Naik Ke Langit, Turun Tuk Tuntaskan Kisah

Reads
95
Votes
0
Parts
7
Vote
Report
naik ke langit, turun tuk tuntaskan kisah
Naik Ke Langit, Turun Tuk Tuntaskan Kisah
Penulis Anugerah Bagus Ibrahim

Chapter 3: Pria Yang Dilukai Ego

Selama bertahun-tahun berikutnya, Ardha pergi mengembara lagi untuk melupakan segalanya, namun pertanyaan yang tidak pernah terjawab setiap hari menghantuinya. Hari hari yang biasa ia lalui dengan sangat cepat kini berjalan sangat lambat, mukanya tak sadar jadi murung, menakuti anak-anak yang bersimpangan dengannya. Saat tiba disebuah desa di pesisir pantai, ia melewati sebuah kuil tua, disitu ia melihat seseorang, Badannya Pendek, besar dan gendut. Tangannya satu dibelakang, satunya didepan, dengan tatapan orang yang sudah seakan mengerti dunia.

"Lho lho, mukamu kok kusut begitu dha, kaya kaya kain lap yang ndak pernah dicuci. Hati manusia itu kecil dha, kalau isinya penyesalan terus, yang lain ya ndak bisa masuk..." ucapan tiba tiba dari sosok itu. Ardha pun segera menoleh dan kebingungan, lalu memalingkan mukanya dan langsung mempercepat langkahnya. Kelelahan batin membuatnya tanpa sadar jatuh tersungkur. Pagi hari, dia dibangunkan oleh seekor kucing, yang meminta makanan kepadanya. Ardha pun memberikan stok ikan asinnya kepada kucing yang kelaparan itu. Setelah makan, kucing itu seolah mengajaknya ke suatu tempat, Ardha pun mencoba mengikutinya dan ternyata kucing itu mengarahkannya lagi ke kuil.

Kali ini kuilnya kosong. Disitu Ardha duduk didekat kuil, membuka perbekalan dan makan seadanya. Saat Ardha sedang makan dengan lahapnya, Sosok misterius itu datang lagi, dia memikul kayu Bakar dan membawa Ayam Hutan. Sosok itupun menawarinya untuk makan bersama. Setelah makan daging Ayam Hutan itu, Ardha pun bertanya:

"Apakah benar kita berjumpa tadi malam?"

"mungkin" jawab sosok itu dengan singkat.

"manusia itu aneh dha. Pas bahagia takut kehilangan. Pas kehilangan baru ingat bahagia..." ungkap sosok itu.

Ardha pun menatap dengan kaget, hanya diam.

"Aku sangat mencintainya, Wajah dan tubuhnya yang elok, seluruh kelakuannya yang polos, aku merasa aku harus melindunginya, aku merasa harus memilikinya" jawab Ardha setelah diam, setelah memendam dan marah bertahun-tahun ini.

"kalau bunga-bunga indah kamu petik semuanya, terus kupu-kupu mau main dimana?" saut sosok itu dengan nada santai.

"lalu aku harus apa? apa yang harus kulakukan? Sudah tahunan aku coba melupakannya! Tapi tidak bisa... apakah harus kucari juga? bagaimana aku mencarinya jika dia sendiri tidak mau bertemu denganku? bagaimana saat kami bertemu dan ternyata... ternyata dia... dia sudah berkeluarga dan punya momongan" jawab Ardha dengan nada takut, sedih dan curiga.

"Orang yang patah hati biasanya melakukan dua hal... melupakan atau mencari. Tapi anehnya, yang biasanya justru yang paling tidak ingin dilakukan, hahaha... Aku tahu dimana dia berada, tapi pertama kamu harus lakukan satu hal untukku" balas sosok itu.

" Apapun! akan kulakukan apapun, tolong hentikan perasaan ini" jawab Ardha dengan cepat dan tegas.

"Carilah orang paling jahat, lalu kembalilah. aku penasaran seperti apa wajahnya"

"baiklah" jawab Ardha singkat tanpa ragu, langsung membersihkan dan mengumpulkan barangnya lalu berangkat.

Tanpa ragu Ardha percaya omongan sosok itu, karena dia yakin sosok itu adalah seorang Dewa yang ingin membantunya, atau setidaknya Ardha ingin percaya bahwa dia datang untuk membantu karena kalaupun Ardha ditipu, dia tidak punya apa-apa dan tidak bisa kehilangan apa-apa lagi.

Setahun pertama, ia menemukan seseorang Ningrat Jahat yang memperbudak bawahannya dan memperlakukan mereka layaknya binatang. Hanya diberi makan, tanpa diupah tapi dipaksa kerja berat setiap hari, tak jarang banyak yang mati dibawah perintahnya. Ardha pun pergi ke Desa sekitar, dan menanyakan terkait itu.

Ternyata, para bawahan yang diperlakukan tidak manusiawi layaknya budak itu adalah perlakuan paling baik, karena mereka adalah para kriminal bejat, dan jika diserahkan untuk diadili warga, maka Neraka lah yang akan mereka rasakan. Setidaknya dibawah kekuasaan Sang Ningrat, mereka diberi makan meski kurang kayak, karena jika perlakuannya terlalu baik maka Warga akan memberontak kepadanya karena dendam mereka terhadap kriminal-kriminal ini. Ardha pun gagal dalam misinya, ia pun berjalan lagi, dan lagi, hingga menemukan yang lain.

Ada sesosok Begal di sebuah kawasan, ditakuti luarbiasa, hanya 1 orang namun mampu untuk menumbangkan pengawal Kerajaan sekalipun. Ardha pun mengikutinya hingga ke sebuah gubuk. Ternyata, dia merampok karena harus menghidupi 3 anak Yatim Piatu korban Begalnya dahulu. Dia tidak tahu yang dia rampok adalah Sepasang suami istri dengan 3 anak. Dulu dia merampok secara berkelompok, namun melihat ketiga anak itu, sang rampok memilih untuk merawatnya saja dan meninggalkan kelompok begalnya.

Namun karena seumur hidupnya dia habiskan bersama para begal, dia hanya tahu jalan kekerasan, sedangkan anak-anak itu punya mulut untuk diberi makan. Maka dia pun merampok terus menerus dan berusaha selalu menang agar selalu ada makanan untuk dikunyah hari itu. Ardha pun menemuinya, berbincang dan bilang padanya bahwa mencuci baju dengan air kencing itu tidak hanya membuat bajunya makin kotor, tapi juga bau. Lalu Ardha pun memberikan beberapa koin untuk Begal itu memulai hidup baru bersama ketiga anak-anaknya. Lalu Ardha pun melanjutkan perjalanan.

Tahun kedua tak jauh dari situ ada sebuah kerajaan, Ardha pun singgah disitu. Disana ia melihat ada Germo pelacur yang sangat-sangat kejam kepada pelacur-pelacurnya. mereka dipaksa melayani banyak pria dalam sehari, dibayar sangat murah, dan mereka tampak kurus. Saat Ardha akhirnya menemukan orang yang dicari, dia lagi-lagi menguntitnya untuk mencari tahu lebih dalam tentang kisahnya. Suatu hari, Germo itu menemukan seekor Anjing yang tengkurap lemas, tidak bisa berdiri bahkan kesulitan untuk duduk. Sang Germo itu pun memberinya Air dan beberapa makanan sisa pelanggan Rumah pelacurannya. Melihat anjingnya lahap sekali makan, Germo itu pun menitikkan air mata.

Malamnya, dia mendapati salah satu pelacurnya lebam dibagian mata kirinya, dia pun langsung marah, menemukan pelakunya dan memukulinya hingga babak belur. Dia teriak "gadis-gadis ini tidak untuk dipukul" lalu meludahi orang itu. Belum cukup disitu, Ardha yang membuntutinya berhari-hari akhirnya menemukan bahwa si Germo itu beberapa hari sekali mampir kesebuah gubuk tua, memberikan Beras hasil usahanya kepada seorang nenek tua. Mereka mengobrol seolah mereka orang tua dan anak, mungkin benar mungkin tidak, Ardha tidak lagi konfirmasi, hanya langsung pergi. Seluruh perjalanannya seakan sia-sia, bahwa semua orang yang dikiranya jahat memiliki sisi cerita mereka masing masing.

Ia duduk disebuah pohon sendirian, di bukit perkotaan Kerajaan, memandangi suasana Kota malam hari, dengan bulan purnama yang tertutup awan. Dalam perenungannya, dia akhirnya menyadari sesuatu, bahwa yang jahat adalah dirinya, dan Prasangkanya kepada orang lain. Seketika awan pun pergi menyingsing, melepaskan cahaya dingin dari Bulan Purnama malam itu, seolah mencerminkan terbukanya pikiran dan hati Ardha. Ia pun meneteskan Air mata dan mengingat lagi bahwa mungkinkah dia salah menilai Sekar Sari. Ia pun tidur, lalu bangun di pagi hari dan berjalan lagi, kali ini kembali ke Kuil tempat sosok itu berada.


Other Stories
Pucuk Rhu Di Pusaka Sahara

Mahasiswa Indonesia di Yaman diibaratkan seperti pucuk rhu di Padang Sahara: selalu diuji ...

Don't Touch Me

Malam pukul 19.30 di Jakarta. Setelah melaksanakan salat isya dan tadarusan. Ken, Inaya, ...

Kau Bisa Bahagia

Airin Septiana terlahir sebagai wanita penyandang disabilitas. Meski keadaannya demikian, ...

Permainan Mematikan: Narsistik

Delapan orang asing diculik dan dipaksa mengikuti serangkaian permainan mematikan. Tujuh d ...

Cahaya Menembus Semesta

Manusia tidak akan mampu hidup sendiri, mereka membutuhkan teman. Sebab dengan pertemanan, ...

Namaku Amelia

Amelia, seorang anak kecil yang penuh rasa ingin tahu, harus menghadapi hari-hari sulit di ...

Download Titik & Koma