Rest Area

Reads
109
Votes
4
Parts
4
Vote
Report
Penulis Kata Aksara

Bab 1 - Hari Sebelumnya

Aula sekolah selalu terasa lebih ramai saat hari pembagian rapor. Kursi-kursi disusun rapi dalam barisan panjang, tetapi tetap saja terkadang tidak cukup menampung semua orang tua yang datang. Lalu, pada akhirnya mereka akan digiring menuju kelas-kelas yang sudah disediakan dengan segudang harapan yang tersisa.

Suara percakapan bercampur dengan langkah kaki, menciptakan keriuhan bagi seorang bocah ber-nametag Arkael Nevaro. Ia duduk di kursi beton memanjang di depan kelas kosong dengan sweater yang menutupi sebagian kepalanya. Mencoba terlihat santai meskipun sebenarnya tidak tahu harus melakukan apa. Padahal, tugasnya hari ini cukup berat sebab harus membantu para guru merapikan barisan wali murid yang berdatangan. Ia menjadikan PDH OSIS yang seharusnya dikenakan seperti anak lain, justru digunakan bantalan di atas meja. Hatinya selalu kacau di momen-momen seperti ini.

Dari kejauhan, netranya menemukan seorang ibu sedang merapikan kerah seragam anaknya sambil mengingatkan agar tidak membuat masalah di semester berikutnya. Di sisi lain, seorang ayah tertawa keras setelah mendengar cerita guru tentang anaknya yang terlalu aktif di kelas. Pemandangan seperti itu sebenarnya biasa saja bagi kebanyakan orang, tetapi bagi Kael selalu terasa seperti tontonan dari dunia lain.

Ia menatap buku absensi di sebelahnya sambil mengeluarkan ponsel, lalu mematikannya lagi tanpa alasan. Waktu berjalan lambat, seolah-olah menunggu seseorang yang sebenarnya tidak akan datang. Kael sudah cukup lama belajar menerima hal itu, meskipun sesekali tetap terasa seperti batu kecil yang mengganjal di dada.

“Lo kelihatan kayak anak ilang yang kebelet dipungut.”

Suara itu datang tiba-tiba dari sampingnya. Kael menoleh dan menemukan Alen berdiri dengan tas selempang yang menggantung miring di bahunya. Rambutnya masih agak berantakan seperti orang yang terburu-buru datang ke sekolah.

“Emang,” jawab Kael tanpa ekspresi, lalu merapikan buku absensi yang cukup berantakan tadi.

Pemilik nama lengkap Gelentino Senara itu mendengus kecil sebelum menjatuhkan dirinya di sebelah Kael. Ia memandang ke arah barisan orang tua di depan aula, lalu menghela napas pelan.

“Orang tua lo, gak datang lagi? Lo udah ngasih udangannya, kan?”

Kael hanya mengangkat bahu, seolah pertanyaan itu tidak terlalu penting. Padahal jawaban yang sebenarnya jauh lebih rumit dari sekadar kata sibuk yang selalu ia pakai sebagai alasan.

“Kayaknya lagi ada urusan,” jawabnya singkat.

Alen mengangguk, meskipun wajahnya menunjukkan bahwa ia tidak terlalu percaya. Ia sendiri tampaknya tidak jauh berbeda. Ayahnya jarang sekali muncul di sekolah kecuali kalau ada masalah besar, dan hari ini jelas bukan salah satunya.

Beberapa menit kemudian seseorang datang dari arah tangga aula sambil membawa dua botol minuman dingin dari kantin. Bersamaan itu, seorang wanita paruh baya, guru yang menjadi wali kelas 11 tempat Kael berdiam diri sedari tadi tiba. Meminta bantuan kepada Kael untuk membawakan setumpuk rapor ke kelas.

Ian berjalan santai seperti biasa, seolah keramaian di sekelilingnya tidak terlalu menarik untuk diperhatikan. Ia melemparkan satu botol ke arah Kael dengan gerakan yang terlalu santai untuk ukuran tempat ramai.

“Isi tenaga dulu. Loyo banget kayak kurang kasih sayang,” kata lelaki dengan nametag Lorian Eshvara di seragam yang sama dengan Kael.

Kael menangkapnya refleks, lalu membuka tutup botol itu tanpa berkata apa-apa. Minuman dingin itu terasa menyegarkan di tenggorokannya yang sejak tadi terasa kering. Lantas, membiarkan Ian dan Alen menunggunya selagi membantu sang guru membagikan rapor kepada wali murid.

Ian mendudukkan dirinya sembari menggulung lengan PDH-nya sampai siku. Ia mengamati area sekitar, tetapi tak menemukan sosok yang dicarinya. Mengingat bahwa ini sudah jamnya pembagian hasil belajar untuk anak kelas 11. “Bang Eska mana?”

“Masih di kelas gue,” jawab Alen. “Ntar juga ke sini. Kemarin udah lo duluan, sekarang ganti gue.”

Ian mengangkat alis.

“Masih gak percaya gue sama ide itu.”

Kael tertawa pelan begitu tubuhnya kembali duduk di samping Alen. Guru tadi memintanya untuk keluar lebih dulu, sisanya nanti akan beliau urus sendiri. Maka itu ia kembali pada Alen dan Ian yang sudah menunggunya di luar.

“Lagian bermanfaat juga. Gue juga udah ambil rapornya Bang Eska, nih.” Ian memerkan buku besar yang baru ia keluarkan dari ransel. “Nih, orang bener-bener, ya. Tiap hari mbolang aja masih bisa dapat rata-rata tertinggi seangkatan. Fix, abis ini dia masuk eligible nomor satu.”

Ide untuk bertukar mengambil rapor memang terdengar konyol, tetapi juga cukup masuk akal bagi mereka. Karena hampir semua orang tua mereka tidak datang, mereka memutuskan untuk saling menggantikan. Ian, Alen, dan Kael saling bergantian mengambil raport si tertua, Eska yang memang jam pengambilannya lebih awal. Anehnya, para guru di sana sudah terbiasa dengan tingkah mereka yang memakai seribu alasan, mulai dari sepupu Eska, tetangga Eska, bahkan menjadi adik Eska, padahal empunya berstatus anak tunggal. Lalu, ketika tiba di kelas Kael, Alen, dan Ian yang memang satu angkatan lebih muda dari Eska, lelaki dewasa itu bergantian mendatangi satu persatu kelas mereka yang berbeda. Alen dan Kael berada di kelas IPS yang sama, sehingga lebih mudah untuk mengambil rapornya dalam satu waktu. Berbeda dengan Ian yang di kelas IPA.

Tidak lama kemudian sosok yang mereka bicarakan muncul dari kejauhan. Eska berjalan santai sambil membawa 3 buku rapor berwarna hijau tua. Rambutnya sedikit berantakan seperti biasa, tetapi langkahnya tetap terlihat tenang, seolah ia sudah terbiasa menghadapi situasi aneh seperti ini.

Ia berhenti di depan mereka, memandang satu per satu dengan ekspresi yang sulit ditebak.

“Kalian ini harus rajin belajar lagi,” katanya akhirnya sambil membagi rapor itu. Lantas.

Alen langsung memeluk rapornya usai melihat nilai rata-rata yang tidak jauh berbeda dari semester sebelumnya. “Syukurlah. Gue pikir hidup gue berakhir hari ini.”

“Lo terlalu sering merasa hidup lo berakhir,” balas Eska datar. “Lo aman, El?”

Kael membalas tatapan Eska dengan senyum tipis. “Aman, aman.”

“Kalau ada apa-apa, lo bisa ke rumah gue ntar.”

Ya, sepertinya semua orang sudah paham dengan situasi seperti ini. Ada Eska si anak yang kecerdasannya patut diacungi jempol, meski terlihat santai. Anak itu paling ambisius soal akademik dibandingkan mereka bertiga. Jika Ian berusaha semampunya, tanpa memikirkan nilai-nilai meski berada di urutan bawah sekalipun, maka Alen tetap akan berdoa ia tidak berada di urutan paling akhir untuk tetap mempertahankan harga dirinya. Berbeda dengan Kael yang sudah seperti perlombaan dan mengharuskan memperoleh posisi paling teratas atau ia tidak akan mendapatkan konsekuensi ketika orang tuanya tiba di rumah nanti.

“Lo gimana, Yan?” Kael justru bertanya kepada Ian yang sedari tadi mengunyah permen karet.

“Aman. Kalau diusir, tinggal pergi,” jawab Ian enteng.

Heskar Faresha, si tertua hanya menggelengkan kepala. “Ada gue. Tenang aja.”

“Ada kita.” Alen menyahut, ia menatap sinis ke arah Eska usai mengatakan hal itu. “Lo gak nganggep kita ya, Bang? Jahat banget.”

“Mulai, mulai. Tukang drama.”

Dalam hati, Kael memang berdoa semoga nyawanya masih bisa selamat ketika ia sampai di rumah nanti. Sejenak, kehangatan menguar di dalam dirinya memandang para temannya di depannya. Interaksi seperti ini sudah menjadi bagian dari keseharian mereka. Kadang terasa seperti candaan biasa, tetapi di saat yang sama juga seperti cara mereka menutupi sesuatu yang lebih dalam.

Ia masih ingat pertama kali melihat Eska dua tahun lalu. Saat itu masa orientasi siswa baru sedang berlangsung, dan aula sekolah dipenuhi murid yang masih kebingungan mencari tempat duduk. Di atas panggung kecil, Eska berdiri dengan gitar listrik yang digantung di bahunya. Jari-jarinya bergerak cepat di atas senar, menghasilkan melodi yang membuat seluruh ruangan mendadak sunyi. Eska mengisi hari terakhir demo ekskul di hari MPLS dari departemen musik.

Sejak saat itu Kael ingin berada di kegiatan yang sama dengan orang itu. Kael sangat terkagum dengan penyampaian nada dari petikan gitar milik Eska yang menghanyutkan seisi dadanya. Sampai saat ini, Kael sangat bersyukur sebab Eska dan teman-temannya begitu mewarnai hidupnya.

“Besok kita libur panjang,” kata Eska memecah obrolan.

Alen mengangkat kepala dengan mata berbinar. “Liburan, kuy?”

Ian langsung membuka ponselnya dan mulai menggulir layar dengan cepat. “Kalau lihat kalender, kita punya hampir dua minggu sebelum tahun baru.”

Kael memperhatikan ketiga orang di depannya. Pikiran kecil tiba-tiba muncul di kepalanya— sebenarnya sudah lama ada, hanya saja baru sekarang terasa lebih jelas.

Eska akan lulus tahun depan. Setelah itu mungkin ia akan sibuk kuliah di kota lain? Mengingat bahwa Eska pernah membahas mengenai kampus pilihan favoritnya. Sementara dirinya dan Ian mungkin akan semakin tenggelam dalam kegiatan OSIS yang tidak pernah ada habisnya. Sedangkan Alen … entahlah. Anak itu selalu terlihat santai, tetapi hidupnya sering terasa seperti badai yang datang tanpa peringatan.

Mereka mungkin masih bisa bertemu, tetapi tidak akan sama lagi.

“Gue punya ide,” kata Kael akhirnya.

Tiga pasang mata langsung menoleh ke arahnya.

“Kita liburan.”

Alen langsung duduk tegak. “Serius?”

“Iya. Sebelum semuanya jadi ribet.”

Ian berhenti menggulir layar ponselnya. “Ke mana?”

Kael mengeluarkan ponselnya lalu membuka sebuah foto yang tersimpan di galeri. Ia memperlihatkannya ke arah mereka.

Foto itu menampilkan desa kecil dengan sungai jernih yang mengalir di antara sawah hijau. Gunung terlihat samar di kejauhan, sementara langit tampak begitu luas tanpa bangunan tinggi yang menghalangi.

“Tempat ini,” katanya.

Alen mendekatkan wajahnya ke layar dengan ekspresi tidak percaya. “Ini beneran ada?”

“Katanya sih.”

Ian sudah membuka aplikasi peta dan mulai menghitung rute perjalanan. Ia menjelaskan dengan cepat bahwa mereka harus naik kereta ke kota lain sebelum melanjutkan perjalanan dengan bus kecil menuju desa itu.

Eska memandang mereka bertiga dengan ekspresi yang setengah ragu.

“Kalian serius mau ke sini? Kenapa nggak ke camping di tempat biasa aja kayak sebelumnya.”

“Serius, Bang,” jawab Kael tanpa ragu. “Terakhir nih. Itung-itung closingan.”

Closingan apaan dah. Emang pada mau ke mana gue tanya coba?”

“Ya, lo kan udah mau kuliah, Bang. Tahun depan pasti sibuk banget buat persiapan itu,” jelas Kael yang langsung diangguki setuju oleh Ian.

“Tapi, kita masih bisa ketemu kok. Ntar gue sering-sering jengukin kalian dua minggu atau sebulan sekali.”

“Iya, iya. Si paling kaya.” Ian menutup ponselnya setelah merasa bahwa rencana ini mungkin hanya akan menjadi sebuah wacana belaka.

Hening sebentar sebelum Alen tiba-tiba berdiri sambil mengangkat tangan.

“Gue setuju.”

Ian ikut mengangguk. “Gue juga.”

Eska menghela napas panjang, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi.

“Kenapa gue selalu ikut rencana gila kalian?”

“Karena lo sayang kita,” kata Kael dengan wajah polos. “Lo donatur kita, jadi harus ikut ke mana pun kita pergi. Ya, nggak, gais?”

Eska menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya menggeleng kecil.

“Yaudah. Iya, iya. Kapan nih kita perginya?”

Kael memandang ketiga orang itu bergantian. Senyum simpul terbit di wajahnya.

“BESOK.”

“Bocah edan!”


Other Stories
Membabi Buta

Mariatin dan putrinya tinggal di rumah dua kakak beradik tua yang makin menunjukkan perila ...

Cinta Di Balik Rasa

memendam rasa bukanlah suatu hal yang baik, apalagi cinta!tapi itulah yang kurasakan saat ...

Perahu Kertas

Satu tahun lalu, Rehan terpaksa putus sekolah karena keadaan ekonomi keluarganya. Sekarang ...

DI BAWAH PANJI DIPONEGORO

Damar, seorang Petani, terpanggil untuk berjuang mengusir penjajah Belanda dari tanah airn ...

Chromatic Goodbye

"Kalau aku tertawa, apa bentuk dan warnanya?" "Cokelat gelap dan keemasan. Kayak warna dar ...

7 Misteri Korea

Saat liputan di Korea, pemandu Dimas dan Devi terbunuh, dan mereka jadi tertuduh. Bisakah ...

Download Titik & Koma