Chapter 5: Tragedi Sekar Sari
Cerita berpindah berpuluh-puluh tahun kebelakang. Kali ini dari sudut pandang Sekar Sari. Ia adalah sesosok Dewi Kahyangan yang rasa ingin tahunya tinggi. Sesekali ia turun ke bumi untuk mengamati kehidupan manusia, sering mandi di sungai-sungai desa untuk memurnikannya, dan begitu tertarik untuk hidup menjadi manusia, merasakan suka duka manusia.
Ia pun meminta izin dari dewa untuk diberikan kesempatan hidup untuk satu kali kehidupan sebagai manusia. Sang dewa pun mengabulkan permintaannya, dan diberilah Sekar Sari sebuah Artefak waktu berupa Arloji.
Arloji ini adalah penentu waktu hidup Sekar Sari di bumi sebagai manusia fana, jarumnya akan berputar dari atas hingga kembali ke atas, dan saat satu putaran terpenuhi, maka ia akan mengakhiri siklusnya sebagai manusia dan kembali menjadi Dewi kahyangan. Namun, jarum di Arloji ini akan berputar lebih cepat saat Sekar Sari merasakan emosi dan perasaan manusia yang sangat dalam.
Selain itu, ada syarat lain yakni ia tidak boleh mengungkapkan identitasnya sebagai dewi ataupun mengungkap apapun yang berkaitan dengan turunnya dia ke bumi, karena jika dilanggar, maka Sekar Sari akan langsung dijemput kembali ke Kahyangan. Sekar Sari menyetujui Syaratnya dan dia pun diturunkan ke bumi, disuruhlah dia mandi disebuah telaga desa, dan dari situlah terbasuh citra Dewinya, meninggalkan sesosok manusia yang benar-benar polos tentang dunia dengan satu helai selendang panjangnya.
Ia sangat senang bisa hidup sebagai manusia, ia mengambil batu, dan melemparkannya ke sungai, melihat ikan ikan kabur menghindarinya lalu tersenyum bahagia.
Lalu ia naik ke daratan, dan berjalan jalan di hutan. Ia berjumpa dengan berbagai satwa, dan dengan aura dan kesuciannya, para satwa tidak ada satupun yang takut kepadanya bahkan mendekatinya. Tak lama, ada sesosok bocah remaja berusia sekitar 15 tahunan yang menemukannya di hutan, lalu dibawalah Sekar Sari ke desa. Disana ia disambut, dan sangat disenangi warga desa, selain karena parasnya yang elok, sifatnya juga lembut dan polos.
Sifat dan Auranya seolah olah bisa menyihir para pria untuk melindunginya dan tidak pernah terfikir untuk menodainya. Para pria disana bahkan membangunkan sebuah gubuk untuk ditinggali Sekar Sari. Kesehariannya juga hanyalah pergi ke hutan dan mencari buah liar untuk dimakan. Belasan tahun ia hidup damai sebagai manusia di desa itu, dan suatu hari saat ia berada di hutan, seekor tupai memberitahunya bahwa ada laki-laki yang mengintipnya. Lalu diteriakilah laki-laki itu, yang adalah Ardha. Paras elok Sekar Sari membuat seorang pengembara rela untuk bermukim, dan sifat polosnya membuat rasa cinta tumbuh di hati sang Pengembara.
2 Tahun berlalu, hidup Sekar Sari benar benar penuh cinta, ia merasakan cinta yang semakin lama semakin dalam, semakin intim. Saat Sekar Sari melihat arloji itu, yang sebelum 2 tahun ini masih terputar seperempat, kini sudah lebih dari setengah. Ia teringat perkataan dewa sebelumnya bahwa saat ia merasakan emosi dan perasaan manusia yang sangat dalam, waktunya juga akan semakin menipis. Dia pun kepikiran terus tentang ini. Dia masih sangat sangat ingin lebih lama bersama Ardha, menjalin cinta dan hidup layaknya manusia.
Ia pun menengadah ke langit, memohon kepada dewa agar diberikan waktu yang lebih lama, Dewa pun menjawab doa nya dengan mengatakan bahwa jarum bisa diperlambat dengan Tapa kepada dirinya (Sang Dewa) dan melepaskan semua emosi dan perasannya kepada dunia, sehingga itu memperlambat laju jarum Arlojinya. Ia menjadi semakin giat bertapa untuk bisa lebih lama bersama dengan Ardha, namun justru karena perasaannya yang kuatlah motivasi utamanya untuk bertapa, semua menjadi sia-sia.
Arloji tetap berjalan, meski sedikit lebih pelan, ia tetap melaju. Jadi Sekar Sari pun membatasi perasaannya ke Ardha, agar bisa lebih lama bersama Ardha, dan puncaknya ketika Ardha membuatkan janji untuk mereka bertemu di sebuah bukit, Sekar Sari hanya mengangguk, tapi pikirannya sudah kemana mana. Ia lalu pulang ke gubuk, membuang semua barang-barang perintilan yang ia koleksi demi memutus beberapa perasaannya terhadap dunia, agar punya cukup ruang untuk perasaannya ke Ardha. Namun itu tak cukup, jadi ia bertapa sekali lagi, namun kali ini saking lelahnya pikiran, Sekar Sari tertidur. Selama lebih dari 5 hari, ia terbangun. Sekar Sari tidak menyadari 5 hari telah berlalu, dan saat dia berlari ke bukit untuk bertemu Ardha, Ardha sudah pergi.
Turunlah ia dari bukit, dan mencoba menengok Ardha di gubuknya, namun kondisinya sudah kosong. Ia pun pulang ke gubuknya, dan menemukan Arlojinya di lantai dan ada penyokan serta lecet, Sekar Sari memungutnya, memeluknya, dan menangis, karena tahu kekasihnya sudah meninggalkannya. Kesedihan itu, membuat Arlojinya semakin kencang berputar. Ia pun menulis surat untuk Ardha, dan meninggalkan Arlojinya di sebuah kotak, lalu berpamitan dengan anak remaja yang dulu menemukannya, yang kini sudah lumayan dewasa. Ia pun melakukan Perjalanan Menuju Tempat paling dekat dengan Kahyangan, dan ia menghabiskan seluruh sisa waktunya didunia, untuk menangisi sesosok Pengembara... sendirian. Kini, Sekar Sari sudah kembali ke Kahyangan.
Other Stories
Kenangan Indah Bersama
tentang cinta masa smk,di buat dengan harapan tentang kenangan yang tidak bisa di ulang ...
Mewarnai
ini adalah contoh uplot buku ...
Kenangan Yang Sulit Di Ulang Kembali
menceritakan hidup seorang Murid SMK yang setelah lulus dia mendapatkan kehampaan namun di ...
Tatapan Yang Tidak Pernah Sampai
Cerpen ini mengisahkan satu tatapan singkat yang menumbuhkan dunia imajinasi, harapan, dan ...
Bu Guru Dan Mantan Murid
Salsa, guru yang terjebak pernikahan dingin, tergoda perhatian mantan muridnya, Anton. Per ...
Aku Versi Nanti
Mikha, mahasiswa design semester 7 yang sedang menjalani program magang di sebuah Agency t ...