Chapter 4: Sadar Dirinya Salah
Setelah kurang lebih 3 bulan perjalanan, melintasi Laut, Pegunungan dan desa-desa, sampailah Ardha di desa tempat Kuil itu berada. Sama seperti sebelumnya, Kuilnya kosong, Ardha menoleh kemanapun tidak ada orang. Ia menunggu dari sore hingga malam tapi sosok itu tidak muncul juga. Ia pun bermalam di desa itu, sambil sesekali menanyakan kepada warga desa yang melintas tentang dimana keberadaan sosok misterius yang bijaksana itu. Namun, tak satupun yang tahu keberadaannya. Ia pun terlelap di tengah udara yang lumayan dingin.
Saat Matahari mulai terbit, Ardha pun mengemas barang-barangnya dan memutuskan untuk pergi, kali ini ke tempat dimana semua ini bermula, desa tempat ia bertemu dengan Sekar Sari.
Saat sampai disana, dipandangilah desa itu, anak-anak kecil yang dulunya lari larian kini sudah jadi pemuda, ada yang bertani, ada yang jadi nelayan, berdagang makanan dan sebagainya. Ardha sudah hampir tak dikenali, hanya ada satu sesepuh yang masih kenal dengannya, dan langsung tahu maksud kedatangannya.
Ia pun mengantarkannya ke Gubuk Sekar Sari yang sudah tak terurus, namun juga tetap dijaga, tidak dihuni juga tidak dihancurkan. Ardha pun diam disana, memandangi gubuk kosong yang dulu membuatnya sangat marah. Sesepuh desa itu pergi meninggalkannya sendirian untuk memberikan Ardha ruang. Dilihatnya berbagai sudut gubuk yang mulai reyot, kilasan ingatan mulai terputar dikepala Ardha.
Tawa, kagum, dan kepolosan Sekar Sari itulah yang bertahan di kepala Ardha, amarahnya hilang entah kemana.
Tanpa sadar dia tersenyum tipis, lalu diam lagi, menghela napas panjang dan dalam. Dia keluar gubuk, memandangi desa yang kini sudah semakin padat penduduk, tanah lapang yang dulunya jadi tempat lari larian dan berduaannya Ardha dan Sekar Sari kini jadi lahan pertanian, digarap generasi baru desa itu. Hutan tempat bertemunya Ardha dan Sekar Sari kini sudah jadi kebun buah-buahan, satwa nya pun sudah hampir tak kelihatan lagi. Sungai yang dulunya menjadi tempat main air, tempat Sekar Sari menatap lama anak-anak yang sering mandi disungai, kini dipenuhi kano-kano kecil untuk nelayan.
Kembalilah Ardha ke gubuk itu, lalu dia mencoba istirahat di ranjang bambunya, beserta bantal kain yang sudah lama berdebu. Saat diangkat, dibawahnya ada kotak kecil. Isinya adalah surat yang ditulis oleh Sekar Sari kepada Ardha. Sedikit takut mengetahui kebenaran, Ardha membuka pelan-pelan surat itu:
"Ardha, maaf jika aku tidak pernah memberikan jawaban pasti, aku juga tidak tahu harus berkata apa, aku terhalang, kita terhalang oleh sesuatu yang lebih besar dari kita...Takdir.
Ketahuhilah bahwa aku bersyukur pernah bertemu denganmu, terimakasih karena telah mengajarkanku arti perasaan, arti cinta dan kehilangan.
Waktuku tidak banyak, aku harus kembali. Temui aku di tempat paling dekat dengan Kahyangan"
serta satu surat pendek:
"Arloji yang kamu banting ini, adalah yang memberikan kita waktu untuk bersama"
dan dibawah surat pendek itu, ada arloji yang kini telah berhenti berputar, ada penyokan dan lecet-lecet akibat dibanting. Ardha pun tak kuasa menahan air matanya, tumpah dan banjir, menyadari betapa salahnya keputusannya selama ini, bertapa bodohnya dia karena menuruti ego dan prasangkanya. Tak sadar saking sedihnya, Ardha tertidur...
Other Stories
Pesan Dari Hati
Riri hanya ingin kejujuran. Melihat Jo dan Sara masih mesra meski katanya sudah putus, ia ...
Lam Biru
Suatu hari muncul kalimat asing di layar laptop Harit, kalimat itu berupa deskripsi penamp ...
Ablasa
Perjalanan Nindya dan teman-temannya ke Nusakambangan menjadi menyeramkan setelah mereka t ...
Seribu Wajah Venus
Kisah-kisah kehidupan manusia yang kuat, mandiri, dan tegar dalam menghadapi persoalan hid ...
Nestapa
Masa kecil Zaskia kurang bahagia, karena kedua orangtua memilih bercerai. Ayahnya langsung ...
Hujan Yang Tak Dirindukan
Perjalanan menuju kebun karet harus melalui jalan bertanah merah. Nyawa tak jarang banyak ...