Rest Area

Reads
107
Votes
4
Parts
4
Vote
Report
Penulis Kata Aksara

Bab 2 - Pertama Dan Terakhir Kalinya

Sore itu mereka memutuskan berkumpul di basecamp. Sebuah studio musik kecil alakadarnya yang awal mulanya adalah garasi tua di belakang rumah kosong milik paman Alen. Tempat itu dipenuhi kabel, amplifier tua, dan poster band yang ditempel sembarangan di dinding. Bau debu bercampur dengan aroma kayu tua selalu membuat ruangan terasa hangat.

Bagi orang lain tempat itu mungkin hanya terlihat seperti gudang bekas perkakas tak berguna. Akan tetapi bagi mereka, itu rumah kedua.

Alen duduk di lantai sambil menulis daftar rencana perjalanan di buku catatan kecil. Ian sibuk memesan tiket kereta lewat gawainya. Sementara Eska bersandar di kursi plastik sambil memetik gitar menjadi melodi pengiring keheningan.

Kael menatap atap putih ruangan itu sembari memainkan selembar pamflet lusuh mengenai lomba band antarkota, lalu netranya beralih pada temannya satu per satu. Dadanya mendadak disergap perasaan aneh. Tanpa sadar bibirnya membentuk lengkungan senyum tipis.

“Apa?” tanya Ian tanpa mengangkat kepala. “Senyum-senyum sendiri kayak orang gila. Lo baru jatuh cinta?”

“Mana ada,” jawab Kael ketus. Tangannya melempar gulungan kertas ke arah Ian yang masih sibuk mencari tiket kereta. Padahal, hatinya memang sedang berbunga-bunga.

Eska tiba-tiba menghentikan petikan gitarnya.

“Nanti di sana kita nggak cuma liburan, fokus sama bikin lagu kayak yang udah kita sepakati tadi. Oke?”

“Gue mah oke sih, Bang. Gak tahu itu bocah yang demen ribut terus,” jawab Alen seraya menunjuk Ian dan Kael bergantian.

“Sumbunya bukan gue,” sahut Ian tak terima.

“Tapi, lo emosian. Ngaca!” Kali ini Kael ikut bersuara. “Nggak mau kalah banget, dih.”

“Belum juga mangkat, udah pada ribut. Kalian ini sehari nggak ribut, demam, ya?”

Eska meletakkan gitarnya, kemudian menarik notes kecil dari nakas. Itu buku rahasia mereka yang berikan lirik-lirik lagu susunan mereka berempat.

“Ian dulu.”

“Bocah monyet, El bayi!”

“Lo yang bayi.”

“LO.”

Alen menyumpal dua mulut temannya itu menggunakan donat yang dibelinya sebelum menuju ke sini.

“Ribut mulu. Katanya besok berangkat, tiket kereta sama bus aman, Yan?”

Ian menatap sengit ke arah Kael, membiarkan anak itu berguling-guling di lantai setelah merasa kalah darinya.

“Aman. Cuma …”

Eska menutup bukunya. Beralih menatap Ian penuh selidik. “Kalau kita nyasar, lo yang tanggung jawab, Yan.”

“Lagian siapa suruh gue jadi pemandu jalan. Orang sesat dikasi tugas berat, makin sesat.”

Kael yang masih ringan tangan menepuk bahu Ian dengan sedikit keras. “Disyukuri aja, sekalian belajar. Biar nggak makin kehilangan arah.”

“Yah, ini arahnya ke mana?”

“Emang bapak lo ada? Mau ngasih lo arah? Yang ada dibuang, Yan. Sadar diri, gih!”

“SIALAN!”

-

Pagi keberangkatan terasa lebih dingin dari biasanya. Langit masih pucat ketika Kael tiba di stasiun, sementara lampu-lampu peron belum sepenuhnya dimatikan. Beberapa orang sudah menunggu dengan koper besar, sebagian lagi duduk di bangku sambil memegang tiket dan secangkir kopi hangat. Suara pengumuman dari pengeras suara terdengar samar di antara derit rel dan langkah kaki para penumpang.

Kael berdiri di dekat papan jadwal kereta sambil menatap layar ponselnya. Ia datang paling awal, sesuatu yang jarang ia lakukan. Biasanya ia selalu menjadi orang yang datang terakhir, tetapi kali ini rasanya berbeda. Ada semacam antusias yang sulit dijelaskan, seperti anak kecil yang menunggu perjalanan jauh untuk pertama kalinya.

Tidak lama kemudian seseorang menepuk bahunya dari belakang.

“Lo semangat banget sampai datang duluan. Biasanya juga dua jam dari perjanjian baru bangun.”

Kael menoleh dan melihat Ian berdiri dengan tas ransel besar di punggungnya. Rambutnya masih agak berantakan, tetapi wajahnya terlihat cukup segar untuk ukuran orang yang biasanya bangun siang.

“Gue kira gue yang paling pagi,” kata Ian sambil melihat jam di ponselnya.

“Gue gak bisa tidur,” jawab Kael.

Ian tersenyum tipis. “Liburan bikin lo gugup?”

“Bukan gugup,” balas Kael. “Cuma … aneh aja.”

Ian tidak langsung menjawab. Ia mengikuti arah pandang Kael ke rel kereta yang memanjang jauh ke kejauhan. Stasiun selalu memiliki suasana yang unik—setengah penuh harapan, setengah lagi terasa seperti perpisahan.

Beberapa menit kemudian Alen muncul dari pintu masuk stasiun sambil menyeret koper kecil yang rodanya berbunyi nyaring di lantai keramik. Ia melambaikan tangan dengan semangat begitu melihat mereka.

“Gue hampir ketinggalan bus paling pagi,” katanya begitu sampai di depan mereka. “Supirnya sampai uring-uringan soalnya gue teriak-teriak sambil lari-larian. Ogah, ya, kalau kudu nunggu bus berikutnya.”

“Lo berangkat dari rumah nyokap?” tanya Ian. “Tumben.”

“Biasa. Butuh cuan.” Alen memamerkan beberapa lembar uang tambahan yang dia minta dari sang ibu semalam.

Kael tertawa kecil. Melihat Alen selalu tegar di luar, tetapi ia yakin bahwa keberaniannya tak seperti itu. Tawa renyahnya, serta cerita konyol yang menurutnya seperti dongeng hiperbola, tapi justru itulah yang membuat suasana tidak pernah sepi.

“Abang mana?” tanya Kael.

Alen menunjuk ke arah tangga penyeberangan yang menghubungkan antar peron dari arah yang berbeda.

“Tuh!”

Beberapa detik kemudian Eska benar-benar muncul dari sana. Ia membawa gitar dalam tas panjang yang disampirkan di bahunya, sesuatu yang langsung menarik perhatian beberapa orang di sekitar mereka.

“Lo bawa gitar?” tanya Ian.

“Kalau kita ketemu tempat bagus buat main musik, kenapa enggak?” jawab Eska santai. “Tujuan awal kita, kan, emang mau bikin lagu.”

Mereka berdiri sebentar sambil menunggu pengumuman keberangkatan. Saat kereta akhirnya datang, suara gesekan roda dengan rel menggema di seluruh peron. Gerbong demi gerbong melintas perlahan sebelum berhenti tepat di depan mereka.

Perjalanan dimulai dengan suasana yang jauh lebih santai daripada yang Kael bayangkan. Kali ini, Kael duduk dengan Eska, sedangkan Alen dan Ian berada di belakangnya. Pemandangan sesaknya kota perlahan terlihat luar kaca. Semakin melaju kecepatan kereta, deretan rumah di pinggiran rel berganti dengan hijaunya area persawahan menyambut pandangan mata.

Alen langsung menempelkan dahinya ke jendela.

“Gila,” katanya yang masih bisa didengar oleh Kael dan Eska, meski berada di bangku depan. “Kita beneran pergi.”

Ian membuka peta digital di ponselnya sambil menghafalkan kembali rute perjalanan mereka lagi, meskipun sebenarnya ia terlampau muak sebab sudah membacanya hampir dua puluh sembilan kali pagi ini. Sedang Eska duduk bersandar dengan mata setengah terpejam, sesekali mengetukkan jari di lututnya mengikuti ritme musik yang hanya ia dengar sendiri.

Sementara itu, Kael memandang keluar jendela tanpa banyak bicara. Pemandangan sawah yang luas terasa menenangkan, seolah dunia di luar kota bergerak dengan tempo yang jauh lebih lambat. Ia tidak tahu kenapa, tetapi perjalanan ini terasa penting.

Setelah satu jam lebih sepuluh menit, kereta akhirnya berhenti di kota tujuan pertama mereka. Udara di sana terasa lebih hangat. Terminal bus kecil yang yang ada di seberang stasiun pun terlihat tidak terlalu ramai. Mereka memutuskan membeli beberapa camilan dari warung terdekat terlebih dahulu sebelum naik bus ke destinasi tujuan.

Bus itu tidak terlalu besar. Kursinya agak sempit dan jendelanya sedikit berdebu, tetapi pemandangan di luar jauh lebih indah dari yang mereka bayangkan.

Jalanan mulai berkelok ketika bus meninggalkan terminal Rumah-rumah berubah menjadi ladang, lalu hutan kecil yang dipenuhi pohon tinggi. Cahaya matahari sore menembus celah daun, menciptakan bayangan yang bergerak perlahan di jalan.

Alen duduk paling dekat dengan jendela dan tidak berhenti memotret sejak setengah jam lalu.

“Kalau kita tinggal di sini kayaknya hidup bakal damai,” katanya.

Ian tertawa kecil. “Lo bakal bosan dalam tiga hari karena nggak ada jaringan.”

“Mungkin,” jawab Alen. “Tapi, tiga hari damai tanpa huru-hara juga lumayan.”

Sampai kemudian, bus mulai memasuki area tol panjang yang mempercepat menuju daerah tujuan. Pemandangan sawah kian membentang. Seperti tambak yang tenang, tetapi hamparan padi yang ditanam membuatnya berbeda.

Setelah hampir dua jam perjalanan, bus berhenti di sebuah rest area. Kondektur menginterupsi bahwa sang sopir sedang ingin menuju kamar mandi, lalu akan mengisi bahan bakar di SPBU yang ada di tempat itu. Pria yang mengenakan topi berkisar 30-an tahun itu mengizinkan para penumpang untuk turun sekedar ke kamar kecil ataupun mencari makanan, mengingat agar tidak bosan selama setengah jam ke depan.

Beberapa penumpang akhirnya turun. Termasuk dengan Kael dan teman-temannya. Udara di tempat itu terasa segar dengan aroma tanah yang lembap. Tidak jauh dari sana terdapat deretan pohon besar yang membentuk bayangan panjang di tanah. Sawah-sawah dari kejauhan terlihat membentang, seperti sebuah padang pasir, hanya saja ini lebih hijau.

Ia berjalan menjauh sedikit dari bangunan utama tanpa tujuan jelas.

“Kael!”

Suara Alen terdengar dari belakang, tetapi Kael hanya mengangkat tangan sebagai tanda bahwa ia baik-baik saja.

Langkahnya berhenti ketika sesuatu berkilau di antara rumput menuju sebuah masjid kecil di ujung. Ia membungkuk dan mengambil benda itu.

Sebuah batu kecil berwarna biru tua dengan permukaan yang halus. Warnanya cukup mencolok dibandingkan batu-batu lain di sekitarnya, seolah seseorang sengaja meletakkannya di sana.

Kael memutar batu itu di antara jarinya.

“Dapet apa?”

Ian tiba-tiba muncul di sampingnya. Kael memperlihatkan batu itu saksama. Membolak-balikkan seperti sebuah kertas.

“Cuma batu.”

Ian mengamatinya sebentar. “Warnanya aneh.”

“Lumayan buat kenang-kenangan,” kata Kael sambil memasukkannya ke saku hoodie-nya.

Dari arah toilet, Eska melambaikan tangan. “Kalian kalau mau buang hajat, cepetan, gih! Gue mau nyari kopi sama Alen.”

Kael mengangguk. “Nitip air dingin, Bang!”

Tanpa menghiraukan Eska dan Ian yang berjalan lebih dulu, Kael membawa kakinya menuju toilet yang tidak terlalu ramai.

Alen sudah duduk di kursinya sambil memegang sebungkus permen yang baru dia keluarkan dari tasnya.

“Gue kira kalian kabur,” katanya.

Setelah hampir sepuluh menit menunggu, akhirnya bus kembali berjalan. Langit mulai berubah warna ketika matahari turun perlahan di balik perbukitan. Pemandangan yang tadinya hamparan persawahan, kini berubah menjadi bukit-bukit tinggi dengan jalan yang berkelok.

Di dalam kendaraan suasana semakin tenang. Beberapa penumpang tertidur, sementara yang lain hanya memandang keluar jendela dengan wajah lelah. Hanya ada deru mesin bus, serta alunan musik lawas yang sepertinya sengaja supir bus nyalakan untuk pengantar tidur para penumpang.

Kael menyandarkan kepalanya ke kaca. Batu biru di dalam sakunya terasa dingin ketika ia menyentuhnya tanpa sadar.

“Kalau band kita sukses nanti,” kata Alen tiba-tiba dari kursi depan. “kita harus bikin konser di tempat kayak gini.”

Ian tertawa pelan. “Di tengah sawah?”

“Kenapa enggak?”

Eska membuka satu matanya.

“Kalau kalian serius latihan, mungkin itu bisa terjadi.”

Kael tersenyum kecil mendengar percakapan mereka. Entah kenapa, suara mereka terasa seperti sesuatu yang ingin ia ingat selamanya.

Bus kembali melewati tikungan tajam di jalan menurun. Lampu kendaraan menyala terang ketika langit mulai gelap sepenuhnya. Di depan sana, gerbang tol semakin dekat. Tanda perjalanan akan segera berakhir. Dan, siapa sangka bahwa ia sudah melewati hampir setengah hari untuk sampai di tujuan mereka.

Beberapa detik kemudian semuanya terjadi begitu cepat setelah sopir menyelesaikan pembayaran di pintu keluar tol. Suara klakson keras entah dari mana asalnya memecah keheningan malam. Bus berguncang keras ketika sesuatu menghantam dari belakang.

Kael sempat melihat lampu mulai meredup di sana, sebelum dunia seolah berputar. Kaca jendela pecah dengan suara tajam. Sesuatu menghantam bahu Kael dan membuat pandangannya gelap seketika.

Suara orang-orang bercampur menjadi satu. Teriakan, logam berderit, dan benda-benda berjatuhan. Di tengah kekacauan itu, tangan Kael refleks menyentuh saku hoodie-nya. Batu biru itu masih ada di sana. Ia mencengkeram erat saku itu, sebelum kegelapan merenggut sempurna kesadarannya.

Other Stories
Mobil Kodok, Mobil Monyet

Seorang kakek yang ingin memperbaiki hubungan dengan anaknya yang telah lama memusuhinya. ...

Osaka Meet You

Buat Nara, mama adalah segalanya.Sebagai anak tunggal, dirinya dekat dengan mama dibanding ...

My 24

Apa yang tak ia miliki? Karir yang gemilang, prestasi yang apik, istri yang cantik. Namun ...

Akibat Salah Gaul

Kringgg…! Bunyi nyaring jam weker yang ada di kamar membuat Taufiq melompat kaget. I ...

Reuni Mantan

Arif datang ke vila terpencil bersama para mantan Sarah lainnya. Ketika seorang pembunuh m ...

Cahaya Dalam Ketidakmungkinan

Nara pernah punya segalanya—hidup yang tampak sempurna, bahagia tanpa cela. Hingga suatu ...

Download Titik & Koma