Chapter 1
“Tegang amat Bar, kalo mau berak bilang-bilang yak, baru gue ganti nih jok mobil,” ujar Bagas yang duduk menyetir di sampingku sambil terkekeh. Mobil minivan kami kemudian riuh akan tawa. Aku yang diajak bercanda hanya bisa tersenyum kikuk, masih menyesali keputusanku untuk ikut trip liburan akhir tahun bersama empat teman sekelasku ini.
Setelah mereka pulang dari trip ke luar kota seminggu lalu, mendadak mereka jadi semangat sekali ingin mengajakku liburan di tempat pilihan mereka ini. “Pasti bikin lu hepi deh Bar,” kata mereka berusaha meyakinkanku. Aku yang tidak suka keramaian jadi semakin ragu, aku tidak yakin definisi “hepi” milikku dan mereka sama.
Satu-satunya alasanku setuju untuk ikut dalam liburan kali ini, hanyalah karena aku yang sudah terlalu sering menolak ajakan mereka, entah itu nongkrong atau libur jalan-jalan seperti sekarang. Biasanya aku akan langsung beralasan dengan “Maaf nih, lagi ada kerjaan” atau “Waduh, skip dulu lagi gak ada duit” untuk menghindari ajakan mereka. Bukan karena apa-apa, aku memang tipikal anak yang tidak suka keluar rumah. Menurutku kamar adalah tempat terbaik untuk berlibur. Lagipula pernyataan bahwa aku sedang tidak punya duit tidak sepenuhnya bohong juga, semua uang jajanku sudah kuhabiskan untuk top-up game online.
“Ini kita mau kemana dah? jauh amat perasaan. Mana dari tadi hutan semua lagi,” tanyaku asal.
“Ke vila-vila di puncak gitu aja si Bar. Santai… tempatnya bagus, nyaman, ntar kita turnamen “PES” dah ampe gila, siapin aja dulu itu jempol,” kali ini Andi yang duduk di belakangku menyahut.
Game sepak bola yang satu itu memang sering membuatku lupa waktu, turnamen yang disebutkan Andi tadi hanyalah turnamen kecil-kecilan antar kami, sudah lama aku ingin menunjukkan skill gocekan maut yang kupelajari dari rental PS sebelah rumah. Andi memang lumayan jago jika sudah memakai tim kesayangannya, tapi dia tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Roby yang bahkan saat ini sedang asyik bermain di ponselnya. Sudah lebih dari setengah jam dia berduel sengit dengan Taufan yang duduk di sampingnya.
“Noh, tu udah keliatan tempatnya”. Bagas menunjuk dengan dagu.
Setelah kisaran dua jam melanjutkan perjalanan, akhirnya desa tempat vila yang dimaksud sudah mulai terlihat. Kesan pertamaku ketika melihat desa itu membuatku tidak tahu harus berkata apa, atau mungkin terlalu banyak yang ingin kukatakan sampai membuatku bingung harus mulai dari mana.
Kalian tahu slide gambar pemandangan yang biasanya ada di layar depan komputer? Nah, desa ini terasa seperti gabungan dari semuanya—maksudku benar-benar seperti ada yang sengaja menggabungkan semua itu dalam artian yang sebenarnya; mulai dari hamparan perkebunan teh yang ada di bawahnya, beberapa vila bergaya post-modern yang berdiri dengan anggun, perkampungan sederhana yang ada di sekelilingnya, serta danau berwarna biru yang berkilauan di kejauhan. Tak lupa dengan cuaca hari ini yang mendadak berubah jadi cerah sekali semenjak kami memasuki area perbukitan.
Indah memang, tapi terasa agak janggal dan tidak alami. Melihatnya seperti melihat foto hasil editan pemula yang hanya tahu asal tumpuk gambar saja. Bahkan wallpaper gratisan yang biasa ada di warnet kelihatan jauh lebih alami dari pemandangan yang sekarang sedang kulihat sambil bertopang dagu ini.
Eh, tunggu dulu, kebun teh itu kelihatan terlalu mirip dengan wallpaper laptop-ku. Pondokan dengan atap warna-warni yang ada di tengahnya itu tidak mungkin salah kukenali. Apa memang foto itu adalah foto kebun ini? Ada-ada saja, kukira mereka mengambil gambar itu dari luar negeri, siapa sangka ternyata malah ada di sini.
Selain dari semua itu, entah kenapa awan yang ada di sekitar sini juga terlihat seperti “awan” sekali. Memang agak sulit menjelaskannya, tapi awan itu seperti keluar dari buku cerita anak-anak. Bentuknya simetris dengan lekukan yang sangat sempurna sampai terasa tak wajar. Jika hanya ada satu atau dua mungkin hanya kebetulan, tapi seluruh awan yang ada di sekitar sini bentuknya tepat seperti itu. Saat memperhatikannya dengan lebih seksama, samar-samar dapat kulihat sebuah guratan aneh di salah satu barisan awan itu, yang terlihat seperti… wajah yang tersenyum…??
Aku diam sebentar lalu mengusap wajah dan menggeleng-gelengkan kepala, sepertinya aku benar-benar harus berhenti begadang main game semalaman.
Posisi matahari berada tepat di atas kepala saat mobil kami melewati Gapura bertuliskan,
“SELAMAT DATANG DI DESA RIA”.
Keadaan desa lumayan ramai sewaktu kami tiba, tiap orang kelihatan sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Tapi, satu hal yang selaras pada tiap orang pada waktu itu, kemanapun mataku memandang, senyuman lebar terukir di wajah riang mereka semua. Sepertinya penduduk desa ini sedang berbahagia sekali, aku jadi sedikit penasaran, apa kira-kira yang membuat mereka tersenyum lebar begitu?
Ngomong-ngomong soal bahagia, empat temanku ini juga sepertinya sedang bahagia sekali hari ini. Sedari tadi senyum tidak pernah luntur dari wajah mereka. Aku jadi merasa sedikit bersalah karena jadi satu-satunya yang berwajah muram. Mau bagaimana lagi, wajahku juga selalu begini di rumah, harusnya mereka juga sudah biasa melihatku begini di kelas. Aku hanya bisa berharap semoga aku dan wajah terlipatku ini tidak merusak suasana yang sedang cerah-cerahnya.
Semenjak ibuku meninggal, rasanya agak mustahil bagiku untuk berbahagia. Tiap kali aku mencoba bersenang-senang, wajah ibuku yang membiru karena tenggelam di danau sepuluh tahun lalu kembali menghantui pikiranku. Air mataku sudah kering menangisi beliau, tapi kesedihan dan penyesalan di hatiku masih tak kunjung reda. Karena kebodohanku yang tidak bisa berenang, ibu harus berpulang lebih cepat.
“Woy!!! Dah nyampe Bar! turun, turun!” Bagas menggoyang-goyangkan bahuku, menyadarkanku dari lamunan. Aku lari tergopoh-gopoh mengambil tas ranselku dari bagasi, lalu kusandang ia di bahu sambil berlari pelan ke arah villa.
Begitu sampai di halamannya, langkahku tiba-tiba terhenti. Dahiku mengernyit dan mulutku sedikit terbuka, penampakan dari vila yang akan kami tempati sukses membuatku terdiam dan tenggelam dalam perasaan yang campur aduk. Tidak, vila ini tidak terlihat menyeramkan atau yang semacamnya, tapi entah kenapa tiap detailnya persis seperti rumah impian yang sering kugambar waktu masih di sekolah dasar dulu. Warnanya yang didominasi cream, coklat, dan hitam, ornamen geometris di dinding depannya, tanaman hias yang ada di sekelilingnya, bahkan sampai jumlah pintu dan jendelanya persis sama.
Rasanya seperti ada yang masuk ke dalam kepalaku, mencatat semua detail tentang rumah impianku itu, lalu membangun vila ini berdasarkan dari apa yang ia catat. Dari seluruh kejadian deja vu yang pernah kualami, jujur yang satu ini adalah yang paling mengganggu. Sangat aneh bagaimana aku mengenali semua jenis tanaman hias yang ada di sini, terlebih lagi semuanya adalah kesukaanku.
Dengan pikiran yang masih terbang kemana-mana, kupaksakan kaki untuk melangkah melewati pekarangan vila itu, lalu masuk melalui pintu depannya.
***
Setelah mereka pulang dari trip ke luar kota seminggu lalu, mendadak mereka jadi semangat sekali ingin mengajakku liburan di tempat pilihan mereka ini. “Pasti bikin lu hepi deh Bar,” kata mereka berusaha meyakinkanku. Aku yang tidak suka keramaian jadi semakin ragu, aku tidak yakin definisi “hepi” milikku dan mereka sama.
Satu-satunya alasanku setuju untuk ikut dalam liburan kali ini, hanyalah karena aku yang sudah terlalu sering menolak ajakan mereka, entah itu nongkrong atau libur jalan-jalan seperti sekarang. Biasanya aku akan langsung beralasan dengan “Maaf nih, lagi ada kerjaan” atau “Waduh, skip dulu lagi gak ada duit” untuk menghindari ajakan mereka. Bukan karena apa-apa, aku memang tipikal anak yang tidak suka keluar rumah. Menurutku kamar adalah tempat terbaik untuk berlibur. Lagipula pernyataan bahwa aku sedang tidak punya duit tidak sepenuhnya bohong juga, semua uang jajanku sudah kuhabiskan untuk top-up game online.
“Ini kita mau kemana dah? jauh amat perasaan. Mana dari tadi hutan semua lagi,” tanyaku asal.
“Ke vila-vila di puncak gitu aja si Bar. Santai… tempatnya bagus, nyaman, ntar kita turnamen “PES” dah ampe gila, siapin aja dulu itu jempol,” kali ini Andi yang duduk di belakangku menyahut.
Game sepak bola yang satu itu memang sering membuatku lupa waktu, turnamen yang disebutkan Andi tadi hanyalah turnamen kecil-kecilan antar kami, sudah lama aku ingin menunjukkan skill gocekan maut yang kupelajari dari rental PS sebelah rumah. Andi memang lumayan jago jika sudah memakai tim kesayangannya, tapi dia tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Roby yang bahkan saat ini sedang asyik bermain di ponselnya. Sudah lebih dari setengah jam dia berduel sengit dengan Taufan yang duduk di sampingnya.
“Noh, tu udah keliatan tempatnya”. Bagas menunjuk dengan dagu.
Setelah kisaran dua jam melanjutkan perjalanan, akhirnya desa tempat vila yang dimaksud sudah mulai terlihat. Kesan pertamaku ketika melihat desa itu membuatku tidak tahu harus berkata apa, atau mungkin terlalu banyak yang ingin kukatakan sampai membuatku bingung harus mulai dari mana.
Kalian tahu slide gambar pemandangan yang biasanya ada di layar depan komputer? Nah, desa ini terasa seperti gabungan dari semuanya—maksudku benar-benar seperti ada yang sengaja menggabungkan semua itu dalam artian yang sebenarnya; mulai dari hamparan perkebunan teh yang ada di bawahnya, beberapa vila bergaya post-modern yang berdiri dengan anggun, perkampungan sederhana yang ada di sekelilingnya, serta danau berwarna biru yang berkilauan di kejauhan. Tak lupa dengan cuaca hari ini yang mendadak berubah jadi cerah sekali semenjak kami memasuki area perbukitan.
Indah memang, tapi terasa agak janggal dan tidak alami. Melihatnya seperti melihat foto hasil editan pemula yang hanya tahu asal tumpuk gambar saja. Bahkan wallpaper gratisan yang biasa ada di warnet kelihatan jauh lebih alami dari pemandangan yang sekarang sedang kulihat sambil bertopang dagu ini.
Eh, tunggu dulu, kebun teh itu kelihatan terlalu mirip dengan wallpaper laptop-ku. Pondokan dengan atap warna-warni yang ada di tengahnya itu tidak mungkin salah kukenali. Apa memang foto itu adalah foto kebun ini? Ada-ada saja, kukira mereka mengambil gambar itu dari luar negeri, siapa sangka ternyata malah ada di sini.
Selain dari semua itu, entah kenapa awan yang ada di sekitar sini juga terlihat seperti “awan” sekali. Memang agak sulit menjelaskannya, tapi awan itu seperti keluar dari buku cerita anak-anak. Bentuknya simetris dengan lekukan yang sangat sempurna sampai terasa tak wajar. Jika hanya ada satu atau dua mungkin hanya kebetulan, tapi seluruh awan yang ada di sekitar sini bentuknya tepat seperti itu. Saat memperhatikannya dengan lebih seksama, samar-samar dapat kulihat sebuah guratan aneh di salah satu barisan awan itu, yang terlihat seperti… wajah yang tersenyum…??
Aku diam sebentar lalu mengusap wajah dan menggeleng-gelengkan kepala, sepertinya aku benar-benar harus berhenti begadang main game semalaman.
Posisi matahari berada tepat di atas kepala saat mobil kami melewati Gapura bertuliskan,
“SELAMAT DATANG DI DESA RIA”.
Keadaan desa lumayan ramai sewaktu kami tiba, tiap orang kelihatan sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Tapi, satu hal yang selaras pada tiap orang pada waktu itu, kemanapun mataku memandang, senyuman lebar terukir di wajah riang mereka semua. Sepertinya penduduk desa ini sedang berbahagia sekali, aku jadi sedikit penasaran, apa kira-kira yang membuat mereka tersenyum lebar begitu?
Ngomong-ngomong soal bahagia, empat temanku ini juga sepertinya sedang bahagia sekali hari ini. Sedari tadi senyum tidak pernah luntur dari wajah mereka. Aku jadi merasa sedikit bersalah karena jadi satu-satunya yang berwajah muram. Mau bagaimana lagi, wajahku juga selalu begini di rumah, harusnya mereka juga sudah biasa melihatku begini di kelas. Aku hanya bisa berharap semoga aku dan wajah terlipatku ini tidak merusak suasana yang sedang cerah-cerahnya.
Semenjak ibuku meninggal, rasanya agak mustahil bagiku untuk berbahagia. Tiap kali aku mencoba bersenang-senang, wajah ibuku yang membiru karena tenggelam di danau sepuluh tahun lalu kembali menghantui pikiranku. Air mataku sudah kering menangisi beliau, tapi kesedihan dan penyesalan di hatiku masih tak kunjung reda. Karena kebodohanku yang tidak bisa berenang, ibu harus berpulang lebih cepat.
“Woy!!! Dah nyampe Bar! turun, turun!” Bagas menggoyang-goyangkan bahuku, menyadarkanku dari lamunan. Aku lari tergopoh-gopoh mengambil tas ranselku dari bagasi, lalu kusandang ia di bahu sambil berlari pelan ke arah villa.
Begitu sampai di halamannya, langkahku tiba-tiba terhenti. Dahiku mengernyit dan mulutku sedikit terbuka, penampakan dari vila yang akan kami tempati sukses membuatku terdiam dan tenggelam dalam perasaan yang campur aduk. Tidak, vila ini tidak terlihat menyeramkan atau yang semacamnya, tapi entah kenapa tiap detailnya persis seperti rumah impian yang sering kugambar waktu masih di sekolah dasar dulu. Warnanya yang didominasi cream, coklat, dan hitam, ornamen geometris di dinding depannya, tanaman hias yang ada di sekelilingnya, bahkan sampai jumlah pintu dan jendelanya persis sama.
Rasanya seperti ada yang masuk ke dalam kepalaku, mencatat semua detail tentang rumah impianku itu, lalu membangun vila ini berdasarkan dari apa yang ia catat. Dari seluruh kejadian deja vu yang pernah kualami, jujur yang satu ini adalah yang paling mengganggu. Sangat aneh bagaimana aku mengenali semua jenis tanaman hias yang ada di sini, terlebih lagi semuanya adalah kesukaanku.
Dengan pikiran yang masih terbang kemana-mana, kupaksakan kaki untuk melangkah melewati pekarangan vila itu, lalu masuk melalui pintu depannya.
***
Other Stories
Losmen Kembang Kuning
Rumah bordil berkedok losmen, mau tak mau Winarti tinggal di sana. Bapaknya gay, ibunya pe ...
Bayang Bayang
Riel terus bereinkarnasi untuk keseimbangan Klan Iblis dan Klan Dewi. Tapi ia harus merela ...
Cinta Buta
Marthy jatuh cinta pada Edo yang dikenalnya lewat media sosial dan rela berkorban meski be ...
Chronicles Of The Lost Heart
Ketika seorang penulis novel gagal menemukan akhir bahagia dalam hidupnya sendiri, sebuah ...
Cahaya Di Ujung Mihrab
Amara adalah seorang wanita yang terjebak dalam gemerlap dunia malam yang hampa, hingga se ...
Harapan Dalam Sisa Senja
Apa yang akan dalam pikiran ketika dinyatakan memiliki penyakit kronis? Ketika hidup berg ...