Rumah Nenek

Reads
6
Votes
0
Parts
2
Vote
Report
Rumah nenek
Rumah Nenek
Penulis Rosa Linda

Rumah Nenek

“Lebaran ini, kita akan berlibur ke rumah nenek. Semua keluarga, akan berkumpul di sana!”


Nenek, sudah lama tiada. Ayah, mendadak mengambil cuti. Aku memandang Ibu dengan penuh tanda tanya.


“Bukan urusan kita. Ini urusan Ayahmu. Kita cukup ikut, setidaknya liburan kali ini, kau bisa bercerita kepada temanmu nanti di sekolah. Bukankah, kau selalu meminta kepada Ayahmu untuk pergi berlibur ke suatu tempat, jika libur sekolah?” ucap Ibu dengan suara pelan.


Aku tersenyum, lalu masuk ke dalam kamar memasukkan beberapa helai baju. Satu minggu, cukup lama. 


Sore harinya, Ayah yang baru selesai dari bengkel. Langsung memberi perintah untuk memasukkan koper ke dalam bagasi mobil. Mobil mini coper itu, melaju sangat pelan.


“Yan, nanti setelah sampai di rumah nenek. Ayah akan mengajakmu macing di sungai. Ayah dengar, sungai itu sudah dijadikan tempat pemancingan,”


“Mancing? Asik” sorakku girang. 


Satu jam kemudian, mobil kami sudah berada di halaman depan rumah nenek. Sepi. Sodara Ayah, Om Alex dan Tante Lina belum terlihat. Ayah merogoh saku.



Krek


Suara pintu terbuka. 


“Assalaamu ‘alainaa wa ‘alaa ‘ibaadillaahish shaalihiin,” ucap Ayah, saat ia masuk ke dalam rumah. Aku memandang wajah Ibu, penuh tanya.



“Rumahnya, ga ada orang, jadi salamnya seperti itu,” jawab Ibu, yang hafal dengan wajah penuh tanda tanyaku.


Ibu segers mengambil sapu di dapur. Ayah menarik tirai yang tertutup rapat. Cahaya matahari masuk ke dalam ruangan rumah. Rumah nenek bergaya tempo dulu, seperti rumah peninggalan Belanda yang kulihat di film pemberontakan di tivi. Aku mengitari seluruh rumah. Saat aku berdiri di depan pintu berwarna biru muda. Aku terdiam sesaat. 


“Ayah, bolehkah aku masuk ke dalam kamar ini,” aku memutar kepalaku melihat Ayah. Ayah tersenyum.



“Tunggu,” Ayah mengambil sebuah kunci dari saku bajunya. Kunci dengan pita berwarna senada dengan pintu.



“Ini, kamar nenekmu. Hanya Ayah yang boleh memasukinya, bahkan tidur di dalamnya. Kita akan tidur di sini. Bawa koper di dalam bagasi!” aku segera berlari keluar.



Aroma kamar nenek, tidak seperti dua kamar di depan. Wangi bunga melati tercium menyengat, saat pintu pertama kali di buka. Kamarnya tak ada debu sama sekali, sangat terawat. Kata Ayah, Ayah sering membersihkan kamar nenek, satu bulan sekali. Namun, ada yang aneh saat aku memasuki kamar nenek. Aku melihat foto nenek dengan ukuran besar yang tergantung di dekat jendela kamar, tiba-tiba tersenyum kepadaku. Tetapi, saat aku mengucek mata. Foto itu tak tersenyum lebar sama sekali.


Tin tin



Suara klakson terdengar nyaring. Ibu segera ke depan, diikuti Ayah dari belakang. Dua sodara kandung Ayah, datang. Om Alex dan Tante Lina. 


“Piyan, bantu tante!” teriak tante Lina dari luar. Aku segera berlari. 


“Bantu tante bawa koper, anak tante ga ikut. Anak om Alex juga ga ikut. Mereka semua keluar negeri, mana Ayahmu?” aku tersenyum. Setiap liburan lebaran, sodara Ayah, tak pernah ada di Jakarta. Mereka pasti akan ke luar negeri.


“Yan, masuk kamar, yuk,” Ibu mengajakku masuk ke dalam kamar nenek.


“Dari pada kita repot. Kita jual ajalah, Kang. Ngapain juga rumah ini dipertahanin. Kita masing-masing sudah punya rumah. Kalau mau kumpul, ga perlu ke rumah Ibu yang jauh. Bisa kumpul di rumah Alex,”


“Betul. Aku setuju dengan Teh Lina. Ngapain repot-repot ngurus rumah Ibu,”


“Amanah terakhir Ibu, kita yang harus ngrus, ga boleh dijual! Akang ga akan ngejual rumahnya!


Mereka bertiga terdengar sedang berdebat. Ibu memintaku, untuk tidur, menghilang rasa capek. Mataku tertuju pada foto nenek. Foto itu benar-benar hidup, aku melihat nenek sedang tersenyum. Aku memandang Ibu bergantian dengan foto nenek. 



“Bu,” aku berusaha mendekati Ibu. Tetapi, tangan keriput itu, menarik tanganku paksa. Terdengar suara di telingaku, seperti suara nenek.



Ikut nenek, Piyan!



Aku mengikuti nenek, ia memegang tanganku. Tangannya yang terlihat keriput menggeser foto di dinding, terlihat ruangan besar terlihat. Wangi melati tercium menyengat. 


Buka kotak kecil itu Piyan!


Kotak kecil berukirkan daun itu, tampak tak asing. Seingatku, aku pernah melihatnya. Ya, aku ingat. Gara-gara aku ingin melihat isinya, nenek selalu memerahiku. Dia selalu berkata, aku tidak sopan membuka milik orang lain tanpa izin. Tanganku perlahan membukanya. Keris kecil seukuran jari telunjuk orang dewasa, terlihat. Nenek memintaku untuk memasukkannya ke dalam saku celanaku.



“Piyan, bangun!” suara lembut Ibu membangunkanku. Ibu segera berlari ke ruang tamu. Dari pintu kamar, aku melihat wajah Ayah, pinggir bibir Ayah terlihat membiru dan berdarah. Om Alex meneriaki Ayah berkali-kali. Ibu, menahan tangan Om Alex yang ingin memukul wajah Ayah kembali.


“Sudah Kang, kita berkumpul di rumah Ibu, untuk bersilaturahmi. Bukan untuk baku hantam,” Ibu membantu Ayah berdiri. 


“Aku yang akan membeli rumah Ibu!” Ayah meringis, menahan sakit.


“Bagus!” ucap Tante Lina ketus. 


“Kita cari penginapan saja, Teh. Di sini, hawanya panas sekali,” kata Om Alex sambil menarik kopernya. Tak berapa detik kemudian, mobil Om Alex sudah menghilang dari halamn rumah nenek.


“Kita mau dapat uang dari mana, Yah. Mereka minta cash, hari ini juga,” 


“Ada, insha Allah. Buatkan aku kopi, Bu,” 


Aku memang tak mengerti apa yang terjadi. Tetapi, aku tahu. Jika, Ayah sudah duduk di teras rumah. Dia akan merenung, sambil membuang pandangan ke atas langit. Ayah menuangkan kopi ke dalam piring tatakan. Lalu menyeruputnya.


“Mau coba, Yan?” aku mengangguk. Kuseruput kopi di dalam piring, enak.


“Enak, Yah,” kataku senang. Ayah mengusap kepalaku. Ayah mulai memandang langit, dan aku menirunya. Saat aku melihat awan putih yang bergerak perlahan. Aku segera memegang saku celana. Kurogoh saku.


“Yah, dari nenek,” Ayah memandangku heran.


“Dari mana kau menemukannya?” 


“Nenek, memberiku saat aku tertidur tadi,”


“Gawat!” wajah Ayah tampak panik. Ia segera menelpon Om Alex, tak diangkat.


“Bu, pakai gawaimu. Hubungi Lina atau Alex,” nada suara Ayah kali ini benar-benar sangat panik.


“Angkat, ayo, angkat,” ucap Ayah pelan.


“Ga, diangkat, Yah,” kata Ibu kemudian.



Ting


Kami, langsung pulang. Kasih tahu, Ayahnya Piyan. Uang itu harus ada, malam ini juga!


“Yah, ini dari Teh Lina,” Ibu, menyodorkan gawainya, sambil memperlihatkan isi pesan singkat itu.


“Semoga, tak terjadi apa-apa!” ucap Ayah lirih.


“Yan, ceritakan pada Ayah, bagaimana keris kecil ini berada di tanganmu?”


“Aku mendapatkannya, dari ne…,”


“Ayah, keris itu?” Ayah mengangguk, saat Ibu menunjuk keris kecil di telapak tangan Ayah. Wajah Ibu, sama khawatirnya dengan Ayah. Terdengar suara Ibu, setengah berbisik.



“Yah, kata nenek. Jika, diantara cucunya mendapatkan keris itu. Tak boleh satu pun anaknya, yang berhak membelinya! Jika melanggar perintahnya, akan terjadi sesuatu yang tidak mengenakan. Terus, kita harus bagaimana, Yah,”


“Berdoa saja, agar tidak terjadi sesuatu pada saudaraku!” 


“Tunjukkan pada Ayah, dimana kau mendapatkannya, Yan,” aku bercerita panjang lebar tentang mimpi aneh yang sebentar itu. Ayah menggeser foto Ibu. Tak terjadi apapun di dalam kamar. Tidak ada ruangan di dalam mimpiku. Aku menarik kursi di meja rias nenek. Kursi kutempatkan tepat di bawah foto. Aku berdiri di atas kursi. Kugeser perlahan foto nenek, persia seperti dimimpi. Perlahan, meja rias nenek berputar. Terlihat ruangan besar di sana. Wangi melati menyeruak. Aku segera turun dari kursi. Kukatakan kepada Ayah, ruang itu sama seperti di mimpi. Kotak kecil yang berada di atas meja, suka sama persis.


“Ini, kamar yang Ibu ceritakan. Kamar ruang kerja kakek, yang seorang juru tulis,” Ayah membuka lemari kayu yang besar. Baju nenek tergantung disana. Semua baju terlihat terawat.


“Aku sudah menemukan surat wasiatnya!” Ayah menutup ruangan itu.


“Ibu, aku lapar,” kataku kemudian. Ayah tersenyum. Kemudian mengajak aku dan Ibu, mencari rumah makan terdekat. Di dalam mobil, Ayah menghidupkan radio. Suara lagu terdengar nyaring. 


“Baik, sahabat. Ada reporter kita yang akan menyampaikan informasi yang penting sore ini. Bagaimana, kondisi, kecelakaan di ruas tol Bandung menuju Jakarta, yang saya dengar tadi, ada 10 mobil terlibat kecelakaan beruntun dan terjadi kebakaran hebat disana?”


“Betul sekali, para korban sudah berhasil dievakuasi. Hanya dua korban, yang mengalami luka berat, yang lainnya dinyatakan meninggal di tempat. Untuk, sahabat yang ingin mengetahui nama korban yang selamat dan meninggal dunia, bisa menelpon di rumah sakit dengan no telpon 022-787890. Demikian yang dapat kami informasikan. Yang berkendara, tetap hati-hati di jalan. Musim hujan membuat jalanan licin. Jangan ngebut, ingat, orang tercinta menunggu di rumah,”


Ayah memandang wajah Ibu.


“Kau sudah mencatat nomornya kan?” Ibu mengangguk, terdengar suara telpon terhubung.


“Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un,” ucap Ibu. Ayah, langsung memutar mobil menuju rumah sakit yang dimaksud reporter radio. Aku yang tak mengerti apa yang terjadi, hanya tersenyum di kursi belakang, sambil memakan ayam krispy dan memakan beberapa cemilan yang Ibu beli.




Mentok, 13 Maret 2026




Other Stories
Erase

Devi, seorang majikan santun yang selalu menghargai orang lain, menenangkan diri di ruang ...

Menantimu

Sejak dikhianati Beno, ia memilih jalan kelam menjajakan tubuh demi pelarian. Hingga Raka ...

Escape [end]

Setelah setahun berlarut- larut dalam luka masa lalunya, Nadine pun dipaksa oleh sahabatny ...

Agum Lail Akbar

Tentang seorang anak yang terlahir berkebutuhan khusus, yang memang Allah ciptakan untuk m ...

Melinda Dan Dunianya Yang Hilang

Melinda seorang gadis biasa menjalani hari-hari seperti biasa, hingga pada suatu saat ia b ...

Jam Dinding

Setelah kematian mendadak adiknya, Joni selalu dihantui mimpi buruk yang sama secara berul ...

Download Titik & Koma