan. Ia pun berpisah lagi dari Nawang Sari dan mulai turun perlahan menuju bumi.
Saat ia sampai dibawah, dan keluar lewat kuil puncak gunung, Ardha ingin berterimakasih kepada Sosok misterius itu, namun lagi-lagi ia hilang entah kemana, bahkan tidak ada jejak kakinya, hanya ada jejak kaki Ardha yang sendirian mendaki puncak gunung. Ardha pun hanya berterimakasih dari dalam batinnya kepada siapa atau apapun sosok itu. Tak lama, angin yang cukup kencang berhembus, menerbangkan Kain selendang yang sebelumnya membentuk gerbang cahaya ke langit, dan dengan demikian terhapuslah sudah jalan bagi Ardha untuk ke Kahyangan.
Ardha pun mengambil Arloji yang dibawanya, lalu diletakkanlah Arloji itu di dalam kuil. Ia pun duduk beristirahat lagi di puncak gunung itu, tepat membelakangi kuil, dan matahari pun terbit dengan indahnya, menerpa wajah Ardha yang sekarang sudah tidak lagi memancarkan rasa penyesalan.
Other Stories
Bumi
Seni mencintai terkadang memang menyenangkan, tetapi tak selamanya berada dalam titik mani ...
Ayudiah Dan Kantini
Waktu terasa lambat karena pahitnya hidup, namun rasa syukur atas persahabatan Ayudyah dan ...
Kasih Ibu #1 ( Hhalusinada )
pengorbanan seorang ibu untuk putranya, Angga, yang memiliki penyakit skizofrenia. Ibu rel ...
DARAH NAGA
Handoyo, harus menjaga portal yang terbuka agar mahkluk dunia fantasy tidak masuk ke bumi. ...
Kesempurnaan Cintamu
Mungkin ini terakhir kali aku menggoreskan pena Sebab setelah ini aku akan menggoreskan p ...
Turut Berduka Cinta
Faris, seorang fasilitator taaruf dengan tingkat keberhasilan tinggi, dipertemukan kembali ...